Angkasa (Kisah Cinta Anak Mafia)

Angkasa (Kisah Cinta Anak Mafia)
Angkasa 55


__ADS_3

doooooooooorrrrrrr....!!


bunyi tembakan menggema. Membuat wanita berpenampilan super seksi itupun menghentikan hitungannya.


"jangan bergerak..! tempat ini sudah di kepung...!!" ucap seorang pria berpakaian preman bersama beberapa rekan nya sambil mengacungkan senjata api ke arah kerumunan anal muda itu.


"mampus...!" umpat Gala dibalik helmnya.


Semua pengunjung balap liar itu berhamburan menyelamatkan diri. Ada yang lari tunggang langgang. Ada yang dengan segera menyambar motornya. Ada yang berboncengan dengan kawannya sedangkan motornya sendiri di tinggal. Semua kalang kabut. Polisi mengendus tempat mereka melakukan aktifitas terlarang. Puluhan aparat melakukan penggerebekan membuat sejumlah pemuda yang tak sempat menyelamatkan diri pun satu persatu di giring petugas.


Gala melajukan kendaraannya secepat angin. Menerobos apapun yang berada di hadapannya. Tak peduli manusia, binatang atau apapun semua ia tabrak demi bisa menyelamatkan diri.


Seorang petugas bahkan terpental jauh dan terguling bersimbah darah akibat di hantam motor Galaksi.


Pemuda itu pun diburu. Sebuah mobil polisi mengejar sang pemuda dengan dua petugas di dalamnya.


"heeeiii.....berhenti....!!!" teriak seorang polisi itu dari pintu samping kemudi yang terbuka. Kepalanya melongok keluar. Ia mengangkat senjatanya dan menembakkan nya ke udara seolah memberi peringatan pada pemuda itu agar menghentikan laju motornya.


Alih alih menurut, Gala justru makin berkendara bak orang kesetanan. Di tambahnya kecepatan motor itu. Berjalan zig zag membelah padatnya jalanan ibu kota, menghindari mobil hitam yang kini mengejarnya. Namun sayang, Galaksi begitu keras kepala untuk mengalah.


Merasa tengah ada aksi kejar kejaran antara polisi dan seseorang, para pengguna jalan yang lain pun memberi celah untuk mobil sang polisi, agar para aparat penegak hukum itu dapat menjalankan tugasnya dengan baik.


"hei.... berhenti....!!"


doooooooooorrrrrrr....!


polisi kembali menembakkan pistolnya ke udara. Gala sama sekali tak peduli.


Hingga........


tiiiiiiiiiiinnn........


ciiiiiiiiiiitttttt..........


braaaaaakkkk.........


Sebuah mobil box tiba tiba menyalakan lampu sent kanan pertanda hendak berbelok. Galaksi yang hendak menyalip dengan kecepatan tinggi pun tak bisa mengendalikan keseimbangan motornya. Ia berusaha mengerem sekuat tenaganya, hingga....


Crush....!!


Saling berbenturan....!


Motor besar itu menabrak bodi samping mobil box tersebut. Mobil melakukan pengereman mendadak. Begitu juga Galaksi. Motor Gala ambruk, terperosok masuk kolong mobil. Sedangkan Gala yang berhasil melompat dari motornya kini terguling ke tengah tengah jalan raya.


Polisi yang mengejarnya pun berhenti. Kedua petugas dengan nama Bram dan Andrew itu nampak turun dari mobil yang mereka tumpangi. Dengan pistol di tangan, keduanya pun berlari mendekati Gala yang terdengar memekik kesakitan sambil memegangi salah satu bahunya.


"aaaaaaaaaakkkkkhhhhhhhh.....!!!" ucap pemuda itu menahan sakit.


Sang polisi mendekat.


"Andrew...! telfon rumah sakit...!!" ucap Bram.


"siap, komandan...!!" jawab pria berpakaian preman itu.


...****************...


Sementara di tempat terpisah...

__ADS_1


Seorang pria paruh baya nampak bertingkah aneh. Ia bergerak kesana kemari. Mengobrak abrik segala macam benda yang berada di ruangan mewah kamar tidurnya itu.


Dengan tubuh yang terlihat lebih kurus, mata cekung dan wajah yang terlihat tidak segar, pria yang seolah seperti merasa kan hawa dingin yang begitu kuat itu nampak uring uringan. Mengumpat tak jelas, memaki maki pada udara di dalam kamar yang sudah terlihat begitu acak acakan itu. Pil yang biasa ia konsumsi tak ada di tempatnya. Membuatnya frustasi, memicu reaksi aneh yang akhir akhir ini selalu dirasakannya.


Entah apa, padahal dulu ia tak pernah merasakan hal seperti ini.


"bang*at....!! haaaahh...! dimana kau....?!!" umpatnya kesal.


Laki laki itu, Hendrawan, kembali mengacak acak kamarnya. Ia bak orang kesetanan. Sesekali ia terlihat melukai dirinya sendiri. Mencakar wajahnya, menjambak rambut yang sebagian mulai memutih itu. Seolah ia ingin mencari kepuasan dengan menyiksa dirinya sendiri.


Tolonglah, ia butuh pil itu sebelum ia benar benar mati di buatnya..!


"Rachel...! dimana kau?!!" bentak laki laki itu.


"Rachel...!! mana obatku..?!!" bentaknya lagi.


ceklek,


seorang wanita berpenampilan seksi masuk ke dalam kamar mewah itu.


"mas, kamu kenapa?" tanya Rachel lembut.


"kemana saja kau? aku butuh obatku..! mana obatku...?!!" tanya Hendrawan tak bisa bersikap tenang.


"obat? obat apa?" tanya Rachel pura pura bodoh.


"jangan pura pura tidak tahu, Rachel...! aku butuh obatku sekarang...!!" ucap Hendrawan.


Rachel terkekeh.


Laki laki itu berbinar. Itu obatnya. Obat jantung yang entah mengapa seolah membuatnya menjadi begitu ketergantungan dengannya.


Tangan itu tergerak hendak merampas botol dalam genggaman Rachel. Namun wanita itu dengan cepat menjauhkannya dari jangkauan Hendrawan seolah ingin bermain main dengan nya.


"Rachel, ayolah...! aku butuh obatku..!!" ucap Hendrawan kesal.


"boleh, tapi aku punya satu permintaan..!" ucap Rachel.


"permintaan apa? berikan dulu obatku...!" ucap Hendrawan.


"aku mau apartemen dan uang..! uang ku udah habis...!" ucap Rachel begitu enteng.


"sayang, bukannya kemarin sudah ku kasih? kenapa minta lagi. Kemarin kau sudah minta handphone baru...!!" ucap Hendrawan.


"yang kemarin udah habis, sayang. Aku butuh buat bayar arisan sama teman teman aku...! kalau kamu pelit kayak gini, aku nggak akan kasih obat ini lagi buat kamu...!!" ucap Rachel mengancam.


"iya iya, nanti ku berikan apapun yang kau mau..! tapi berikan dulu obat itu padaku...!" ucap Hendrawan.


Rachel tersenyum penuh kemenangan. Dengan santainya di lemparkannya botol itu ke arah Hendrawan. Pria itu pun menangkap nya. Lalu membukanya dan mengeluarkan tiga butir pil sekaligus dan langsung menelannya saat itu juga di bantu dengan segelas air putih.


Rachel menyeringai.


Wajah tak tenang yang sejak tadi Hendrawan tampilkan berangsur angsur mulai membaik. Laki laki itu terlihat mulai tenang. Rachel mendekat. Jari jari lentiknya menyentuh dada sang kekasih dengan mode bi*al khas wanita itu.


”kamu udah lebih tenang, mas?" tanya wanita itu lembut dan terdengar manja.


Hendrawan tersenyum puas.

__ADS_1


"ya..! terima kasih, sayang. Semua berkatmu...!" ucap Hendrawan.


"aku selalu bisa membawa ketenangan buat kamu kan, mas?" tanya Rachel lagi. Kini ia bahkan dengan berani mengalungi kedua lengannya ke leher sang kekasih.


"ya, tentu saja. Kau selalu bisa menenangkan ku, sayang..!" ucap Hendrawan sambil menyentuh dagu lancip wanita cantik itu.


"tapi kamu masih punya hutang loh mas sama aku..." ucap Rachel.


"jangan khawatir. Satu unit apartemen akan jadi milikmu besok. Dan rekeningmu, akan ku isi dengan uang sesuai permintaan mu...! asal....kau lakukan dulu tugasmu malam ini..!" ucap Hendrawan sambil menyentuh ujung hidung wanita muda itu.


Rachel terkekeh.


"okeeey...." ucapnya.


Hendrawan yang sudah mendapatkan kepuasan dari obat yang di konsumsi nya pun kembali bergairah. Dengan segera, di sergapnya bibir ber lipstik brown itu dengan rakus dan buas nya. Membuat Rachel yang berjiwa liar pun seolah terpancing untuk berbuat hal yang serupa.


Kedua tubuh itu saling menempel. Nafas keduanya memburu. Bibir saling menyatu memberikan kenikmatan yang hampir tiap malam mereka rasakan.


Ketika sepasang kekasih beda usia itu tengah panas panas nya. Tiba tiba.....


drrrrttt..... drrrrttt.....


ponsel Hendrawan yang berada di atas nakas bergetar pertanda ada panggilan masuk.


Rachel melepaskan pagutannya dengan sang kekasih yang seolah tak mau lepas dari si wanita.


"ayolah..!" ucap Hendrawan seolah kembali meminta bibir


"mas, hp kamu bunyi...! angkat dulu dong..!" ucap Rachel mengelak.


"itu tidak penting...!" ucap Hendrawan lagi sambil kembali hendak menyergap bibir wanita itu.


"mas, siapa tahu penting...! ini udah hampir pagi loh..!! siapa yang telfon jam segini? " ucap Rachel lagi.


Hendrawan berdecak kesal. Dengan terpaksa ia melepaskan tubuh wanita itu. Dengan nafas yang ngos ngosan ia pun meraih ponsel miliknya dan mengusap tombol hijau yang berada di layar ponsel tersebut.


"hallo...." ucap Hendrawan melalui sambungan telepon.


"apa?!!"


.


.


.


.


bersambung.....😁


...----------------...


selamat malam,


up 21:06


yuk, dukungan dulu 🥰😘🥰 8

__ADS_1


__ADS_2