Angkasa (Kisah Cinta Anak Mafia)

Angkasa (Kisah Cinta Anak Mafia)
Angkasa 70


__ADS_3

Di sebuah rumah makan Padang.


Seorang pemuda berparas tampan nampak keluar dari sebuah warung yang menjual makanan khas tanah Minang itu.


Galaksi nampak tersenyum. Di tangannya kini sudah ada satu kantong kresek berisi dua bungkus nasi Padang dengan lauk pauk lengkap spesial untuk dirinya dan wanita yang kini sering ia panggil istri itu, Pelangi.


Galaksi mengayunkan kakinya menuju toko Pelangi sembari sesekali menghisap rokok di tangannya. Tiba tiba....


drrrrttt..... drrrrttt.....


ponsel di saku nya bergetar pertanda panggilan masuk.


Galaksi merogoh saku tersebut.


*Wisnu


memanggil*...


Galaksi pun dengan segera mengusap tombol hijau pada layar datar itu, lalu menempelkan benda pipih tersebut di telinga sebelah kiri nya.


"gimana?" tanya Galaksi.


"sukses, Gal. Mereka berantem sekarang. Si Bintang baru aja pergi..!" ucap Wisnu.


Galaksi menghentikan langkahnya.


"bagus...! sekarang Gerald mana? dia ada ama lo...! kalian semua buruan cabut dari situ jangan sampai Angkasa liat..! dan satu lagi, Sofie aman kan? dia nggak bawa apa apa waktu masuk hotel kan?" tanya Gala memastikan.


"lah, gue nggak tau..! kan itu urusan Gerald yang ada di atas..!" ucap Wisnu.


Galaksi menghela nafas panjang.


"Gerald ada di situ nggak?" tanya Gala lagi.


"nggak ada..!" ucap Wisnu.


"ya udah, sekarang lu cabut deh...! lu nggak ambil foto atau apapun kan?" tanya Gala memastikan.


"kagak...!"


"bagus...! pergi kalian semua dari situ sekarang...!" ucap Gala.

__ADS_1


"oke..!" jawab Wisnu. Ia pun dengan segera mengajak anggota Black Moon yang lain yang ikut menyaksikan kehancuran Angkasa itu untuk segera pergi dari tempat tersebut.


Sementara Galaksi.


Pria yang masih berada di jalan itu nampak mendudukkan tubuhnya di sebuah kursi taman yang berada di pinggir jalan. Dicarinya nomor ponsel Gerald, lalu mencoba menghubungi nya.


tutt....tutt....tutt....


"anj*nk..! napa nggak diangkat sih nih manusia..!" umpat Galaksi. Ia kemudian kembali mencoba menghubungi anggota nya itu. Namun lagi lagi, tak di angkat oleh pemuda itu.


"bangs*at...! lu kemana sih Ger...! awas aja lo berani macem macem ama gue...!" ucap Galaksi mengumpat lagi. Ia kemudian kembali bangkit, mengayunkan kakinya lagi sembari mengirim kan pesan untuk Gerald.


.....


Lima menit berjalan kaki, Galaksi sampai di toko aksesoris berlantai dua milik Pelangi. Galaksi memasukkan ponselnya kembali, lalu berjalan memasuki toko seolah tak terjadi apa apa.


Pelangi tersenyum menyambut kedatangan pria yang kian hari kian lembut dan baik padanya itu.


"makan siang dulu yuk" ucap Galaksi.


Pelangi tersenyum. Ia mendekati Galaksi lalu duduk di sofa tunggu tepat di samping pemuda tampan berparas kebarat baratan tersebut.


"tumben baik banget beliin aku makanan segala..." ucap Pelangi.


"gue kek setan lu takut. Gue baik lu katain tumben..!" ucap Galaksi sambil mengeluarkan dua bungkus nasi itu.


Pelangi terkekeh.


"canda...!!" jawab gadis cantik berkulit putih tersebut.


"dah yuk, makan dulu, baru kerja lagi..." ucap Galaksi. Pelangi pun hanya mengangguk. Keduanya pun lantas menyantap makan siang nya itu bersama sama.




...****************...


Sementara itu di tempat terpisah,


Sebuah taksi berhenti tepat di depan sebuah rumah berlantai dua milik salah satu perwira polisi senior di kota itu.

__ADS_1


Seorang gadis cantik turun dari kendaraan itu. Dengan air mata banjir dan sesenggukan wanita itu berlari masuk ke dalam rumah itu.


ceklek


pintu utama rumah itu terbuka. Bintang segera berlari menaiki tangga dan masuk ke dalam kamarnya. Ia bahkan tak peduli dengan sang ibu dan ayah serta adiknya yang sudah berada di ruang tamu rumah megah tersebut, bersiap untuk menyambut kepulangan putri tersayang nya yang baru saja pulang dari luar negeri setelah mengenyam pendidikan lima tahun lamanya.


"lho? Bintang..!!" ucap Grace saat melihat Bintang pulang pulang menangis meraung raung.


Grace dan Bram saling pandang. Grace berlari menaiki tangga menyusul sang gadis tersayang. Sedangkan Bram yang diam diam mengulum senyum itu hanya mengikuti dari belakang bersama sang putra yang masih berusia tiga belas tahun, Cakrawala.


Grace sampai di depan pintu kamar Bintang. Diraihnya gagang pintu itu sembari memutarnya, mencoba untuk membuka pintu kusen berwarna coklat tersebut. Namun tak bisa.


Grace menoleh kearah Bram yang nampak memasang mode khawatir.


tok...tok...tok....


"sayang...! kamu kenapa?! Bintang...!" ucap Grace lembut.


Bintang tak menggubris. Ia masih sibuk dengan tangisannya.


"Bintang, kamu kenapa, nak?" tanya Grace lagi.


Bintang masih tak menjawab. Tangisan itu bahkan terdengar makin keras. Pilu. Membuat Grace sang ibunda merasa iba mendengarnya.


"Bintang kenapa ya, mas?" tanya Grace.


Bram menggelengkan kepalanya dengan wajah khawatir. Laki laki itu mendekati pintu. Lalu mengetuknya.


"Bi..! Bintang, sayang. Kamu kenapa nak? kok pulang pulang nangis? Bintang..!" ucap Bram terdengar begitu perhatian.


Namun Bintang masih tak menggubris. Laki laki itu terus memanggil manggil nama sang putri sembari mengetuk ngetuk pintu kamarnya namun tak ada jawaban.


Bram menghela nafas panjang lalu berbalik badan menatap ke arah Grace.


"ini ada apa sih? kenapa Bintang tiba tiba baru pulang sudah menangis seperti ini? terus laki laki itu mana? kan dia yang jemput Bintang?! kok nggak ada?!" tanya Bram seolah begitu peduli.


Grace terdiam. Ia baru ingat jika Bintang harusnya pulang bersama Angkasa. Tapi kenapa tak ada sosok laki laki itu yang menemani sang putri pulang kerumah? ada apa ini?? pikir Grace.


...----------------...


selamat pagi

__ADS_1


up 06:48


yuk, dukungan dulu 🥰🥰😘🥰


__ADS_2