
Hari berganti,
Hari ini hari Minggu,
Kini jam sudah menunjukkan pukul sepuluh pagi. Sesuai janji yang kemarin sudah disepakati, hari ini Angkasa akan menemani Tiger untuk membelikan kado ulang tahun untuk Aliya.
Ya, hari ini si cantik kecil lucu dan menggemaskan itu genap berusia lima tahun. Usia yang masih sangat belia, terpaut satu tahun dari Tiger yang sebentar lagi juga akan berulang tahun yang ke enam.
Mobil merah milik Angkasa melaju menembus padatnya jalanan ibu kota. Bersama Tiger dan Dodo sang sahabat yang hari ini sengaja datang ke rumah sang sahabat, anak Adrian Tama itupun melakukan kendaraan nya menuju sebuah toko aksesoris yang menjual berbagai pernak pernik lucu.
Ya, toko Pelangi adalah toko tujuan Angkasa hari ini. Semalam ia memang sempat berbalas pesan dengan wanita yang kini sudah ia anggap sebagai teman itu. Ia meminta pendapat dari guru kelas Tiger dan Aliya itu, kira kira kado apa yang cocok untuk Minnie mouse nya Tiger tersebut, Pelangi pun memberikan solusi yaitu berupa boneka, akhirnya Angkasa pun memutuskan untuk membeli kado di toko Pelangi saja. Biar sekalian wanita itu yang milihin.
Sepuluh menit perjalanan, mobil merah berharga milyaran itu tiba di sebuah bangunan berlantai dua kediaman sekaligus tempat usaha Pelangi. Dengan tas ransel berbentuk kepala harimau di punggung, bocah tampan putra mahkota Zev Smith Anderson itu turun dari mobilnya bersama Dodo dan sang uncle, Angkasa. Bocah tampan itu berlari terlebih dahulu, masuk ke dalam bangunan berlantai dua milik sang guru TK.
"assalamualaikum...!!!" ucap Tiger riang memasuki toko itu.
"wa alaikum salam...!!" jawab Pelangi. Wanita itu tersenyum menyambut kedatangan murid kesayangan nya, beberapa pengunjung yang berada di dalam toko itupun menoleh mendengar salam yang begitu ceria dari bibir mungil sang harimau kecil.
Pelangi bangkit, mendekat ke arah Tiger lalu bersimpuh di hadapan sang bocah.
Tiger meraih punggung tangan Pelangi lalu menciumnya sebagai tanda hormat selayaknya seorang murid pada gurunya.
"bu gulu Penani, aku mau beli kado buat Aliya.." ucap Tiger.
Pelangi tersenyum manis.
"iya, kemarin uncle udah bilang sama bu guru..." ucap Pelangi.
"terus uncle nya mana? kamu kesini sama siapa?" tanya Pelangi.
Baru saja Tiger hendak menjawab, tiba tiba...
"assalamualaikum..." ucap dua orang pemuda sebaya yang nampak memasuki toko.
"wa alaikum salam..." jawab Pelangi sambil mendongak. Dilihatnya disana, seorang pemuda berbadan gempal dengan kacamata bening membingkai netra nya dan rambut belah tengah menjadi ciri khasnya. Dodo...!
Ia datang bersama seorang pemuda berparas nyaris sempurna yang nampak menyembunyikan wajahnya di balik masker, kacamata hitam dan topi nya. Hal yang selalu Angkasa lakukan untuk menghindari kerumunan para fans.
Pelangi bangkit.
"beeeuuhh, tau aja lu toko yang bagus... penjualnya..." ucap Dodo pelan membuat Angkasa melirik sinis.
Pelangi mendekat.
"hai..." ucap Pelangi sambil tersenyum ramah.
"haaaiiiiii....." jawab Dodo dengan senyuman merekah dan mata berbinar menatap wanita cantik yang kini berdiri di hadapannya itu.
"ya Allah, indahnya ciptaan Mu..." ucap Dodo tanpa sadar. Membuat Angkasa pun reflek menoyor kepala sahabat nya itu.
"apasih lu, monyet..?!" tanya Dodo ngegas.
"mata lo jaga...! nggak bisa liat cewek bener dikit lo..! kudanil...!" ucap Angkasa membuat Pelangi kembali terkekeh.
"kalian mau cari apa?" tanya Pelangi basa basi.
"kayak yang semalem gue bilang. Nih, si bocah, mau nyari kado buat buntut nya.." ucap Angkasa sambil menatap ke arah Tiger.
__ADS_1
Pelangi tersenyum, di sentuhnya lembut kepala sang murid membuat Tiger pun mendongak.
"Tiger mau cari kado buat Aliya?" tanya Pelangi lembut.
"apa ya, bu gulu? aku juga bingung. Bantuin milih dong, bu gulu. Yang bagus, bial Aliya seneng dapet kado dali aku. Pokoknya kado aku halus yang paling bagus..!" ucap Tiger.
Pelangi terkekeh.
"ya udah, kalau gitu kita cari yuk, yang bagus buat Aliya. Biar bu guru bantu pilihin.." ucap Pelangi.
"oke, bu gulu..!" jawab Tiger.
Bocah itupun lantas memilih bakal kadonya di temani sang guru. Sedangkan Angkasa dan Dodo memilih untuk menunggu di sofa panjang yang berada di toko tersebut.
...****************...
Sementara di tempat terpisah,
Di sebuah pusat perbelanjaan mewah di kota besar itu.
Dua orang pemuda tampan nampak berada di sebuah toko baju di kawasan mall besar tersebut. Dengan masker menutupi wajahnya, si pemuda berparas bule nampak tersenyum sinis, menatap sebuah lingerie merah di tangannya di dampingi seorang pelayan wanita di sampingnya, serta seorang kawan dari genk motor kebanggaan nya, Black Moon..!
Ya, itu adalah Gala dan Joe.
Rupanya rasa penasaran dua pemuda itu tentang Pelangi belum sirna. Setelah semalam Gala mencoba mengetes Pelangi dengan mendekati wanita itu namun tidak berhasil, kini Gala hendak mencoba lagi dengan cara yang lebih berani.
Jujur saja, sebenarnya Gala tak terlalu berminat mengetes Pelangi. Atau lebih tepatnya tak terlalu tega.
Entahlah, kata kata Pelangi semalam cukup membuat Gala tak enak hati. Seperti nya Pelangi adalah wanita baik baik, tidak seperti Rebecca yang di kenal berani itu.
Semalam setelah mendapat kan teguran dari Pelangi, Gala sebenarnya sudah tak berniat lagi untuk mencari tahu tentang siapa ni Pelangi dan Rebecca. Baru di dekati saja wanita itu sudah merasa tak suka. Jadi rasanya tak mungkin jika Pelangi adalah sosok Rebecca seperti yang Joe pikirkan. Bagitu menurut Gala.
Entahlah, apa maksud Joe. Ia seolah ingin sekali membuktikan bahwa Pelangi itu adalah Rebecca. Mereka adalah wanita yang sama. Pelangi adalah wanita nakal yang berlindung di balik sikap tenang dan alim nya, tapi sebenarnya, ia tak se suci itu.
.
.
.
"bagaimana, mas?" tanya si karyawan wanita.
Gala dan Joe menoleh. Gala memasang mode dingin tak bersemangat.
"menurut lo bagus nggak?" tanya Joe sambil menatap nakal ke arah si pelayan.
Wanita itu nampak kikuk.
"eemm, selera sih mas. Kalau menurut saya bagus bagus aja.." ucap si pelayan.
"masa sih? lo udah pernah pakai?" tanya nya terdengar tak sopan membuat si karyawan tersipu malu.
Gala masih tak bereaksi, ia sibuk dengan pemikirannya sendiri.
"boleh contohin pakainya, nggak? gue penasaran, sebagus apa kalau ini dipakai cewek..." ucap Joe membuat si karyawan makin tak karuan.
Si karyawan makin merah merona di buatnya. Joe meraih lingerie di tangan Gala.
__ADS_1
"mau contohin? buat gue..." ucap Joe.
Si karyawan tersipu malu. Lalu....
.
.
ia pun mengangguk perlahan.
"ciiihh" Gala berdecih. Joe menyeringai.
"yuk..." ucap pemuda berjaket Black Moon itu. Si karyawan mengangguk. Ia pun berjalan terlebih dahulu di depan Joe, sedangkan pemuda sahabat Gala itu hanya mengikuti nya dari belakang. Gala menggelengkan kepalanya melihat aksi anggotanya tersebut.
"dasar kadal...!" umpatnya pada Joe yang sudah berjalan menjauh darinya.
Joe pun berlalu. Kini tinggal Gala seorang diri di tempat itu. Pemuda itupun memilih untuk berjalan jalan sejenak, mengelilingi toko yang menjual aneka pakaian dalam baik laki laki maupun perempuan itu. Hingga tiba tiba....
"mas Gala..."
suara itu sukses membuat Galaksi menoleh. Dilihatnya di sana seorang pria dengan setelan jas rapi dan berkacak nampak berjalan mendekati nya.
"om Rangga?" ucap Galaksi.
Ya, itu adalah Rangga, asisten sang papa, Hendrawan Ardhanata.
Rangga mendekat.
"om ngapain disini?" tanya Galaksi.
"lho, harusnya saya yang tanya sama mas Gala. Mas Galaksi ngapain disini? kemana aja sudah seminggu nggak pulang? apa nggak kangen rumah?" tanya Rangga.
Gala tersenyum sinis.
"apanya yang mau dikangenin, om. Saya nggak punya keluarga" ucap Gala.
"kok gitu, mas? kan ada papa. Dia masih orang tua mas Gala.." ucap Rangga.
Gala tak menjawab. Ia hanya tersenyum simpul.
"mas, akhir akhir ini tuan Hendrawan itu agak menurun kwalitas kerjanya. Sering malas malasan dan kurang konsentrasi. Entah apa yang membuat papa mas Gala jadi seperti itu. Saya jadi khawatir dengan kondisinya. Tubuhnya juga terlihat sedikit lebih kurus mas, dan...nggak fresh wajahnya..." ucap Rangga.
"kebanyakan ngent*d kali..!" ucap Gala santai seolah tak peduli membuat Rangga tersentak.
"dah lah, om. Nggak usah bahas dia. Dia aja nggak peduli ama saya. Ngapain juga saya peduli ama dia..!" ucap Gala kemudian melangkah kan kakinya hendak pergi dari tempat itu. Namun...
"mas, mas Gala mau kemana?!" tanya Rangga. Gala menghentikan langkahnya tanpa menoleh.
"cari pereeeek..!" ucap pemuda itu kemudian benar benar pergi meninggalkan tempat tersebut.
Rangga hanya bisa menghela nafas panjang. Padahal ia berharap Gala mau pulang dan menemui papanya. Entah mengapa ia punya firasat yang tak enak tentang bos nya itu.
...----------------...
Selamat sore....
semangatnya lagi menurun ini, semangatin aku dong🤭
__ADS_1
kasih dukungan yang banyak yuk...🥰🥰🥰