
Malam menjelang,
Di sebuah kamar yang tak terlalu luas milik seorang pemuda tampan berparas nyaris sempurna.
Satu minggu sudah berlalu pasca kepulangan sang pujaan hati dari luar negeri. Sejak saat itu juga kesalahpahaman antara dirinya dan Bintang Kejora tak juga kunjung mendapatkan titik terang. Bintang menjauh tanpa kabar. Nomor ponselnya di blok. Ia menutup semua akses untuk bertemu dan bertukar kabar dengan Angkasa. Laki laki itu kini bahkan tak pernah tahu bagaimana keadaan sang pujaan hati.
Angkasa pernah berniat untuk mendatangi rumah Bintang, namun mulai dari kakaknya, ipar, sopir hingga ayahnya sendiri melarang untuk Angkasa melakukan hal demikian.
Cinta boleh, tapi harga diri harus tetaplah di jaga. Semua keluarga Angkasa sudah tahu apa yang sebenarnya terjadi antara Bintang dan Angkasa. Semua hanya kesalahpahaman yang bermula dari sebuah jebakan busuk rancangan Bram.
Itulah sebabnya Adrian melarang keras Angkasa untuk datang kesana. Biarlah Simon bekerja dulu, lihat saja apa yang akan terjadi pada keluarga itu, setelahnya baru dilihat, apa yang akan Bintang Kejora lakukan jika ia tahu, ayahnya sendiri lah yang berada di balik tragedi penggerebekan Angkasa di kamar hotel tersebut.
Angkasa sibuk dengan pikirannya sendiri. Sebuah lagu kembali terlantun dari bibirnya. Menemani malam sepi yang kini tak lagi ia habiskan dengan saling berbalas pesan atau melakukan panggilan video.
Angkasa nampak layu. Hingga tiba tiba....
ting....
1 pesan masuk.
Dari sebuah nomor yang tidak dikenal. Dibukanya pesan itu, sebuah pesan WhatsApp dari seseorang dengan foto profil jaket hitam bertuliskan nama Black Moon.
"*Sa, gue Gerald. Saat ini gue udah ada di luar negeri. Gue ngirim pesan ini karena gue mau minta maaf sama lo. Gue adalah salah satu aktor yang terlibat dalam adegan penjebakan lo. Bersama anggota Black Moon yang lain, atas perintah Gala, dibawah tekanan bokap dari cewek lo sendiri. Gue udah dapet karmanya. Sebentar lagi akan ada berita yang menggemparkan. Berita yang mungkin akan membuat cewek lo terpukul, tapi akan bisa membersihkan nama lo di mata dia.
Gue minta maaf. Selama ini gue banyak salah sama lo. Gue dan temen temen gue sering bikin onar sama lo. Sekarang gue tahu, ada banyak orang orang yang sangat sayang sama lo dan Bintang di belakang kalian. Gue pergi, gue mau nenangin diri dan menjauh dari kalian. Gue pamit, gue minta maaf" tulis pesan itu*.
Angkasa diam tak bergerak.
Kenapa dengan Gerald. Kenapa tiba tiba ia mengirim pesan seperti ini. Apa yang terjadi dengan dirinya..?
Ya, semenjak adegan di kamar hotel itu Angkasa memang sudah tak peduli dengan dunia luar bukan? ia sudah tak tahu menahu tentang kabar Black Moon dan para anggotanya.
Terakhir yang ia dengar Gerald hilang tanpa kabar. Tapi kemana ia juga tak tahu. Dan sekarang secara tiba tiba ia mengirim pesan padanya tentang permintaan maaf?
Apa ini ada hubungannya dengan rencana Moreno?
Gerald menyebut tentang orang orang yang menyayanginya dan Bintang dibelakang mereka?
Apa Moreno melakukan sesuatu pada pria itu?
Astaga....!
Angkasa mengusap kasar wajahnya. Entahlah, gini amat hidup sebagai anak mantan penjahat, dimana kehilangan nya tak pernah jauh dari dunia kriminal, mafia, baku hantam bunuh membunuh, fitnah memfitnah, culik menculik..!
"astaghfirullah haladzim...!!" ucap pemuda itu.
Ia kemudian meletakkan ponsel miliknya lalu bergegas bangkit untuk mengambil wudhu dan mendirikan sholat Isya'nya.
__ADS_1
...****************...
Hari berganti...
Pagi hari di kediaman Bram, Bintang dan Grace...
Pria paruh baya itu nampak sudah rapi dengan seragam coklat kebanggaan nya. Dibantu sang istri yang terlihat begitu setia dan telaten mengurusnya, Bram nampak terlihat sudah begitu gagah, bersiap untuk menuju kantor tempatnya mengabdi sebagai seorang petugas pemberantas kejahatan.
"dah, udah rapi..! kita ke bawah yuk, sarapan" ucap Grace.
Bram pun mengangguk. Sepasang suami istri yang nampak bahagia itu pantas berjalan menuju lantai bawah tempat dimana meja makan berada.
Dilihatnya disana, Bintang sudah menunggu di meja makan bersama sang adik, Cakrawala. Keduanya nampak duduk di meja makan, sedangkan seorang pembantu rumah tangga di rumah itu terlihat sibuk menata hidangan di atas meja makan rumah mewah itu.
"pagi, papi, mami" ucap Bintang.
"pagi sayang...." jawab Grace. Bram tersenyum ke arah dua putra putrinya. Keluarga itu terlihat sangat akrab dan bahagia. Tak akan ada yang mengira jika ada borok yang selama ini di tutupi oleh sang kepala keluarga.
Sarapan pun berjalan dengan semestinya. Dibarengi obrolan santai dari keluarga kecil itu.
"Oh ya, Bintang. Minggu depan papi diundang ke acara ulang tahun temen papa. Kamu ikut ya, sama Cakra juga. Papi mau ngenalin kamu sama anaknya temen papi" ucap Bram membuat Bintang menghentikan pergerakan nya.
"apa sih, pi? enggak ah...! jangan bilang papi mau jodohin aku sama anak temen papi itu..?! aku nggak mau ya...!" ucap Bintang menolak.
"loh, kenapa? usia kamu kan sudah dewasa. Lagian kamu juga sedang sendiri. Kenalan aja dulu, siapa tahu cocok" ucap Bram.
"Bintang, jangan bilang kamu mengharapkan anak penjahat itu? denger, sayang. Dia nggak baik buat kamu. Kubur dalam dalam masa lalu kamu dengan dia. Dia itu bukan jodoh kamu..!" ucap Bram.
"mas...udah... nggak usah ngomong kayak gitu" ucap Grace seolah mengingatkan sang suami tentang perasaan Bintang yang sebenarnya masih menyayangi Angkasa. Bagaimana pun juga kisah cinta keduanya terjalin tidak sebentar. Begitu sulit untuk Bintang melupakan sosok Angkasa dari ingatannya.
Bram menghela nafas panjang.
"pokoknya, minggu depan kalian harus ikut. Kita ke pesta ulang tahun teman papi sama sama" ucap Bram keukeuh.
Grace hanya bisa menghela nafas. Ini salah satu kekurangan dalam diri Bram yang dapat ia rasakan sejak pertama kali menikah. Laki laki itu tak mau mendengar. Tutup telinga atas semua keluh kesah anak dan istrinya. Apa yang ia kehendaki, ya itulah yang harus terjadi. Tak bisa diganggu gugat.
Grace kembali melanjutkan sarapannya. Ia melirik lagi ke arah Bram seolah ingin bertanya sesuatu yang sejak kemarin mengganggu pikirannya. Yaitu tentang kond*m dan bau parfum di kemeja Bram.
Sebenarnya sejak kemarin ia ingin menanyakan hal itu namun ia urungkan, ia masih menghargai Bram. Laki laki itu pasti lelah sehabis bertugas di luar kota. Hingga saat ini ia belum bertanya tentang hal itu.
Sarapan terus berlanjut. Bram selesai dengan santap paginya. Ia bangkit, bersiap untuk segera berangkat kerja.
Seperti biasa, Bintang dan Cakra bangkit, meraih punggung tangan sang ayah dan menciumnya sebagai tanda bakti.
Grace sang istri pun lantas mengantar sang suami sampai ke depan rumah. Melepas keberangkatan pria itu dengan peluk cium seperti yang biasa mereka lakukan.
Selesai, Grace pun kembali ke meja makan untuk kembali menemani putra putri nya sarapan.
__ADS_1
Baru saja wanita itu duduk di meja makan, tiba tiba....
drrrrttt..... drrrrttt......
ponsel Bintang Kejora yang berada di atas meja makan bergetar.
Sebuah panggilan telepon masuk dari salah satu teman Bintang. Diusapnya tombol hijau yang berada di layar ponsel itu, lalu menempelkan benda pipih miliknya tersebut di telinga sebelah kirinya
"Halo, ada apa, Ta?" tanya Bintang pada sang teman yang bernama Tita itu.
"Bi, lo udah lihat berita belum?" tanya Tita.
"berita apa?" tanya Bintang.
"buka sosmed, Bi...! sekarang...!!" ucap Tita.
"emang ada apa?" tanya Bintang lagi.
"udah, buka aja...!! cepetan...!!" ucap Tita.
"o...oke..oke..." ucap Bintang.
Sambungan telepon pun terputus. Bintang kemudian mengotak atik ponselnya membuka aplikasi Instagram.
"ada apa, Bi?" tanya Grace.
"nggak tau, ma. Tita bilang suruh buka sosmed sekarang" ucap Bintang.
Instagram pun terbuka. Ia menggerakkan tangannya menggeser naik beranda salah satu aplikasi masa kini itu. Hingga......
.
.
.
.
deeeeegggghhhh......
"apa apaan ini?!!"
...----------------...
Selamat malam,
up 18:51
__ADS_1
yuk, dukungan dulu yuk. 🥰😘🥰😘🥰🥰😘