
Pertemuan orang tua selesai.
Pria paruh baya berkacamata itu nampak keluar dari ruang dosen di ikuti dua pemuda di belakangnya. Suami Adinda Zahra tersebut berjalan menjauh dari ruangan itu dengan langkah yang begitu tenang khas seorang Adrian Tama sambil membenarkan posisi jam tangannya. Tak ada amarah atau sejenisnya. Ia tetap memasang mode tenang dan berwibawanya.
"pa..." ucap pemuda tampan berparas nyaris sempurna itu dengan suara lirih.
Adrian menghentikan langkahnya lalu berbalik badan. Ditatapnya sang putra yang sejak tadi hanya diam dan menunduk itu.
"apa?" tanya Adrian tenang namun terdengar tegas.
"Angkasa mau jelasin.." ucap Angkasa tanpa berani menatap ke arah Adrian.
Entahlah, se dewasa nya Angkasa nyatanya pria itu masihlah anak Adrian Dinda yang begitu penurut dan seolah begitu takut mengecewakan ayah ibunya. Di sidang dosen dan berakhir skorsing sukses membuat Angkasa merasa begitu bersalah pada kedua orang tuanya.
"kamu memang harus jelasin ini, Angkasa. Tapi nggak sekarang, dan nggak disini. Kita bicara nanti di rumah" ucap Adrian bijak.
Bagi pria itu, menasehati, apalagi memarahi anak di depan umum, bahkan sampai memukul dan dilihat banyak orang, bukanlah tindakan yang tepat. Se salah salahnya seorang anak tak seharusnya kita sebagai orang tua menghakimi mereka di depan khalayak ramai. Bukan ilmu yang si anak dapatkan nantinya, melainkan rasa malu terhadap orang orang di sekitarnya.
Ada kalanya sebagai orang tua kita perlu tegas, mengarahkan dan membimbing, tapi bukan untuk dilihat banyak orang.
Itu adalah urusan pribadi antara orang tua dan anak. Tak perlu menampilkan nya di depan banyak orang. Karena itu sama saja artinya dengan mempermalukan si anak itu sendiri.
"iya, pa" ucap Angkasa lirih.
"sekarang kamu ke TK, jemput Tiger, abis itu pulang. Kita ketemu di rumah. Papa mau cari nenek dulu. Nenek kamu ilang lagi hari ini, Tiger nggak ada yang jemput hari ini" ucap Adrian.
Angkasa hanya mengangguk. Adrian pun berlalu pergi meninggalkan tempat itu. Dodo menatap kepergian Adrian dengan sorot mata penuh kekaguman.
"bokap lo keren banget, Sa...!" ucap Dodo.
Angkasa menghela nafas panjang.
"dia pasti kecewa ama gue" ucap Angkasa merasa bersalah.
Dodo pun menoleh.
"sorry ya, Sa. Gara gara lo belain gue lo jadi kena kasus. Gue jadi ngerasa bersalah ama lo" ucap Dodo.
Angkasa melirik ke arah Dodo lalu tersenyum sinis.
"emang lo nyusain dari dulu...!" ucap Angkasa sambil berlalu pergi meninggalkan tempat itu.
"lah...." ucap Dodo melongo. Angkasa yang garang yang ia lihat tadi sudah hilang. Kembali berganti menjadi Angkasa yang konyol dan banyak omong.
Dodo berlari menyusul sang sahabat.
"Sa, tunggu..!" ucapnya.
"apa lagi?! gue mau jemput Maung..!" ucap Angkasa tanpa menghentikan langkah kakinya.
__ADS_1
"gue ikut...!!" ucap Dodo membuat Angkasa menghentikan langkahnya.
"apaan?" tanyanya.
"gue ikut...!! budeeg lu?!" tanya Dodo.
"ngapain? ngintil mulu lu..!" ucap Angkasa.
"gue sohib lo, bro..! kemanapun lo pergi ya gue ikut..! kita kan BRO...!" ucap Dodo dengan senyuman merekah.
"iye, lo BRO gue, tapi bukan buntut gue..! udah sono..! gue mau pulang..! ngintil mulu lo..! lo kan masih ada kuliah hari ini" ucap Angkasa kemudian berlalu pergi meninggalkan sahabat. Ia bahkan tak menggubris saat pria berbadan gempal itu berkali kali memanggil namanya.
"gue mau bolos dua minggu...!" ucap Dodo
"ngapain?" tanya Angkasa tak habis pikir.
"ya kalau lo di skors, gue bakal bolos. Ngapain gue kuliah kalau nggak ada lo?" tanya Dodo.
"lo oon ape tolol sih? udah lu kuliah aja..! nggak usah ikut ikutan gue..! orang gue di hukum lo malah mau ikut ikutan..! ude sono...! buruan masuk kelas.." ucap Angkasa melarang sang sahabat untuk ikut dengannya. Ya kali Angkasa di hukum Dodo mau ikut ikutan bolos? kasihan yang biayain Dodo lah, pikir Angkasa.
Pemuda berparas tampan itu lantas berjalan menuju parkiran mobil. Di dekatinya mobil merah yang menjadi tunggangannya tersebut. Dengan segera ia pun berlalu pergi bersama kendaraan roda empat itu, meninggalkan kampus itu menuju TK tempat sang keponakan menuntut ilmu.
...****************...
Lima belas menit perjalanan,
Mobil sport mewah itu sampai di depan sekolah TK yang nampak sudah sepi.
Angkasa yang memarkirkan mobilnya di luar gerbang sekolah pun turun dari kendaraan nya. Di dekatinya sang satpam yang sudah memperhatikan nya sejak saat baru tiba di tempat itu.
"siang, pak" ucap Angkasa.
"siang, mas" jawab si satpam.
"saya mau jemput ponakan saya, apa masih ada anak di dalam?" tanya Angkasa.
"masih, mas. Masih ada dua murid tadi di dalam, lagi sama gurunya..." ucap sang satpam.
Angkasa tersenyum,
"oke, makasih ya pak..." ucap Angkasa.
"sama sama, mas.." ucap sang satpam.
Pemuda berparas tampan dengan kulit putih dan badan mulai terlihat tegap berotot itu kemudian berjalan memasuki area sekolah. Dilihatnya dari kejauhan ada satu ruang kelas yang masih terbuka pintunya. Nampak berbeda dengan kelas kelas lain yang sudah tertutup pertanda warganya sudah tak berada di tempat tersebut.
Angkasa mempercepat langkahnya. Di dekatinya ruangan tersebut lalu ia pun melongok melihat kondisi di dalam ruangan itu melalui kaca jendela kelas yang berada disana.
Angkasa terdiam,
__ADS_1
dilihatnya di sana, sesosok wanita cantik nampak memangku Aliya, duduk di sebuah kursi guru, menghadap seorang bocah tampan yang juga duduk di sebuah kursi kecil yang sepertinya ia seret dari barisan kursi murid.
Ketiga manusia itu nampak bercakap cakap hangat. Tawa ketiganya sesekali terdengar membuat Angkasa tanpa sadar ikut tersenyum melihatnya. Wanita berparas cantik itu terlihat begitu tulus dan penuh kasih sayang. Aliya bahkan nampak bersandar manja di tubuh sang guru yang mendekapnya hangat. Sedangkan Tiger, mulutnya sejak tadi seolah tak henti mengoceh, menceritakan hal hal tak penting yang di dengar dengan penuh antusias oleh sang guru.
Angkasa mendekati pintu,
"eeehmmm....eeeehhmmm...."
suara deheman itu sukses membuat Pelangi, Tiger dan Aliya menoleh. Dilihatnya di sana Angkasa sudah berdiri di depan kelas dengan raut wajah datarnya.
"uncle...!!" ucap Tiger berbinar.
"mas uncle...!!" imbuh Aliya tak kalah bahagia.
Pelangi menunduk. Wanita lulusan pondok yang hingga kini tak mau berhijab itu memilih mengarahkan pandangannya ke lantai, tak mau menatap Angkasa yang ia tahu tak terlalu menyukainya itu.
"pulang lu berdua..!" ucap Angkasa ketus.
"uncle yang jemput?" tanya Tiger.
"iyee..." jawab Angkasa.
Kedua bocah itupun bersorak kegirangan. Tiger dan Aliya merosot dari tempat duduknya serta pangkuan Pelangi.
"bu gulu Penani kita pulang dulu ya..." ucap Tiger lalu meraih punggung tangan sang guru dan menciumnya sebagai tanda hormat.
"iya, sayang. Hati hati di jalan ya.." ucap Pelangi.
"iya, bu gulu.." ucap dua bocah itu.
"assalamualaikum...!!!" ucap Tiger dan Aliya sambil berlari mendekati Angkasa.
"wa Alaikum salam..." jawab wanita cantik itu pada kedua bocah yang kini sudah berlari keluar kelas. Mereka bahkan mendahului Angkasa yang masih berdiri di depan pintu.
Netra anak Adrian menatap ke arah Pelangi. Wanita itu nampak menunduk sambil memasukkan ponselnya ke dalam tas selempang sederhana miliknya. Seolah menghindari kontak mata dengan pemuda berparas tampan perpaduan Adrian dan Dinda itu.
Angkasa diam sejenak, lalu....
"thanks, udah nemenin Tiger selama belum di jemput" ucap Angkasa dingin.
Pelangi menghentikan pergerakannya. Ia lantas mendongak ke arah Angkasa dan tersenyum sejenak lalu menunduk lagi.
"sudah kewajiban saya sebagai guru" ucap Pelangi lembut.
Angkasa tak merespon. Ia lantas berlalu pergi meninggalkan tempat itu, menyusul Tiger dan Aliya yang sudah berada di dalam mobil dan pergi meninggalkan Pelangi seorang diri di dalam kelas itu.
...----------------...
Membosankan kah alurnya? atau ber tele"?
__ADS_1
yuk, dukungan dulu 🥰🥰😘