
Nb: Cerita hanya fiksi. Tidak bermaksud menjelekkan atau menyudutkan pihak manapun🙏🙏
Beberapa jam kemudian....
Setelah menikmati malam bersama dengan sang wanita pujaan hati yang usianya jauh lebih muda darinya, Hendrawan yang wajahnya terlihat lebih tua dari usianya nampak berjalan dengan angkuh dan nampak penuh emosi. Ia berjalan menyusuri lorong rumah sakit tempat sang putra di rawat itu bersama wanita cantik berpenampilan seksi, kekasihnya.
Ya, beberapa jam yang lalu, polisi menghubungi pria itu. Mengatakan jika putra semata wayangnya masuk ke rumah sakit akibat kecelakaan yang terjadi beberapa jam yang lalu. Alih alih panik dan segera menuju rumah sakit untuk melihat kondisi sang putra, Hendrawan justru asyik melanjutkan aktifitas panasnya bersama Rachel.
Pria itu seolah tak begitu peduli pada anaknya. Ia sudah terlalu sering di buat repot oleh Gala, membuatnya seolah sudah kehilangan rasa panik nya untuk sang putra.
Hendrawan sampai di depan sebuah ruang IGD yang nampak di jaga oleh dua orang pria berpakaian preman disana.
"selamat pagi..." ucap Hendrawan pada sang pria berpakaian preman yang merupakan anggota kepolisian itu.
"selamat pagi, tuan Hendrawan..!" jawab si polisi berpakaian preman yang sepertinya sudah sangat mengenal pria itu.
Ya, tentu saja. Ini bukan kali pertamanya Gala berurusan dengan polisi bukan?
"Bagaimana kondisi Gala?" tanya laki laki itu.
"Gala sudah mendapatkan perawatan, tuan. Ada cidera di bagian bahu dan tangannya akibat jatuh membentur aspal. Tapi dokter sudah menanganinya. Sekarang dia sedang beristirahat di dalam" ucap sang polisi.
"oh, baiklah. Boleh saya menemuinya?" tanya Hendrawan.
"tentu saja...! silahkan, tuan" ucap sang polisi.
"terimakasih..." jawab Hendrawan.
Laki laki itupun masuk ke dalam ruangan tersebut.
ceklek....
pintu terbuka...
pemuda yang nampak awut awutan dengan wajah bonyok sana sini, serta lengan sebelah kiri yang nampak di balut perban itu menoleh ke arah pintu. Dilihatnya sang ayah nampak mendekat ke arahnya dengan sorot mata tajam nan garang penuh emosi.
__ADS_1
Gala yang di temani seorang perwira polisi bernama Bram itu terlihat menatap angkuh ke arah sang ayah. Di lihatnya laki laki itu kini nampak tak se bugar biasanya. Tubuhnya terlihat lebih kurus. Matanya cekung. Wajahnya terlihat tak sesegar dulu sebelum Gala memilih untuk menggelandang hampir sebulan lama nya. Seperti nya laki laki itu sedang tidak baik baik saja.
Gala mengangkat dagunya. Tak ada rasa takut ataupun bersalah dalam dirinya. Pemuda itu terlihat begitu jumawa dan berani bahkan pada ayahnya sendiri.
Hendrawan mendekat. Ia berdiri di samping ranjang. Memasukkan kedua telapak tangannya ke dalam saku celana dan menatap sombong ke arah sang putra.
Bram yang berada di ruangan itupun mendekat.
"selamat pagi, tuan Hendrawan, nona..." ucap Bram.
Hendrawan menatap ke arah laki laki tersebut.
"selamat pagi, tuan Bram" ucap Hendrawan mencoba untuk menahan emosinya.
"ulah apa lagi yang anak ini lakukan?" tanya Hendrawan. Gala yang berada di atas ranjang pun hanya diam. Ia nampak memalingkan wajahnya yanh terlihat begitu kesal itu.
Bram tersenyum.
"Galaksi terlibat aksi balap liar, tuan. Ia juga melakukan perlawanan saat hendak kami tanggap. Hingga menabrak salah satu anggota kami yang sedang bertugas. Dari barang bukti yang kami temukan dilapangkan serta beberapa pemeriksaan terhadap putra anda. Ia positif mengkonsumsi minuman keras" ucap Bram pada pria itu.
"ulah apa lagi yang kau perbuat, anak tak setan?!" tanya laki laki itu.
Galaksi tak menjawab
"apa begini caramu membalas jasa pada pada orang tuamu..?!mabuk mabukan..! balap liar...! hampir sebulan kau tak pulang dan tak ada kabar..! sekarang lagi lagi kau membuat ulah..! mencoreng nama baik keluarga mu..! apa sebenarnya maumu...?!!" tanya Hendrawan mulai keras. Rachel menyentuh dada sang suami. Seolah meminta kekasihnya itu untuk lebih tenang dan mengatur emosinya.
Bram tersenyum.
"sudahlah pak, namanya juga anak muda.." ucap Bram.
Hendrawan menggelengkan kepalanya.
"saya benar benar tidak tahu harus berbuat apa lagi, tuan Bram..! Sekarang saya serahkan saja pada tuan..! mau di apakan dia..! mungkin sesekali ia perlu di beri pelajaran agar jera...!" ucap Hendak tegas membuat Galaksi reflek menoleh ke arah laki laki itu.
Apa apaan ini?! ayahnya tidak membelanya? tidak membantunya bebas dengan memberi sedikit uang pelicin pada perwira polisi langganan nya itu??!! kok bisa?! ulah Gala kan bisa mencoreng nama baiknya?! pikir Gala.
__ADS_1
Gala menoleh ke arah Rachel yang sejak tadi berdiri di belakang Hendrawan. Wanita itu nampak mengulum senyuman penuh kemenangan. Seolah ia berhasil mendapatkan sesuatu yang membahagiakan bagi dirinya.
Bram yang mendengar ucapan Hendrawan pun mengernyitkan dahinya. Tumben sekali laki laki ini bersikap demikian. Biasanya jika Gala berbuat ulah, Bram pasti akan mendapatkan uang imbalan dengan syarat menutup kasus Gala. Seperti saat penggerebekan sebuah club malam beberapa waktu yang lalu. Dimana Gala kedapatan membawa satu kantong plastik klip berisi obat terlarang. Bram mendapatkan untung atas kasus itu. Cuan mengalir deras dari Hendrawan atas kesediaan laki laki itu membebaskan sang Galaksi. Tapi hari ini, kenapa Hendrawan berbeda? pikir Bram.
"anda yakin, tuan?" tanya Bram.
"ya..! saya yakin..! biar dia belajar..! sekali sekali dia perlu merasakan dinginnya penjara agar ada rasa jera dalam hidupnya..! saya sudah lelah mengeluarkan banyak uang untuk bocah siaaalan ini..!" ucap Hendrawan sambil menatap tajam ke arah Gala.
Galaksi menggelengkan kepalanya. Ia seolah tak percaya dengan apa yang ayahnya lakukan.
Bram menghela nafas panjang.
"tapi saya minta pada anda, jangan tampilkan wajahnya saat konferensi pers..! sembunyikan identitas nya dan jangan sebut nama saya..! saya tidak mau nama saya hancur karena ulah dia..!" ucap Hendrawan lagi lagi membuat Galaksi tak habis pikir. Hendrawan mau nama baiknya tetap aman tapi membiarkan anaknya meringkuk di penjara? orang tua macam apa pria itu?!! pikir Galaksi.
Laki laki itu lantas menoleh ke arah sang kekasih. Rachel merogoh tas mahalnya, mengeluarkan segepok uang dalam amplop coklat lalu menyerahkan nya pada Bram.
"ini untuk anda. Seperti biasa, anggap saja sebagai ucapan terima kasih saya karena anda sudah mau menjaga marwah saya sebagai orang terpandang di kota ini" ucap Hendrawan. Bram tersenyum. Di terimanya amplop itu dengan sebuah senyuman tipis mengembang di bibirnya.
"sesuai permintaan anda, tuan" ucap Bram.
Hendrawan mengangkat dagunya.
"kalau begitu saya permisi dulu" ucap Hendrawan.
"silahkan, tuan" ucap Bram. Hendrawan pun berlalu pergi meninggalkan tempat itu bersama Rachel. Ia bahkan tak menggubris teriakan Galaksi yang memanggil manggil namanya. Bram hanya diam.
Galaksi mengamuk. Di tendangnya selimut yang sejak tadi menutupi kakinya. Ia murka..! Galaksi menggila. Hendrawan benar benar keterlaluan...!
...----------------...
Selamat pagi,
up 05:20
yuk, dukungan dulu 🥰
__ADS_1