
Siang menjelang, disebuah taman kanak kanak di kota itu...
Bangunan itu terlihat mulai sepi. Para siswa dan staf guru satu persatu sudah pergi meninggalkan bangunan tersebut. Pelangi masih berada di ruang kelasnya. Menatap layar ponsel yang ia sandarkan pada vas bunga plastik di atas meja. Bibirnya mengulum senyum tipis, netra nya menatap sendu ke arah benda pipih yang kini tengah menampilkan sebuah live Instagram dari seorang pemuda yang sejak pagi menjadi buah bibir masyarakat luas.
Ya, itu adalah Angkasa...!
Hari ini ia melakukan siaran langsung melalui akun Instagram nya. Bukan hanya Angkasa seorang diri, ia juga mengajak Dodo sang sahabat yang merupakan biang kerok dari semua masalah yang kini mencuat ke permukaan. Ia menjelaskan tentang Pelangi yang ia sebut sebagai sahabat lama, sahabat dari daerah tempay kelahiran sang ibunda. Sedangkan untuk pacar ia juga mengatakan sudah memiliki tambatan hati namun identitas nya masih di rahasiakan. Ia masih belum mau mengungkap sosok Bintang, mengingat masih ada restu Bram yang mengganjal. Ia takut di anggap lancang oleh laki laki itu.
Angkasa seolah tak mau masalah ini berlarut larut. Ia tahu betul, ada hati yang harus ia jaga. Ada keluarga Bintang yang harus ia yakinkan hatinya. Ia tahu, ia kurang diterima oleh ayah Bintang, ia tak mau laki laki itu makin menjauhkan restunya hanya karena masalah ini.
Pelangi tersenyum getir.
Beruntung sekali Bintang. Angkasa sangat, sangat dsn sangat menyayangi wanita itu. Sampai sampai laki laki begitu sigap menjelaskan pada wanita itu tentang hubungan nya dengan Angkasa. Ia benar benar tak mau jika kehadiran Pelangi menghantui kepercayaan sang Bintang pada Angkasanya.
Setitik air mata menetes dari pelupuk mata wanita cantik itu. Ia merasa menjadi seperti benalu sekarang. Angkasa kembali menjadi buah bibir. Laki laki itu kini begitu sibuk menjelaskan ke kiri dan kenan perihal hubungan mereka berdua. Ia jadi tak enak sendiri. Ia jadi merasa bersalah.
Pelangi mengusap setitik air mata itu. Ia lantas mematikan ponselnya dan memasukkan nya ke dalam tas selempang miliknya. Ini sudah cukup siang, ia harus segera pulang dan membuka toko.
Pelangi pun bangkit. Ia berjalan keluar kelas, lalu mengunci pintu itu dari luar dan segera menuju halaman sekolah tempat dimana scooter matic nya masih terparkir disana.
Tiba tiba,
"Pelangi..."
Suara berat itu berhasil membuat Pelangi yang sudah mengenakan helm di kepalanya itupun menoleh.
Dilihatnya disana, seorang pria dewasa nampak berdiri tak jauh darinya dengan raut wajah tenang.
"om Adrian?" ucap Pelangi.
Ya, itu Adrian..! ayah Angkasa.
Laki laki itu tersenyum. Ia berjalan tenang mendekati wanita yang sepertinya sedang tidak baik baik saja itu.
Pelangi menunduk.
"om, kenapa ada disini? Tiger sama Aliya tadi udah dijemput sama ayahnya Aliya.." ucap Pelangi.
Adrian tersenyum.
"tadi memang niat saya kesini mau jemput Tiger, tapu udah keduluan sama Zack. Ya udah, nggak jadi. Saya mau pulang, tapi nggak sengaja lihat kamu sendirian di dalam kelas.." ucap Adrian.
Pelangi tersenyum dalam posisi terus menunduk.
"Pelangi...." ucap Adrian lagi.
__ADS_1
"iya, om.." ucap wanita itu.
"kamu baik baik aja?" tanya Adrian lagi.
Pelangi menghela nafasnya yang tiba tiba sesak.
Tolonglah, ia adalah anak yatim piatu yang tidak punya siapapun lagi di dunia ini. Kesepian dan penyesalan atas kehidupannya yang salah di masa lalu sudah sangat cukup menghukum nya. Kini sebagai seorang manusia normal, ia dihadapkan pada sekumpulan manusia beruntung dengan keluarga yang utuh dan orang orang terkasih di sekeliling mereka.
Sebagai seorang manusia, wanita, anak tunggal, salahkah ia jika terkadang merasa sendikit iri?
Angkasa dengan segala popularitas, ketenaran dan keluarga yang bahagia. Bintang dengan kekasih idaman dan banyaknya orang orang yang sayang padanya. Banyak..! mereka semua terlihat bahagia..!
Lalu apa kabar dengan dirinya?
Orang tua tak ada, saudara tak punya, pacar? alih alih ingin punya pacar, tidak dikenali sebagai mantan konten kreator panas saja ia sudah sangat beruntung...!
Memang benar, penyesalan selalu datang belakangan. Semua sudah terlanjur. Tinggal penyesalan yang kini Pelangi rasakan. Bayang bayang kembali di kenali banyak orang kini menari nari dalam otaknya. Ia terlalu takut akan hal itu...!
Pelangi meremas tali tas selempang nya. Sesuatu yang sangat bisa dilihat oleh mata hijau seorang Adrian Tama.
"nak," ucap Adrian lagi.
Pelangi tal menjawab.
"jika kamu butuh teman cerita, kamu bisa cerita sama saya. Kalau kamu merasa kesepian, kamu bisa main kerumah. Ada tante dan nenek juga disana. Om kan udah pernah kasih alamat rumah ke kamu, kan? datanglah, kamu nggak sendirian, nak. Ada banyak orang yang sayang sama kamu. Anggap om dan tante ini adalah orang tua kamu. Kamu anak om.." ucap Adrian begitu lembut kebapakan. Ia seolah sudah bisa menebak apa yang ada dalam pikiran seorang manusia sebatang kara jika tengah di terpa masalah dalam hidupnya.
Adrian merasa iba.
"boleh om mendekat?" tanya Adrian yang kini berdiri pun masih berjarak dengan sang Pelangi.
Wanita itu tak menjawab. Ia masih menutupi wajahnya dengan tangan. Adrian mendekat satu langkah. Di sentuhnya pundak wanita itu,
"om tahu apa yang ada dalam benak kamu, nak. Kamu bisa main ke rumah om kalau kamu mau. Biar ada temennya..." ucap Adrian.
Pelangi mendongak. Ia mengusap lelehan air matanya. Mencoba menetralkan emosinya agar tak terus sesenggukan.
"nggak, om. Aku nggak apa apa kok. Aku cuma tiba tiba kangen papa sama mama aja..." ucap Pelangi sambil berkali kali mengambil nafas panjang dan membuangnya.
"kamu doakan mereka. Siapa tahu Allah mengizinkan kalian bertemu walau cuma lewat mimpi."
"nak, semenjak kepergian orang tua mu. Sejak saat itu om punya janji pada diri om sendiri. Kamu adalah tanggung jawab saya. Jika kamu butuh sesuatu, atau apapun, datang ke rumah. Kamu adalah anak om. Om ini keluarga kamu. Kamu nggak sendirian, nak. Kamu bisa curhat apapun yang kamu rasakan sama om dan tante, juga Angkasa. Jadi jangan sedih lagi, ya. Jangan pernah merasa sendiri. Kamu adalah wanita yang hebat. Orang tua kandung kamu pasti bangga sama kamu." ucap Adrian.
Pelangi mengangguk lalu tersenyum.
"makasih, om" ucap Pelangi.
__ADS_1
"kamu udah mau pulang?" tanya Adrian sembari mengusap pucuk kepala Pelangi lembut selayaknya mengusap kepala putrinya sendiri.
Pelangi mengangguk. Sentuhan itu membuatnya merasa lebih tenang.
"mau om antar aja? ini gerimis loh, dari pada naik motor ujan ujanan. Motornya di tinggal di sini aja dulu. Yuk..." ucap Adrian.
"nggak usah, om. Aku pake motor aja. Ntar kalau ditinggal malah ribet kalau sewaktu waktu mau cari makan nggak ada kendaraan" ucap Pelangi.
Adrian tersenyum.
"ya udah, kalau gitu kamu hati hati ya..." ucap Adrian.
"iya, om. Aku duluan, assalamualaikum..."
"wa alaikum salam..."
Pelangi pun segera naik ke motornya. Pergi meninggalkan tempat itu, melajukan motonya menembus jalanan yang sedikit licin lantaran sering terguyur air langit di musim penghujan yang kini tengah berjalan.
Setengah jam perjalanan...
Motor itu sampai di sebuah bangunan berlantai dua tempat tinggalnya. Seperti biasa, wanita dengan jaket coklat yang kini nampak sedikit basah itupun turun dari motornya. Masuk ke dalam toko dan meletakkan tas serta helmnya di meja kasir tempat usaha miliknya tersebut.
Astaga, setengah jam berkendara di tengah rintik hujan rupanya cukup membuat Pelangi merasakan hawa dingin di sekujur tubuhnya.
Ia pun melepaskan jaket setengah basahnya. Berniat untuk naik ke atas dulu, makan, sholat dan istirahat sebelum nanti ia mulai membuka tokonya.
Dengan jaket, tas, dan helm di tangan, wanita itu pun berniat naik ke lantai dua melalui anak tangga yang berada di sana. Namun tiba tiba......
seeeeetttt.....!!!
.
.
.
.
Bersambung....πππβοΈ
...----------------...
selamat malam....
up 19:14
__ADS_1
yuk, dukungan dulu π₯°ππ₯°ππ₯°