
+++
Arc 1 : The Births of The Ender.
Bab 34 : Kabur...
+++
Ctang! Buak! Zrraatt!!! Slah! Wuuut!! Wuuuzh!!!
Pertarungan antara Erra dan tiga orang yang mencoba untuk merampoknya masih berlanjut. Keempat orang ini sebenarnya sudah mulai memasuki fase kelelahan dan sama-sama ingin segera menyudahi pertarungan ini. Para perampok pun sebenarnya ingin menyerah saja. Karena ini pertama kalinya mereka harus bertarung sampai seperti ini untuk merampok. Tapi, tentu saja mereka tak bisa melakukannya begitu saja.
Di sisi lain, Erra bisa melihat jelas wajah para perampok yang sudah mulai kelelahan dan ingin menyudahi pertarungan secepatnya. Bisa terlihat juga dari serangan mereka yang semakin brutal dan kurang terarah. Erra sebenarnya merasa semakin kerepotan, tapi ia masih memang senyum menyeringai yang meremehkan lawannya.
Erra memasang wajah seperti itu hanya untuk membakar emosi lawannya. Karena terbawa emosi, lawannya bisa saja kelhilangan kendali. Dan akurasi serangan menurun meski daya serangnya lebih kuat. Dengan pemakaian tenaga yang lebih besar begitu, stamina mereka juga akan lebih cepat terkuras.
Tapi tentu saja Erra tak berharap pertarungan ini berlarut-larut sampai ketiga lawannya kehabisan stamina. Karena sebelum itu terjadi, ia yakin kalau dirinya sendiri lah yang akan lebih dulu kehabisan stamina. Karena itu lah, kini ia masih berusaha mencari celah untuk melarikan diri dari ketiga orang yang coba merampoknya itu.
‘Ah! Sedikit lagi!’ gumam Erra saat melihat ada kesempatan membuat celah.
Wuut!
Terjangan tombak mengarah ke perut Erra.
Grep!
Erra sedikit menghindar kemudian menangkap dan menggenggam tombak itu. Dilanjut dengan ia yang melompat ke belakang, menarik si pemegang tombak bersamanya. Si pemegang tombak yang memang sedang menitik beratkan tubuhnya ke arah depan pun, dengan mudah ditarik oleh Erra dan ia pun terjatuh.
Dua orang lainnya sedikit terganggug konsentrasinya. Dan Erra berhasil memanfaatkan kesempatan itu dengan menerjang si pemegang pedang bermata dua yang lebih dekat dengannya.
“Wa!” pekik si pemegan pedang bermata dua saat diserang Erra.
Erra tak menyerangnya dengan menghampirinya lalu menebas atau menikam dengan belatinya. Melainkan dengan cara melempar belatinya itu. Ia melemparkan belatinya tepat ke arah wajah targetnya, namun berhasil dihindari meski berhasil membuat luka pada telinganya.
Buk!
“Aw!” kali ini pekikan berasal dari si pembawa pedang bermata satu.
Ternyata Erra juga melemparkan sesuatu padanya, tapi ia bukannya melemparkan belati lain. Melainkan sebuah batu biasa. Begitu selesai melakukan itu, Erra segera berbalik dan melarikan diri.
“Hey! Tunggu kau!”
“Berhenti!”
__ADS_1
Para perampok mulai mengejar Erra lagi.
Erra berhasil mengungguli mereka dan tak terkejar. Ia terus berlari ke satu arah, arah awalnya bentrok dengan para perampok ini. Begitu sampai di tempat itu lagi, Erra segera memanjat tebing yang tadi di puncaknya ada banyak Mondträne.
Erra mengerahkan semua tenaga yang tersisa di tubuh virtualnya itu untuk menaiki tebing tersebut. Erra sadar kalau ia terus berlari ke arah luar hutan, staminanya tak akan mencukupi. Jadi, ia memilih untuk memanjat tebing ini lagi, dan beristirahat di atasnya.
Ia yakin, para perampok itu tak bisa mengejarnya sampai ke atas sana. Kalau pun bisa, mereka pasti tak bisa mengejarnya dengan cepat. Itu bisa dilihat dari pakaian mereka yang bisa membuat hambatan saat memanjat tebing. Terutama si pemegang tombak ayng akan kesulitan memanjat tebing sambil membawa senjatanya itu.
“Huaa!! Sampai juga!” ucap Erra begitu mencapai puncak tebing.
Erra segera duduk di pinggiran tebing itu sambil melihat ketiga pengejarnya. Lalu dengan santainya menenggak ramuan pemulih staminanya.
“Hey! Turun kau!”
“Pengecut! Turun sekarang juga!”
Prang!
Bukannya memberi jawaban, Erra malah membanting botol ramuannya yang sudah kosong. Botol itu pun menimpa kepala si pemegang tombak.
“Mana mungkin aku mau menuruti kalian! Dasar perampok gadungan! Pelawak mengaku jadi perampok, dasar aneh!”
Ketiga perampok itu terlihat semakin terbakar emosinya, terutama si pemegang tombak yang baru dilempari botol. Si pemegang terlihat bersiap melempar tombaknya ke arah Erra. Memang tombak di tangannya bukan lah tipe tombak lepar. Namun, seperti apa pun tipenya, di dunia Ardanium’s Tale Online ini selalu ada Skill untuk melempar tombak.
Erra mengucapkannya sambil bangun dari duduknya. Lalu memasang posisi yang siap menangkap lemparan tombak itu.
“Terima ini!” teriak si pemegang tombak sambil melemparkan tombaknya.
WUUUZZHH!!!
Tombak itu melesat dengan sangat kuat ke arah Erra. Sungguh mustahil bagi Erra untuk bisa menangkap tombak itu, menangkisnya pun terdengar mustahil.
Dan ternyata...
Erra memang tak berusaha sama sekali untuk menangkap atau pun menangkis serangan tersebut. Ia sepenuhnya menghindari serangan itu, dan berhasil selamat.
“Hey! Kalau mau memberikannya, jangan melemparkannya sekuat itu!” teriak Erra protes.
“Siapa yang mau memberikannya padamu, hah?!” seru di pemegang tombak yang sekarang sudah tak memegang tombak.
“Huh.. dasar aneh! Lagipula, apa kalian masih bersikeras mau coba merampokku? Kalian tak akan berhasil, asal kalian tahu saja. Aku ini orang keren yang hebat! Jadi kroco seperti kalian tak akan bisa merampokku!”
“Ocehannya itu benar-benar menyebalkan!” umpat si pemegang pedang bermata satu.
__ADS_1
Kedua rekannya setuju dengan pendapat orang itu. Dan sejujurnya, kini mereka sudah tak begitu peduli lagi untuk merampok Erra. Mereka hanya ingin sebisa mungkin untuk menghabisi Erra, yang dari tadi terus membuat mereka sangat kesal.
Ketiga sekawan itu saling merlirik satu sama lain, mereka berdiskusi singkat tentang apa yang harus dilakukan saat ini. Agar mereka bisa menangkap dan menghabisi Erra. Tapi, mereka membuat kesalahan karena ketiganya memalingkan pandangannya dari Erra. Dan akhirnya, saat melihat kembali ke arah Erra berada sebelumnya...
“Hah? Ke mana dia?!”
Ya, Erra menghilang karena ia melarikan diri.
.
.
.
“Ha... Akhirnya lolos juga dari mereka. Kalau sudah sejauh ini sepertinya aku akan selamat dari tiga pelawak aneh itu.”
Dengan sangat berhati-hati dan berusaha bergerak secepat mungkin. Akhirnya kini Erra telah berhasil mencapai pinggiran Kork Forest. Ia tetap waspada dengan keadaan sekitarnya, tapi ia sudah bisa sedikit santai sekarang.
“Cih! Sampai petang begini! Kalau begini selesai menyeberang sungai juga sudah malam!” umpat Erra saat melihat langit jingga yang semakin gelap.
Srek... Srek...
Suara gemerisik semak mengalihkan perhatian Erra. Ia pun segera bersiaga tanpa menghentikan langkahnya. Karena sedikit penasaran ia pun menghampiri sumber suara.
Srak!
Tiba-tiba melompat seekor kelinci dari balik semak itu yang hampir menabrak Erra namun berhasil dihindari.
PYAR!!!
“Eh?”
Semak tempat si kelinci barusan melompat, tiba-tiba terkena serangan air yang meledak. Kemungkinan berasal dari serangan Water Ball.
“Ah! Meleset!”
Erra melihat ke arah orang yang mengatakannya. Dan mendapati seorang gadis dengan pakaian penyihir.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung...