
+++
Arc 2 : The Angels and The Dragons.
Bab 9 : Desa Gezar.
+++
Dunia nyata.
“Hah... rencanaku banyak melenceng gara-gara monster itu. Siapa sih dia itu?”
Putra sedang berbaring di kasurnya sambil memikirkan permasalahan di dalam Ardanium’s Tale Online. Sebelumnya ia bertekad untuk mengumpulkan uang untuk biayanya sekolah dari permainan itu. Minimalnya, ia ingin bisa membayar uang bulanan sepanjang semester ini. Tapi, nyatanya ia hanya punya uang yang cukup untuk membayar satu bulan saja.
Itu semua terjadi karena kemunculan Fitz waktu itu. Semua rencana Putra akhirnya berantakan karena ia harus mengamankan dirinya terlebih dahulu. Dan sekarang, ia harus menyusun ulang rencana yang mana bisa sekaligus mengamankan dirinya.
Putra sadar betul kalau yang mengejarnya saat itu adalah bukan orang biasa. Akan tetapi, Putra sendiri tak sadar kalau itu adalah Fitz.
Sambil berguling-guling di atas kasurnya, Putra terus memikirkan ide. Dan akhirnya...
“Ah... tak terpikirkan ide lain. Jadi, ya sudah lah. Jalani saja yang itu.”
Putra pun beranjak dari kasurnya dan menuju ke dunia virtual Ardanium’s Tale Online.
.
.
.
Great Southern Jungle.
Seperti yang disebutkan sebelumnya, bahwa transaksi di daerah ini masih lah memakai sistem barter. Tidak ada perutaran uang di daerah ini, sedikit pun.
Melihat semua itu, Erra menjadi bisa lebih mengerti bagaimana sistem perekonomian di masa lalu sebelum adanya uang. Dan Erra juga menemukan cacat terbesar dalam sistem barter. Dan tentu saja itu adalah tentang nilai tukar yang tidak jelas.
Erra memang sudah cukup membaur dengan desa tempatnya tinggal saat ini. Akan tetapi, ia belum pernah ikut dalam kegiatan barter yang dilakukan warga desa ini. Awalnya ia hanya tak tertarik saja untuk ikut. Karena ia ingin lebih fokus untuk meningkatkan kemampuannya membuat berbagai macam ramuan sebagai Herbalist.
Akan tetapi, Erra jadi penasaran saat melihat hasil barter warga desa. Mereka yang pergi untuk melakukan barter pulang dengan beragam barang, yang salah satunya adalah pakaian. Erra melihat kalau pakaian yang mereka bawa itu seharusnya memiliki harga yang rendah. Tapi, warga desa menukarnya dengan Potion mahal. Ia pun jadi penasaran dan akhirnya mencoba untuk ikut kegiatan barter mereka.
__ADS_1
Kegiatan barter hanya dilakukan satu kali dalam setiap pekannya. Dan hari ini adalah waktunya.
“Jadi, berapa lama kita bisa mencapai Desa Gezar ini?” tanya Erra pada salah satu warga desa yang bernama Remo.
“Dengan jalan kaki seperti ini, biasanya kalau kita berangkat saat fajar seperti ini. Maka kita akan sampai menjelang tengah hari.”
“Oh.. begitu.”
Dalam sepekan, warga desa akan bergotong royong memproduksi ramuan. Lalu, mereka akan mengumpulkannya untuk dibawa oleh beberapa orang menuju Desa Gezar. Di desa itu lah tempat transaksi barter terjadi antara desa-desa di Great Southern Jungle ini.
.
.
.
‘Hm... kalau ini baru pantas disebut desa.’ Gumam Erra dalam hatinya.
Setelah melalui perjalanan yang cukup lama, akhirnya Erra sampai di Desa Gezar.
Desa Gezar ini memiliki dinding yang mengelilingi desanya. Meski hanya terbuat dari papan kayu setebal dua puluh sentimeter dan tingginya juga hanya dua meter. Tapi, itu bisa dikatakan pertahanan minimal.
“Selamat siang tuan-tuan. Seperti biasa, kami mau menukar Healing Potion.” Ucap Remo pada para penjaga gerbang di sisi selatan Desa Gezar ini.
“Ah, ya. Tapi, sepertinya ia bukan orang dari desa kalian?”
Si penjaga gerbang berbicara sambil melihat ke arah Erra. Remo pun memberikan penjelasan tentang Erra. Si penjaga sedikit terlihat waspada saat mendengar Erra adalah seorang avatar. Lalu Erra diminta untuk membayar sejumlah uang untuk memasuki desa ini. Kata si penjaga, uangnya akan dikembalikan setengahnya jika Erra tak membuat kekacauan di dalam desa.
Ternyata, ada aturan pajak masuk bagi avatar. Para petinggi Desa Gezar memasang aturan semacam ini, karena avatar dianggap sebagai ‘makhluk’ yang tak bisa dipercaya. Mereka bahkan menggunakan kata ‘makhluk’ daripada ‘orang’.
Remo dan kawan-kawan terlihat sedikit tak enak pada Erra karena ia harus membayar. Sementara Erra sendiri merasa tak keberatan untuk membayar. Lagipula nominal yang harus dibayarkan tak begitu besar. Tapi...
‘Mereka meminta bayaran uang?’ tanya Erra dalam hatinya.
Ia bertanya begitu, karena sejauh yang ia tahu transaksi di hutan ini semuanya memakai sistem barter. Dan ia menemukan kalau uang bahkan tak bisa dipakai di hutan ini. Tapi, di sini ia dimintai uang.
Rombongan itu pun akhirnya memasuki desa setelah proses itu. Dan ketika melihat keadaan di balik dinding...
‘Hm... sepertinya aku bisa membaca keadaan di sini.’ Sekali lagi Erra bergumam dalam hatinya.
__ADS_1
Kondisi desa ini bisa dikatakan standar. Tapi, desa yang standar adalah hal yang unik dan mewah di area Great Southern Jungle. Karena desa-desa di sini itu di bawah standar.
Erra terus mengikuti kelompoknya untuk menukar Healing Potion mereka dengan beragam barang lain yang mereka butuhkan. Tak jarang Erra menemukan kalau pertukarannya tidak imbang. Terkadang ada barang yang terlalu murah untuk ditukar dengan Healing Potion, tapi ada juga yang terlalu mahal.
Erra tak berkomentar sama sekali. Ia hanya diam memperhatikan semua transaksi yang terjadi. Ia juga sembari melihat keadaan di desa ini secara keseluruhannya. Dan Erra bisa menarik kesimpulan kalau desa ini sangat lah makmur.
Setelah kelompok itu selesai berkeliling desa dan melakukan transaksi. Mereka pun menuju ke sebuah penginapan. Karena hari sudah menjelang sore dan mereka juga cukup kelelahan untuk melanjutkan perjalanan.
“Omong-omong, bayar penginapannya pakai apa?” tanya Erra.
“Tentu dengan Healing Potion juga. Karena itu lah, ada Healing Potion yang disisakan.”
“Ooh... bayar di muka atau di belakang?”
“Di muka.”
Mereka pun sampai di depan penginapan yang mereka tuju itu.
“Boleh aku saja yang pesan kamarnya?” ucap Erra.
“Ah, itu...”
“Ayo lah... aku tak banyak membantu hari ini. Tak enak rasanya.”
“Ahaha... baiklah.”
Erra pun pergi ke meja resepsionis. Ia pun disambut oleh seorang Lander pria parubaya yang kurang sopan dan cukup kasar. Erra bertanya berapa biaya untuk menginap satu malam. Dan si resepsionis balik bertanya ia bisa bayar dengan apa. Erra pun menjawab dengan uang.
SI resepsionis terlihat merasa aneh dan menatap Erra lebih lama. Sampai akhirnya ia menyebutkan harga yang harus Erra bayar. Sebelumnya Erra sempat bertanya pada Remo berapa biaya menginap jika dibayar dengan Healing Potion. Dan ternyata, jatuhnya lebih mahal memakai Healing Potion.
Erra pun membayar uang sewa itu dengan uangnya pribadi.
Saat sampai di kamar untuk ia dan kelompoknya menginap. Erra hanya bisa menghela napas melihat keadaannya.
.
.
.
__ADS_1
Bersambung...