
Jam menunjukkan pukul sepuluh malam,
seorang pemuda babak belur nampak berbaring di sebuah sofa panjang toko yang sudah gelap itu. Matanya sejak tadi belum bisa terpejam. Suasana toko begitu sunyi. Lampu lampu sudah di matikan, hanya lampu depan toko dan lampu kecil di bagian tangga menuju lantai dua yang masih menyala. Suara gemericik air hujan dan suara kendaraan yang lalu lalang di jalan raya depan toko seolah menjadi lagu pengantar tidur bagi pemuda dua puluh satu tahun ini.
Nasibnya sebagai anak konglomerat rupanya tak begitu mengenakkan. Sejak siang ia belum makan. Mau beli boneka yang niatnya ingin ia berikan pada wanita cantik pemilik toko ini sebagai ucapan terima kasih justru malah berakhir memalukan. Ia tak punya uang sebesar dua ratus ribu untuk membayar. Padahal sebagai anak seorang yang kaya raya, harusnya uang segitu tak ada artinya bukan?
Gala menghela nafas panjang.
Andai tak hujan dan Pelangi tak mencegahnya keluar, mungkin ia akan pergi ke club lagi malam ini. Menenggak alkohol bersama teman temannya hingga pagi guna menghilangkan rasa suntuk dan kecewanya atas tindakan sang ayah yang membekukan kartu kredit nya.
Kian hari hubungannya dengan pria tua itu kian renggang saja. Sebagai seorang anak ia sebenarnya tahu bahwa Hendrawan kini mungkin tengah dalam bahaya. Hidup berdampingan dengan wanita yang sudah ia kenal sebelum sang ayah mengenal Rachel. Sosok wanita yang dulu pernah masuk menyusup ke dalam geng motor pimpinan nya. Menggoda dan menggambil paksa sosok salah satu sahabatnya. Membuat pria malang itu hancur se hancur hancurnya hingga maut menjemputnya.
Sungguh, wanita itu sebenarnya bukan wanita baik baik. Ingin rasanya ia menarik sang ayah menjauh dari wanita itu namun rasanya sungguh susah, juga malas. Mengingat semua perlakuan Hendrawan pada Gala yang tak seperti selayaknya seorang ayah membuatnya enggan untuk membantu laki laki itu keluar dari jerat Rachel.
Malas, biar saja. Bukan urusan Gala..! itu yang sesekali terlintas dalam benak Gala yang sakit hati.
Pemuda itu masih asyik dengan lamunan dan berbagai pemikiran yang menari nari dalam benaknya. Hingga...
kliiikk......
Saklar yang berada di dinding tangga di pencet. Membuat sebagian lampu di lantai bawah bangunan itupun menyala,
Gala tersadar dari lamunannya. Seorang wanita cantik dengan rambut panjang tergerai di hiasi bandana coklat di kepala hingga memperlihatkan dahinya yang mulus tak berjerawat nampak menuruni tangga bangunan berlantai dua tersebut. Wanita cantik ber piyama hello kitty itu nampak turun dengan membawa sebuah nampan berisi dua gelas susu dan dua mangkok mie instan.
Gala mengubah posisi tubuhnya menjadi duduk. Ia diam memperhatikan wanita cantik yang kini berjalan mendekati dirinya tersebut.
Pelangi duduk di samping Gala. Di letakkan nya nampan itu di atas meja. Lalu di sodorkannya satu mangkuk berisi mie kuah dan segelas susu coklat itu ke hadapan Gala.
"makan dulu" ucapnya tenang. Gala diam tak menjawab.
"maaf, saya cuma tinggal sendiri. Jadi nggak pernah masak. Cuma punya stok mie instan" ucap Pelangi sambil bangkit mengambil kotak tissue di atas meja kasir dan kembali ke sofa serta meletakkan kotak tissue itu di atas meja.
"gue bukan gembel..! gue bisa beli makan sendiri..!" ucap Gala masih angkuh dengan mimik wajah tak suka.
"iya, tau. Tapi ini udah malem, di luar hujan. Kamu belum makan dari siang. Walaupun bukan gembel kamu juga tetep butuh makan" ucap Pelangi tenang dan santai di barengi sebuah senyuman.
Gala tak menjawab.
"makan dulu..." ucap Pelangi sambil menyendok mie instan nya.
Gala tak bergerak. Ia hanya mengamati wajah wanita cantik yang tak banyak bicara, lebih banyak diam dan menunduk. Wanita itu seperti wanita baik bauk, tapi tak terlihat seperti gadis polos dan lugu pada umumnya. Ia tak punya rasa takut dan lemah walaupun tiap bertemu Gala selalu membentak dan marah marah padanya. Walau pun ia terus menunduk, tapi wanita itu tidak menunjukkan rasa takut. Melainkan ketenangan. Pelangi selalu menunduk seolah ingin menghindari kontak mata dengan pria itu.
"lo tinggal di tempat ini?" tanya Gala.
Pelangi mengangguk.
"Rumah saya ada di lantai dua" ucapnya sambil kembali mengunyah mie instan nya dengan lahap.
"orang tua lo?" tanya Gala.
Pelangi menghentikan pergerakannya sejenak, lalu menoleh ke arah pemuda itu.
__ADS_1
"sudah meninggal" ucapnya sambil tersenyum.
"oh...sorry, gue nggak tau.." ucap Gala sedikit tak enak hati.
Pelangi tersenyum lagi.
"nggak apa apa" ucapnya kemudian.
Di liriknya mie dalam mangkok yang belum tersentuh itu.
"makan, dingin nggak enak" ucap Pelangi.
Gala mengangkat satu sudut bibirnya.
Ia pun meraih mangkok itu dan mulai menyantap mie buatan Pelangi.
"elu cewek. Tinggal sendirian di bangunan tengah kota kayak gini. Nggak takut?" tanya Gala.
Pelangi tersenyum. Lalu menggeleng kan kepalanya.
Gala tersenyum tipis.
"ini toko punya lo sendiri? trus kenapa bukanya siang? kenapa nggak dari pagi?" tanya Gala.
"kalau pagi saya ngajar.." ucap Pelangi lembut seperlunya.
"lo guru?" tanya Gala.
Pelangi mengangguk.
Gala menoleh, lalu tersenyum.
Pelangi selesai dengan makan malamnya yang sebenarnya tak sehat itu. Diteguknya susu dalam gelas itu hingga tandas. Gala menikmati pemandangan di sampingnya.
"saya udah selesai. Kamu lanjutin aja makannya. Kalau udah selesai taruh sini aja. Biar besok saya yang beresin" ucap Pelangi.
Gala hanya mengangguk. Wanita itu kemudian bangkit. Ia hendak membawa nampan dan mangkok serta gelas miliknya. Namun tiba tiba....
seeeeetttt.....
Pria itu mengulurkan tangannya,
"gue Galaksi..." ucapnya.
Pelangi menatap tangan kekar itu. Gala memiringkan kepalanya.
"lo?" tanyanya.
Pelangi tersenyum simpul.
Disambut nya uluran tangan pria itu lalu menjabat tangan nya singkat.
__ADS_1
"Pelangi" ucapnya.
Gala mengangguk. Pelangi dengan segera berlalu pergi meninggalkan Gala yang tersenyum menatap punggung wanita itu. Ada rasa ketertarikan dalam diri pria itu pada wanita unik tersebut. Wanita tenang dan pendiam tapi bukan wanita lemah. Itu kesan yang Gala tangkap dari sosok Pelangi.
Pemuda itupun kembali melanjutkan makan malamnya.
Sementara di lantai dua...
Pelangi selesai mencuci piring dan gelasnya. Setelah semua bersih, wanita itupun segera menuju kamar tidurnya yang berada di lantai yang sama.
Pelangi masuk ke kamar. Di kuncinya pintu kusen itu dari dalam. Sebuah bangku rendah namun berbobot di seretnya. Di letakkan nya di belakang pintu kamar itu seolah ia gunakan sebagai penghalang jika sewaktu waktu pintu terbuka dari luar.
Pelangi menutup semua jendela kamarnya. Dengan raut wajah yang terlihat tak begitu tenang, ia pun lantas mendudukkan tubuhnya di sisi ranjang berukuran 160x 200cm itu.
Pelangi terdiam.
Entah mengapa malam ini ia merasa tak tenang. Semenjak kepergian kedua orang tuanya, lalu masuk nya ia ke pesantren. Sejak saat itu kulitnya tak pernah lagi bersentuhan dengan laki laki. Berjabat tangan dengan Gala, serta keberadaan Gala malam di bangunan tempat tinggalnya membuat ketenangan nya terusik.
Entahlah,
ia seolah menjadi seperti memiliki kekhawatiran tersendiri. Wanita yang dulunya sangat sering bergonta-ganti pasangan itu seolah seperti dihantui sesuatu. Suatu ketakutan yang menimbulkan ketidak nyamanan dalam dirinya. Ia takut jika laki laki yang katanya Angkasa urakan itu tiba tiba mendatanginya dan berbuat hal hal yang tidak di inginkan. Sebuah ketakutan yang susah di jelaskan dan dijabarkan dengan kata kata.
Masa lalunya kurang baik. Terutama dengan laki laki. Membuat Pelangi kini seolah begitu menjauh dari sosok makhluk lawan jenis nya itu. Ia selalu menundukkan pandangan nya. Ia merasa begitu malu.
Ingat kan siapa Pelangi?
Ia pernah menjadi konten kreator dengan vidio vidio dan foto nya yang cukup berani saat ia masih berada di bangku SMA kala itu. Ia juga dikenal sebagai wanita nakal yang sering gonta-ganti pasangan di usianya yang masih sangat belia. Alkohol, s*x dan dunia malam bukanlah hal baru baginya.
Setelah ia melewati perjalanan taubatnya selama di pesantren. Ia kemudian memilih untuk menghapus semua situs dan akun media sosialnya. Ia pensiun dari dunia maya dan lebih memperbanyak ilmu agama di dunia nyata.
Keluar dari pesantren, ia melepas hijabnya. Sesuatu yang sangat disayangkan oleh sebagian orang yang mengenalnya. Namun Pelangi tetap keukeuh pada pendiriannya.
Hijab adalah kain yang sakral. Wanita hina macam dirinya sama sekali tak pantas menggunakan nya.
Pelangi lantas memulai kehidupan barunya. Menjual aset aset perusahaan mendiang orang tuanya, lalu memberikan sebagian hasil penjualan perusahaan pada pesantren tempatnya menuntut ilmu dan beberapa panti asuhan. Wanita yatim piatu itu lantas membuka usaha sendiri. Sebuah toko aksesoris yang kini berdiri megah di tengah kota metropolitan itu. Ia juga mengabdikan dirinya sebagai seorang tenaga pengajar.
Hingga saat ini di usianya yang sudah menginjak dua puluh empat tahun. Pelangi sama sekali belum pernah menjalin hubungan dengan laki laki. Bersentuhan kulit apalagi. Sama sekali tak pernah.
Ia selalu menundukkan pandangan nya tiap kali bertemu dengan lawan jenis. Ia takut ada yang mengenalinya sebagai wanita yang identik dengan konten konten dewasanya.
Ia merasa kotor, rendah dan tak pantas. Membuatnya kini seolah begitu anti pada pria. Bukan karena benci, melainkan malu dan merasa buruk.
Pelangi melepaskan bandananya. Meletakkan nya di atas meja lalu mulai merebahkan tubuhnya di atas kasur nya. Ditariknya selimut tebal itu, menutupi tubuh rampingnya hingga ke atas dada. Membuat raga itu kini hanya terlihat kepala saja yang tak berbalut selimut.
...----------------...
Selamat siang
up 12:28
yuk dukungan dulu 🥰🥰🥰
__ADS_1