Angkasa (Kisah Cinta Anak Mafia)

Angkasa (Kisah Cinta Anak Mafia)
Angkasa 08


__ADS_3

Tak....tak....tak...


suara langkah kaki itu menggema. Pemuda tampan dengan kaos hitam tanpa lengan dan celana pendek itu nampak turun dari tangga rumahnya menuju meja makan dimana kedua orang tuanya sudah menunggu di sana.


Angkasa sampai di meja makan.


"hmmmh....keburu dingin dek, nungguin kamu selesai telfonan" ucap Adinda sambil bangkit dari duduknya dan bersiap melayani makan suaminya.


Angkasa menggaruk garuk kepala belakang nya.


"hehe, mama kek nggak pernah muda aja.." ucap Angkasa.


"pernah, tapi nggak pernah telfonan kayak kamu, mama kan kemana mana dikawal bodyguard.." ucap Adinda sambil melirik ke arah sang suami yang sedari tadi diam, Adrian.


"apa lagi?" tanya Adrian.


"bodyguard..!" ucap Dinda.


Adrian hanya menggelengkan kepalanya.


Angkasa nampan cekikikan.


Pemuda itupun mulai mengisi piring di hadapannya dengan berbagai makanan olahan Adinda dan sang ART setelah kedua orang tuanya selesai dengan piring masing masing. Keluarga bahagia itu lantas memulai makan malam mereka.


"dek," ucap Adrian memulai percakapan.


"ya, pa"


"besok kamu bareng papa apa berangkat sendiri aja?" tanya Adrian.


"pemotretan, mas?" tanya Dinda.


Adrian mengangguk.


"Angkasa berangkat sendiri aja deh, pa. Besok Angkasa pakai motor aja, biar nggak ribet." ucap Angkasa.


"ya udah kalau gitu, besok papa mau sekalian jemput Tiger, mau papa culik dia kesini" ucap Adrian sambil mengulum senyum membayangkan wajah lucu cucu pertamanya itu. Adinda pun melakukan hal yang sama.


Angkasa masih sibuk mengunyah makanan nya. Tiba tiba, ia teringat sesuatu.


Pemuda itu dengan cepat menoleh ke arah sang papa dan mulai memasang mode serius.


"oh iya, pa. Tadi pas Angkasa nganterin Maung ke sekolah nya, Angkasa nggak sengaja lihat gurunya si maung, kok kayak............." ucap Angkasa menggantung sambil menatap sang ayah.


Adrian melirik ke arah sang putra.


"kayak apa?" tanya Adrian.

__ADS_1


"kayak manusia" ucap Dinda mengimbuhi dengan santainya.


"ih, mama! bukan..! kayak itu loh pa, cewek itu, yang dulu di kotanya nenek, siapa pa? lupa aku" ucap Angkasa seolah mencoba mengingat ingat.


"Pelangi..!" ucap Adrian santai.


praaaaanggg......


Adrian dan Dinda terjingkat kaget. Angkasa membanting sendok nya hingga membentur piring membuat sepasang suami istri itu pun terkejut di buatnya.


"naaaaahhh...! iya itu..!!" ucap Angkasa spontan setelah mendengar nama Pelangi. Ia bahkan menjentikkan jarinya sambil menunjuk ke arah Adrian.


Adrian dan Dinda tak bergerak. Keduanya menatap jengkel setengah tajam ke arah Angkasa yang sukses membuat kegaduhan di meja makan.


Mendapati sorot mata tak biasa dari kedua orang tuanya, Angkasa pun mengkerut. Ia pun langsung menunduk tak berani menatap mata papa dan mamanya yang berubah garang.


"daripada sendok nya mending piringnya aja sekalian yang di lempar, dek" ucap Adinda.


"maaf, ma.." ucap Angkasa.


Adrian kembali melanjutkan makannya.


Angkasa menoleh ke arah papanya,


"pa," ucap Angkasa.


"kok dia ada di sini, pa? bukannya dia ada di pesantren?" tanya Angkasa.


"dia sudah lulus pesantren."


"trus?"


"Sesuai janji papa dulu, kalau dia bisa menjadi orang yang lebih baik, papa akan mengembalikan aset asetnya yang dulu pernah kita ambil."


"dan ternyata dia bisa berubah..ya udah, papa balikin" ucap Adrian.


"trus?" tanya Angkasa.


"dia nggak mau mengelola perusahaan peninggalan orang tuanya. Dia memilih menjualnya. Lalu dia minta ikut sama papa, mama, dan nenek ke kota ini. Dia buka usaha sendiri dan nyambi jadi guru TK, mandiri loh dia" ucap Adrian memuji di akhir kalimatnya.


Angkasa hanya mendengarkan.


"trus?" tanya Angkasa kemudian.


"ya udah," jawab Adrian santai.


"jadi dia ke sini sama papa?" tanya Angkasa.

__ADS_1


Adrian mengangguk.


"waktu papa jemput nenek kemarin. Dia ikut ke sini bareng papa. Kak Zev sama kak Nabil juga tahu, karena kak Zev yang jemput papa di bandara waktu itu" ucap Adrian santai.


"kok aku nggak dikasih tahu?" tanya Angkasa.


"kamu nggak nanya" jawab Adrian santai.


"dih, papa..!" ucap Angkasa kesal. Papanya memang kadang terlalu santai menghadapi masalah.


"papa juga yang bantu dia masuk jadi guru TK?" tanya Angkasa lagi.


"enggak, papa nggak tahu soal itu. Tiba tiba aja dia ngomong sama papa kalau dia udah kerja jadi guru TK. Dia juga punya toko sekarang, toko souvernir" ucap Adrian.


Angkasa diam sejenak. Lalu menyibikkan mulutnya seolah meremehkan.


"hmmmmh, pencitraan..!" ucap Angkasa.


"apanya?" tanya Adinda.


"ya, pencitraan. Akal akalan dia aja tuh biar pada simpati. Lagian tuh TK bisa bisanya nerima guru mantan perempuan nggak bener kek gitu! apa nggak di kroscek dulu latar belakang dan masa lalunya..?!" ucap Angkasa tak suka. Entahlah, ia masih saja kesal jika mengingat masa lalu wanita yang dulu pernah bersitegang dengan keluarga kakak iparnya itu.


"ya udah sih dek, itu urusan mereka. Kita nggak bisa terlalu ikut campur masalah itu. Yang penting sekarang dia punya pekerjaan halal dan mau mencari uang dengan cara yang baik. Ya udah, selebihnya itu urusan dia. Doain aja semoga selama di pesantren, Pelangi benar benar menjelma jadi sosok baru. Yang lebih baik." ucap Adinda.


"aku nggak yakin" ucap Angkasa cuek sambil kembali mengunyah makanannya.


"yang namanya orang pernah berbuat kesalahan, pasti akan sulit untuk dipercaya lagi sama orang lain di kemudian hari. Tapi ya udah, sadar posisi bahwa kita cuma orang luar. Kita cuma bisa melihat dari luarnya tanpa bisa menilai apa yang ada dalam hati dan pikirannya."


"kita ini cuma penonton, bukan juri ataupun hakim yang bisa menilai dan men judge seseorang hanya dari masa lalunya."


"biarkan dia berjalan dengan kehidupan nya yang sekarang, akan dibawa kemana hidup dia nantinya, itu urusan dia dengan Tuhan, bukan dengan kita..." ucap Adrian pada sang putra.


"curhat, pak?" tanya Dinda sambil melirik sang suami.


"dikit..!" jawab Adrian santai.


Angkasa hanya diam sambil mengunyah makanannya. Ia tak akan bisa menyangkal ucapan pria paruh baya itu jika sudah mengeluarkan fatwa nya.


Ya sudahlah, biarkan saja. Selama Pelangi tak mengusik keluarga nya, maka itu bukan masalah baginya.


(tentang masa lalu Pelangi alias Rebecca Violetta bisa di baca di novel Makmum Untuk Sang Pendosa,terlalu panjang jika di tulis lagi disini)


...----------------...


Selamat pagi,


up 05:39

__ADS_1


yuk, dukungan dulu 🥰🥰


__ADS_2