Angkasa (Kisah Cinta Anak Mafia)

Angkasa (Kisah Cinta Anak Mafia)
Angkasa 99


__ADS_3

Motor hitam itu melesat bak angin topan memecah padatnya jalan raya.


Pemuda yang sudah kalut akibat tak menemukan keberadaan ayah kandungnya itu kini di buat makin tak karuan mana kala kembali mendengar nama sang gadis pujaan hati di sebut oleh Zev.


Ia tak tahu apa yang terjadi. Tapi Zev mengatakan, Adrian meminta mereka untuk segera ke toko Pelangi, terutama Galaksi.


Batin Gala kalut. Berbagai pemikiran buruk menggelayut di otaknya. Apa yang terjadi dengan wanitanya? Apakah terjadi hal hal buruk padanya? Apakah Bram juga akan melakukan sesuatu yang tidak tidak pada Pelangi? ayolah, tolong..! jangan libatkan gadis itu dalam masalah ini..! ia hanya anak yatim piatu yang tak tahu apa apa. Susah payah ia menjebak Angkasa dengan Sofie adalah untuk melindungi Pelangi. Jika sampai sekarang terjadi apa apa pada wanita itu, mungkin ia tak akan pernah bisa memaafkan dirinya sendiri.


Gala menambah lagi kecepatan laju motornya. Ia bahkan sudah melesat jauh mendahului anggota Black Moon dan Zev yang masih tertinggal di belakang. Skill balap liarnya benar benar ia gunakan saat ini. Hanya Pelangi yang kini berada dalam pikirannya.


Lima menit berselang, saking kencangnya pemuda itu berkendara, motor berharga fantastis itupun sampai di ruko dua lantai yang merupakan tempat tinggal sekaligus tempat mengais rezeki bagi seorang wanita cantik pujaan hati Galaksi, Pelangi.


Gala turun dari motornya dengan segera. Dilihatnya disana sebuah mobil mewah terparkir di halaman ruko, seperti nya itu mobil Adrian. Sedangkan disamping nya, ada beberapa motor. Entah milik siapa. Mungkin pembeli.


Gala tak menggubris. Pemuda berparas kebarat baratan itu lantas berlari memasuki toko dengan terburu buru.


Galaksi diam sejenak. Dilihatnya disana, didalam toko, seorang pemuda bertubuh subur dengan kacamata tebal membingkai netra nya nampak duduk di meja kasir. Meja yang biasanya ditempati wanita berparas imut kesayangan nya.


Ya, itu Dodo..!


Ngapain tuh bocah kesini? pikir Galaksi.


Dodo yang menyadari kedatangan Gala pun seketika menunduk tak berani menatap ke arah pemuda yang dikenal brandalan itu.


Galaksi mendekati sahabat Angkasa tersebut.


daaaaaaaggggggghhhhh.....


Gala menggebrak meja. Tak terlalu keras namun berhasil membuat Dodo terjingkat kaget sembari mengucap kata kata saktinya, 'kuntilanak'...!


"ngapain lo disini?!" tanya Gala dingin dengan mimik wajah angkuh khas anggota Black Moon.


"ng....ngaa....nganu, Gal..."


braaaaaakkkk.....


"jawab, anj*nk...!!!" ucap Gala membentak sembari kembali menggebrak meja. Dodo di buat makin gugup oleh nya.


"di....di....di....sana...atas, Gal...!!" ucap Dodo gugup.


braaaaaakkkk......


Gala kembali menggebrak meja. 'Kuntilanak' pun keluar lagi.


Gala dengan cepat kembali mengayunkan kakinya. Menaiki tangga ruko itu menuju lantai dua dengan perasaan khawatir. Apa yang terjadi pada Pelangi sampai sampai Dodo harus menggantikan nya di meja kasir. Pemuda itupun sampai di lantai dua. Dan...


.


.


.


.


.

__ADS_1


"Pela...........ngi..! PAPA...!!!!" ucap Gala setengah kaget. Dilihatnya disana Pelangi tengah duduk bersimpuh di lantai bersama Angkasa. Menghadap seorang pria paruh baya yang nampak pingsan, terbaring di atas sofa ruang tamu dengan wajah yang nampak memar di beberapa bagian.


Itu ayahnya...! tuan Hendrawan..! orang yang sejak tadi ia cari cari...! rupanya pria itu berada disini...!! bagaimana bisa??


Gala mendekat. Ia menatap ke arah ayahnya, Pelangi, Angkasa, dan Adrian secara bergantian.


"Papa...? Pelangi? om? ini, kenapa............." tanya Gala namun tak mampu melanjutkan ucapannya. Ia bingung dengan apa yang terjadi hari ini. Semua benar benar penuh teka-teki.


Pelangi yang sedang mengobati beberapa luka di tubuh tuan Hendrawan bersama Angkasa pun nampak bangkit dari posisi duduknya. Di dekatinya dapur yang juga berada di lantai dua bangunan itu. Ia mengambil segelas air putih lalu memberikan nya pada Galaksi yang nampak kacau.


"duduk dulu..." ucap Pelangi lembut.


"tapi, itu..." ucap Gala sambil menunjuk ke arah papanya.


"iya, duduk dulu. Air nya di minum dulu..." ucap Pelangi lagi.


Gala yang masih bingung pun hanya menurut. Ia mendudukkan tubuhnya di samping Adrian.


Pelangi kembali mendekati Tuan Hendrawan yang belum sadarkan diri. Ia kembali membersihkan luka pada lengan dan wajah pria itu di bantu Angkasa di sampingnya.


Anak anak Black Moon serta Zev dan Zack datang.


"lho?! om Hendrawan?!" ucap Joe kaget. Begitupun anggota Black Moon yang lain. Mereka juga ikut terkejut melihat sosok tuan Hendrawan yang kini terbaring tak sadarkan diri di sofa panjang ruang tamu Pelangi.


"bangk*...! capek capek kita masuk hutan..! nemu pala orang...! nemu kon**l, nemu mata...! nggak tahunya yang dicari ada disini...! lu semua pada ngerjain kita ya?!!" tanya Wisnu sok keras.


Pemuda itu kini bahkan dengan beraninya menunjuk nunjuk ke arah Adrian.


"elu kan yang ngirim lokasi ke Gala?! mau lu apa..??!!!" tanya Wisnu tak sopan.


"eh, rambut mie ayam...! lu bisa nggak sopan dikit ama orang tua?! yang lu tunjuk tunjuk itu bokap gue, ta*..!!" ucap Angkasa kesal.


"bapak lu emang salah, setan..! dia sengaja ngerjain gue ama temen temen gue..!" ucap Wisnu.


"lu tau ape...?! lu ngertinya cuma buat rusuh...!! lu nggak ngerti apa apa soal kek ginian...!!" ucap Angkasa tak terima.


"adek, udah.." ucap Adrian tenang tanpa mengubah posisinya.


"nggak bisa, pa...! dia udah kurang ajar ama papa...!" ucap Angkasa.


"udah, dek!" ucap Adrian lagi masih tenang.


"terus mau lu apa, anj*nk? lu mau duel ama gue?!" tanya Wisnu menantang. Zev menggelengkan kepalanya. Zack nampak menatap jengkel ke arah dua bocah itu.


"lu pikir gue takut ama lu?!" tanya Angkasa sembari hendak mendekati Wisnu, namun Pelangi buru buru bangkit dan menahan pemuda itu.


"Sa, udah...!" ucap Pelangi.


"dia ngeselin, Ngi..! nggak ada sopan sopannya ama orang tua!" ucap Angkasa.


"sudah!" ucap Adrian namun tak di gubris.


"anj*nk lo...! maju bangs*t..!" ucap Wisnu.


"sudah!" ucap Adrian namun masih tak di gubris.

__ADS_1


"mata lo..! gue santet juga lo lama lama..!" ucap Angkasa.


"sudah..!!"


"bab* lu..!"


"anjink...!"


"sudah..!"


"mata lo buta..!!"


"SUDAH...!!!!!!"


suara itu menggema ke seluruh ruangan. Semua terjingkat kaget. Bahkan Dodo dan sejumlah pelanggan yang berada di lantai bawah pun ikut terlonjak. Suara itu terdengar sangat lantang dan tegas. Membuat semua seketika diam saat itu juga. Lantai dua yang semula nampak gaduh karena keributan dua pemuda itu kini mendadak hening. Tak ada suara. Wisnu ikut mengkeret mendengar suara Adrian.


"kalau kalian masih mau bertengkar, saya ambilin pisau, sekalian biar seru! mau?!" tanya Adrian tegas.


Semua diam. Wisnu dan Angkasa menunduk. Begitu juga anggota Black Moon yang lain.


Suasana hening. Lalu....


"Pelangi..." ucap Adrian pada gadis yang masih sibuk dengan luka luka tuan Hendrawan itu.


"iya, om" jawab Pelangi.


"jelaskan..!" ucap Adrian.


Pelangi tersenyum. Ia lantas memulai bercerita.


"aku nggak tau om gimana awal mulanya. Pas aku pulang ngajar, aku udah liat papanya Gala duduk nyender di depan teras toko aku. Aku kira cuma orang numpang neduh. Pas aku deketin, ternyata papanya Gala. Kan aku pernah ketemu, jadi aku tau kalau ini papanya Gala. Aku panggil panggil nggak nyahut. Aku pikir tidur. Trus aku coba pegang pundaknya, ternyata beliau pingsan" ucap Pelangi menjelaskan.


"ya udah, karena aku panik aku telfon om Adrian. Maaf ya, Gal. Saking paniknya aku sampai nggak kepikiran buat nelfon kamu" ucap Pelangi.


Gala hanya mengangguk.


"tadi aku udah panggil dokter. Dia dalam perjalanan kesini" ucap Pelangi lagi.


Zev mengangkat dagunya.


"pa.." ucap Zev.


"what?" tanya Adrian.


"bisa kita bicara sebentar?" tanya Zev.


Adrian tersenyum. Lalu mengangguk.


Laki laki itu pun bangkit. Ia lantas turun bersama menantunya dan Zack. Meninggalkan para pemuda yang kini tengah berada di lantai atas itu.


...----------------...


Up 20:42


lanjut besok ya, udah crazy up ini, matanya udah capek.

__ADS_1


yuk, dukungan dulu 🥰😘🥰😘


__ADS_2