
***Warning...!!
bacaan untuk usia 21 tahun ke atas ..!
mengandung unsur kekerasan dan dewasa...! HANYA CERITA FIKTIF TIDAK UNTUK DITIRU***
......................
Hari berganti,
03:00 dini hari,
Disebuah bangunan lusuh bekas pabrik penggilingan daging yang tak terpakai.
Sepuluh pria berpakaian serba hitam nampak turun dari tiga mobil yang berbeda. Mengikuti mobil sebelum nya yang sudah terlebih dahulu tiba, ditunggangi oleh dua pria dewasa di dalamnya.
Dua belas pria matang, dengan tubuh kekar bertato dan wajah sangar itu nampak berjalan memasuki bangunan tua yang sepertinya terbengkalai pasca kebakaran hebat yang melanda belasan tahun lalu itu.
krriiiieettt.....
pintu besi itu terbuka. Para pria itu masuk kedalam bangunan luas yang hanya diterangi sebuah lampu bohlam berpencahayaan redup tersebut.
Sang pemimpin, Simon alias Moreno, nampak berdiri dengan gagah dan garangnya, menatap ke arah dua manusia sanderanya yang tergantung tak berdaya disana. Di ikat di sebuah tiang pancang dalam posisi tangan terlentang, tubuh setengah tel*njang dengan beberapa luka di bagian tubuhnya.
Moreno menghisap rokoknya. Didekatinya salah satu tawanan nya, seorang wanita bertato yang beberapa hari lalu ia seret dari sebuah tempat hiburan malam di kota itu.
"morning, bit*h..!" ucap Simon alias Moreno.
Wanita dengan beberapa luka ditubuhnya yang nampak sudah lemah itu, Sofie, nampak menatap Simon dengan sorot mata memelas seolah meminta belas kasihan pria dengan 'mungkin' banyak anak dari banyak pula wanita itu.
"tuan....ampun...." ucap Sofie lirih.
Simon mengeluarkan senyuman iblis nya. Dihisapnya rokok itu lagi lalu membuang asapnya ke atas.
"ampun? kau memohon ampun, sayang?" tanya Simon. Di gerakannya tangan yang mengapit rokok itu. Disentuhnya sebuah benda kenyal yang tak tertutup kain itu dengan lembut dan mengusap usapnya. Membuat dada wanita itu bergetar hebat. Bergetar lantaran takut dengan tangan iblis yang beberapa kali melecehkan nya selama ia disekap di tempat itu.
Sofie menangis. Simon makin bahagia melihat tangisan wanita bertato itu
"kau menangis? itu tidak seperti saat kau tertawa bahagia ketika kau berhasil membuat putriku menangis sesenggukan, sayang" ucap Moreno.
"maaf, tuan..hiks...." ucap Sofie menyesal.
"maaf untuk apa? bukankah aku tidak pernah jahat pada mu? hemm..." ucap Simon sambil kembali mengusap usap benda indah dengan ujung tombol yang di tindik itu.
Sofie makin bergetar ketakutan.
"kau sudah terbiasa di perlakukan seperti ini bukan? bahkan lebih, mungkin?" tanya Simon menakutkan.
Sofie menangis ketakutan.
"ini adalah akibat jika kau berani macam macam dengan putriku, sayang...!" ucap Moreno sambil menggerakkan tangannya. Mengusap dada naik ke leher hingga wajah Sofie. Membuat wanita itu makin bergetar ketakutan.
"karena bagiku, air matanya sangatlah berharga. Kau berani mengusiknya, bahkan berencana untuk berbuat lebih lagi padanya, membuatnya semakin hancur dan berduka dengan laki laki bodoh itu sebagai umpannya. Itu artinya, kau berani menantang aku sebagai ayahnya..!" ucap Moreno lagi.
"Asal kau tahu jal*ng, air mata putri ku, haruslah kau bayar dengan tetesan darahmu...!" ucap Simon mengerikan.
Sofie makin menangis takut.
Simon menyeringai. Lalu....
plaaaaakkkk.....
"aaaaakkkkhhh...!"
__ADS_1
Simon menampar pipi itu dengan kerasnya. Sofie makin menangis lagi. Laki laki itu terlalu mengerikan sebagai manusia.
Simon berjalan mendekati satu lagi sandera nya yang berada di samping Sofie. Masih dengan rokok di tangannya.
Seorang pemuda babak belur yang juga terikat pada tiang pancang dengan kondisi tubuh penuh luka dan hanya mengenakan sebuah celana dal*m berwarna putih.
Pria itu seolah sudah tak berdaya. Bahkan untuk mengangkat wajahnya saja ia sudah tak sanggup. Penyiksaan demi penyiksaan telah ia dapatkan semenjak pertama kali ia diseret dari sebuah hotel setelah menjebak Angkasa.
Ya, itu adalah anggota Black Moon yang hilang. Yang dicari cari oleh teman teman dan keluarga nya. Gerald...!
Pria itu rupanya kini telah menjadi tawanan si pria gila berwujud manusia berhati iblis, Moreno alias Simon.
Simon mendekati Gerald. Dihisapnya rokok itu lagi. Lalu di membuang asapnya ke udara. Diamatinya pemuda yang sudah tak berdaya itu. Pemuda yang pada awalnya sok jagoan menantang Moreno duel. Namun dapat dengan mudah dikalahkan oleh pria bertato hampir di sekujur tubuhnya itu.
"hai, boy...! kau masih hidup..!" ucap Moreno.
Gerald mencoba mengangkat kepalanya.
"lepasin gue..!" ucap Gerald.
Moreno tertawa sumbang. Diapit nya benda bernikotin miliknya. Tangannya kemudian bergerak menyentuh benda menonjol berbalut satu satunya kain putih yang melekat di badannya itu.
"apa imbalannya jika aku mau melepaskan mu? hemm..?" tanya Moreno sembari mengusap usap benda itu.
"lepasin gue, anj*nk...!" ucap Gerald lagi seolah masih belum mau tunduk pada sang Moreno.
Moreno tertawa sumbang. Di jauhkannya tangan itu dari Gerald. Ia berbalik badan. Berjalan dua langkah memjauh dari pemuda itu, lalu......
.
.
.
.
hantaman siku kokoh mantan suami Grace itu mendarat dengan sempurna di wajah Gerald. Darah terpercik dari hidung dan bibirnya. Sofie yang terkena percikan itu menjerit.
Gerald bonyok lagi.
Belum puas, Moreno kembali mengayunkan kakinya, menghantam perut Gerald dengan kuatnya membuat pria itu makin tersiksa di buatnya.
"stop...!! tuan, tolong berhenti..! saya mau melakukan apapun untuk tuan...! saya bersedia jadi budak tuan dan menuruti apapun yang tuan perintah kan. Tapi tolong lepasin kami..! jangan siksa kami lagi saya mohon...!!" ucap Sofie menangis sejadi jadinya. Sungguh, sebagai seorang wanita mentalnya benar benar tergoncang melihat dan mengalami berbagai tekanan dan penyiksaan yang dilakukan oleh Simon. Ia merasa bak tinggal di neraka bukan di dunia. Sebuah tempat yang di huni para iblis tak berhati. Ia benar benar tak menyangka, ada sosok manusia seperti Simon di dunia ini..!
"anj*nk...! lu ngomong apa, jal*ng...?! gue nggak sudi tunduk ama dia...!!" ucap Gerald menolak.
"Ge, udah...! yang penting kita selamat..!!" ucap Sofie.
"gue nggak mau, bangs*t..! lebih baik gue mati dari pada harus tunduk ama dia..!" ucap Gerald.
Simon mengangkat dagunya. Lalu bertepuk tangan dengan gerakan perlahan.
"sebuah gengsi yang cukup tinggi..!" ucap Simon sambil berjalan mengelilingi dua manusia itu.
"aku salut dengan kegigihan mu mempertahankan harga dirimu, bocah tolol..!" ucap Simon yang kini berdiri di belakang Gerald.
Tangan nya kembali bergerak, di ambilnya puntung rokok dari mulutnya itu, dan.....
"aaaaaaaaaakkkkkhhhhhhhh.....!!!"
ditancapkan nya benda menyala itu di punggung sebelah kiri Gerald. Pemuda itu memekik kesakitan. Sofie makin ketakutan. Simon mengangkat dagunya seolah puas dengan jeritan pemuda itu.
Cukup lama, membuat sebuah luka melepuh terbentuk disana.
__ADS_1
Simon mencabut batang rokok itu, lalu kembali menghisapnya.
Simon lantas mundur.
"lepaskan ikatan bocah bodoh ini. Hajar dia...! Dan pastikan dia tunduk padaku malam ini juga..!" ucap Simon.
"siap, tuan..!" ucap para pria berkemeja hitam itu.
Simon mengangkat dagunya lagi.
"Rain, ikut aku...!" ucap Simon pada anak buah kepercayaan nya.
Simon pun berbalik badan, berlalu pergi dari tempat itu bersama Rain di belakangnya. Meninggalkan tempat yang kini terdengar menggema teriakan dan jeritan dari seorang Gerald yang tengah di eksekusi. Di buat jinak dan berlutut di untuk tunduk dan patuh pada perintah sang Moreno.
Pemuda itu mungkin belum tahu, siapa Moreno. Sehingga ia masih keras hati untuk terus membangkang pada perintah pria itu.
Moreno berjalan menuju mobilnya. Rain pun membukakan pintu untuk sang tuan lalu masuk ke dalam kursi kemudi.
Kendaraan roda empat itu pun berlalu pergi meninggalkan tempat tersebut.
"kita kemana tuan?" tanya Rain.
Moreno menoleh ke sampingnya, dimana sebuah boneka Teddy bear berwarna pink berukuran jumbo berada di sana.
Simon menyunggingkan senyuman tipis nyaris tak terlihat.
"rumah sakit" ucap Moreno.
"baik, tuan" jawab Rain.
Mobil pun terus melaju meninggalkan tempat itu. Namun tiba tiba......
.
.
.
.
ciiiiiiiiiiitttttt.....!!
Rain menghentikan laju mobilnya. Dilihatnya disana, tepat di depan kendaraan roda empat nya, sebuah mobil nampak terparkir melintang menghadang jalan, membuat mobil milik Moreno pun tak bisa melewatinya.
"apa apaan mobil itu...?!!" ucap Rain.
Pria itupun turun. Didekatinya mobil itu dengan langkah penuh emosi. Simon hanya mengamati pergerakan anak buahnya itu dari dalam mobil.
"hei....!! buka...!! siapa kau?!" tanya Rain sambil menggedor gedor pintu mobil itu.
Pintu mobil pun terbuka, dan........
.
.
.
dan apa hayookkk🤭🤭🤭😂😂😂
...----------------...
up 23:43
__ADS_1
maapkan sering telat up, Karena efek mata minus author yang sering kambuh jadi nggak bisa lama lama pegang hp...🙈
yuk, dukungan dulu....