
drrrrttt.... drrrrttt......
Ponsel di atas nakas itu kembali bergetar. Entah sudah yang keberapa kali sejak pagi hingga kini jam sudah menunjukkan pukul sebelas siang.
Sang pemilik benda canggih itu kini masih mendengkur. Tidur memeluk guling nya dalam posisi tengkurap. Pemuda tampan berparas nyaris sempurna itu nyatanya kembali ambruk di atas kasurnya setelah melakukan panggilan vidio dengan sang wanita pujaan hati pagi tadi setelah sholat subuh.
Ya, mengingat pemuda itu tengah menjalani masa skorsing membuatnya kini seolah tak punya kesibukan berarti.
Jadwal kerjanya juga tengah sedikit longgar, membuatnya jadi bisa ber malas malasan di hari pertamanya menjalani masa hukuman atas perkelahian nya kemarin itu.
drrrrttt..... drrrrttt......
ponsel itu kembali bergetar. Angkasa tak merespon sama sekali. Ia justru semakin dalam menyelami dunia bawah sadarnya.
ceklek....
pintu kamar terbuka. Wanita cantik berhijab syar'i masuk ke ruangan yang dipenuhi atribut bola dan alat musik itu sambil memegang sebuah ponsel yang menyala.
Adinda mendekati ranjang sang putra. Ia melongok menatap layar benda pipih milik Angkasa yang berada di atas meja.
Dodo
Memanggil....
Tulisan yang tertera di layar benda pipih itu.
Adinda meletakkan ponsel miliknya di atas nakas. Lalu meraih ponsel sang putra dan mengusap tombol hijau disana.
"eeehhh.....!! kura kura ninja...! lu mati apa semedi..! di telfon dari tadi nggak diangkat angkat...! abis cari wangsit lu..??!!" ucap Dodo dari seberang sana menggebu dan sedikit ngegas membuat Adinda reflek menjauhkan ponselnya dari telinga.
Adinda tersenyum sambil menggelengkan kepalanya mendengar ucapan sahabat anaknya itu. Ia kembali menempelkan benda pipih itu di telinga kanannya.
"wa alaikum salam..." ucap Adinda lembut dan tenang membuat Dodo seketika itu juga melotot kaget di seberang sana. Pemuda berbadan subur itu bahkan reflek menepuk mulutnya sendiri saking kagetnya.
"ma, maap, tante. Saya kira tadi yang angkat Angkasa..." ucap Dodo tak enak hati sambil menggaruk garuk kepala bagian belakangnya.
Adinda tersenyum lembut.
"Angkasa nya masih tidur. Ini masih mau tante bangunin." ucap Adinda lagi.
"oh, gitu ya, tante. Ya udah deh, nanti kalau Angkasa udah bangun, tolong bilangin sama Angkasa ya, tante, kalau saya tadi telfon. Pengen ngomong penting..." ucap Dodo masih tak enak karena berlaku kurang sopan pada wanita berhati lembut itu.
"iya, nanti saya sampaikan ya.." ucap Adinda lagi.
"iya, tante. Ya udah, kalau gitu, assalamualaikum..."
"wa Alaikum salam..."
sambungan telepon pun terputus. Wanita ber gamis abu abu itu lantas meletakkan ponsel dengan wallpaper foto Bintang Kejora tersebut di atas nakas.
Di tatapnya pemuda tampan yang terlelap dengan sarung yang masih membungkus pinggang hingga kakinya itu. Di sentuhnya pipi sang putra,
__ADS_1
"dek, bangun. Udah siang..." ucap Adinda lembut.
Angkasa tak merespon.
"dek, bangun, sayang. Udah siang loh ini. Dari tadi kamu tidur terus.." ucap Adinda lagi.
Angkasa mulai menggeliat di atas kasur empuknya. Meregangkan otot otot tubuhnya yang masih kaku sambil perlahan membuka matanya yang seolah masih lengket.
Adinda tersenyum.
"bangun, udah siang. Anak bujang jam segini tidur mulu..!" ucap Adinda membuat Angkasa tersenyum.
Pemuda itu meringsut. Mengubah posisi tubuhnya, mendekatkan kepalanya ke tubuh sang ibu yang terduduk lalu memeluk pinggang istri Adrian itu dengan erat penuh kasih sayang.
Adinda tersenyum. Tangannya tergerak membelai rambut sang putra dengan penuh kasih sayang.
"dek," ucap Dinda.
"apa, ma?" tanya Angkasa sambil membenamkan wajahnya di samping pinggul ibunya.
"di luar banyak wartawan.." ucap Adinda.
Angkasa membuka matanya lalu mendongak menatap sang ibu.
"wartawan?" tanya Angkasa.
Adinda meraih ponsel miliknya yang berada di atas nakas. Menuju aplikasi Instagram dan mencari sebuah akun gosip yang baru saja memposting sebuah vidio perkelahian antara dua artis idola kaum remaja saat ini, Angkasa dan Galaksi.
Adinda menyerahkan ponsel itu pada putranya. Angkasa pun menerima nya.
Angkasa menyerahkan ponsel itu kembali pada sang ibu. Dengan mimik wajah santai ia pun kembali memeluk pinggang Adinda dengan erat nya.
"nggak ah, ma. Biarin aja..!" ucap Angkasa.
"kok biarin aja sih? nama kamu bisa jelek, dek. Mereka bisa mikir yang aneh aneh tentang kamu" ucap Adinda.
"bodo'..!" ucap Angkasa.
"Angkasa..." ucap Adinda. Ia seolah tak mau jika putranya di nilai yang aneh aneh oleh masyarakat luas. Tau sendiri kan seperti apa jari jari netizen zaman sekarang?
Angkasa mengeratkan pelukannya.
"nggak usah di peduliin, ma. Itukan kejadian di kampus. Biarin aja pihak kampus yang klarifikasi. Toh juga ada saksi dan semua udah clear. Aku sama Gala juga udah dapet skorsing. Aku males, ma, kalau harus koar koar jelasin siapa yang salah siapa yang benar. Aku gimana dan kayak apa. Nggak mau aku...! biarin aja mereka orang luar berpendapat seperti apa..." ucap Angkasa.
Adinda hanya tersenyum.
"tapi kamu kan publik figur, nak" ucap Adinda.
Angkasa mendudukkan tubuhnya. Di tatapnya wajah sang ibu dengan sorot mata tulus.
"aku belajar dari kisah mama sama papa yang pernah mama ceritain ke aku waktu dulu. Tentang mama yang di bully banyak orang karena masih membela papa yang seorang narapidana. Sebagai seorang yang dianggap salah dimata orang banyak, nggak akan mudah untuk kita menjelaskan siapa kita dan apa yang terjadi sama kita sebenarnya. Percuma..."
__ADS_1
"kita nggak akan bisa mengatur pemikiran orang untuk percaya sama kita. Apalagi orang banyak. Beda kalau cuma satu dua orang, mungkin masih bisa dijelasin. Tapi kalau udah menyangkut media sosial..susah, ma. Ranah nya luas, dan nggak mudah untuk menjelaskan tentang kita sama mereka yang notabene nggak kenal sama kita" ucap Angkasa.
"udah sih, ma. Diemin aja. Ntar juga lama lama beritanya anyep sendiri" ucap Angkasa.
Adinda tersenyum.
"ya udah, terserah kamu aja. Kalau gitu kamu mandi gih. Udah siang. Mama mau lihatin nenek di kamarnya..." ucap Adinda
"iya, ma" jawab Angkasa.
Pemuda itupun bangkit. Begitu juga Adinda yang kini berjalan keluar kamar untuk menemui sang ibu yang kini kembali tinggal bersamanya.
...****************...
Sementara itu di tempat terpisah...
klikk...
televisi dimatikan.
Pria paruh baya anggota polisi senior di kota itu lantas meletakkan remote tv itu di atas meja. Di raihnya kopi dalam cangkir yang berada di atas meja yang sama. Ia kemudian menyeruput nya dengan mimik wajah tenang.
"lihat sendiri, kan?" ucapnya sambil meletakkan cangkir itu di atas meja.
"buah itu, jatuh tidak akan jauh dari pohonnya. Sifat orang tua, pasti akan menurun juga ke anaknya" ucap Bram.
"bapaknya saja berandalan, bajiingan. Anaknya pasti juga berperilaku sama. Yang seperti itu mau jadi suami Bintang?" ucap Bram lagi sambil menggerakkan satu jari telunjuknya ke kanan dan ke kiri.
Ya, ia dan Grace, istrinya baru saja menyaksikan acara televisi. Sebuah acara infotainment yang memberitakan tentang vidio keributan antar dua artis muda tanah air yang sedang viral hari ini.
Semua media massa memberitakannya, membuat nama dua pemuda itu kini ramai menjadi buah bibir se antero negeri.
"mas, itukan baru pemberitaan sepihak. Belum ada konfirmasi dari pihak kampus maupun dari dua anak itu. Mungkin itu cuma salah paham" ucap Grace.
"hmmmh...salah paham..! aku lebih tahu tentang keluarga bocah itu. Sejak awal aku sudah bilang, dia sama sekali tidak pantas untuk Bintang..!" ucap Bram tegas.
Ia kemudian bangkit.
"sudahlah, aku mau kembali ke kantor.." ucapnya.
Grace pun ikut bangkit. Di raihnya punggung tangan sang suami lalu di ciumnya sebagai tanda bakti. Tak lupa, Bram pun mengecup kening wanita yang dinikahi nya saat menyandang status janda itu sebagai bentuk rasa sayangnya
Polisi senior itu pun berlalu, meninggalkan rumah megahnya menggunakan sebuah mobil hitam yang merupakan kendaraan dinasnya.
Tanpa ia sadari, sepasang mata milik seseorang yang bersembunyi dibalik sebuah pohon menatap tajam ke arah rumah tinggalnya.
"where is my daughter?" ucapnya
...----------------...
Selamat malam
__ADS_1
up 19:52
yuk, dukungan dulu 🥰😘😘🥰