
Pukul 03.00 dini hari,
Saat gema subuh belum berkumandang. Saat masih banyak manusia terlelap dalam buaian mimpi-mimpi indahnya. Gadis cantik yatim piatu itu sudah terbangun dari tidurnya.
Seperti biasa, Pelangi selalu bangun di sepertiga malam guna menjalankan ibadah sunnah sesuai ajaran agamanya.
Pelangi nampak turun dari ranjangnya. Diraihnya ikat rambut yang tergeletak di atas nakas itu lalu mengenakannya untuk mengikat rambut hitam panjang kebanggaan nya.
Pelangi hendak masuk ke kamar mandi untuk mencuci muka, namun tiba tiba ia merasakan haus. Wanita itupun lantas memilih untuk keluar sebentar dari kamarnya, menuju dapur untuk sekedar mengambil air minum.
ceklek....
pintu kamar terbuka....
Pelangi terdiam sesaat. Wanita yang harus melewati ruang tamu jika hendak menuju dapur itu nampak menatap ke arah sofa.
Dilihatnya disana, seorang pria paruh baya yang mulai menua nampak duduk, menyandarkan tubuhnya di sofa yang sejak pagi kemarin menjadi tempatnya merebahkan diri dan beristirahat.
Laki laki itu nampak diam, menatap ke arah sang putra yang nampak tertidur pulas di sofa panjang lain di ruangan itu dengan sebuah selimut menutupi tubuh tegapnya.
Ya, itu adalah tuan Hendrawan yang sudah sadar dari pingsannya. Laki-laki itu nampak diam menatap ke arah galaksi yang terlelap. Putra semata wayangnya yang menemaninya sejak semalam di ruang tamu ruko milik Pelangi.
Pelangi mendekat. Dengan ayunan langkah seringan kapas ia berdiri di samping tuan Hendrawan yang diam tak bergerak. Diamatinya wajah yang sudah mulai mengeriput itu. Tuan Hendrawan nampak menatap Galaksi dengan sorot mata sendu seolah menyimpan duka yang teramat dalam.
"tuan.." ucap Pelangi lembut yang berhasil menyadarkan laki-laki paruh baya itu dari lamunannya.
Tuan Hendrawan menoleh. Dilihatnya disana gadis cantik berambut panjang yang terikat itu nampak sudah berdiri disampingnya sambil tersenyum.
"kau..?" tanya tuan Hendrawan.
Pelangi tersenyum.
"saya Pelangi, tuan. Pemilik ruko ini..." ucap gadis cantik itu.
"kamu temannya Galaksi?" tanya tuan Hendrawan. Walaupun pernah bertemu dengan Pelangi satu kali, sepertinya laki laki itu sudah lupa dengan wanita cantik itu.
"iya, tuan.." jawab wanita itu lagi.
Ayah kandung Galaksi Ardhanata itu tersenyum tenang.
"terima kasih, nak" ucapnya.
"apa kamu yang menampung saya di sini?" tanya pria itu lagi.
Pelangi tersenyum manis.
"Kemarin saya nggak sengaja lihat tuan tergeletak di teras toko saya waktu saya pulang mengajar. Makanya saya bawa masuk ke toko, lalu saya ngabarin Galaksi kalau tuan ada di sini" ucap Pelangi lagi.
"kamu temannya Galaksi?" tanya sang tuan. Pelangi mengangguk.
Tuan Hendrawan tersenyum.
"tuan udah mendingan? atau tuan perlu sesuatu?" tanya Pelangi mencoba menawarkan sesuatu.
Tuan Hendrawan tersenyum.
"tidak, saya tidak butuh apa-apa. Saya sudah mendingan.." ucap laki-laki itu.
"kamu jam segini sudah bangun? atau terbangun? mau ke mana..?" tanya tuan Hendrawan lagi.
Pelangi tersenyum.
"Saya memang biasa bangun jam segini, tuan. Mau tahajud, setelah itu salat subuh. Baru membersihkan rumah sekaligus toko saya ini kemudian,.." jawab Pelangi menjelaskan.
__ADS_1
"kamu rajin sekali, nak" puji tuan Hendrawan.
"kamu tinggal sendiri di sini?" tanya tuan Hendrawan lagi.
Pelangi mengangguk.
"orang tuamu?" tanya pria itu lagi.
Pelangi tersenyum.
"orang tua saya sudah meninggal. Saya tinggal sendiri disini. Menjaga toko ini sekaligus menjadi seorang guru di sebuah TK di kota ini.." jawab Pelangi.
"oh, maaf, saya tidak tahu.." jawab Hendrawan.
"tidak apa-apa, tuan" ucap wanita cantik berambut panjang itu.
Mereka diam sesaat. Lalu....
"terima kasih sudah mau menjadi teman untuk Galaksi. Maaf, jika mungkin putra saya banyak merepotkan selama berteman dengan kamu.." ucap tuan Hendrawan.
Pelangi tersenyum.
"Galaksi orang baik, tuan. Makanya saya mau berteman dengan dia" ucap Pelangi.
Hendrawan tersenyum. Ditatapnya wajah sang putra yang masih terlelap itu.
"saya gagal mendidik dia" ucap Hendrawan.
Pelangi terdiam.
"jika memang dia tumbuh menjadi pribadi yang baik seperti yang kamu bilang. Itu berarti jasa Tuhan, lingkungan dan kehidupan yang berhasil membentuk mental dia menjadi seperti sekarang. Bukan karena saya..." ucap Hendrawan dengan mata mengembun.
"saya sudah gagal sebagai orang tua. Saya terlalu egois untuk bisa memberikan contoh yang positif pada Gala. Saya selalu menuntut anak saya untuk menjadi anak yang bisa saya banggakan versi saya. Tapi saya sendiri tidak bisa mencontohkan itu padanya. Saya justru asyik dengan kesenangan saya sampai sampai saya lupa ada seorang anak, darah daging saya yang lantang lantung di jalanan."
"apa yang dia makan, dimana dia tidur, dengan siapa dia bergaul, saya tidak tahu. Saya justru sibuk memelihara ular yang pada akhirnya membuat saya celaka" ucap tuan Hendrawan menyesal.
"andai saya mau sedikit saja meluangkan waktu untuk mendengarkan putra saya, mungkin semua tidak akan jadi seperti ini. Wanita yang pikir adalah wanita yang tepat untuk saya, ternyata hanya mengincar harta saya. Ia mencelakai saya, mencoba membunuh saya perlahan dengan obat obatan terlarang. Ia kemudian menyiksa saya bersama selingkuhan nya saat saya sudah tidak berdaya dan membutuhkan asupan obat obatan itu. Saya di buang ke hutan, berkas berkas penting milik saya diambil. Dan sekarang saya tidak punya apa apa. Saya tidak tahu, kenapa saya bisa sampai di tempat ini.." ucap Hendrawan menjelaskan apa yang terjadi padanya sebelum akhirnya ia ditemukan pingsan di emperan toko Pelangi.
"sekarang saya tidak tahu harus kemana setelah ini..! saya sudah tidak punya apa apa lagi.." ucap Hendrawan kini nampak mengusap wajahnya. Ia menangis. Menyesal. Meratapi kebodohan berbalut keangkuhan yang selama ini ia banggakan.
Pelangi tersenyum.
"tuan, semalam Gala cerita sama saya. Berkas berkas penting itu masih aman di tangan Gala sekarang. Termasuk dompet dan ponsel tuan. Wanita itu pergi entah kemana. Mungkin juga dengan pacarnya. Tuan tidak kehilangan apapun.." ucap Pelangi tak menyebut bangkai kepalanya yang di duga milik pacar Rachel itu.
Hendrawan terdiam.
"bagaimana bisa? wanita itu sudah membawa kabur semuanya...!" ucap Hendrawan sanksi.
Pelangi tersenyum lagi.
"mungkin ini adalah salah satu bentuk pertolongan Tuhan. Mungkin Tuhan ingin tuan dan Galaksi saling memperbaiki hubungan di antara kalian. Makanya Tuhan mengirimkan keajaiban untuk tuan dan Gala" ucap Pelangi.
"tuan, putra anda sangat menyayangi tuan. Sejak siang dia tidak pernah berpindah dari ruangan ini. Memastikan tuan selalu aman disini. Dia tidak seburuk dan se badung yang tuan pikirkan" ucap Pelangi.
Hendrawan kembali menatap sendu ke arah sang putra yang terlelap.
"ya...! mungkin ini cara Tuhan menegur kami. Mengingatkan kami bahwa walau apapun yang terjadi, hubungan antara kami berdua adalah sebagai ayah dan anak. Selamanya, tidak akan pernah bisa dipisahkan" ucap Hendrawan.
Laki laki itu lantas menoleh kearah Pelangi.
"terima kasih sudah mau ada untuk putra saya. Sudah mau berteman dengan putra saya. Saya yakin, Gala akan bisa banyak belajar dari mu, nak. Siapa namamu?" tanya Hendrawan.
"Pelangi, tuan" ucap gadis itu.
__ADS_1
"Pelangi... Jangan panggil saya tuan. Panggil saja om" ucap Hendrawan.
"iya, om" ucap Pelangi kemudian.
"ya udah, om istirahat lagi aja. Saya mau sholat dulu" ucap Pelangi.
Hendrawan mengangguk. Wanita itu pun lantas pergi, meninggalkan pria paruh baya yang kini duduk di atas sofa panjang itu sambil mengamati ruangan yang tak terlalu luas tersebut.
Tanpa keduanya sadari, seutas senyum terbentuk dari bibir pemuda tampan yang katanya tertidur itu.
Gala mengulum senyum tipis dengan mata yang tertutup. Ia lantas menggerakkan tangannya, menutupi wajahnya menggunakan selimut itu untuk kembali melanjutkan mimpi mimpi indahnya.
...****************...
Sementara itu di tempat terpisah,
seorang pria paruh baya dengan seragam coklat yang masih melekat di tubuhnya tersebut nampak mengerjab ngerjabkan matanya. Kepalanya terasa berat. Badannya terasa remuk. Matanya terasa begitu sulit untuk terbuka. Pria dengan nama Bram di dada itu nampak meringis merasakan sakit di sekujur tubuhnya. Badan tegap itu nampak terikat tali panjang dari dada hingga kakinya. Mulutnya disumpal kain. Ia tergeletak bak sampah tak berguna di atas sebuah lantai kotor bangunan lusuh tak terpakai itu.
Entah apa yang terjadi padanya..!
Dimana ini?
Kenapa seorang polisi yang terhormat bisa sampai ke sini?
Apa yang terjadi padanya?
Siapa yang mengikatnya?
Berani sekali dia pada seorang Bram yang terhormat...!
Suami Grace itu nampak meronta-ronta. Ia berusaha melepaskan diri dari tali yang mengikatnya..! ia berusaha untuk berteriak namun suaranya tertahan oleh kain yang menyumpal mulutnya..!
Tak ada yang mendengar..! tak ada yang mendekat..!
Dia lantas melihat ke sekelilingnya. Tak ada satu orang pun di sana. Hanya ada seorang wanita yang tergeletak di atas meja dalam kondisi tanpa busana. Entah siapa itu..! Tak terlihat..! Karena wajahnya tertutup oleh rambut panjangnya yang tergerai.
Bram kembali mencoba berteriak. Hingga....
krriiiieettt.....
suara pintu gudang terbuka. Langkah beberapa pasang kaki terdengar mendekat ke arahnya.
Pria itu menggerakkan kepalanya mencoba untuk melihat siapa yang datang. Suara langkah kaki itu makin keras terdengar. Mendekat ke arahnya bersamaan dengan suara rantai besi yang diseret, bergesekan dengan lantai bangunan yang kotor itu. Bram memasang mode awas...!
Siapa itu..?! pikir pria tersebut..!
Bram mencoba memutar badannya untuk mencari sumber suara. Hingga......
.
.
.
.
bersambung dulu....🤭
...----------------...
selamat pagi menjelang siang
....
__ADS_1
up 08:55
yuk, dukungan dulu yuk 🥰😘🥰🥰😘🥰