Ardanium'S Tale Online (Revised) : The Soul Eater

Ardanium'S Tale Online (Revised) : The Soul Eater
1.41 - Hell Hog.


__ADS_3

+++


Arc 1 : The Births of The Ender.


Bab 41 : Hell Hog.


+++


Para anggota Golden Stars yang ditugasi untuk mengikuti Erra dan terus mengawasi pemain berambut putih itu, akhirnya melapor pada Fitz setelah diri mereka ketahuan.


Fitz bisa dibilang sebagai ketua intelejen dari Golden Stars, merupakan orang yang selalu mengepalai semua gerakan pengumpulan informasi Golden Stars. Termasuk dalam pengumpulan informasi Erra ini. Dan begitu mendapat laporan yang tak sedap itu, ia pun segera memikirkan ide lain.


Sebenarnya, ia ingin mengganti semua anggota yang melakukan pengintaian itu. Akan tetapi, kini ia sedang kekurangan tenaga. Semua anak buahnya sedang bergerak. Konflik yang dibuat oleh The Beast di barat, Blue Angels di utara, dan Infinity Dragon di timur. Membuat Golden Stars di selatan tak bisa tinggal diam dalam ketenangan. Mereka juga harus terus waspada pada setiap kemungkinan yang bisa mengancam diri mereka sendiri. Dan untuk itu, para anggota intelejen dikerahkan semuanya.


Dengan semua kondisi yang ada saat ini, akhirnya Fitz memberikan solusi lain pada anggotanya yang mengintai Erra. sebuah solusi sederhana, yang sebenarnya Fitz sendiri ragu untuk mengeksekusinya. Karena dengan melihat kemampuan Erra yang bisa menyadari pengintaian terhadap dirinya selama ini. Tak menutup kemungkinan rencana ini juga akan dengan mudahnya terbongkar oleh avatar bermata merah itu.


Solusi yang diberikan Fitz itu adalah untuk para anggotanya merubah penampilan mereka. Lalu, melakukan pengintaian dengan menjaga jarak lebih jauh dari Erra. Selain itu mereka diperintahkan untuk tak berkumpul sama sekali kali ini.


Dan kekhawatiran Fitz itu benar terjadi. Erra langsung menyadari semua perubahan itu.


.


.


.


Syut! Syut! Syut!


Jleb! Sret! Jleb!


[Kamu membunuh : 1 Plague Pig!]


Syut! Syut! Syut!


Jleb! Sret! Jleb!


[Kamu membunuh : 1 Kelinci Hutan!]

__ADS_1


Syut! Syut! Syut!


Jleb! Sret! Jleb!


[Kamu membunuh : 1 Plague Pig!]


Erra lagi-lagi meneruskan perburuannya terhadap Plague Pig. Tapi, kali ini ia tak hanya mengkhususkan diri untuk memburu Plague Pig saja. Ia juga coba memburu makhluk lain di hutan ini. Mau itu Boink, atau pun hewan hutan lainnya.


Dan itu semua telah memberi Erra hasil yang cukup baik. Selain kemampuan memanahnya yang semakin baik. Erra juga mendapatkan bonus poin untuk Strength dan Dexterity-nya. Yang mana semua yang terjadi, hanya memperkuat avatar yang satu ini.


“Baiklah, sepertinya sudah waktunya. Aku harus sedikit memaksakan diri.” Ucap Erra setelah mengumpulkan semua hasil tangkapannya dan juga anak panahnya yang masih bisa dipakai.


Setelah berkata begitu, Erra menarik napas cukup dalam. Sebelum akhirnya ia melangkahkan kakinya ke arah Kork Forest bagian dalam.


.


.


.


“Hm... ternyata benar. Bagian dalamnya justru lebih terbuka dari bagian tengah dan luar. Dan... memang banyak bekas sisa bakar.”


Persis seperti yang dikatakan Erra. Hutan ini cukup lebat oleh semak belukar dan beragam pepohonan di bagian luar dan tengahnya. Tapi, bagian dalam ini lebih terbuka. Pepohonannya masih cukup rapat, tapi hanya ada sedikit semak belukar. Selain itu, memang bisa dilihat di mana-mana ada bekas terbakar.


Erra berkeliling sambil memasang kewaspadaan tingkat tinggi. Ia sedang mencari monster penghuni daerah ini, yang menjadi target buruannya sekarang.


Konon, bagi orang yang memiliki level masih di bawah level 10 seperti Erra. Akan kesulitan dan bisa saja dengan mudah dibunuh oleh monster penghuni bagian dalam Kork Forest ini. Karena jika dilihat dari kelasnya saja. Monster ini berada pada kelas yang berbeda dengan Plague Pig, apalagi Boink.


Monster di Ardanium’s Tale Online juga memakai sistem level seperti avatar dan Lander. Faktor-faktor yang mendasari penilaian sistem terhadap levelnya juga sama. Tapi, yang berbeda adalah level awal dan akhirnya. Setiap avatar dan Lander selalu memulai dari level 1, dan memiliki level maksimal 100. Sedangkan monster tidak seperti itu.


Sebagai contohnya, Boink adalah monster level 1 abadi. Mereka tak akan pernah naik level. Karena itu lah mereka disebut sebagai monster paling lemah di dunia ini. Lalu Plague Pig, adalah monster yang mengawali dari level 1 dan level tertinggi yang bisa dicapainya adalah level 3.


Sedangkan monster penghuni bagian dalam Kork Forest ini mendapatkan level awal level 3. Lalu level maksimalnya adalah level 10. Monster ini masih lah berjenis b4bi, dengan ukuran tubuh yang setara anak gajah hanya sedikit lebih pendek. Bentuk dasar monster ini sama persis dengan b4bi hutan, hanya saja perbedaannya terletak pada kulitnya.


Monster ini memiliki kulit yang selalu membara seperti arang yang sedang terbakar. Baranya hanya akan mati saat mereka sedang tidur, dan menjadi momen paling lemah mereka. Kulitnya yang membara ini menjadi pelindung yang bisa sekaligus dipakai sebagai alat serang. Dan monster ini diberi nama, Hell Hog.


“Hm... masih hangat. Mungkin baru lewat?”

__ADS_1


Erra coba menyentuh setiap bekas bakaran yang ia lihat di sekitarnya. Ia sedang mencari bekas bakaran yang masih hangat. Karena itu menunjukkan kalau Hell Hog baru saja lewat. Setelah beberapa saat, Erra akhirnya menemukan yang ia cari. Dan sekarang sedang berusaha melacak Hell Hog itu.


“Ah... jadi itu, ya? Aku harus benar-benar hati-hati kalau begini.”


Erra berhasil menemukan Hell Hog yang dicarinya. Dan ia melihat Hell Hog itu sedang minum di sungai. Tak ada rasa takut yang muncul di benak Erra. Tapi, kewaspadaannya meningkat hingga ke tahapan maksimal.


Kini Erra memanjat sebuah pohon di dekatnya, yang juga tak terlalu jauh dari Hell Hog itu. Ia memanjat dengan sangat berhati-hati agar tak ada suara sedikit pun. Tentu saja maksudnya agar si Hell Hog tak menyadari keberadaannya.


Begitu sampai di salah satu cabang pohon yang cukup tebal, Erra mengambil posisi untuk memanah.


Krekeket!


Erra menarik tali busurnya sambil membisik si Hel Hog. Yang menjadi titik utama sasaran Erra adalah kepala monster itu.


Syut! Jleb!


Tembakan Erra tepat sasaran, benar-benar mendarat di titik yang diinginkannya. Tapi, itu tak membuat Erra terlena. Karena hampir tanpa jeda, setelah melepas anak panahnya itu. Erra segera membidik lagi dan menembak lagi.


“Ngrrooookkk!!! Ngrook!!!” ringkihan si Hell Hog yang kepalanya menerima tiga anak panah secara bertubi-tubi.


Monster itu segera terlihat marah. Dengan bara di sekujur tubuhnya yang menyala terang. Bahkan mengeluarkan asap, bau bakaran, dan suara khas arang terbakar. Ia juga coba menggelengkan kepalanya, berharap anak panah yang tertanam di kepalanya bisa terlepas. Tapi tentu saja itu tak terjadi.


Monster itu mulai mengamuk dan coba mencari arah asal anak-anak panah ini. Namun ia tak bisa melihatnya, karena anak panahnya datang dari langit.


Sementara monster itu mengamuk, Erra tak hentinya melepaskan tembakan melambung. Tembakan yang diarahkan ke atas, lalu si anak panah akan terjatuh dan mengenai targetnya. Erra sengaja melakukan teknik ini meski lebih sulit, demi mengelabui si monster tentang lokasi keberadaannya saat ini.


Hell Hog itu meninggalkan tepian sungai dan mulai mengarah ke hutan lagi.


“Sial!”


Erra merasa itu masalah karena Hell Hog itu menjauhi dirinya. Ia pun terus menembaki si monster agar si monster berhenti bergerak, namun hasilnya belum bisa terlihat dengan cepat. Akhirnya Erra pun memutuskan untuk turun dari pohon tempatnya berdiam.


.


.


.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2