Ardanium'S Tale Online (Revised) : The Soul Eater

Ardanium'S Tale Online (Revised) : The Soul Eater
2.34 - Hanya Sombong Saja.


__ADS_3

+++


Arc 2 : The Angels and The Dragons.


Bab 34 : Hanya Sombong Saja.


+++


Putra berjalan cepat untuk keluar dari sekolahnya dan segera menuju ke rumah alias pulang. Ia terlihat begitu tergesa-gesa sampai tak menghiraukan orang-orang yang menyapanya. Sebuah sikap yang memberi tanda tanya pada banyak orang. Tak sedikit juga yang dibuat khawatir karenanya.


Dan akhirnya ia pun sampai di bis untuk pulang. Meski pun tak begitu terlihat, Putra sedang berusaha mengatur napasnya. Selain akibat ia berjalan cepat. Itu juga karena rasa tegangnya. Ia ingin segera kembali ke dunia virtual Ardanium’s Tale Online karena keadaan di sana ia yakini akan memburuk baginya.


Sebenarnya Putra berniat untuk tak masuk sekolah hari ini. Karena ia tak mau meninggalkan dunia virtual itu. Tapi, ia tak punya alasan tepat yang bisa ia pakai untuk tak masuk sekolah.


Waktu berlalu dua belas kali lipat lebih cepat di dunia virtual Ardanium’s Tale Online jika dibandingkan dengan dunia nyata. Hal tersebut membuat para pemain bisa menikmati waktu yang lebih panjang di dalam dunia virtual itu, tanpa membuang terlalu banyak waktu di dunia nyata.


Akan tetapi, selisih kecepatan aliran waktu yang begitu besar itu juga punya efek samping yang negatif bagi kehidupan pemain. Banyak yang merasa berat untuk tinggal di dunia nyata berlama-lama. Karena setiap dua jam mereka berdiam di dunia nyata, itu berarti satu hari dan satu malam telah berlalu di dunia virtual itu.


Belakangan ini, karena segala macam kejadian di Great Southern Jungle. Putra menghabiskan lebih banyak waktu di dunia virtual. Bahkan tadi pagi sebelum berangkat sekolah pun ia berada di dunia virtual itu.


Putra sampai ke rumahnya, yang saat ini kosong karena ibunya sedang keluar. Ia pun melesat ke kamarnya dan segera kembali ke dunia virtual.


.


.


.


Ezzza bisa dikatakan sukses dengan rencananya. Desa kecil yang didatanginya ternyata setuju untuk membantu dirinya. Meski begitu bukan berarti tak ada penentangan.


Awalnya Ezzza ditentang sepenuhnya oleh warga desa. Dan singkat cerita pertarungan pun terjadi. Ezzza, bersama Coro dan Cungu berhasil melumpuhkan setiap yang menyerang mereka. Akhirnya warga desa itu pun menyerah untuk mendengar sekali lagi tawran Ezzza.


Ezzza menyampaikan bahwa dirinya tak akan memaksa mereka untuk tunduk padanya dan bergabung menjadi perampok bersamanya. Ia janji akan meninggalkan desa ini dengan segera kalau memang tak ada yang mau. Karena tak ada untungnya juga baginya untuk menghabisi mereka.


Setelah berunding, akhirnya mayoritas warga desa itu setuju dengan tawran Ezzza. Tentunya masih ada segelintir orang yang tak setuju namun tak bisa melawan.

__ADS_1


Setelah berhasil dengan satu desa, Ezzza segera melanjut ke desa berikutnya. Yang mana hasilnya lebih memuaskan. Itu karena Ezzza yang sudah punya lebih banyak anak buah, bisa memberi ancaman lebih. Dan setelah berhasil dengan desa kedua, ia melanjut ke desa ketiga yang juga desa terakhir.


Kini, dengan sekejap. Ezzza sudah berhasil mengumpulkan seratus lima puluhan anak buah. Dan setelah memiliki anak buah sebanyak ini, ia baru merencanakan perampokan yang sebenarnya.


.


.


.


Erra membuka matanya dan langsung menarik napas dalam-dalam.


“Hah.... aku harus bisa melalui semua ini.” ucapnya.


Ia pun bangkit dari tempat tidurnya, dan segera keluar dari kamarnya di penginapan ini.


Bangunan penginapan ini terdiri dari tiga lantai. Yang mana kamar terletak di lantai dua dan tiga. Sedangkan di lantai satu adalah tempatnya kedai. Erra yang kamarnya berada di lantai dua kini memasuki area kedai di lantai satu.


Matanya masih berwar hijau langsung memindai keadaan sekitar. Dan semua terlihat normal saja. Tak ada tanda-tanda yang membahayakan dirinya. Ia pun menghampiri meja konter untuk memesan minuman. Sambil menikmati minumannya, ia masih terus memindai keadaan di sekitarnya.


Erra beranjak dari tempat duduknya. Kemudian ia menghampiri seseorang yang duduk sendirian di sudut ruangan. Di saat yang bersamaan, Erra menyadari kalau tatapan mata yang terarah padanya semakin banyak dan juga sekaligus semakin tajam. Meski semuanya tersembunyi.


“Yo! Dari duduk sendiri dengan wajah murung begitu. Bagaimana kalau kutemani? Aku teman mengobrol yang lumayan hebat, lho.” Ucap Erra.


Orang yang duduk sendirian itu menatap Erra yang duduk tepat di hadapannya, lalu ia pun berkata...


“Aku duduk sendirian, karena ingin sendirian. Enyah lah dari hadapanku.”


“Ow.. ow... owh... galak sekali.”


Glek! Glek! Glek!


Setelah berkata seperti itu, Erra menenggak habis minuman di gelasnya. Lalu ia lanjut berkata...


“Hah... beberapa waktu belakangan ini. Memang sulit, ya? Semua terasa begitu membebankan pikiran. Padahal, ini hanya dunia virtual. Dunia yang diciptakan demi hiburan. Tapi... kita malah menghadapi banyak masalah di sini.”

__ADS_1


Mendengar perkataan Erra itu, orang di meja itu memasang wajah yang semakin tak bersahabat. Dan ia berucap...


“Sudah kukatakan, aku ingin sendirian. Enyah lah! Sebelum kubuat perhitungan!”


Orang itu tak berbicara dengan nada tinggi. Tapi, kata-katanya sangat bertekanan tinggi. Erra memasang senyuman lebar mendengar ancaman dari lawan bicaranya itu, lalu membalas...


“Membuat perhitungan dengan orang sebanyak ini...”


Erra melihat ke arah seluruh area kedai, dan lanjut berbicara...


“Jujur saja, aku merasa sangat tersanjung. Karena hanya untuk menghadapi seorang seperti diriku ini saja, kau bertindak sangat serius. Terima kasih, Fitz.”


Meski pun hanya sekejap, dan mungkin hampir tak ada yang menyadarinya. Mata lawan bicara Erra itu sedikit melebar. Menandakan dirinya merasa terkejut dengan apa yang Erra katakan.


“Bicara apa kau ini? Siapa Fitz? Dan ini peringatan terkahirku, untuk kau segera meninggalkanku!”


“Mungkin kau berusaha belajar dari kesalahan di masa lalu. Karena waktu kau mengejarku sendirian, kau kalah telak. Jadi, sekarang kau membawa banyak teman. Tapi, asal kau tahu saja aku juga belajar dari masa lalu. Bahkan bukan masa laluku sendiri saja. Aku suka belajar dari masa lalu orang lain.


Dan aku bisa memberimu jaminan, kalau kali ini pun. Kau tak akan bisa menangkapku. Kalau pun sampai bisa, itu tak akan mudah dan ada banyak kehancuran yang akan terjadi. Jadi sebagai saran dari orang yang suka perdamaian. Aku menyarankan agar kau tak coba menangkap atau menghabisiku.”


Erra menjeda kalimatnya, dan melanjut...


“Lalu, berhenti lah berpura-pura. Itu menyebalkan, dan membuatku mual. Aku bisa muntah ke gelasmu nanti. Tidak mau, kan?”


Lawan bicara yang memang adalah Fitz itu, menatap Erra dalam diam. Lalu beberapa saat kemudian ia bertanya...


“Apa kau tak merasa dirimu terlalu sombong?”


“Hm... kalau kau bilang aku terlalu sombong, aku akan menolaknya. Aku sama sekali tidak terlalu sombong. Aku hanya sombong saja.”


.


.


.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2