
02:00 dini hari,
Di sebuah rumah mewah nan megah milik seorang pengusaha nan tersohor di negara ini,
pemuda tampan dengan paras kebarat baratan itu turun dari motor hitam tunggangannya. Dengan langkah sedikit terpincang pincang akibat luka di kaki pasca kecelakaan yang ia alami siang tadi, Gala pun berjalan sambil sesekali menggelengkan kepalanya cepat, berusaha menghilangkan rasa pening akibat pengaruh alkohol yang baru saja di tenggak nya bersama kawan kawan sebayanya.
Gala masuk ke dalam rumah. Dijatuhkannya tubuh tegap berjaket hitam itu di atas sofa panjang berharga fantastis yang terletak di ruang tamu nan luas tersebut.
Pemuda itu memejamkan matanya. Kepalanya pusing. Alkohol yang ia tenggak sebenarnya tak terlalu banyak, sehingga hanya sedikit menimbulkan efek pusing namum ia masih bisa pulang dalam kondisi sadar malam ini.
Di pijitnya perlahan pelipis itu dengan mata terpejam. Hingga tiba tiba,
.
.
.
seeeeetttt....
.
.
Gala reflek bangkit dari posisi duduknya. Sebuah tangan menyentuh tubuhnya lancang. Terasa menjalar, menyusup masuk ke dalam jaket kulitnya dan dengan lancang meraba dada bidang pria dua puluh satu tahun itu.
Kaget, tentu saja...!
Gala terjingkat bangkit dan berbalik badan. Mata itu seketika melotot. Dilihatnya disana wanita cantik dengan lingerie kimono warna merah nampak berdiri menantang di belakang sofa yang baru saja ia duduki.
Itu Rachel..!
Kekasih ayahnya..! calon ibu tirinya..! wanita yang belum ada ikatan dengan Hendrawan namun sudah berkali kali menginap dan tidur bersama laki laki duda satu anak itu.
"hai, baru pulang, sayang?" tanya wanita itu dengan suara lembut nan menggoda.
Gala menatap tajam wanita itu.
"sinting lu ya?! ngapain lu disini..?!" tanya Gala begitu benci.
Rachel tersenyum nakal. Namun tak menjawab pertanyaan laki laki itu. Wanita dengan mata biru itu justru melepaskan tali lingerie kimono nya di hadapan laki laki anak kandung dari kekasih nya tersebut.
"pergi lo dari hadapan gue...!!" ucap Gala dingin.
Alih alih pergi seperti yang Gala titah kan, Rachel justru tertawa sumbang. Dengan kimono yang sudah terbuka memperlihatkan lekuk tubuh berbalut dress menerawang tanpa dalaman apapun itu, Rachel berjalan mendekati calon anak tirinya tersebut.
"dingin banget sih kamu.." ucap Rachel sambil menggerakkan tangannya mencoba menyentuh Gala namun ditepis oleh pemuda tersebut.
"jangan sentuh gue, pelacuur..! menyingkir lo dari hadapan gue..! ini bukan rumah lo...! lo nggak pantes ada di sini...!" ucap Gala begitu muak.
"jangan galak galak dong, Gal. Gue kan calon mama lo..." ucap Rachel dengan senyuman angkuh tersungging di bibirnya.
Gala makin panas. Di tatapnya wajah wanita itu dengan penuh kebencian. Di tunjuknya wajah itu seolah ia benar benar tak tahan ingin menghantam wajah itu dengan kepalan tangan nya.
__ADS_1
"heh, lu jangan mimpi ya..! sampai matipun gue nggak akan sudi punya ibu pelaaacur kayak lo...! gue nggak akan biarin, bokap gue..punya nasib yang sama kayak Leo...!" ucap Gala begitu muak menahan emosinya.
Rachel tertawa lagi.
"tapi bokap lo udah cinta mati sama gue. Gimana dong?" tanya Rachel menantang.
"dia bahkan kecewa banget sama lo. Lo tuh sadar nggak sih, sebenarnya sekarang itu orang yang paling bokap lo sayangi itu gue. Dia nggak butuh lo, Gala. Lo tuh cuma anak badung pembuat masalah. Bokap lo udah nggak respect sama sekali ke lo. Sadar dong, lo tuh cuma beban. Lo nggak di harepin. Yakin lo bisa bikin bokap lo jauh dari gue??" tanya Rachel dengan angkuh nya.
Gala mengepalkan tangannya. Rachel makin sombong menatap Gala.
"gue akan singkirin lo dengan cara gue sendiri...!" ucap Gala dingin dengan gigi yang mengetat.
"coba aja. Dan gue akan melakukan hal yang sama ke bokap lo seperti yang gue lakuin ke Leo dulu. Dan gue akan melakukan itu, sebelum lo nyingkirin gue."
"lo tahu gue kan? gue nggak akan biarin siapapun mengganggu rencana gue. Jadi, kita lihat, siapa yang tersingkir lebih dulu" ucap Rachel sambil dengan beraninya menyentuh dada Gala. Pemuda itupun dengan segera menepis tangan itu membuat Rachel justru tersenyum sinis.
Wanita itu kembali menutup kimono lingerie nya. Ia lantas pergi meninggalkan tempat itu. Meninggalkan Gala yang nampak menatap kesal ke arah wanita bermata biru tersebut.
.
.
.
Rachel👇
...****************...
Sementara itu di tempat terpisah di waktu yang sama.
Di sebuah rumah megah namun terkesan gelap dan mencekam. Sebuah rumah yang terlihat begitu mewah, terletak sedikit menjauh dari hingar bingar kota. Bangunan yang semula merupakan sebuah villa milik seorang kaya di negara itu. Yang kini dikenal sebagian masyarakat sebagai rumah milik seorang pengusaha batu bara bersama beberapa karyawannya.
Sekelompok manusia yang mengaku sebagai musafir dari luar kota dan singgah sebentar di tempat itu dan menginap di villa tersebut.
Para musafir yang terdiri dari sekelompok pria dewasa itu juga sangat ramah. Meskipun jarang bersosialisasi, namun tiap kali bertemu warga sekitar mereka selalu ramah.
Di dalam rumah itu,
Seorang pria berpenampilan serba hitam nampak memasuki sebuah ruangan pribadi milik sang bos besar. Sebuah ruangan mewah namun terkesan gelap dan mengerikan. Sebuah ruangan bergaya eropa lengkap dengan ornamen lukisan serta patung patung bernuansa vulgar yang menghiasi tempat tersebut.
Pria itu menghentikan langkahnya. Berdiri di hadapan sang bos besar yang nampak duduk seorang diri di sebuah sofa sambil menikmati minuman beralkohol kesukaan nya.
"tuan" ucap anak buah itu.
Pria dengan tato di beberapa bagian tubuhnya itu tak menjawab.
"ada yang ingin bertemu" ucap si anak buah.
__ADS_1
"siapa?" tanya pria berjambang dan berkumis itu, Moreno nama aslinya, namun kini ia sudah mengganti nama tersebut menjadi Simon.
"Andra, tuan" ucap anak buah itu.
"dia minta barang lagi?" tanya Moreno alias Simon.
"benar, tuan" ucap si anak buah.
Simon menyesap alkoholnya.
"berikan. Aku tidak mau menemui sampah itu" ucap Simon lagi.
Sang anak buah membungkuk.
"baik, tuan" ucap si anak buah.
Pria berpakaian serba hitam itu lantas berbalik badan, hendak keluar dari ruangan sang tuan dan berniat menemui Andra, salah satu pengedar obat obatan terlarang yang di produksi oleh kelompok Simon.
"tunggu...!" ucap Simon tiba tiba.
Sang anak buah menghentikan langkahnya. Ia kemudian berbalik badan menatap ke arah sang tuan.
"ada apa, tuan?" tanya si anak buah.
"aku dengar semalam ada penggerebekan." ucap Simon.
"benar, tuan" jawab si anak buah.
"ada yang tertangkap?" tanya Simon lagi.
"sepertinya hanya pengguna, tuan. Untuk pengedar semua masih aman" ucap si anak buah.
Simon mengangguk.
"ada lagi, tuan?" tanya si anak buah.
Simon memutar gelas di tangannya.
"besok aku mau kau pergi ke masjid. Berikan beberapa makanan untuk warga di sekitar sini. Tetaplah menjadi ramah dan merakyat agar tidak ada yang mencurigai kelompok kita." ucap Simon.
"baik, tuan" ucap sang anak buah.
Simon pun mengangguk. Ia kemudian menggerakkan telapak tangannya. Seolah meminta sang anak buah itu untuk pergi.
Pria berpakaian serba hitam itu pun kembali undur diri.
...----------------...
Selamat pagi...
yuk, dukungan dulu....
semoga nggak ada yang bingung ya.... karena banyak tokoh disini...🥰
__ADS_1