Angkasa (Kisah Cinta Anak Mafia)

Angkasa (Kisah Cinta Anak Mafia)
Angkasa 43


__ADS_3

buuuuuggghhhh.....


"aduuuuuhhhhh....!!!" ucap Aliya memekik.


Aliya terjatuh. Tubuh kecilnya menabrak sosok tinggi besar membuatnya terpental hingga terduduk di lantai lorong kamar mandi.


"adduuuuhhh...! bok*ngku sakit...!!" ucapnya sambil meringis.


Aliya mengarahkan pandangannya ke depan. Ke sebuah kaki berbalut sepatu pantofel hitam mengkilap yang terlihat mahal.


Bocah itu lantas mendongak, matanya menyusuri tubuh si pemilik kaki dari bawah naik ke atas. Ia kemudian membuka mulutnya. Dilihatnya disana sosok tinggi besar dengan wajah berjambang nampak menunduk, menatap dirinya yang terduduk dengan sorot mata tajam nan misterius.



Aliya dengan segera bangkit dari posisi duduknya.


Di katupkan nya kedua telapak tangan mungilnya itu di depan dada.


"maafkan saya, pak. Saya nggak sengaja, bulu bulu mau pipis...!" ucap Aliya sambil berkali kali membungkukkan tubuhnya, sedangkan kakinya ia silangkan, menahan sesuatu yang rasanya sudah tidak tahan lagi ingin segera tumpah di bawah sana.


Pria itu, Moreno alias Simon nampak diam memperhatikan gerak gerik si bocah yang nampak kesulitan menahan hasratnya itu. Lalu,


"toilet disini rusak...!" ucap pria itu terdengar dingin.


Aliya reflek mendongak, membuat dua bola mata si kecil cantik nan menggemaskan itu bertemu dengan netra tajam bak elang milik sang Moreno.


"yaaaaahhh...kok lusak sih. Aduh, gimana dong?! udah nggak tahan nih...!" ucap Aliya sambil terjingkat jingkat sembari memegangi area bawah perutnya saking tak tahannya.


Simon alias Moreno diam tak bergerak.


"mana ibumu? cari saja toilet lain. Di lantai bawah pasti ada.." ucap Simon. Aliya tak menjawab, ia sibuk menyilang kan kakinya tanpa bisa berfikir jernih. Mulut mungilnya tak henti mengeluh, mengucap kata 'aduh' sembari menyentuh bagian bawah perutnya.


Pria berjambang yang nampak di temani seorang anak buah itu lantas mengangkat kepalanya, menatap lurus kedepan dengan raut wajah dingin yang misterius.


"ikut aku. Ku tunjukkan toilet untukmu...!" ucap Simon sembari mengayunkan kakinya meninggalkan Aliya.


"iya, pak..!" jawab Aliya.


Bocah itu pun berjalan di belakang Moreno, ia berjalan dengan susah payah, tak berani membuka kedua belah kakinya lebar lebar sambil sesekali mendesis merasa tak nyaman dengan salah satu organ intim tubuhnya itu.

__ADS_1


"aduuhh...kok jauh amat sih..! udah nggak tahan..!" ucap Aliya sembari terus berjalan mengikuti langkah Moreno.


Moreno tak bereaksi. Ia terus berjalan di depan.


"uuuhh.... kalau pipis disini gimana? kan malu...!!" ucap Aliya makin kesusahan.


Moreno seketika menghentikan langkahnya. Membuat Aliya yang berjalan tepat di belakang Moreno pun tak sengaja menabrak kaki kokoh pria berjambang lebat itu.


"eeehh...! maaf, pak..!" ucap bocah itu.


Moreno berbalik badan.


"kau berisik sekali...!" ucap Moreno dingin. Dan dengan satu gerakan....


.


.


.


seeeeetttt.....


Aliya terdiam. Ia nampak memiringkan kepalanya, mengamati wajah putih berjambang lebat itu. Laki laki itu terlihat sangar. Tapi entah mengapa Aliya tak merasa takut di gendongnya. Tubuh pria itu harum, bulu bulu di wajahnya pun juga terlihat sangat terawat. Penampilan nya juga sangat rapi dan berwibawa. Mirip seperti penampilan daddy Zev, ayahnya Tiger.


"pasti bapak ini orang kaya.." batin Aliya.


Moreno tak menggubris. Matanya hanya fokus menatap ke depan, mengabaikan gadis kecil yang kini nampak tersenyum menatap wajah misterius nya.


Tak lama, mereka pun sampai di toilet lantai bawah.


Aliya merosot dari gendongan.


"pak, tungguin bental ya. Aku mau pipis dulu. Jangan di tinggal, ental aku takut nyasal. Aku cepet kok pipisnya. Tungguin ya...." ucap Aliya pada pria yang sama sekali tak banyak bicara itu.


Aliya berlari menuju bilik kamar mandi. Moreno hanya diam. Entah mengapa, mau maunya laki laki itu menuruti keinginan si bocah kecil. Di suruh nungguin orang pipis. Padahal sebagai seorang pembisnis di dunia pasar gelap, ia cukup sibuk.


Moreno diam. Ia menyandarkan tubuhnya di dinding lorong kamar mandi itu sembari menunggu si kecil cantik yang berada di dalam salah satu bilik kamar mandi mall besar itu.


ceklek...

__ADS_1


pintu bilik terbuka.


"Alhamdulillah...!!" ucap Aliya setelah berada luar bilik.Ia pun mendekati sang Moreno yang menatapnya tajam dan tak bersuara.


"telima kasih ya, pak. Udah nganterin aku pipis. Boleh minta tolong sekali lagi nggak? antelin aku ke lestolan tadi. Ayah sama bunda aku ada di sana. Meleka pasti udah nungguin aku. Aku takut nyasal. Aku juga takut naik itu... apa namanya ..esakasatol...eh...apa ya...eka...esakalatol itu loh pak, yang tangga bisa jalan. Aku takut naik itu sendili. Boleh minta tolong antelin naik lagi nggak?" tanya Aliya setelah bicara panjang lebar.


Seutas senyum tipis tanpa sadar tersungging dari bibir sang Moreno alias Simon. Pria itu kemudian mengangguk kan kepalanya sekali pertanda menyanggupi keinginan sang bocah, membuat si gadis kecil cantik nan menggemaskan itu tersenyum manis.


"makasih, pak..." ucapnya.


Moreno diam tak bergerak. Wajah itu seperti tak asing baginya. Tapi siapa dan dimana? ia sendiri lupa.


Moreno berjalan terlebih dahulu. Aliya setengah berlari mengikuti si pria dewasa. Hingga....


seeeeetttt.....


tangan mungil itu meraih telapak tangan bertato itu. Moreno menoleh ke arah Aliya, gadis itu terlihat kembali mengulum senyum manis.


Moreno kembali mengangkat satu sudut bibirnya ke atas. Keduanya pun lantas menaiki eskalator, menuju lantai atas tempat dimana ayah dan ibunda Aliya berada.


Tak lama, keduanya pun sampai di depan sebuah restoran.


"makasih ya, pak. Udah ngantelin aku. Aku masuk dulu ketemu ayah sama bunda. Dadaaah....." ucap Aliya sambil menggerakkan telapak tangannya ke kanan dan ke kiri dengan riang di barengi sebuah senyuman lebar. Sang Moreno yang bengis dan kejam kembali menyunggingkan senyuman setipis kulit bawang. Tanpa sadar ia pun membalas lambaian tangan si bocah dengan satu telapak tangan yang ia angkat rendah.


Bocah itu berlari, mendekati seorang wanita berambut sebahu dan seorang pria yang tak lagi gondrong itu. Keduanya nampak duduk membelakangi pintu, membuat Moreno tak bisa melihat wajah laki laki berjaket hitam dan wanita berkaos senada dengan laki laki di sampingnya tersebut.


"kita pergi" ucap Moreno alias Simon pada sang asisten yang sejak tadi setia mengikuti kemanapun langkahnya.


"baik, tuan" jawab si asisten.


Keduanya pun berlalu pergi meninggalkan tempat tersebut.


...----------------...


Selamat siang menjelang sore


up 13:41


yuk, dukungan dulu 🥰😘🥰🥰

__ADS_1


__ADS_2