
Kembali ke toko aksesoris milik Bu guru cantik kesayangan Tiger Smith Anderson.
Wanita berkulit putih itu nampak sibuk membungkus sebuah kotak berukuran cukup besar ditangannya. Di dalamnya, sebuah boneka Minnie mouse pilihan Tiger sudah tertata rapi, siap untuk diberikan pada Aliya yang hari ini genap berusia enam tahun.
Sesekali sepasang guru dan murid itu nampak saling terkekeh, berbincang ringan dan santai penuh kehangatan seperti yang biasa keduanya lakukan jika sedang berada di sekolah.
Angkasa bangkit dari sofa tunggu nya, di dekatinya sang keponakan dan Pelangi yang berada di meja kasir. Angkasa nampak mengamati bangunan berlantai dua yang terlihat sangat rapi dan bersih itu.
"toko lo keren juga. Luas, rapi lagi..." puji Angkasa.
Pelangi hanya tersenyum,
"itu yang di atas apa? kamar lo?" tanya Angkasa.
"iya, kamar, ruang tamu sama dapur..." ucap Pelangi.
Angkasa mengangguk.
"dan ini semua lo yang ngurusin sendiri. Lo beresin, bersihin bangunan dan toko ini sendiri doang?" tanya Angkasa.
Pelangi tersenyum.
"lu nggak capek?" tanya Angkasa lagi sambil kembali mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru ruangan yang cukup luas tersebut.
Pelangi tersenyum,
"kalau nggak sendiri mau sama siapa? emang kamu mau bantuin aku?" ledek Pelangi.
"ih, uncle kok di suluh belsih belsih..! Olang kalo dilumah aja bangunnya siang telus...!" ucap Tiger.
"dih, bocah..! nyamber aja lo...!!" ucap Angkasa sewot dan dibalas dengan juluran lidah dari sang keponakan.
Pelangi hanya terkekeh.
Angkasa menatap wanita cantik yang masih sibuk dengan kotak kadonya itu.
"lo nggak niat nikah? usia lo kan udah cukup matang, Ngi..!" ucap Angkasa.
Pelangi menoleh ke arah Angkasa, lalu tersenyum manis.
"maunya sama kamu, eh kamu nya udah punya pacar.." ucap Pelangi membuat Angkasa terdiam seketika.
Pelangi tersenyum manis menatap mata pria berparas nyaris sempurna itu. Tak bisa dipungkiri, semakin akrab hubungannya dengan Angkasa membuat wanita itu mulai sedikit menaruh rasa kagum pada putra Adrian itu. Etikanya, tata krama, sopan santun, kebaikan, kelembutan, dan ketulusan nya membuat Pelangi mulai sedikit mengidolakan laki laki itu.
Sekarang wanita mana yang tak terpikat pada Angkasa. Wajahnya tampan tanpa cacat. Karirnya meroket. Bakat segudang. Etika dan tata krama serta sopan santun dan kasih sayangnya pada sesama tak bisa di ragukan lagi. Latar belakang keluarga nya? jangan tanya. Keluarga nya begitu berpegang teguh pada nilai nilai agama terlepas dari masa lalu para pria pria di dalam keluarga itu yang bisa dibilang semuanya suram.
Ingat kan siapa Zev dan Adrian? Hanya Angkasa saja laki laki dalam keluarga itu yang selamat dari dunia kriminal.
Angkasa salting. Pelangi terkekeh.
"bercanda, Sa..." ucap Pelangi mencairkan suasana. Angkasa hanya cengengesan sendiri di buatnya.
Tiger melepas tas ransel harimau nya. Membukanya lalu mengeluarkan sebuah dompet bergambar hello kitty di sana.
Di keluarkan nya beberapa lembar uang. Uang itu adalah uang tabungannya sendiri. Ia sengaja memecahkan celengannya, dan mengumpulkan uangnya di dompet hello kitty yang ia pinjam dari Azizah untuk menampung uang uang tabungannya.
"uncle..uncle..." ucap Tiger.
"apa?" tanya Angkasa.
Tiger menyodorkan dompet itu pada Angkasa.
"ini uang aku. Udah cukup belum, uncle..?! itungin dong uncle, aku nggak bisa ngitung...!" ucap Tiger meminta bantuan.
__ADS_1
"ah, elah, ribet beud lu..!" ucap Angkasa sembari mendudukkan tubuhnya di sebuah bangku di depan meja kasir itu.
Pemuda itupun perlahan mulai menghitung uang uang kertas milik Tiger. Ada yang seribuan, lima ribuan, dua puluh ribuan hingga seratus ribuan.
Uang uang itu adalah uang pemberian dari ayah, ibu, kakek serta neneknya yang sering memberikan uang jajan pada bocah itu.
"belapa, uncle? cukup nggak?" tanya Tiger.
"kurang nih kayaknya, kurang dua juta...!" ucap Angkasa asal, padahal uang Tiger lebih dari cukup untuk membeli boneka yang harganya tak sampai dua ratus ribu itu.
Pelangi terkekeh. Tiger membuka mulutnya kaget.
"kok banyak kurangnya?!!" tanya Tiger.
"ya nggak tau, duit lo cuma dikit...!" ucap Angkasa.
Pelangi makin tak bisa menyembunyikan tawanya. Interaksi antara paman dan keponakan nya ini memang tak pernah membosankan. Tiger si polos nan menggemaskan dan Angkasa yang ceplas ceplos dan suka sekali menggoda bocah tampan itu.
Tiger menoleh ke arah Pelangi.
"bu gulu Penani, emang halga boneka buat Aliya belapa sih?" tanya Tiger.
"seratus enam puluh..." ucap Pelangi santai.
"juta...?" tanya Tiger.
"milyar...!" sahut Angkasa.
Tiger syok hingga membuka mulutnya.
"seratus enam puluh ribu, sayang..." jawab Pelangi membuat Tiger kini nampak melotot menatap sang uncle.
Angkasa tergelak. Di acak acak nya rambut sang keponakan yang kini nampak mendengus kesal sambil melipat kedua lengan nya di depan dada.
Sementara di tempat terpisah,
Tiga orang manusia yang terdiri dari ayah, ibu dan anak itu nampak berjalan jalan riang menyusuri pusat perbelanjaan yang ada di tengah kota besar itu.
Si bocah cantik yang hari ini tepat berusia lima tahun itu nampak berjalan riang meloncat loncat sambil menggandeng tangan ayah dan bundanya di sisi kanan dan kiri.
Sang ayah, Zack Andreaz yang baru saja memangkas rambut gondrong nya itu nampak tersenyum. Gadis kecilnya itu nampak begitu riang di hari jadinya yang ke lima ini. Hari ini ia sengaja ijin cuti pada sang majikan, khusus hari ini ia ingin benar benar meluangkan waktunya untuk dua peri cantik kesayangan nya. Menuruti kemauan dua wanita istimewa nya dan mengajak kemanapun mereka ingin pergi.
"Main udah, beli boneka juga udah. Sekarang Aliya mau apa lagi?" tanya Zack.
"boleh minta sesuatu lagi, yah?" tanya Aliya sambil menatap berbinar ke arah sang putri.
"boleh dong, hari ini kan hari ulang tahunnya Aliya. Jadi apapun yang Aliya mau, pasti ayah sama bunda kasih. Bunda kalau mau sesuatu juga boleh" ucap Zack sambil tersenyum ke arah sang istri.
Azizah tersenyum. Ketiganya pun nampak menghentikan langkah mereka. Azizah menggerebek satu jari telunjuknya menyentuh bibir bawah nya sambil berfikir,
"eeeemmmm....apa ya??" tanya Azizah seolah nampak berfikir. Ia kemudian melirik ke arah sang putri. Gadis kecil itu tersenyum usil, begitu juga Azizah yang nampak melakukan hal yang sama seolah memiliki pemikiran yang sama dengan sang putri.
Zack mengernyitkan dahinya. Dua wanita itu lantas menatap ke arah Zack masih dengan sorot mata dan senyuman yang sama. Lalu.....
"makan....!!!!" ucap kedua wanita itu bersamaan membuat Zack terkekeh. Pria itu mengacak acak gemas rambut kedua wanita tersayang nya itu.
"kirain mau minta apa...!" ucap Zack. Aliya dan Zizah tergelak.
__ADS_1
"ya udah, sekarang kita cari tempat makan yuk..." ucap pria berkulit putih itu kemudian.
Ketiga manusia itupun kembali mengayunkan kaki mereka riang.
"aku seneng deh hali ini, yah, bun. Aku sehalian jalan jalan telus sama ayah sama bunda...!" ucap Aliya bahagia.
"telima kasih ayah, bunda, udah ngajakin aku jalan jalan hali ini. Abis ini kita ke makam ibuk ya yah, bun. Aku mau ketemu ibuk...! aku mau celita sama ibuk. Tentang aku, tentang sekolah aku, temen temen aku, tentang ayah, tentang bunda...! pokoknya semuuuuuaaaanyaaa......!" ucap Aliya sambil terus melangkah.
"iya, sayang. Nanti kita ke makam ibuk ya. Jangan lupa juga doain ibuk di hari ulang tahun Aliya..." ucap Azizah.
"iya, bunda..." jawab Aliya sambil tersenyum.
Ketiganya pun sampai di sebuah restoran di area mall besar itu. Zack pun mengajak istri dan anaknya untuk duduk di sebuah bangku yang masih kosong di sana. Namun tiba tiba...
"aduh...." ucap Aliya.
Zack dan Zizah menoleh.
"ada apa, sayang?" tanya Zizah.
"bunda, ayah. Aku mau pipis..." ucap Aliya sambil menyentuh perut bagian bawahnya.
"ya udah, bunda temenin ya..." ucap Azizah sambil bergegas hendak bangkit dari posisi duduknya. Namun....
"enggak usah, bunda. Itu toilet nya deket. Aku bisa sendili kok..." ucap si kecil cantik yang pintar itu sambil menunjuk sebuah tulisan berbunyi "toilet" disana.
"Aliya yakin berani ke toilet sendiri?" tanya Zizah lagi.
"belani..! aku kan anak mandili..." ucap Aliya yakin.
Zack dan Zizah tersenyum. Wanita cantik berkulit putih itupun tersenyum.
"ya udah, kamu hati hati ya..." ucap Zizah.
"oke, bunda...!" ucap Aliya percaya diri. Gadis cantik itupun setengah berlari meninggalkan tempat itu. Memasuki sebuah lorong bertuliskan toilet itu dengan sedikit terburu buru. Hingga.....
.
.
.
.
.
buuuuuggghhhh.....
"aaaww....!!"
Aliya terjatuh. Tubuh kecilnya menabrak sosok tinggi besar membuatnya terpental hingga terduduk di lantai lorong kamar mandi. Bocah itu lantas mendongak. Dan............
deeeeegggghhhh......
....
bersambung dulu 🥰
...----------------...
yuk, kasih dukungan dulu,
up 21:46
__ADS_1