Angkasa (Kisah Cinta Anak Mafia)

Angkasa (Kisah Cinta Anak Mafia)
Angkasa 26


__ADS_3

Di sebuah ruko dua lantai yang masih tertutup pintunya.


Sebuah scooter matic berhenti tepat di depan toko berlantai dua itu. Dengan helm hitam membungkus kepala serta tas selempang coklat terselampir di pundak, seorang wanita berambut panjang nampak turun dari scooter nya sambil melepas helm miliknya.


Pelangi meraih sebuah kantong kresek berisi makan siang yang ia beli di jalan tadi. Sambil merogoh tasnya guna meraih kunci tokonya, Pelangi pun berjalan menuju pintu kaca bertuliskan 'close' tersebut.


Krriiiieettt.....


"assalamualaikum" ucap Pelangi sembari membuka pintu bangunan tempat tinggalnya tersebut.


Dibaliknya tulisan 'close' di pintu itu menjadi 'open'. Dinyatakan nya lampu lampu di dalam toko itu guna menerangi ruangan yang penuh dengan aneka aksesoris yang merupakan barang jualan Pelangi.


Wanita cantik itu meletakkan tas dan makan siangnya di atas meja kasir. Ia kemudian berjalan menuju kulkas di pojok ruangan itu, mengambil sebotol air putih dingin lalu menenggak nya. Namun tiba tiba.....


buuuuuggghhhh......


Suara itu sukses membuat Pelangi tersentak kaget. Ia pun menyudahi minumnya, di lihatnya di sana sesosok manusia yang sepertinya laki laki menjatuhkan tubuhnya di sofa tunggu toko itu.


Pelangi mendekat masih dengan botol minum di tangannya. Dilihatnya laki laki itu tidur di sofa panjang itu dengan satu lengan menutupi kedua matanya.


"permisi" ucap Pelangi.


Pria itu pun mengangkat lengannya.


"kamu?" ucap Pelangi saat menyadari siapa yang kini berada di hadapannya. Itu adalah laki laki yang tempo hari pernah menabraknya. Ia juga laki laki yang pernah menabrak pohon di depan tokonya.


Ngapain dia disini? mana langsung nyelonong masuk tanpa permisi lagi.


"kamu ngapain disini?" tanya Pelangi aneh.


"apasih? gue cuma numpang tidur doang...!" ucap Gala galak.


"maaf, bukannya nggak boleh, tapi ini toko. Bukan hotel..!" ucap Pelangi.


"ck...! lu nggak kenal siapa gue? lu mau toko lu gue obrak abrik?!" tanya Gala lagi dengan mata melotot seolah mengajak duel.


Pelangi hanya bisa menghela nafas panjang. Wanita itu memilih diam membiarkan laki laki yang terlihat bonyok itu untuk berbuat sesuka hatinya. Ia malas berdebat. Yang penting pria itu tak berbuat onar, pikirnya.


Pelangi pun menuju meja kasir, membersihkan setitik dua titik debu di meja kusen ber cat coklat itu menggunakan kemoceng, lalu meraih makan siangnya dan mulai menyantapnya. Sesekali ia melirik ke arah Gala. Laki laki itu nampak berbaring di atas sofa dengan wajah tertutup jaket. Seolah menganggap toko itu adalah milik nya pribadi sehingga ia bisa berbuat sesuka hati di tempat tersebut


...****************...


Sementara itu di tempat terpisah.


Wanita hamil itu nampak mondar mandir sambil menggigit kuku kuku jarinya. Wajahnya nampak khawatir, tal jauh berbeda dengan seorang wanita paruh baya berhijab syar'i yang sejak tadi sibuk berbalas pesan dengan suami dan bodyguard nya.


Ya, itu Adinda. Ia yang ikut panik sejak tadi tak henti mencari tahu tentang perkembangan pencarian Bu Lastri melalui Adrian dan Roky.


Tiga jam sudah Bu Lastri hilang. Kini Adrian, Roky, Zack dan Zev semua berpencar mencari keberadaan wanita tua yang sudah mulai pikun itu.


Entah kemana perginya wanita itu. Ia hanya berpamitan mau berjalan jalan di depan rumah katanya, tapi malah hilang entah kemana dan hingga saat ini tak tahu dimana keberadaan nya.


Nabila dibuat pusing, apalagi Dinda yang terlihat begitu khawatir.


Azizah sang ART datang dari dapur dengan membawa nampan berisi dua gelas air putih.


"nyonya, mbak Nabil, diminum dulu airnya, biar lebih tenang..." ucap Azizah sambil menyerahkan segelas air putih untuk Dinda dan putrinya, Nabila.

__ADS_1


"makasih ya, Zizah" ucap Adinda masih terdengar lembut disela sela kepanikannya.


"iya, nyonya..." ucap Azizah.


Nabila tak berucap. Ia masih sibuk mondar mandir dengan perasaan khawatir yang menyelimuti hatinya.


"Bil, duduk, kak. Kamu lagi hamil.." ucap Adinda pada sang putri


"aku khawatir sama nenek, ma. Sampai sekarang belum ada kabar juga." ucap Nabila.


Adinda hanya bisa menghela nafas panjang.


"kayaknya mungkin akan lebih baik kalau nenek balik ikut sama mama aja, kak. Biar toko kue karyawan yang urus. Mama mau dirumah aja jagain nenek. Biar nggak ilang ilang terus" ucap Adinda dengan raut wajah bersalah. Ia seolah merasa gagal menjaga orang tua yang kini hanya tinggal satu satunya itu.


Nabila menatap iba ke arah sang ibu.


"mama jadi merasa bersalah. Waktu nenek masih sehat mama tinggal. Sekarang udah pikun mama masih sibuk cari uang. Mama jadi ngerasa durhaka.." ucap Adinda sedih.


"ma, jangan ngomong gitu. Kan nenek sendiri yang bilang nggak betah di rumah mama" ucap Nabila yang kini mendudukkan tubuhnya di samping sang ibu.


"mama udah banyak kehilangan waktu mama sama nenek. Mama nggak mau nyesel nantinya, kak. Mungkin ini juga teguran buat mama. Untuk menjaga satu orang tua aja mama nggak bisa. Materi bisa dicari nanti, kak. Mama harus jagain nenek dulu mulai sekarang. Dan memastikan nenek aman setelah ini" ucap Adinda


Nabila hanya mengangguk.


"iya, terserah mama aja. Kita berdoa semoga nenek cepet ketemu ya, ma.." ucap Nabila.


Adinda hanya mengangguk. Tiba tiba....


braaaakkk.....


suara itu terdengar dari ruang tamu. Suaranya keras, seperti sebuah benturan. Membuat tiga wanita beda usia itupun terjingkat kaget.


Nabila dengan cepat bangkit dari posisi duduknya. Wanita hamil itu lantas mengayunkan kakinya. Setengah berlari menuju ruang tamu tempat dimana suara itu berasal di ikuti oleh Adinda dan Azizah di belakang nya.


"kak, jangan lari lari kamu lagi hamil..!" ucap Dinda mengingatkan. Namun Nabila tak menggubris. Hingga...


.


.


.


.


"astaghfirullah haladzim....! nenek.....!!!"


"ibuuuk....!!" ucap Dinda ikut kaget.


Dilihatnya di sana, Bu Lastri nampak terduduk selonjoran di lantai. Bersandar pada samping sofa rumah berdesain minimalis itu sambil mengibas-ngibaskan tangan nya guna mengusir hawa panas yang menyerang tubuhnya.


Sedangkan di sampingnya, sebuah panci, wajan dan ember plastik tergeletak mengenaskan di lantai marmer rumah itu.


Adinda, Nabila dan Azizah mendekat.


"ibuk...! ibuk dari mana aja?! semua panik nyariin ibuk..!!" tanya Adinda khawatir.


Bu Lastri nampak ngos ngosan.

__ADS_1


"ibuk..! ibuk nggak apa apa kan?" tanya Adinda masih belum bisa tenang. Di sentuhnya tubuh sang ibu, seolah mencari cari barang kali ada luka di tubuh wanita yang telah melahirkan nya ke dunia tersebut.


"ya awoh opo o seh, Din..?!! aku iku lho kesel. Kok mek nyangkem ae koen iku...!" ucap Bu Lastri.


( Ya Allah apa sih, Din?!! aku tuh capek. Kok nyrocos aja kamu itu...!!)


” Ya Allah, buk. Dinda itu khawatir..! ibuk dari tadi ilang dicariin banyak orang..! ibuk kemana?" tanya Adinda.


"sing ilang iku lho sopo? wong aku tuku panci ambek bekakas iku lo ambek bojomu...!!" ucap Bu Lastri yang pikun itu tanpa dosa.


(yang hilang itu siapa? orang aku beli panci dan perkakas itu sama suami mu)


Adinda, Nabila dan Azizah mengernyitkan dahinya.


"suami? mas Adrian? kapan?" tanya Dinda.


"la yo agi tas iki maeng...! Arek iku lo ngancani ibuk golek bekakas..!" ucap Bu Lastri lagi membuat Adinda dan yang lainnya makin bingung. Jelas jelas Adrian sejak tadi berkeliling mencari keberadaan mertuanya.


( ya baru aja tadi..? dia yang nemenin ibuk cari perkakas..!)


"ibuk," ucap Adinda lembut.


"mas Adri dari tadi keliling kota loh buk buat nyariin ibuk. Jadi nggak mungkin nemenin ibuk. Ibuk belanja barang barang ini sama siapa?" tanya Adinda lagi.


"Iku bojomu, Din..! mok kiro aku pikun a? iku ngono bojomu. Awake gede duwur, brewokan, awake di gambar kabeh iku lo...!" ucap Bu Lastri ngeyel.


( itu suamimu, Din..! kamu pikir aku pikun? itu suamimu. Badannya tinggi besar, brewokan, badannya di gambar semua itu lho...!)


Ketiga wanita yang tak pikun itu kembali saling menatap penuh tanya.


Siapa laki laki yang dimaksud Bu Lastri? tak mungkin Adrian bukan? jelas jelas laki laki itu sedang kencari wanita tua itu hingga saat ini.


Dinda menggelengkan kepalanya cepat.


"udah, nggak usah dipikirin. Ibuk capek kan? sekarang kita ke kamar. Istirahat..." ucap Dinda sambil membimbing ibunya bangkit.


"lha panciku?" tanya bu Lastri yang mengkhawatirkan panci yang baru saja ia beli.


"biar di bawa ke dapur sama Zizah. Ibuk sekarang ke kamar sama Dinda ya..." ucap Adinda.


"iyo wes..." jawab bu Lastri pasrah. Adinda pun membimbing sang ibu untuk menuju ke kamarnya yang berada di lantai dua. Namun sebelum menaiki tangga,


"Bil, kamu telfon papa sama yang lainnya ya, bilang kalau nenek udah pulang" ucap Adinda.


"iya, ma" jawab Nabila.


Bu Lastri pun naik ke lantai dua bersama Adinda. Azizah membawa perkakas yang di beli bu Lastri itu ke dapur. Sedangkan Nabila kini mulai mengabari para pria pria yang kini tengah sibuk mencari keberadaan wanita tua itu.


Semua penghuni rumah di buat panik oleh bu Lastri. Saking paniknya, Nabila bahkan sampai lupa, saat ini jam sudah menunjukkan pukul satu siang, namun dua bocah menggemaskan yang harunya sudah pulang sejak tadi itu belum nampak batang hidungnya.


Kemana mereka?


...----------------...


Hayoloh...si nenek kenapa?


Up 19:08

__ADS_1


yuk...kasih dukungan dulu..🥰🥰🥰


__ADS_2