
+++
Arc 2 : The Angels and The Dragons.
Bab 25 : Sedikit Stres.
+++
“Golden Stars tampaknya tak akan menyerang langsung. Mereka mulai mendekati para petinggi Desa Gezar.”
“Ah... sesuai dugaanku. Tapi, tidak sesuai harapanku.”
“Boleh kami tahu kenapa Anda sudah menduga hal ini akan terjadi?” tanya salah seorang petinggi desa pada Erra.
“Sederhana, mereka tak mau ambil risiko kehilangan muka. Golden Stars sudah mengejarku sejak lama, tak tak pernah berhasil menangkapku. Bahkan mereka menurunkan salah satu anggota penting mereka, tapi aku masih bisa lolos. Dan itu semua memberikan kerugian yang sangat luar biasa besar bagi mereka.”
Erra menutup kalimatnya, dan mulai merenungi langkah yang harus diambilnya sambil menutup mata. Ia memang sudah menduga hal ini akan terjadi. Akan tetapi, dirinya belum menyiapkan sebuah rencana yang rampung untuk menghadapi situasi ini. Karena ada sangat banyak sekali hal yang harus ia pikirkan.
Saat Erra membuka matanya, ia mendapati semua orang menatapnya dalam kesunyian dengan wajah yang kebingungan. Erra pun bertanya...
“Kenapa kalian menatapku begitu?”
“Ah... maaf tuan. Kami tidak paham kenapa menjadi kerugian yang sangat luar biasa besar bagi Golden Stars karena tak bisa menangkap Anda. Mohon maaf, tanpa mengurangi sedikit pun rasa hormat kami. Kami sadar, keberadaan Anda memang lah sangat luar biasa berarti. Akan tetapi....”
“Ya.. ya... aku mengerti yang kau maksud.” Erra memotong perkataan si petinggi desa dan mulai memberi penjelasan.
“Aku ini hanya seorang avatar amatir yang baru mendatangi dunia ini. Aku tak punya nama besar, hanya seorang yang tak berarti di dunia luas ini. Sementara itu, Golden Stars adalah kekuatan besar di dunia ini. Bahkan disebut-sebut sebagai salah satu kekuatan terbesar dunia. Akan tetapi hanya untuk menangkap diriku yang bukan apa-apa ini, mereka sampai kewalahan. Pantas kalau mereka merasa malu.
Kepercayaan Kekaisaran Orum sebagai rekan utama mereka bisa menurun karena hal ini. Begitu juga rekan mereka yang lainnya. Dan karena hal ini, di dalam internal mereka juga akan terjadi keributan. Pasti akan ada yang saling menyalahkan dan sebagainya. Kurang lebihnya begitu, kalian mengerti?”
Semuanya pun mengangguk. Erra akhirnya mengajak semua berpikir bersama untuk menemukan jalan keluarnya.
.
.
.
Arini dan Lunariaa baru saja menginggalkan kantor Gilda Petualang. Duo gadis manis ini mengambil sebuah misi perburuan di dalam Great Southern Jungle. Dan mereka kini sedang mencari peralatan dan perbekalan.
“Arini, bukan kah itu...”
Arini melihat ke arah yang dilihat Lunariaa. Dan ia pun mengerti maksud kaliamt terpotong dari Lunariaa itu.
“Ah, ya. Itu si perampok berisik itu.”
“Cih! Kenapa kita bertemu dengannya terus?!”
__ADS_1
“Entah lah, mana kutahu? Mungkin takdir? Yang penting kita harus waspada. Biar bagaimana pun ia kuat, kalau kita lengah kita bisa mampus. Dan kelihatannya, ia sudah punya kawanan baru?”
“Ah, benar. Bagaimana ia bisa terus membuat kawanan baru?”
Arini dan Lunariaa melihat Ezzza yang juga ada di Desa Gezar ini. Mereka berdua pun langsung berusaha menjauh dari Ezzza. Karena mereka tak mau terkena masalah dengan orang itu lagi.
.
.
.
“Hah... jujur saja semua ini membuat ku cukup stres.” Keluh Erra.
“Apakah ada yang bisa saya bantu untuk menguranginya, tuan?”
“Tidak.”
“B-baik.”
Erra telah menyelesaikan rapatnya, dan kini ia berada di ruangan kantor pribadinya. Di ruangan ini, ia hanya berdua dengan salah seorang gadis desa yang menjadi asistennya.
Saat menawarkan bantuan tadi, gadis Lander ini menunjukkan gerakan menggoda. Menggoda layaknya seorang perempuan menggoda seorang lelaki.
Erra bukan hanya satu atau dua kali digoda seperti ini oleh para gadis di desa ini. Tentu saja ini hal yang wajar mengingat Erra adalah sosok yang sangat penting di desa ini. Ia dianggap begitu kuat dan bijaksana di desa ini.
“Aku mau keluar dulu, hanya ingin cari angin segar. Tak perlu ada yang mengikutiku.”
“Dimengerti, tuan.”
Erra pun meninggalkan ruang kantornya dan segera keluar dari desa, menuju ke arah hutan.
.
.
.
Arini dan Lunariaa telah memasuki hutan, tapi mereka belum terlalu jauh dari Desa Gezar.
“Hutan ini benar-benar lebat! Sampai semaknya juga sangat lebat! Buat susah bergerak saja!” keluh Arini yang dari tadi beberapa kali roknya menyangkut di semak.
“Hm... menurutku itu tidak ada masalah.” Komentar Lunariaa.
“Tentu saja tidak akan masalah bagimu!”
Mereka sedikit berdebat, tentang berbagai macam hal yang tidak jelas. Sampai Arini berkata...
__ADS_1
“Kudengar, di pedalaman hutan ini ada pemukiman goblin?”
“Ah, ya. Aku juga dengar itu. Tapi yang kudengar mereka tinggal jauh di dalam hutan. Dan jarang sekali ada yang bertemu dengan mereka di pinggiran hutan.”
“Oh, begitu...”
Mereka pun kini mulai mengobrol biasa, bukan lagi bedebat. Dan akhirnya, mereka pun sampai di pinggiran sebuah sungai.
“Hm... bagaimana caranya menyeberangi sungai ini? Kudengar ada jembatan dari pohon besar yang rubuh. Tapi sepertinya tidak ada di sekitar sini?” ucap Lunariaa.
“Bagaimana kalau melompat antar batu di sana.” Ucap Arini sambil menunjuk ke satu arah.
Di arah yang ditunjuk Arini, ada beberapa batu besar di sungai yang muncul ke permukaan dari dasar sungai.
“Ah, boleh juga. Ayo, ke sana!”
Keduanya pun menuju ke tempat batu-batu itu. Dan mulai menyeberangi sungai dengan melompat antar batu. Mereka sampai di seberang tanpa hambatan dan dengan selamat sempurna. Keduanya pun melanjutkan perjalanan mereka. Mencari target yang harus mereka buru dalam misi mereka.
.
.
.
“Aku ingin tinggal di desa ini beberapa hari. Sepertinya desa ini menarik untuk diperhatikan.” Ucap Ezzza.
“Ah... maaf, bos. Tapi, kapan kita akan mulai merampok?” tanya salah seorang anak buahnya.
“Kalian tidak sabar mau merampok lagi?”
Keduanya mengangguk.
“Haha! Semangat yang bagus! Aku tinggal di desa ini selain mengamati desa ini juga ingin menjadikan tempat ini basis perkumpulan kita.”
“Ah... bos. Tapi, bukannya lebih baik punya basis di tengah hutan? Seperti membuat gubuk atau mencari gua?”
“Tidak perlu, karena itu tindakan bodoh. Kalau ada yang tak sengaja menemukan tempat kita bagaimana? Kalau di desa ini, tempat kita bisa terlindungi.”
Keduanya tidak menjawab, karena merasa perkataan Ezzza benar. Tapi mereka memasang wajah yang tampaknya masih kurang setuju.
.
.
.
Bersambung...
__ADS_1