Angkasa (Kisah Cinta Anak Mafia)

Angkasa (Kisah Cinta Anak Mafia)
Angkasa 75


__ADS_3

Di meja makan,


Pemuda itu terlihat lesu. Sejak tadi nasi yang berada di atas piring nya hanya ia mainkan saja. Sama sekali tak tersentuh apa lagi sampai masuk ke dalam mulutnya.


Adinda dan Adrian saling pandang untuk sejenak.


"dek, makan dulu" ucap Adinda begitu lembut.


"Ma, Angkasa nggak laper..! Angkasa ada perlu, ma. Angkasa harus cepet cepet....!" ucap Angkasa seolah tak suka ditahan tahan oleh kedua orang tuanya itu.


"sepenting apasih masalah kamu? sampai sampai cara bicara kamu jadi nggak sopan gini sama mama kamu?! mama tuh khawatir sama kamu, dek..! kalau emang ada masalah di luar, jangan dibawa bawa ke rumah..! sampai sampai menghilangkan rasa hormat kamu sama orang tua...! papa nggak suka kamu kayak gitu..!" ucap Adrian terdengar tegas tanpa senyuman.


"pa, aku udah gede..!"


"apa kalau kamu udah gede kamu nggak butuh orang tua? apa kalau kamu udah gede kamu merasa berhak bicara nggak sopan begitu sama orang tua kamu..?!!" ucap Adrian dengan suara meninggi.


Adinda menyentuh punggung tangan suaminya dan meremasnya lembut. Adrian menoleh. Adinda menggelengkan kepalanya seolah meminta sang suami untuk tidak emosi menghadapi anak bujang nya yang memang mulai beranjak dewasa.


Angkasa hanya diam tak menjawab.


"kamu tau nggak, mama kamu semaleman nggak tidur mikirin kamu..! kamu pulang malem. Nggak ngasih kabar..! pulang pulang bonyok..! di tanya baik baik kamu malah sewot. Oke, papa tau mungkin kamu ada masalah. Tapi bisa nggak, kalau ada masalah, kalau emang kamu merasa berat, cerita, dek..! bukannya uring uringan, masang muka asem, di tanya jawabnya nggak ngenakin..! orang yang dari tadi nanya sama kamu, peduli sama kamu, perhatian sama kamu, itu ibu kamu...! orang yang melahirkan kamu..! pantes kamu jawabnya ketus kayak gitu..! ampe mama kamu lari larian ngejar ngejar kamu...?!" tanya Adrian meradang. Ia tak suka dengan sikap Angkasa yang dinilainya tak bisa menunjukkan sikap hormat pada Adinda.

__ADS_1


"kalau ada masalah itu cerita dulu. Biar kamu nya lega. Nggak kebawa kesel kemana mana sampai sampai kamu jadi nggak sopan gitu sama orang tua


..! papa nggak suka kamu kayak gitu...!" ucap Adrian panjang lebar membuat Angkasa diam seribu bahasa.


Wajahnya masih terlihat tegang dan tak bersahabat. Namun pemuda itu seolah enggan untuk menjawab ucapan papanya.


Adinda mengusap usap punggung tangan sang suami. Adrian nampak berkali kali membuang nafas kasar seolah ingin menetralkan emosinya agar tak meledak.


Hening sejenak.


Adinda kemudian bangkit. Di tuangkannya air ke dalam gelas. Lalu di sodorkan pada Angkasa.


"minum dulu, dek. Nasinya dimakan dulu.." ucap Adinda begitu lembut dan tenang.


Adrian hendak kembali mengucapkan wejangan wejangan nya. Namun belum sempat laki laki itu melakukan nya, Adinda terlebih dahulu menggenggam tangan sang suami seolah memintanya untuk berhenti menceramahi Angkasa.


Menasehati ada waktu dan durasinya. Ada kalanya juga memberi ruang untuk si anak agar mencerna apa yang baru saja ia sampaikan. Menasehati nyang berlebihan terlebih pada seorang remaja yang masih abu abu pemikirannya hanya akan membuatnya seolah merasa di hakimi.


Ada waktu dan durasi bagi seorang orang tua untuk memberikan bimbingan bagi mereka.


Adrian menghela nafas panjang. Adinda bersikap sewajarnya seolah tak terjadi apa apa. Menawari suaminya lauk pauk seperti biasanya sembari mengajak ngobrol ringan guna mencairkan suasana. Membiarkan Angkasa diam dengan pemikirannya meskipun hingga saat ini nasi belum sama sekali di sendoknya.

__ADS_1


Cukup lama adegan itu berlangsung. Setelah suasana terasa sedikit mencair.


"dek, dimakan dulu, sayang.." ucap Adinda


Angkasa menunduk. Wajahnya mulai terlihat lebih tenang. Namun mengguratkan kesedihan.


"kalau kamu mau cerita, bisa kok. Papa sama mama siap dengerin. Siapa tahu papa sama mama bisa bantu" ucap Adinda lembut.


Angkasa membuang nafas kasar. Menyendok makanan nya lalu memasukkannya ke dalam mulut.


"kayaknya ads orang yang jebak aku, ma..!" ucap Angkasa dengan wajah dongkol.


"apa?!" tanya Adinda.


Angkasa kembali membuang nafas kasar. Angkasa mulai bercerita. Menceritakan semua yang terjadi mulai dari awal mula ia masuk cafe guna mengisi acara. Hingga saat ia menemui Bintang di rumahnya, dihajar ayahnya dan permintaan Bintang untuk tidak menghubunginya dulu untuk beberapa saat. Angkasa juga menceritakan tentang kecurigaan nya pada sosok Galaksi dan Black Moon. Semua ia ceritakan pada ayah dan ibunya.


Adrian yang sejak tadi sedikit terpancing emosinya kini nampak mendengarkan dengan seksama. Semua ia rangkum dan ia tangkap di memori otaknya. Membuat mimik wajah pria paruh baya itu nampak serius dan tegas khas seorang Adrian Tama.


...----------------...


Selamat malam,

__ADS_1


up 20:23


yuk, dukungan dulu 🥰😘🥰🥰


__ADS_2