Ardanium'S Tale Online (Revised) : The Soul Eater

Ardanium'S Tale Online (Revised) : The Soul Eater
1.44 - Racun.


__ADS_3

+++


Arc 1 : The Births of The Ender.


Bab 44 : Racun.


+++


“Ibu, aku berangkat sekolah dulu!”


“Oh? Tunggu sebentar Er!”


Putra akan berangkat sekolah dan hampir meninggalkan rumah. Tapi, ibunya menghentikannya.


“Ada apa, bu?”


“Hari ini, kamu mulai ujian semester, kan?”


“Iya, bu. Kenapa?”


“Ini, bawa ini untuk bekal.”


Agnisa menyerahkan sebotol minuman putih yang sedikit keemasan itu pada putranya.


“Oh? Baiklah, terima kasih, bu. Kalau begitu, sekarang aku berangkat dulu.”


“Ya, kerjakan soal ujianmu dengan tenang.”


“Ya!”


Putra pun, pergi meninggalkan rumahnya menuju sekolah.


Minuman yang diberikan Agnisa pada putranya adalah ‘ramuan’ khusus yang selalu ia berikan kepada putra dan putrinya saat mereka melaksanakan ujian sekolah. Itu adalah minuman yang berbahan dasar susu dan madu, ditambah kurma dan beberapa bahan lainnya.


Dahulu, Agnisa sendiri selalu menerima minuman serupa saat ia akan ujian sekolah dari ibunya. Tapi ada sedikit perbedaan dalam bahan-bahannya yang mana lebih sederhana.


.


.


.


Setiap kali diadakan ujian, jam masuk sekolah akan diundur sekitar tiga puluh menit sampai empat puluh lima menit. Tapi, para murid tetap diharuskan untuk datang pada jam biasanya.


Di masa ujian seperti ini, merupakan salah satu masa yang Putra sukai. Dan alasannya adalah karena tak adanya orang-orang yang menghentikan langkahnya menuju ruang kelas. Jadi, ia bisa meluncur dengan segera ke kelasnya sendiri. Meski, masih tetap saja ada yang menegurnya. Tak akan ada yang sampai mengajaknya mengobrol lama.


“Hoyo! Putra! Pagi!”

__ADS_1


“Hm... pagi.”


Esa jadi yang pertama menyambut Putra saat memasuki kelas. Setelah menjawab teguran Esa, Putra segera menuju ke tempat duduknya sendiri.


“Hey, bagaimana kalau kita sedikit bertaruh?” tanya Esa pada Putra.


“Bertaruh apa?” tanya Putra balik.


“Siapa di antara kita yang bisa mendapat nilai ujian lebih tinggi? Yang kalah harus mentraktir yang menang makan siang selama satu bulan, tanpa ada batasan!”


“Kau yakin?” tanya Putra dengan wajah curiga.


“Tentu saja!” Esa menjawab dengan mantap.


“Bagaimana kalau satu semester?” tanya Putra menaikkan taruhan.


“Wahaha!!!” Esa tertawa tapi tak langsung menjawab.


Selama ini, Putra memang selalu mendapatkan nilai keseluruhan yang tinggi. Tapi, nilai total yang Esa dapat lebih tinggi satu atau dua poin, kalau tidak seimbang. Karena itu lah, Esa punya rasa percaya diri yang tinggi untuk memenangkan taruhan.


Tapi, karena Putra yang biasanya tak menanggapi tantangannya kini menanggapinya dan malah menaikkan taruhan. Esa jadi sedikit ragu. Tapi tentu saja agar menjaga gengsinya, Esa pun berkata...


“Baiklah, aku setuju!”


“Apa kita perlu surat perjanjian? Kebetulan aku berencana makan besar tiap hari semester depan. Kau bisa saja mengingkarinya.”


“Haha! Tidak perlu! Aku akan menepati janjiku! Di sini juga ada banyak saksi, kan?”


“Baiklah! Semuanya minta perhatian sebentar!” ucap Putra.


Seisi kelas pun memperhatikan Putra.


“Kalian harus semangat dalam ujian ini, mari kita bersama mendapat nilai besar. Kalian juga harus semangat karena sepanjang semester depan kalian semua akan dapat makan siang gratis!”


Seisi kelas memasang wajah keheranan. Karena perjanjiannya hanya lah antara Putra dan Esa.


“Oy, apa maksudmu?!” Esa bertanya dengan sedikit panik, perasaannya semakin tidak enak.


“Selama ini aku memang tidak pernah mengungguli nilaimu. Tapi, itu karena aku memang tidak berniat dapat nilai tertinggi. Tidak seperti kau yang sudah memaksimalkan kemampuan. Kalau aku mau, aku bisa mendapatkan nilai maksimal. Dan kebetulan, pada ujian ini aku mengejar target itu!”


Kalimat Putra terdengar sedikit merendahkan Esa dan menyombongkan dirinya sendiri. Tapi tak merusak citranya sama sekali. Karena memang sebuah kepercayaan diri seperti itu bukan cacat sama sekali.


“Kau bilang perjanjiannya yang kalah akan mentraktir yang menang makan siang sepanjang semester depan, tanpa batasan, kan?”


Esa hanya menganggukan kepalanya atas pertanyaan Putra dengan wajah yang semakin tegang.


“Itu artinya aku mau pesan satu porsi makanan, atau pun seratus porsi makanan dalam sehari itu tak masalah! Atau kau mau menarik perkataanmu tadi? Aku memberimu kesempatan, lho!”

__ADS_1


Esa segera mengerti maksud Putra. Ini artinya Putra akan memesan makanan untuk teman sekelas atas namanya sendiri yang mana harus ditraktir Esa pada semester depan kalau Esa kalah dalam taruhan ini.


Kepercayaan diri Esa untuk menang sedikit turun, karena itu lah sebenarnya ia ingin menarik ucapannya sekarang. Tapi, harga diri dan keangkuhannya menolak untuk melakukan itu. Karena jika Esa menarik perkataannya, itu sama dengan dirinya telah menyatakan diri akan menjadi pihak yang kalah.


“Tentu saja, aku tak akan menarik perkataanku sendiri!” ujar Esa.


.


.


.


Hari demi hari berlalu. Satu per satu ujian Putra lalui.


Di masa ujian seperti ini, seperti biasanya sekolah akan berakhir lebih cepat. Dengan begitu, Putra pun bisa pulang lebih cepat.


Saat sampai di rumah, Putra akan beristirahat sebentar. Setelah itu ia akan makan dan masuk ke kamarnya. Di dalam kamar, ia akan masuk ke dunia virtual Ardanium’s Tale Online selama dua sampai tiga jam. Yang berarti kalau dihitung dengan aliran waktu dunia virtual itu, Putra berada di sana selama dua sampai tiga hari.


.


.


.


“Hm... sudah lumayan. Tapi, aku harus meningkatkannya lagi.”


Saat ini Erra tengah berada di Kork Forest lagi. Dan ia baru saja menghabisi seekor macan menggunakan belatinya.


Belakangan ini, semenjak ia melepaskan diri dari para penguntit Golden Stars. Erra masih rutin datang ke Kork Forest untuk berburu. Namun, ia tak pergi terlalu jauh ke dalam hutan itu. Ia hanya berburu di sisi luar hutan dan hanya menargetkan pada hewan biasa.


Karena tujannya berburu kali ini adalah untuk menguji racun yang ia buat. Semenjak berhenti menjual barang buruannya, terutama hasil buruan dari Plague Pig. Erra melakukan percobaan membuat racun. Ia bisa melakukannya karena Job Herbalist yang ia punya.


Jenis racun yang pertama bisa Erra buat adalah Low Paralyze Poison 1. Sebuah racun yang menimbulkan efek Paralyze pada targetnya. Racun ini dibuat dengan bahan-bahan tanaman herbal saja. Tapi bisa ditingkatkan kualitasnya dengan penambahan unsur Plague Pig. Namun sayang, itu tak bisa dilakukan sejak awal.


Setelah ratusan kali mencoba, belakangan akhirnya Erra bisa memasukan unsur Plague Pig dan membuat racun yang lebih kuat. Dan karena ia terus dan terus menerus membuat racun, akhirnya racun yang bisa dibuatnya pun semakin banyak jenisnya juga semakin kuat efeknya. Saat ini, Erra telah mampu membuat Mid Paralyze Poison 3. Dan sebentar lagi, ia bisa meningkatkannya menjadi High Paralyze Poison 1.


Trang! Bum! Dar!


Erra mendengar suara pertarungan dan segera tertarik untuk melihatnya. Ia pun kemudian memperhatikan pertarungan antara dua kelompok petualang.


“Sedang apa mereka?” tanya Erra.


“Hm... sepertinya kalau aku pakai mereka sebagai percobaan akan bagus.”


.


.

__ADS_1


.


Bersambung...


__ADS_2