
Siang menjelang...
Di sebuah kamar yang tak terlalu luas itu,
seorang pemuda masih tertidur pulas meskipun jarum jam sudah menunjukkan pukul sebelas siang.
Dalam posisi tengkurap, pemuda berparas nyaris sempurna perpaduan Adrian dan Adinda itu nampak terlelap dalam buaian mimpi mimpinya. Menikmati hari liburnya ini dengan tidur sepanjang pagi hingga siang. Ya, Angkasa memilih untuk kembali mendarat kan tubuhnya di atas ranjang setelah selesai sholat subuh. Dan kini saat gema Dzuhur hampir berkumandang, mata itu bahkan belum mau untuk terbuka.
Angkasa masih asyik berkutat dengan mimpi mimpi nya. Sedangkan tepat di hadapan nya sebuah ponsel sejak tadi terus saja bergetar, menandakan ada sebuah panggilan masuk namun tak digubris lantaran sang pemilik benda pipih masih asyik menari nari dalam buaian mimpi indahnya.
ceklek.....
pintu kamar terbuka...
"astaghfirullah haladzim, dek...!" ucap Adinda pelan sambil mengelus dada. Kamar itu terlihat begitu berantakan. Baju kotor, celana, kolor, gitar, bola, tas, buku, semua berserakan di lantai.
Adinda menghela nafas panjang. Dasar anak bujang..!
Dengan telatennya, wanita itu pun memunguti satu persatu barang barang yang tercecer itu. Memasukkan pakaian pakaian kotor itu ke dalam keranjang dan meletakkan bantal, gitar serta barang barang yang lainnya ke tempat yang semestinya.
Adinda mendekati ranjang. Duduk di tepinya, tepat disamping sang putra yang kini masih tertidur pulas.
Dilihatnya disana, ponsel itu kembali bergetar. Foto wanita cantik dengan nama B di ikuti berbagai emoticon terlihat melakukan panggilan suara.
Adinda tersenyum. Sepertinya itu Bintang Kejora.
Adinda menggerakkan tangannya. Menyentuh pundak sang putra lalu menggoyang goyangkan nya lembut.
"dek, bangun. Udah siang..." ucap Adinda.
Angkasa tak menjawab.
"dek, kamu kalau nggak kuliah pasti kayak gini deh. Kalau nggak dibangunin nggak akan bangun" ucap Adinda.
Angkasa masih tak menjawab.
"adek....bangun dong, sayang. Ini udah siang.." ucap Adinda begitu sabar.
Angkasa mulai menggeliat. Dengan muka bantal dan mata sedikit terbuka ia pun menoleh ke arah sang ibunda.
"apasih, ma? masih pagi juga..!" ucap Angkasa sambil kembali memejamkan matanya.
"ini udah siang, dek. Udah hampir dzuhur. Papa kamu aja udah pulang dari cafe...! bangun dong, nak. Mandi..! kami males banget deh kalau lagi libur gini..!" ucap Adinda.
"hmmmm..." jawab Angkasa tanpa membuka matanya.
"hp kamu dari tadi juga bunyi terus tuh, kayaknya Bintang hubungin kamu. Udah, bangun yuk. Mandi..!" ucap Adinda.
"he'eh..!" ucap Angkasa masih dengan mata tertutup.
Adinda menghela nafas panjang. Nggak bapak nggak anak, kalau disuruh bangun susahnya bukan main.
"udah, buruan bangun..! mama mau turun" ucap Adinda.
Angkasa masih tak menjawab. Perlahan ia pun mulai membuka matanya, menguceknya seolah memcoba melawan rasa kantuk yang terasa begitu kuat.
Adinda keluar dari kamar itu.
Ponsel di atas ranjang kembali bergetar. Angkasa yang masih masih terlihat malas itu lantas meraih benda canggih itu. Dilihatnya sebuah panggilan video masuk. Entah untuk yang keberapa kali. Masih dari nomor yang sama, B✨💫🌟🌹❤️.
__ADS_1
Angkasa tersenyum. Di usapnya tombol hijau di layar ponsel itu, lalu di sandarkan nya benda pipih tersebut pada sebuah bantal yang berada di sampingnya.
"assalamualaikum, cantik" ucap Angkasa sambil tiduran miring. Suaranya masih terdengar berat khas seorang yang baru saja bangun tidur.
Bintang nampak cemberut.
"kenapa?" tanya Angkasa.
"kamu kemana aja sih, By? kemarin aku telfon susah banget. Hari ini juga..! makin hari kami tuh makin susah di hubungin tau nggak...!" ucap Bintang.
"apasih, sayang. Aku baru bangun tidur. Semalem itu aku tidurnya lumayan malem. Kamu kenapa sih, jangan marah marah terus dong..! ntar cepet tua loh..!" ucap Angkasa.
"kamu tuh sekarang banyak berubah, By..! kamu jadi jarang hubungin aku..! susah di ajak chat an..! kamu tuh kayak sibuk sama urusan kamu sendiri tau nggak..! mentang mentang sekarang jadi idola banyak cewek cewek, kamu jadi lupa sama aku..! apalagi setelah ada Pelangi..!" ucap Bintang judes.
"apasih, kok Pelangi dibawa bawa..?! aku nggak ada hubungan apa apa sama dia, honey. Semalam emang aku begadang. Nonton bola sama papa juga. Aku mau WhatsApp kamu takut ganggu, kan jam kuliah kamu...! udah lah, jangan mikir yang aneh aneh..!" ucap Angkasa.
"gimana aku nggak mikir aneh aneh. Kamu disana di puja puja banyak orang. Dikelilingi banyak orang..! sedangkan aku? aku disini sendiri..! kamu nggak ngakuin aku..! dan sekarang fans fans kamu itu malah ada yang mendukung hubungan kamu sama Pelangi...! gimana aku nggak kesel..!" ucap Bintang mulai emosi dengan mata yang terlihat mulai berair.
"siapa yang nggak ngakuin?! kan aku udah bilang, kamu juga tahu, papi kamu belum bisa nerima aku, Bintang. Aku nggak mau di anggap lancang. Di anggap nggak sopan..! makin nggak suka lagi nanti papa kamu sama aku...! udah dong, sayang. Jangan kayak gini..! aku baru bangun tidur kamu udah marah marah nggak jelas...!"
Bintang meneteskan air matanya. Wanita itu nampak sesenggukan.
"Honey, sampai saat ini perasaan aku nggak pernah berubah sama kamu. Kalau aku jarang hubungin kamu, itu artinya emang aku lagi banyak kerjaan. Aku juga tahu kamu sekarang juga lagi sibuk sibuknya di sana. Kamu jangan punya pikiran yang aneh aneh, dong. Nggak ada satupun yang bisa menggeser posisi kamu di hati aku. Lima tahun loh aku nungguin kamu. Itu nggak sebentar, sayang. Kalau aku nggak bener bener sayang sama kamu mana mau aku nungguin kamu selama itu."
"udah dong, jangan punya pikiran aneh aneh lagi. Jarak kita sekarang itu sangat jauh. Aku bingung harus ngapain kalau kamu lagi ngambek gini. Mau nyusulin kamu juga nggak mungkin, kan. Bisa ngamuk papi kamu..!"
"yang namanya LDR, kunci utamanya adalah kepercayaan. Jangan pernah punya pikiran kalau aku akan cari pengganti kami selama kamu jauh. Karena itu nggak akan mungkin terjadi.." ucap Angkasa.
Bintang nampak mengusap lelehan air matanya. Angkasa tersenyum.
"dah ah, jangan nangis. Jelek tauk..!" ucapnya mencoba menghibur sang kekasih.
"aku manja ya, By...?" tanyanya sambil mencoba menghentikan tangisannya.
"iya, mana cengeng banget lagi..! kan harusnya kamu yang lebih dewasa..! kamu kan udah tua..!" ucap Angkasa meledek.
"enak aja...! kamu yang lahirnya ketinggalan...!" ucap Bintang kesal. Angkasa tergelak. Bintang ikut tertawa di sela sela tangisan nya.
Keduanya pun kembali melanjutkan perbincangan mereka. Sebuah cara untuk mengeratkan hubungan mereka yang terpisah jarak begitu jauh. Tanpa Angkasa ketahui. Di seberang sana, Bintang tengah memendam sebuah kekhawatiran. Baru saja sang ayah menghubungi nya. Ia meminta Bintang untuk memutuskan hubungannya dengan anak Adrian itu.
Bram mengatakan, Angkasa bukanlah pria yang baik. Terbukti dari berita berita yang berkembang tentang Angkasa akhir akhir ini. Bram juga mengatakan, bahwa ia akan mencarikan laki laki lain untuk Bintang. Yang jauh lebih baik. Yang jelas asal usul dan silsilah keluarga nya. Bukan dari keluarga mantan penjahat seperti Angkasa.
...****************...
Sementara itu di tempat terpisah,
Pria berseragam polisi itu nampak memasuki sebuah ruang rawat inap. Dimana seorang pemuda tersangka kasus balap liar serta tabrak lari yang di alami seorang polisi kini tengah dirawat.
ceklek...
pintu kamar terbuka....
Galaksi yang nampak melamun di atas ranjangnya menoleh ke arah sumber suara.
Bram mendekat.
"bagaimana kondisi kamu, Galaksi?" tanya Bram.
Galaksi membuang muka.
"ngapain lo nanya kayak gitu ke gue? udah nggak sabar lo pengen ngelempar gue ke sel?" tanya Galaksi ketus.
__ADS_1
Bram tersenyum. Ia menarik sebuah kursi di samping ranjang.
"kau ini, cara bicaramu seperti tidak pernah diajari sopan santun" ucap Bram sambil menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi itu.
Galaksi tak menjawab. Ia memalingkan wajahnya.
"sebenarnya aku juga sedikit heran. Kenapa papamu sekarang membiarkan mu mendekam di jeruji besi. Padahal biasanya, ia selalu membantumu agar bebas dari segala kasus yang melibatkan mu" ucap Bram namun lagi lagi tak dijawab oleh Galaksi.
"aku tidak bisa membayangkan, bagaimana nasibmu ke depannya. Kau masih muda, karirmu sebagai seorang artis juga sedang naik, tapi tiba tiba kau menghilang bak ditelan bumi. Pasti semua orang akan mencari cari keberadaan mu. Dan sudah pasti, karirmu lambat laun akan meredup, di gantikan sosok baru yang sebenarnya tidak lebih baik darimu...Angkasa..." ucap Bram menerka nerka masa depan sang artis yang ia tahu beberapa waktu lalu terlibat perkelahian dengan kekasih putrinya itu.
Mendengar nama sang rival disebut sebut, Galaksi pun menoleh.
"lo mau ngomong apa sih? langsung aja..! gue nggak suka basa basi...!" ucap Gala ketus.
Bram tersenyum.
"sebagai seorang polisi yang baik, sebenarnya aku tidak terlalu tega untuk memenjarakan mu" ucap Bram.
Gala mengernyitkan dahinya.
"bagaimanapun jika aku memberikanmu penawaran?" tanya Bram lagi.
"penawaran? penawaran apa?" tanya Galaksi.
Bram tersenyum sinis, lalu berkata...
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
"dekati, dan menikah lah dengan putriku, Bintang, kekasih Angkasa, musuhmu...!"
deeeeegggghhhh.....
...----------------...
Selamat malam...
up 19:39
__ADS_1
yuk, dukungan dulu 🥰😘🥰