
+++
Jangan lupa Like dan Comment..!!!
Selamat membaca..!!!
+++
Arc 2 : The Angels and The Dragons.
Bab 2 : Kejadian di Hutan...
+++
Begitu Luanriaa, Arini, dan si pedagang berhasil selamat dari kereta yang terbalik. Langsung bermunculan sekelompok orang dari balik semak belukar.
“Serahkan semua barang kalian atau mati!!!”
Salah satu dari mereka maju mendekati kelompok tiga orang itu dan berkata seperti itu. Ia adalah seorang lelaki muda bertubuh gagah. Ia mengenakan zirah campuran antara pelat logam dan kulit. Tak terlihat senjata apa pun yang dibawanya. Akan tetapi, sarung tangan bajanya terlihat lebih besar dari ukuran umumnya.
“Bagaimana ini?” ucap si pedagang dengan lirih.
“Percaya lah, kami pasti bisa melawan mereka. Tapi, mungkin kau harus melarikan diri sendiri sementara kami menahan mereka. Kami akan menysulmu kemudian.” Balas Lunariaa si gadis berzirah.
“Percaya lah.” Tambah Arini si gadis penyihir.
Glek!
Si pedagang menelan ludah dan menarik napas dalam, sebelum menjawab...
“Ya, aku akan percaya pada kalian.”
Arini dan Lunariaa pun memasang kuda-kuda untuk bertarung dengan saling membelakangi.
“Jadi, kalian tidak mau menyerahkan barang kalian?” tanya lelaki yang tadi berbicara.
Kedua gadis itu tak menjawab dan hanya menatap mereka dengan tatapan tajam.
“Semuanya bersiap! Pertama, biar ku perkenalkan diriku dulu! Namaku, Ezzza! Perampok paling hebat di daerah ini!”
Tak ada respon sama sekali dari kedua gadis itu. Sedangkan para perampok itu mulai bersiap untuk menyerang mereka semua.
“Serang!” seru Ezzza.
Dengan segera, semua perampok lainnya menerjang ke arah target mereka.
.
.
.
__ADS_1
“Hm... benar-benar... tempat yang bagus...”
Erra sedang berada di sebuah kawanan hutan. Erra barus saja memasuki Great Southern Jungle. Sebuah hutan rimba yang sangat besar dan berada di daerah selatan Benua Tengah di dunia virtual Ardanium’s Tale Online ini.
Secara singkat, yang menjadi inspirasi para pengembang di Megasolus untuk membuat hutan ini. Adalah Hutan Amazon di daerah Amerika Selatan. Maka dari itu, hutan ini sangat lah lebat dan luas. Dilengkapi dengan penghuni yang berbahaya. Bisa dikatakan, sekitar delapan puluh persen hewan yang ada di hutan ini tergolong sebagai monster, dan sisanya baru hewan biasa.
Erra kini sedang asyik dengan kegiatannya memetik tanaman herbal yang melimpah. Beberapa jenis tanaman herbal ini sebenarnya akan sangat mudah ditemukan di toko yang ada di banyak tempat. Tapi, serendah apa pun harga yang dipasang, gratis tetap lah lebih murah daripada harus membelinya dengan uang. Selain itu, meski hanya beberapa persen saja. Tanaman herbal liar seperti ini memiliki kualitas yang lebih tinggi.
“Hm...”
Erra berhenti sejenak dari kegiatannya untuk memikirkan sesuatu.
“Ketersediaan tanaman herbal di sini benar-benar bisa membuatku tenang. Tapi, di mana tempat aku bisa membuat ramuan dengan tenang?”
Sejak meninggalkan Avalan City, Erra terus bergerak ke arah selatan. Dan selama perjalanan itu, ia beristirahat di beberapa desa yang ia lewati. Erra meninggalkan desa terakhir yang menjadi tempatnya beristirahat sekitar dua hari yang lalu. Setelah itu ia tak melihat satu pun desa lainnya sampai akhirnya ia sampai di hutan ini. Dan selama itu pula Erra tak benar-benar beristirahat.
Kini Erra membuka panel menunya dan melihat peta.
“Eh...? Kenapa aku bisa lupa?”
Erra membuka peta dan memilih menu untuk menunjukkan lokasinya saat ini. Juga daerah di sekelilingnya. Tapi, tak ada satu pun informasi itu yang muncul. Dan itu adalah hal yang sewajarnya terjadi. Karena Erra belum memiliki peta daerah ini.
Jadi, setiap pemain yang baru memainkan Ardanium’s Tale Online akan mendapatkan sebuah peta yang bisa diakses melalui panel menu mereka. Akan tetapi, peta yang dibagikan secara gratis itu hanya menunjukkan wilayah Avalan City dan sekitarnya. Untuk mendapatkan peta wilayah lain, maka harus membelinya dengan uang. Atau mendapatkannya dengan cara lain seperti menyelesaikan sebuah misi.
“Hm... sekarang aku harus ke mana?”
.
.
.
Dengan senjatanya yang berupa kapak dua tangan, Lunariaa bersiap menerima terjangan langsung. Sementara itu di sisi lain, Arini melontarkan sihirnya.
“Water Bullet.” Ucap Arini dengna lirih.
Segera terbentuka gumpalan air sebesar kepalan tangan orang dewasa di ujung tongkat sihir gadis itu. Gumpalan air itu kemudian berputar dengan sangat kencang. Dan menciut menjadi seukuran buah anggur hanya dalam hitungan dua detik saja. Lalu kemudian...
Syuush!!!
Gumpalan air itu melesat ke arah yang ditentukan Arini.
Arini dengan tiba-tiba mengubah target tembaknya di saat terakhir sebelum serangannya meluncur. Tujuannya tentu saja untuk mengecoh lawannya. Lawan Arini yang sebelumnya mearas menjadi target Arini bersiap menerima serangan itu, tapi tidak dengan lawannya yang lain yang merasa tak diincar. Dan yang diincar oleh Arini adalah si pemanah dalam kelompok perampok ini.
Chrassshhh!!
“Ah!” teriak si perampok pemanah saat peluru air itu mendarat tepat di salah satu matanya.
Teriakan itu mengalihkan sedikit perhatian perampok lainnya juga si pedagang. Namun tidak mengalihkan perhatian Lunariaa sama sekali. Gadis bersenjata kapak itu, yang awalnya memasang kuda-kuda siap menahan serangan lawan. Kini mulai menerjang ke arah lawannya.
Lunariaa pun dengan segera berbentrokan dengan Ezzza dan satu lagi rekan perampoknya. Di sisi lain, Arini sudah menyaipkan sihir air lainnya.
__ADS_1
“Magic Bullet Barage!”
Mantra itu terucap dengan lirih namun tegas. Kumpulan bola-bola kecil seukuran kelereng dengan wujud seperti kaca yang sedikit bercahaya bermunculan di ujung tongkat sihir Arini. Dan dengan segera melesat ke arah salah satu perampok.
Ztang! Zrang! Syung! Wussh! WUUskk! Trang! Buk!
Beragam suara terdengar dari bentrokan yang terjadi antara Lunariaa dan kedua lawannya. Sementara Lunariaa memakai senjata yang berupa kapak dua tangan. Lawannya, Ezzza, tak memakai senjata apapun. Ia bertarung dengna tangan kosong, menjadikan tangan dan kakinya sebagai senjata. Sedangkan lawan Lunariaa yang satu lagi memakai senjata berupa pedang pendek.
Dengan senjata yang unggul dalam jarak jangkau, dan kekuatan. Lunariaa mampu mengimbangi kedua lawannya. Yang mana kalah dalam hal persenjataan. Akan tetapi, gadis ini hanya bisa mengimbangi, bukan mengungguli. Karena biar bagaimana pun, melawan dua orang sekaligus bukan lah hal yang mudah. Di sisi lain, Arini menghadapi tiga perampok lainnya dengan sihirnya yang beruntun. Arini bisa juga hanya bisa bertahan namun tak bisa unggul.
Sementara itu, di tengah kekacauan pertarungan ini. Si pedagang diam-diam memunguti sebanyak mungkin barang dagangannya yang berceceran di tanah dan mudah ia jangkau. Ia tak memperhatikan sama sekali jalannya pertarungan. Ia hanya menyiapkan telinganya untuk menunggu tanda dari kedua pengawalnya. Tanda kapan ia harus kabur.
“Heyaaa!!!!” Lunariaa berteriak sambil meningkatkan tempo serangannya.
Teriakan Lunariaa itu buan lah sekedar teriakan pembakar semangat. Melainkan sebuah tanda yang ditujukan pada Arini.
Dan begitu mendapatkan tanda itu, Arini pun segera melakukan hal yang tak diduga sama sekali oleh para lawannya. Yakni menerjang maju ke arah lawan, suatu hal yang sangat langka untuk dilakukan seorang penyihir.
Dengan hal-hal itu, kelompok perampok itu pun menjadi semakin kerepotan dengan kedua gadis ini. dan di saat itu lah...
“SEKARANG!!!”
Dengan sekuat tenaga Lunariaa berteriak. Dan di saat itu juga, si pedagang melarikan diri.
.
.
.
Bersambung...
.
.
.
Yo!
Author di sini!
Ini ada konten yang lupa kemarin tak dimasukan ke bab Ekstra : Sejarah.
Itu adalah peta dari Nusantara, negara tempat Erlangga Saputra tinggal.
INGAT!!!
Ini hanya hasil dari khayalan saya semata..!!!
Tak ada unsur lainnya...!!!
__ADS_1