Ardanium'S Tale Online (Revised) : The Soul Eater

Ardanium'S Tale Online (Revised) : The Soul Eater
2.54.1 - Turn Point.


__ADS_3

+++


Arc 2 : The Angels and The Dragons.


Bab 54 : Turn Point.


+++


Apa yang Erra khawatirkan terjadi. Desa Green Hut berhasil melacak markas dari kelompok perampok yang dipimpin Ezzza. Tapi, mereka gagal menghancurkan kelompok itu karena jebakan.


Ezzza berhasil mengetahui rencana penyergapan yang dirancang Desa Green Hut. Dan ia berhasil menyusun rencana untuk lebih dulu menyergap pasukan Desa Green Hut. Meski rencana Ezzza tak sepenuhnya berhasil, dan ada banyak korban di pihaknya. Ia berhasil menggagalkan rencana Desa Green Hut, dan membuat desa itu sedikit panik.


Si kepala perampok itu sempat berniat untuk menyerang langsung Green Hut karena desa itu sedang tak stabil. Ditambah, ia mendapatkan informasi kepergian kekuatan terbesar Green Hut, yakni Erra. Tapi ia mengurungkan niatannya ketika ia mengukur kembali kekuatan kelompoknya dan mendengar dua kabar yang mengganggu.


Kabar yang Ezzza dengar, meski belum pasit baginya. Tetap saja membuat ia sangat waspada. Kabar pertama yang ia dengar adalah keberadaan Erra yang masih ada di sekitar. Ia khawatir kalau Erra akan tiba-tiba saja kembali ke Green Hut untuk memimpin pasukan.


Kabar kedua yang ia dengar adalah mengenai pergerakan Golden Stars yang makin menguasai Desa Gezar. Jika ini benar, mereka bisa saja mengirim pasukan untuk menyerang kelompok Ezzza. Dan tak aneh sama sekali kalau Golden Stars bisa menghancurkannya.


Alhasil, tindakan yang Ezzza lakukan adalah kembali merampok desa-desa kecil di sekitar untuk memulihakan kekuatannya. Dan akhirnya, kini ia sampai di desa tempat Erra bersama Lunariaa dan Arini berada.


.


.


.


“Elene, kau sudah dengar berita dari selatan?”


“Berita apa?”


“Berita tentang perang antar desa di Great Southern Jungle.”


“Ah, ya... aku dengar. Tapi bukan kah berlebihan menyebut bentrok kecil antar desa sebagai perang, Angela?”


“Hal yang kau anggap bentrok kecil ini yang secara tidak langsung menyebabkan kekalahan kita sekarang!”


“Apa maksudmu?”


“Kelahiran Desa Green Hut adalah yang memicu konflik di selatan. Salah satu alasannya karena desa ini bisa memproduksi beragam Potion, terutama Healing Potion, yang berkualitas bagus dalam waktu singkat.


Entah bagaimana mereka dengan cepat berhasil mengendalikan pasar Potion. Dan kau ingat yang menyebabkan kekalahan kita, kan?


Karena kita kesulitan mendapatkan Potion!”

__ADS_1


Elene terdiam mendengar penjelasan Angela. Ia merasa sedikit bersalah karena kurang teliti, padahal ia adalah ketua dari salah satu aliansi terkuat di dunia virtual Ardanium’s Tale Online ini. Sebuah aliansi yang hampir semua anggotanya adalah perempuan, yakni Blue Angels.


Elene akhirnya mendengarkan semua cerita Angela tentang perang di selatan. Ia tak menduga sama sekali kalau Golden Stars terlibat dalam konflik itu. Bahkan bisa dikatakan konflik itu pun terjadi karena Golden Stars mengejar seseorang.


Setelah semua cerita selesai, Angela membahas hal lain yang masih sedikit bersangkutan. Yaitu...


“Di perang itu, ada dua gadis yang terdengar gemilang. Mereka ada di pihak Green Hut dalam perang. Tapi, mereka tak punya afiliasi tetap. Kudengar, mereka sekarang sudah mulai bergerak lagi.”


“Apa maksudmu kedua gadis ini menarik?”


“Ya, mereka memiliki kemampuan tempur yang hebat. Bisa sangat berguna kalau kita merekrut mereka.”


“Kalau begitu, kenapa tak langsung saja kirim orang untuk merekrut mereka? Kita masih punya orang di selatan, kan?”


“Aku juga berencana begitu. Tapi masalahnya kedua gadis ini ternyata sekarang sedang bersama orang yang bernama Erra itu. Dari rekam jejaknya, orang ini sangat aneh. Orang kita yang ada di selatan semuanya anggota lemah dan kurang pengalaman. Aku tak mau ambil risiko kehilangan lebih banyak anggota.”


“Hm... tapi, mengirim orang dari sini juga kita belum bisa, kan?”


“Ya, itu benar. Makanya aku membahas ini denganmu.”


“Kalau begitu, kita sabar dulu. Tunggu waktu yang tepat.”


“Baiklah.”


Krieet!


“Yo, Elene!” ucap seorang gadis sambil masuk ruangan.


“Oh, Karina. Ada apa?”


“Daripada mengincar dua gadis yang belum jelas dan jauh di selatan. Bagaimana kalau kita mengincar yang jelas dan ada di dekat kita.”


“Apa maksudmu?” Angela sedikit sinis saat bertanya karena Karina adalah pesaingnya.


“Ooh... Nona Angela tidak tahu? Baru-baru ini ada seorang gadis dari ujung utara, yang mendapatkan kekuatan Ice Dragon Warrior.”


.


.


.


“Hm... kau benar-benar serius untuk merampok desa ini? Tidak takut kalah lagi?” tanya Erra dengan wajah datarnya, tapi terkesan sangat meremehkan lawan bicaranya.

__ADS_1


“Kau boleh berlagak jika yang ada di belakangmu Green Hut dan pasukannya. Tapi sekarang yang ada di belakangmu hanya desa sampah!” balas Ezzza.


“Oh... maaf, berarti aku harus meralat pertanyaanku barusan.”


Mendengar itu, Ezzza sedikit mengangkat sebelah alisnya sedikit bingung dengan maksud Erra.


“Harusnya aku bertanya begini... Apa kau yakin mau memulung di desa ini? Dan, berarti sekarang kau alih profesi dari perampok jadi pemulung, ya?”


“Apa maksudmu?!”


“Kau sendiri yang bilang ini desa sampah. Tapi kau datang ke sini untuk mengambil banyak hal di desa ini. Karena hanya pemulung yang datang untuk mengambil sampah. Berarti kau pemulung, kan?”


Ezzza ingin membalas Erra, tapi tak ia lakukan. Itu karena ia tahu Erra pasti akan memancing emosinya lebih jauh.


“Hey... kenapa kau tampak tersinggung begitu?” tanya Erra.


“Semua bersiap!!!”


Mengabaikan pertanyaan Erra, Ezzza memerintahkan para anak buahnya untuk bersiap menyerang. Dan dengan segera, semuanya siap menyerang.


Melihat tindakan kelompok Ezzza, warga desa yang ada mulai panik. Apalagi saat mereka melihat pelindung mereka yang masih bersikap santai.


Ya... Erra juga Lunariaa dan Arini masih bersikap santai. Mereka seperti tak berniat untuk bertarung sama sekali.


“Hm... aku punya tawran untukmu. Bagaimana kalau kita tarung satu lawan satu. Kalau aku kalah, kau silakan memulung di desa ini. Kedua gadis ini juga tak akan mengganggumu. Tapi kalau kau yang kalah, kalian semua harus pergi.” Ucap Erra memberi tawaran.


“Hah! Tak akan kuterima!” balas Ezzza dengan lantang.


“Oh... ya... maaf... aku lupa. Kau ini pengecut rendahan. Maaf, aku sempat menganggapmu pemberani. Ya... mau bagaimana lagi... kukira orang yang berlagak hebat sepertimu pemberani. Tapi nyatanya kau hanya pecundang dan pengecut rendahan. Maaf, sepertinya aku...”


“Tutup mulutmu, bajingan!!!”


Perkataan Erra terpotong oleh teriakan Ezzza. Ia memotong kalimat si mata merah karena tahu, semua yang akan keluar dari mulutnya adalah provokasi. Bukan hanya untuk memancing emosi lawan, tapi juga bisa melemahkan mental lawan.


Provokasi yang Erra berikan bisa memancing emosi Ezzzza. Yang akibatnya bisa membuat Ezzza tak konsentrasi dan bertarung tanpa koordinasi. Di sisi lain, anak buah Ezzza juga bisa jadi berpikir kalau bosnya itu memang pengecut. Dan bisa berefek menurunkan kepercayaan mereka.


“Baiklah, kuterima tantanganmu!!!”


Ezzza tak menemukan cara lain untuk menjaga harga dirinya di depan anak buahnya. Ia bisa saja tak peduli dengan perkataan Erra dan langsung menyerang bersama semua pengikutnya. Akan tetapi, ia yakin Erra tak akan berhenti mengoceh untuk membuat mereka tak bersatu.


Tapi sesaat kemudian, Ezzza menyesal sudah terjebak provokasi Erra. Ketika ia melihat si rambut putih menghias wajahnya dengan senyuman licik.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2