Angkasa (Kisah Cinta Anak Mafia)

Angkasa (Kisah Cinta Anak Mafia)
Angkasa 110


__ADS_3

Di bibir pantai yang dengan ombak yang terlihat tenang itu. Sepasang anak manusia yang sebenarnya saling mencintai itu nampak duduk berdampingan. Menatap ke arah hamparan air laut yang tenang. Ditemani semilir angin pantai yang perlahan menerpa wajah mereka.


Cukup hening, lantaran pantai itu memang sebuah pantai yang belum terlalu banyak di jamah oleh manusia.


Bintang menunduk. Angkasa nampak diam menatap lurus ke arah depan sambil memainkan sebuah ranting kayu yang berada di tangannya. Sudah lebih dari 15 menit mereka duduk di sana. Namun sejak tadi tak juga ada satu kata pun yang terucap dari keduanya.


Bintang dan Angkasa hanya diam. Seolah bingung mau memulai cerita ini dari mana. Tak seperti biasanya, sebelum mereka bertengkar hebat beberapa hari lalu saat kepulangan Bintang Kejora.


Sang Bintang kembali mengusap lelehan air matanya. Jujur, hati Angkasa merasa bergetar melihat itu. Tapi sekuat tenaga ia mencoba harus tetap diam dan tenang, tak mau menoleh ke arah sang Bintang.


Tak bisa dipungkiri, rasa kesal itu masih ada. Rasa jengkel Itu juga masih ada. Mengingat betapa ia susah payah mondar-mandir mencoba menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi pada sang Bintang. Tapi wanita itu sama sekali tak mau mendengarkannya. Ia lebih percaya pada kata-kata sang ayah yang jelas-jelas membenci hubungan mereka sejak awal.


"mau sampai kapan kita duduk diem disini?" tanya Angkasa tanpa menoleh.


"Aku mau minta maaf, By" ucap Bintang lemah.


"kan aku udah bilang aku nggak pernah marah, ngapain minta maaf?!" tanya Angkasa.


"aku nggak peduli kamu marah apa nggak..! aku cuma mau minta maaf karena aku merasa aku salah..!" ucap Bintang menatap ke arah pria yang sejak tadi bersikap cuek itu.


"salah? kamu salah apa?" tanya Angkasa.


Bintang menunduk.


"Aku tahu sebenarnya kamu ngerti apa maksud aku..!" ucap Bintang.

__ADS_1


Angkasa menghela nafas panjang.


"aku harus gimana biar kamu bisa bersikap kayak dulu lagi sama aku..?!" tanya Bintang.


"aku cuma butuh teman sekarang...! hiks...!" ucap Bintang menangis. Menutupi wajahnya menggunakan kedua telapak tangan nya.


Angkasa tak menjawab.


"mamiku dari kemarin nangis terus..! dia nggak mau makan..! dia nggak mau keluar kamar..! dia terus-terusan mikirin papi yang dari kemarin nggak pulang..!" ucap Bintang sesenggukan.


"aku minta maaf, By...! aku emang bodoh..! aku gampang banget percaya sama apa yang aku lihat tanpa mau mendengarkan penjelasan kamu...! aku minta maaf...! hiks...!" ucap Bintang menangis..


Angkasa menoleh ke arah Bintang.


"asal kamu tahu, Bintang. Lima tahun kita nggak ketemu, selama itu juga aku nggak pernah berhenti buat mikirin kamu. Kamu adalah cinta pertamaku. Dari dulu sampai sekarang, perasaan itu nggak pernah berubah dan nggak akan pernah berubah. Sama seperti saat pertama kali aku bilang aku suka sama kamu. Saat aku masih putih biru dan kamu putih abu abu.."


"dengan segala perlakuan papi kamu, dengan banyaknya orang yang gak suka sama aku yang selalu aku ceritain sama kamu, harusnya di saat pertama kamu melihat aku di hotel, kamu bisa mikir, apa mungkin aku melakukan itu sedangkan apa yang terjadi sama aku selama kamu pergi aku selalu bilang sama kamu..! komunikasi kita nggak pernah putus..! aku selalu ngabarin apapun yang aku lakuin ke kamu..! bukannya kamu yang bilang, kita hanya terpisah jarak dan waktu. Tapi perasaan kita tetap sama. Tapi kenapa saat kamu melihat aku di dalam kamar hotel dengan seorang wanita, saat aku ingin menjelaskan semuanya sama kamu, kamu nggak mau dengar..?!! kamu hanya percaya dengan asumsi kamu sendiri..! mikir nggak kamu, aku pontang panting berusaha untuk menjelaskan sama kamu tapi kamu selalu menghindar..!!"


"oke, kamu kecewa, oke kamu sakit lihat apa yang terjadi di kamar hotel...! tapi bisa nggak, kamu kasih waktu buat aku jelasin dulu versi aku..? setelah itu baru kamu bisa pertimbangin, kira kira mana yang bener...! aku tahu gimana perasaan kamu, Bintang..! aku dikenal banyak orang, tapi aku udah berkali-kali bilang sama kamu, aku cuma mau kamu...! kalau emang aku main main di belakang kamu, ngapain aku capek capek malem malem ke rumah kamu sampai sampai aku harus kena bogem sama papi kamu..?!!" ucap Angkasa panjang lebar mencoba meluapkan apa yang terjadi selama ini.


Bintang hanya diam. Matanya seolah terbuka saat itu juga. Ia terlalu egois sebagai seorang wanita.


Bintang terus menunduk sembari meneteskan air matanya. Angkasa yang dadanya naik turun kini merasa lebih lega. Uneg uneg yang selama ini ia pendam seolah tersampaikan dengan sepenuh nya hari ini.


Angkasa mengucap istighfar sembari mengusap wajah nya kasar. Ia lantas menoleh ke arah sang wanita yang sejak tadi tak henti mengusap lelehan air matanya.

__ADS_1


"papi kamu belum pulang?" tanya Angkasa.


Bintang menggelengkan kepalanya.


Angkasa terdiam.


"harusnya dari awal aku dengerin dulu penjelasan kamu, By..! sekarang papi pergi nggak tahu kemana...! padahal aku sama mami butuh penjelasan dia..! aku pengen tahu apa yang sebenarnya di sembunyiin sama papi selama ini..!" ucap Bintang.


Angkasa masih tak bergerak. Sedikit banyak ia sebenarnya tahu tentang apa yang mungkin terjadi pada ayah Bintang saat ini.


Ayah sambung Bintang itu mungkin kini sedang berhadapan dengan ayah kandung wanita itu. Tapi Angkasa tak mungkin memberitahu kan itu pada Bintang. Seperti yang Adrian bilang, urusan Moreno Bram Bintang dan Grace, itu adalah urusan keluarga. Baik Angkasa, Adrian, maupun yang lainnya tidak berhak untuk ikut campur. Biarkan mereka menyelesaikan masalah mereka sendiri. Sebagai orang luar, Angkasa hanya perlu bersikap selayaknya seorang pacar yang siap menampung keluh kesah sang Bintang.


Angkasa menoleh ke arah sang Bintang. Diturunkannya ego itu. Ditatanya lagi hati dan kesabaran yang sempat terkoyak karena ulah kekanak kanakan Bintang Kejora.


Angkasa menatap dalam wanita yang nampak sesenggukan sambil memeluk lututnya itu,


"aku masih bisa jadi sandaran ternyaman buat kamu.." ucap Angkasa.


Bintang menoleh.


"se benci benci nya aku. Se jengkel jengkelnya aku sama kamu, kamu tetap Bintang ku. Sini....." ucap pemuda itu sembari merentangkan tangannya meminta sang Bintang untuk masuk dalam dekapannya.


Bintang tersenyum dalam tangisannya. Dengan segera ia meringsut. Menjatuhkan tubuhnya dalam dekapan hangat pria yang usianya tiga tahun lebih muda darinya itu. Ia menangis sejadi jadinya. Menumpahkan segala kesedihan nya dalam dekapan pria tampan itu. Ia yakin sekarang. Memilih Angkasa bukanlah pilihan yang salah. Laki laki itu adalah laki laki yang sempurna. Akan sangat bodoh jika Bintang melepaskan laki laki pada akhirnya.


...----------------...

__ADS_1


up 20:43


yuk, dukungan dulu 🥰😘


__ADS_2