
"bagaimana jika aku menginginkan nya ikut dengan ku...? ayah kandungnya...!!!"
.
.
.
.
deeeeegggghhhh.....
Jantung Azizah seolah berhenti saat itu juga. Pun dengan Zack yang kini berdiri di hadapan Moreno. Wanita itu nampak memalingkan wajahnya. Dadanya terasa sesak. Air mata seketika itu juga mengucur deras dari pelupuk matanya tanpa permisi.
Bertahun-tahun ia menjaga dan merawat Aliya kecil seperti selayaknya anak sendiri. Ia dan suami bahkan rela sampai menunda momongan demi fokus menjaga Aliya, sekaligus membangun perekonomian keluarga kecil mereka yang memang tengah tak karu karuan kala itu. Mengingat Azizah harus rela berhenti kerja dari tempat majikannya terdahulu kala itu demi menjaga dan merawat putri kandung Moreno itu. Dan Zack pun juga masih bekerja serabutan saat itu.
Kini ketika sang putri sudah beranjak besar, saat kondisi ekonomi mereka perlahan mulai pulih, ayah kandung Aliya datang. Ia ingin mengambil bocah manis itu dari sisinya.
Ya..! Sebagai seorang wanita sekaligus Ibu bagi Aliya ia sadar Moreno memang lebih berhak atas Aliya kecil, karena ia adalah ayah kandung dari gadis itu. Tapi sebagai seorang ibu yang menyayangi putrinya, ia seolah tak rela Aliya hidup bersama Moreno.
Ada banyak hal yang melatarbelakanginya...
Pertama, mengenai sikap, sifat, tindak tanduk, perilaku, dan masa lalu Moreno.
Ia seolah tak rela jika Aliya dididik dan dibesarkan oleh tangan pria bengis dan kejam dengan berbagai rekor buruk nya di dunia kejahatan.
Yang kedua, Ia sudah terlalu menyayangi Aliya..!
Rasanya ia tidak akan sanggup untukbisa hidup berjauhan dengan gadis manis itu.
Itu terlalu menyakitkan..! Itu terlalu berat untuk Azizah yang sudah menganggap Aliya seperti anak kandungnya sendiri..!
Bagaimana Aliya ke depan bersama Moreno? Bagaimana kondisi Alia tanpa pengawasannya? Siapa yang akan mengingatkan tentang makanannya? menemani belajarnya? mengajaknya bercanda sebelum tidur? menyiapkan bekal sekolahnya? merapikan baju-baju dan tempat tidurnya? mengajaknya mandi bersama sambil bercanda? membantu mengerjakan tugas-tugas sekolahnya? menyisir rambutnya? memijiti kakinya ketika bocah itu merasakan lelah? siapa...?
Tolonglah, jangan pisahkan ia dengan Aliya..! Azizah tidak akan sanggup...!
Wanita itu terus meneteskan air matanya tanpa mengucap sepatah kata pun. Mendengar kata-kata yang keluar dari mulut Moreno berhasil mencabik cabik hatinya. Zack diam tak bergerak. Moreno nampak mengangkat satu sudut bibirnya menyaksikan reaksi dari sepasang suami istri itu.
Aliya yang menyadari air mata sang bunda menetes pun lantas bangkit dari posisi duduknya. Didekatinya wanita yang sangat ia sayangi itu disusul Tiger di belakangnya.
"bunda, bunda kenapa nangis?" tanya Aliya polos sambil menyentuh lengan Azizah yang terlipat di depan dada. Bocah itu nampak mendongak menatap polos ke arah wanita berkulit putih tersebut.
__ADS_1
Zizah tak menjawab. Dia mencoba tersenyum sambil mengusap lelehan air mata yang membasahi pipinya.
Aliya bingung, ia lantas menatap ke arah sang ayah, lalu menatap kedua orang tuanya secara bergantian.
"ayah sama bunda kenapa sih? kok pada diam?" tanya Aliya namun masih tak ada yang menjawab.
Merasa tak mendapatkan jawaban dari kedua orang tuanya, bocah itu lantas menoleh kepada pria berbadan tegap yang ia kenal sebagai Om Simon itu.
"Om baik..! Om baik ngapain bunda kok bunda nangis?" tanya Aliya.
Simon menatap gadis kecil itu dengan tenang.
"Bunda aku kok nangis, kenapa?" tanya bocah itu lagi namun tak ada jawaban lagi.
Aliya kembali meraih lengan sang bunda.
"bunda, bunda, Aliya minta maaf..! bunda sedih ya gala-gala panik main nggak pamit? gala-gala takut kalo Aliya ilang? maaf ya, bunda. Tadi Aliya main yang ngomong sama bunda dulu. Aliya janji nggak bakal main jauh-jauh lagi. Nanti kalau ke mana-mana Aliya bakalan ngomong sama bunda, sama ayah. Tapi bunda jangan nangis, Aliya minta maaf" ucap bocah itu dengan sorot mata mengembun.
Tiger yang sejak tadi ikut mengamati sepasang suami istri itu pun kini nampak menatap tajam ke arah Moreno sambil berkacak pinggang.
"om...!!" ucap Tiger sambil memasang wajah kesal.
"om ngapain bunda kita?!" tanya Tiger terdengar kesal. Moreno diam. Dia hanya mengulum senyum lembut.
"om jangan macam-macam ya sama bunda...! itu bundanya aku sama Aliya ...!kita nggak suka kalau bunda kita di bikin nangis...! om ngapain bunda?!" tanya Tiger keras.
Moreno tersenyum.
"om nggak ngapa ngapain, sayang. Om cuma minta ijin bawa kalian main lagi besok. Kalian mau?" tanya Moreno.
Tiger dan Aliya nampak menatap penuh kecurigaan pada sang Moreno.
Aliya lantas menatap ke arah sang bunda.
"Bunda, boleh nggak kalau aku besok main lagi sama Om baik? Om baik nggak jahat kok, bunda. Dia baik banget malahan..! sayang sama aku sama Tigel. Kita mau apa dibeliin sama Om baik. Boleh nggak, bunda, aku besok main lagi sama Om baik?" tanya Aliya begitu polos.
Zack dan Zizah nampak tak bersuara. Mereka bingung apa yang harus mereka lakukan. Banyak yang mengatakan, termasuk Adrian, bahwa Moreno sudah berubah. Meskipun dia masih lah laki-laki yang bengis dan kejam tapi ia sudah memiliki sisi baik yang dapat dilihat oleh segelintir orang.
Suami Azizah tak bergeming. Sebagai seorang ayah angkat, dia tahu bahwa Moreno memang lebih berhak atas Aliya. Tapi sama seperti sang istri, dia seolah merasa begitu berat untuk melepas Aliya ikut bersama Moreno.Sama seperti apa yang Azizah rasakan.
Moreno bergerak, mendudukkan tubuhnya, berjongkok lalu meraih pundak gadis kecil itu.
__ADS_1
"Aliya, mungkin ayah sama bunda kamu kecewa karena om ngajak kamu jalan-jalan nggak bilang-bilang sama mereka" ucap Moreno terdengar begitu kebapakan.
"sekarang gini aja, Om pulang dulu, kamu bilang sama ayah dan bunda kamu, bilang kalau Om minta maaf udah ngajakin kamu jalan tapi nggak ngomong sama mereka. Sekalian kamu pamit sama mereka, bilang kalau kamu mau ikut sama om besok" ucap pria itu lagi kini sambil melirik ke arah Zack dan Azizah yang seolah tak bisa berkutik sedikitpun.
"gimana? kamu mau? bilangin ayah sama bunda kamu, kalau om itu adalah orang yang baik untuk kamu. Bilang sama mereka, gimana perasaan kamu kalau kamu deket sama om" ucap Moreno dengan begitu tenang dan lembut. Sangat jauh berbeda dengan gaya bicara sang Moreno yang selama ini Zack dan Azizah kenal.
Aliya mengangguk dengan riang.
"iya, Om, ntal aku ngomong sama ayah sama bunda..! ayah sama bunda pasti ngelti. Om kan emang olang baik bukan olang jahat..!" ucap Aliya sambil tersenyum manis
Simon tersenyum manis. Ia mengacak acak lembut rambut sang putri kecil.
"anak pinter." ucapnya
"ya udah, sekarang om pulang ya, kita ketemu lagi besok. Jangan lupa ijin sama ayah bunda kamu. Oke..." ucap Simon.
"oke, om..!" ucap Aliya riang
Simon pun bangkit. iya menatap ke arah Zack dan Azizah bergantian.
"aku beri kesempatan pada kalian untuk menghabiskan waktu kebersamaan kalian dengan Aliya sampai besok. Gunakan satu malam kalian dengan sebaik mungkin. Dan besok, jangan pernah menghalangiku untuk membawa putri ku pergi karena aku lebih berhak atas Aliya* ucap laki-laki itu dengan sorot mata tajam mengerikan.
Azizah berkali kali mencoba menenangkan hati dan jiwanya. Seolah berusaha sekuat mungkin untuk berhenti menangis.
Pria dengan sejumlah tato di tubuh kekarnya itu lantas berbalik badan, berjalan menjauhi para manusia yang nampak berdiri di sana. Semakin jauh, hingga....
"papa, tunggu....!!" teriak Bintang kemudian berlari mengejar laki-laki itu.
"papa? om baik papa nya kakak Bintang ya, mas uncle?" tanya Aliya polos.
Angkasa hanya mengangguk.
Aliya lantas kembali menatap ke arah Simon yang kini berjalan menjauh sambil menggandeng tangan Bintang. Seutas senyum terbentuk dari bibir mungil nya. Entah mengapa ia merasa senang melihat pemandangan itu.
...----------------...
Selamat sore
maaf up nya telat.
yuk, dukungan dulu 🥰🥰🥰😘
__ADS_1