Angkasa (Kisah Cinta Anak Mafia)

Angkasa (Kisah Cinta Anak Mafia)
Angkasa 50


__ADS_3

Masih di hari yang sama, waktu yang sama, topik pembahasan yang sama, namun di tempat yang berbeda.


Kali ini di sebuah rumah berlantai tiga milik seorang perwira polisi senior di negara itu.


Pria yang nampak mengenakan pakaian seragam berwarna coklat kebanggaan nya di bantu sang istri itu terlihat memasang mode garang. Netra nya fokus menatap layar televisi yang kini tengah menayangkan berita tentang gosip sejumlah artis tanah air itu.


Lagi lagi, sosok pemuda tampan yang tak terlalu ia sukai muncul menghiasi layar kaca. Dan lagi lagi, sebuah berita yang tak begitu mengenakkan lah yang terdengar disana. Membuat rasa tak cocok dan tak suka dalam diri pria paruh baya itu kian hari kian besar saja pada Angkasa.


"Bintang harus tahu soal ini..! sangat lebih baik jika putri kita mengakhiri saja hubungannya dengan bocah tengik itu. Dari pada makan hati..! aku tidak terima dia bersikap seperti itu..! mengenalkan pacar barunya padahal dia masih sering berkomunikasi dengan Bintang. Lalu anak kita itu dianggap apa oleh dia?!" tanya Bram geram.


"mas, ini belum jelas. Semalam aku sempat chat'an sama Bintang. Dia bilang, Angkasa itu udah ngomong sebelum nya sama Bintang. Dia udah mengenalkan wanita itu juga sama Bintang. Namanya Pelangi, anak yatim piatu dari desa tempat tinggal ibunya Angkasa dulu..." ucap Grace, istrinya.


"mereka cuma temenan, mas. Sahabatnya Angkasa yang nyeletuk bilang wanita itu pacar Angkasa, buat memecah kerumunan penonton" ucap Grace.


"halah..! bulsyit...! itu hanya akal akalan bocah itu..! nanti aku harus bicara dengan Bintang...! dia harus memutuskan hubungannya dengan pemuda itu apapun alasannya..!" ucap Bram ngotot.


"mas, jangan gitu..!"


"kenapa? kau membela bocah itu?! Bintang dipermainkan, dan kau masih membelanya..?!" tanya Bram kesal.


"mas, ini urusan anak muda..! udah lah, kalau memang Bintang merasa di bohongi dan di khianati oleh Angkasa, dia pasti tau apa yang harus dia lakukan..! toh dia udah dewasa, mas..! jangan dikekang..!" ucap Grace.

__ADS_1


"walaupun Bintang sudah dewasa, tapi dia tetap anak kita..! kau tau, Grace. Walaupun dia bukan putri kandungku, tapi rasa sayangku padanya melebihi rasa sayang ayah kandungnya sendiri..! aku mohon, menurut lah, ini semua demi kebaikan Bintang..!" ucap Bram kemudian berlalu pergi meninggalkan tempat itu. Mengabaikan suara Grace yang terdengar memanggil nya berkali kali.


Wanita paruh baya berambut blonde itu menyentuh keningnya dengan satu tangan berkacak pinggang. Pusing..! suaminya memang cukup keras dalam mengatur anak anaknya. Bram selalu yakin bahwa apa yang ia pikirkan dan lakukan adalah yang terbaik untuk anak anak mereka. Bintang dan Cakrawala. Termasuk keputusan Bram yang menyekolahkan Bintang di luar negeri tanpa mengizinkan nya pulang barang sekalipun selama hampir lima tahun lamanya. Ia lebih memilih untuk mengajak anak istrinya bolak balik ke luar negeri di bandingkan harus mengizinkan Bintang pulang kampung. Padahal dulu Bintang pernah mengeluh, ia kangen rumah dan ingin pulang. Namun Bram melarangnya dengan alasan keamanan kala itu. Padahal, alasan Grace dan Bram mengirim Bintang ke luar negeri dulunya adalah menghindari ancaman kejahatan dari Moreno. Sedangkan Bintang minta pulang pada saat itu adalah ketika Moreno sudah di nyatakan tewas karena jatuh ke sungai saat di gerebek do sebuah gubuk tua.


Harusnya tidak ada alasan kan, untuk Bram melarang Bintang pulang? tapi kenapa pria itu masih saja tidak mengizinkan putri nya itu untuk kembali ke tanah air barang sejenak??


Grace menghela nafas panjang. Sudahlah, ia pusing. Lebih baik ia pergi jalan jalan bersama Cakra untuk menghilangkan suntuknya.


...****************...


Di tempat yang berbeda,


Di sebuah rumah mewah yang terletak jauh dari hingar bingar perkotaan.


"tuan..." ucap pria berseragam hitam hitam itu, Rein. Salah satu anak buah sang Moreno alias Simon.


Simon berbalik badan. Ia kembali menghisap rokoknya. Lalu mengangkat satu tangannya, menunjuk televisi yang menyala di dalam kamar milik duda matang itu.


Rein menoleh ke arah tv. Lagi lagi, acara gosip tersiar disana. Program televisi yang satu itu seolah kini begitu di gemari masyarakat.


"kirim satu anak buahmu untuk memata matai bocah laki laki bodoh itu..! dan kirim satu lagi untuk si perempuan itu..! aku ingin tahu semua tentang mereka..!" ucap Moreno dingin.

__ADS_1


Rein mengangguk


"baik tuan" jawab Rein.


Moreno mengangkat dagunya, lalu menggerakkan tangannya mengisyaratkan untuk laki laki itu pergi.


Rein pun mengangguk. Ia pun pergi meninggalkan sang tuan yang kembali menghisap rokoknya.


Seperginya Rein,


Moreno berjalan menuju nakas di samping ranjang. Dengan batang bernikotin yang masih di apit oleh kedua belah bibirnya, pria itu meraih sebuah lembaran foto yang berada di atas nakas.



"jangan main main dengan putriku..! kau tidak tahu sedang berhadapan dengan siapa, bocah bodoh..!" ucapnya mengerikan.


...----------------...


***Selamat sore,


up 15:46

__ADS_1


yuk, dukungan dulu 🥰😘🥰🥰😘***


__ADS_2