
+++
Arc 2 : The Angels and The Dragons.
Bab 31 : Usaha.
+++
“Ya.. mau bagaimana lagi... kita harus menghadapi ini semua. Semua pengawasan masih berjalan lancar, kan?”
“Ya, Tuan Erra. Semua pengawasan masih lancar. Kita masih bisa terus mengetahui setiap gerakan mereka.”
“Hm... bagus lah kalau begitu. Oh ya, aku sudah menulis surat untuk dikirim ke Desa Gezar. Maaf aku belum mengatakannya pada kalian. Nanti kalian bisa baca detailnya, tapi sekarang biar kujelaskan inti surat itu.”
Erra menjeda kalimatnya untuk meneguk minumannya. Lalu melanjutkannya.
“Jadi, intinya aku akan menawarkan perdagangan dengan mereka. Jelas kalau aku tetap mengajukan persyaratan. Namun jika dibandingkan dengan syarat yang kususun tempo hari. Kali ini syaratnya tak begitu memberatkan bagi Gezar dan juga tak begitu menguntungkan bagi kita. Tapi tenang saja, ini tidak akan merugikan kita. Kalau mereka setuju dengan semua persyaratanku.”
“Maaf, tuan. Tapi kenapa Anda ingin mengirim surat seperti itu? Apa mereka akan menerimanya?”
“Sederhananya, aku hanya coba-coba. Kita butuh untuk mengulur waktu. Kita tak bisa mengalahkan mereka dengan mudah dalam pertempuran yang akan datang. Dan aku juga khawatir pertempuran itu tak akan menjadi pertempuran tunggal dan berkembang menjadi perang.
Sesuai dengan semua informasi yang kalian berikan padaku. Kalau di Gezar masih ada yang ingin membuka perdagangan dengan kita. Dengan surat ini, aku yakin bisa sedikit menahan pergerakan mereka saat ini. Masalah mereka mau menerima atau tidak tawaran ini, itu tak menjadi masalah.
Kalau mereka menerimanya, jelas kalau kita akan diuntungkan. Kalau pun mereka menolaknya, kita bisa mendapat waktu tambahan untuk persiapan selagi mereka membahas isi surat kita.”
Erra menjelaskan lebih banyak lagi tentang semua rencananya. Dan diskusi pun terjadi dengan sengit. Sebagian setuju sepenuhnya dengan rencana Erra, sebagian tidak setuju sama sekali, sebagian lagi menyetujui sebagian dan tidak setuju dengan bagian lainnya.
Setelah perdebatan yang cukup panas, akhirnya mereka menyimpulkan sebuah rencana. Yang pada dasarnya tetap berjalan di atas rencana Erra. Mereka pun bersama membuat isi surat yang akan disampaikan pada Desa Gezar.
“Baiklah, kalau begitu apa surat ini akan segera kita kirim?” tanya salah seorang peserta rapat.
“Ya, serahkan surat itu padaku. Aku akan membawanya sendiri. Aku sudah menyiapkan beberapa orang untuk menemaniku.”
“A-apa?! Maaf, tapi apa maksud Anda tuan? Tidak mungkin Anda yang mengirimnya sendiri ke sana.”
__ADS_1
Pernyataan tidak setuju dengan rencana Erra yang satu ini disuarakan beberapa petinggi. Tapi, Erra berkata...
“Aku punya rencana, tapi aku tak akan menjelaskan rencana yang satu ini pada kalian atau siapa pun. Jika kalian memaksaku, aku akan menjelaskannya. Tapi, itu berarti kalian sudah tak mempercayaiku lagi. Aku tidak masalah dengan itu.”
Mendengar perkataan Erra itu, membuat seisi ruangan menjadi tersentak. Mereka bingung untuk berkata apa. Ada sebagian yang sangat menyesal dan meminta maaf pada Erra. Ada juga di antara mereka, yang rasa hormatnya pada Erra tak menjulang sampai langit, tetap penasaran dengan rencana Erra.
Pada akhirnya, semua setuju dengan rencana Erra.
“Ah, maaf. Padahal rapat panjang ini akan segera berakhir. Tapi, aku ingin menyampaikan satu hal lagi jika kalian tidak keberatan.” Ucap Erra.
Semua mempersilakan Erra untuk membicarakannya.
“Aku ingin memberi saran agar kita merapikan tatanan. Membagi jabatan dan tanggung jawab dengan jelas, demi pergerakan yang lebih efisien dan efektif. Untuk waktu pembahasannya, aku serahkan pada kalian semua. Tapi, aku punya saran untuk melakukannya setelah aku kembali dari Gezar.”
Dengan cepat, semua menyetujui saran itu. Sebenarnya, sudah banyak yang memikirkan hal tersebut. Mereka memang sudah butuh pembentukan organisasi pemerintahan desa yang jelas. Selama ini, semua masalah desa diputuskan dengan rapat bersama seperti ini. Yang mana memakan waktu yang lama untuk memutuskan satu masalah.
Secara de facto, kumpulan orang-orang yang diseut petinggi ini adalah organisasi pemerintahan desa. Akan tetapi, mereka juga badan legislatif sekaligus yudikatif. Karena Green Hut hanya lah desa, Erra sebelumnya tak berpikir harus membuat struktur yang jelas seperti sebuah negara begitu. Namun setelah selama ini, akhirnya ia sadar kalau hal seperti itu dibutuhkan.
.
.
.
Putra sedang dalam perjalanan pulang dari sekolahnya. Dan ia sedang membaca Ardanium’s Forum. Lebih tepatnya ia membaca tentang perkembangan perang di utara dan timur dunia Ardanium’s Tale Online.
Kedua perang itu sempat mereda dan berhenti. Namun pecah lagi setelah beberapa saat. Dan kini, perangnya benar-benar akan berakhir. Perang yang terjadi di kedua tempat itu adalah ladang utama penjualan Healing Potion dari Desa Green Hut. Maka dari itu, akan lebih menguntungkan jika kedua perang itu tak berhenti. Itu lah yang dipikirkan oleh Putra.
“Hm... kalau begini aku benar-benar harus lebih dalam usaha membangun kerja sama dengan Gezar. Biar bagaimana pun, pasar mereka menarik dan besar. Tapi kalau itu gagal....”
Putra memejamkan matanya sejenak.
“Apa lebih baik kalau aku memicu perang, ya? Ah... itu hanya bisa dilakukan jika aku sudah punya pengaruh kuat. Kalau masih seperti saat ini, akan sulit.”
Putra terpikirkan untuk memicu perang baru, demi membuat ladang penjualan Healing Potion dari Green Hut. Tentunya, ia akan berusaha memicu perang di tempat yang jauh dari Green Hut agar Green Hut tak terlibat secara langsung. Tapi ia sadar, pengaruhnya yang masih belum cukup untuk melakukan hal semacam itu.
__ADS_1
Putra pun terus merenungkan yang perlu ia lakukan.
.
.
.
“Kenapa kalian terus menatapku begitu?”
“A-ah... maaf, tuan. Kami hanya belum terbiasa dengan penampilan tuan yang seperti ini.”
“Hm... biasakan lah. Dan ingat, jangan sampai kalian memanggil nama asliku. Panggil aku Grin, kalian ingat, kan?”
“Ah, tentu.”
Erra dan beberapa bawahannya pergi ke Desa Gezar bersama. Mereka tak langsung bergerak dari Green Hut ke Gezar. Melainkan mengambil jalan memutar, agar tak terlihat datang dari Green Hut. Selain itu, Erra melakukan penyemaran, yang tujuannya tentu sja agar tak dikenali saat berada di Gezar.
Erra mengganti warna rambutnya menjadi hitam kehijauan. Matanya jadi hijau daun muda. Dan pakaiannya serba hija tua. Tapi iamasih membawa senjata berupa busur.
Mereka sampai di Gezar, lalu melewati pemeriksaan di gerbang desa. Pemeriksaan untuk masuk Desa Gezar ini semakin ketat. Seiring dengan semakin tegangnya hubungan dengan Green Hut.
Setelah memasuki desa, Erra berkeliling sebentar seperti turis yang baru datang ke desa ini. Dan setelah sekian lama tak melihat desa ini, Erra menyadari banyak perubahan. Bisa dibilang terjadi penurunan di desa ini, meski pun tak begitu besar.
Setelah berkeliling mereka pun menuju ke sebuah penginapan.
“Tuan, yakin menginap di sini?”
“Tentu.”
Mereka memilih untuk menginap di penginapan yang sebenarnya dikelola oleh Golden Stars di desa ini. Dan juga penginapan di mana Fitz singgah.
.
.
__ADS_1
.
Bersambung...