Ardanium'S Tale Online (Revised) : The Soul Eater

Ardanium'S Tale Online (Revised) : The Soul Eater
2.26.3 - Benang Merah.


__ADS_3

.


.


.


Glek! Glek! Glek!


Erra sekali lagi menenggak satu botol ramuan anti racun. Ramuan ini bukan lah sebuah ramuan yang baru diminum setelah terkena racun. Tetapi diminum sebelum terkena racun. Karena fungsinya bukan untuk menetralkan racun, melainkan untuk menghalau racun.


Ini adalah sebuah tindakan standar yang sangat umum dilakukan bagi seorang petualang. Ketika mereka harus menghadapi monster yang memakai racun atau bisa seperti para Sting Monkey yang tengah Erra hadapi saat ini.


Syut! Syut! Syut!


Erra masih melawan dengan busurnya. Menembaki para kera yang memiliki ekor berbisa itu.


Jleb! Jleb! Jleb!


Semua serangannya baru mendarat, namun tak semua mendarat tepat di sasaran. Erra membidik dua ekor monyet, tapi hanya berhasil mengenai salah satunya. Dan itu juga tak berhasil mengenai titik vitalnya.


“Kiiieek!!”


Seekor Sting Monkey menerjang Erra dari pohon yang ada di belakang si avatar bermata merah itu. Monyet monster itu berhasil mendarat di punggung Erra dan segera mendekap tubuh Erra dengan tangan dan kakinya. Dan bersiap menusukan ujung ekornya. Tapi...


Tap! Tap! Tap!


Buk!


Erra berlari mundur sampai menghantam sebuah pohon besar di belakangnya. Tentu saja Erra tak terkena langsung, tapi si monyet yang di punggungnya lah yang langsung terkena pohon.


Buk! Buk! Buk!


Erra menghantamkan monyet di punggungnya itu sampai beberapa kali ke pohon besar itu. Sampai si monyet melonggarkan dekapannya. Dan begitu dekapannya melonggar, Erra melepaskan diri. Dan segera menginjak monyet itu dengan sekuat tenaga. Kemudian kembali memanah monyet lainnya.


Selama pertarungan ini, Erra sudah berhasil membuat sekitar seperempat jumlah Sting Monkey terluka. Sebagian kecil di antaranya mati. Dan sisanya luka berat, juga sekarat.


“Sial! Aku kehilangan arah!”


Erra berniat untuk bergerak kembali. Akan tetapi, kini ia kehilangan arah harus pergi ke mana. Tujuannya adalah Desa Green Hut. Namun sayang sekali karena pertarungannya, ia jadi lupa ke mana arah yang ditujunya.


“Kalau kulihat keadaan sekarang, mengalahkan mereka dengan telak masih mustahil. Tapi sepertinya aku bisa menekan mereka untuk kabur?” ucap Erra pada dirinya sendiri.


.


.


.


“Huuaaa!!! Kenapa kita malah dikejar monyet?!” keluh Lunariaa sambil melarikan diri dari gerombolan kera.


“Mereka bukan monyet. Sepertinya termasuk jenis simpanse?” respon Arini.


“Siapa peduli?! Mereka sama saja!”

__ADS_1


“Mereka berbeda.”


“Sama!”


“Beda!”


“Sama!”


“Beda!”


“Kenapa kita malah berdebat tentang hal tidak penting?!”


“Ini penting!”


“Apa pentingnya?!”


“Bisa saja ada pertanyaan seperti itu di ujian biologi. Kalau kamu salah jawab, bagaimana?”


“Kenapa aku harus peduli pada ujian biologi di saat seperti ini?!”


“Karena ujian biologi termasuk dalam ujian kelulusan.”


“Kenapa juga aku harus peduli pada ujian kelulusan sekarang?!”


“Ya... sebenarnya tidak harus juga...”


“Aaaahhh!!! Kenapa penyakitmu kumat di saat seperti ini?!”


“Penyakit apa? Aku tidak sakit.”


“Sudah kubilang mereka bukan monyet.”


“Iya-iya..! Terserah kamu saja!”


“Hm... sepertinya kita tidak bisa lolos. Kalau pun lolos, mungkin hanya satu orang?”


“Ah...!! Ya, Tuhan! Tolong selamatkan lah aku!”


“Kenapa hanya mau selamat sendiri? Seharusnya kamu bilang ‘kami’. Ah, tidak juga tidak apa lah. Lagi pula sepertinya Tuhan tak akan turun tangan untuk menyelamatkan di saat seperti ini. Ini kan hanya permainan.”


“Aku tidak mau berdebat denganmu sekarang!”


“Siapa yang mengajak berdebat?”


“AAAAAAAHHHHHH!!!!!!!!” Lunariaa berteriak dengan frustasi.


.


.


.


“Ah, omong-omong aku mau sedikit menjelajah hutan ini. Kalian boleh ikut atau pun tidak.” Ucap Ezzza pada kedua anak buahnya.

__ADS_1


“Ah, sepertinya kami di sini saja, bos.”


“Baiklah, aku pergi dulu.”


Ezzza berniat untuk pergi memasuki Great Southern Jungle lebih dalam lagi dari Desa Gezar. Sebelum keluar dari desa, ia mengunjungi kantor Gilda Petualang terlebih dahulu. Ezzza yang juga adalah seorang petualang, mencari misi yang bisa ia lakukan di hutan ini. Agar arah pergerakannya lebih tararah.


Setelah mengambil sebuah misi, Ezzza pun mengumpulkan sedikit informasi yang bersangkutan dengan misinya. Dan setelah itu ia baru pergi meninggalkan Desa Gezar.


Ezzza, dalam perjalanannya melewati Desa Green Hut. Ia mampir ke desa itu untuk waktu yang sebentar. Tujuannya hanya melihat desa secara keseluruhan dengan cepat.


Ezzza tak bisa masuk ke desa dengan begitu saja. Ia melalui beberapa pemeriksaan terlebih dahulu. Ia juga melihat semua yang memasuki desa melalui proses ini. Terlihat beberapa orang dari desa sekitar yang datang untuk berdagang, dan sepertinya sudah biasa ke sini mengajukan protes. Tapi, pihak keamanan desa tampak tak peduli dengan protes itu. Dan akhirnya tak ada juga yang protes lagi.


Setelah melalui semua pemeriksaan, Ezzza mulai berkeliling desa. Ia dibuat kagum dengan desa ini, karena desa ini terlihat begitu asri namun juga terlihat tak kalah maju dengan Desa Gezar. Setelah beberapa saat berkeliling desa, perasaannya mulai merasakan ada hal yang mengganggu. Dan ia merasa kalau dirinya sedang diawasi.


Ia berusaha memeriksa di sekitarnya. Meski tak bisa menemukan para pengawas yang ia rasakan itu. Ezzza sangat yakin kalau ada yang mengawasi dirinya secara intens. Ia pun mencari cara untuk mengenyahkan pengawasan itu dan menuju ke luar desa.


Di gerbang desa, Ezzza sekali lagi melewati beberapa pemeriksaan. Yang membuatnya sedikit jengkel, karena melihat orang lain yang pergi dari desa tak diperiksa lagi. Tapi, ia juga tak bisa membuat keributan di sini. Jadi ia pun hanya menurut. Dan akhirnya bisa keluar dari desa itu.


“Yang benar saja. Ada apa dengan desa itu? Apa kewaspadaan mereka itu tak terlalu tinggi?”


Ezzza meninggalkan Desa Green Hut secepat mungkin. Karena ia merasa bisa dapat masalah kalau tak melakukannya.


.


.


.


Syut! Syut! Syut! Syut! Syut!


Jleb! Jleb! Jleb! Jleb! Jleb!


Erra masih melawan gerombolan Sting Monkey itu. Sekilas ia terlihat mulai bisa mengendalikan situasi. Akan tetapi...


‘Sial! Kalau begini aku bisa kalah!’


Erra mulai kelelahan secara mental dalam pertarungan ini. Itu karena ia terus berpikir keras dalam waktu panjang dalam pertempuran ini. Setelah ia melalui berbagai diskusi berat di desa. Ia juga mulai kehabisan ramuan-ramuan yang dapat mendukungnya dalam bertarung. Dan ia juga mulai kehabisan anak panah. Ia sampai beberapa kali mencabut panah yang telah dilepasnya untuk dipakai kembali.


“Raa! Raa! Raa!”


“Apa lagi sekarang?!”


Erra bisa mendengar keributan hewan atau monster dari tempat yang tak terlalu jauh dari dirinya. Hal ini membuatnya semakin khawatir, dan semakin bingung bagaimana caranya bisa selamat. Tapi setelah berpikir sangat keras. Ia malah mulai menerima kekalahannya, tapi tetap tak mau menyerah begitu saja.


Semua pemikiran itu berubah saat ia melihat yang terjadi sebenarnya dari arah suara ribut itu. Di sana, ia melihat dua orang gadis ayng sedang bertarung dan terlihat berusaha melarikan diri dari kejaran kelompok kera.


Sambil mengembangkan senyum tipis, ia berkata...


“Aku punya ide!”


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2