Ardanium'S Tale Online (Revised) : The Soul Eater

Ardanium'S Tale Online (Revised) : The Soul Eater
2.30 - Cerita.


__ADS_3

+++


Arc 2 : The Angels and The Dragons.


Bab 30 : Cerita.


+++


“Selamat pagi, nona-nona. Kalian sudah siap berkeliling?”


“Ya, kami siap.”


“Baiklah kalau begitu. Tapi, di sini aku mau minta maaf. Karena satu dan lain hal, aku tak bisa menemani kalian. Karena itu lah, temanku ini yang akan menemani kalian.”


Pagi ini rencananya Erra akan mengajak Arini dan Lunariaa berkeliling desa. Akan tetapi, ternyata para petinggi desa meminta Erra untuk ikut rapat mendadak mereka. Erra pun tak bisa mengelak, karena ini berhubungan dengan pergerakan Golden Stars.


“Salam, perkenalkan. Namaku Piko.”


“Salam kenal, Piko. Aku Arini.”


“Salam kenal juga. Aku Lunariaa.”


“Baiklah, sepertinya aku akan meninggalkan kalian sekarang juga. Aku mohon diri.” Erra pun segera pergi.


Piko, salah satu dari dua bersaudara yang merupakan warga desa pertama yang bertemu dengan Erra. Kini, ia telah mendapatkan posisi yang lumayan penting di desa. Ia adalah salah satu Scouts andalan desa yang mempunyai kemampuan bertarung dan mengumpulkan informasi dengan baik.


Piko melangkah mendekati kedua avatar di hadapannya. Lalu ia berkata...


“Sekali lagi, salam. Ini sebuah kehormatan bagiku untuk menemani dua tamu Tuan Erra. Sekarang, agar tak membuang banyak waktu. Kiranya nona sekalian ingin melihat apa terlebih dahulu?”


“Kami ingin mencari tempat yang menyediakan beragam ramuan. Kami ingin mengisi ulang persediaan ramuan kami. Terutama Healing Potion dan Mana Potion.” Jawab Arini.

__ADS_1


“Ah... kalau begitu... hm... sepertinya agak sulit. Biar saya berpikir dulu. Saya punya rekomendasi di mana untuk membeli Mana Potion. Akan tetapi, untuk Healing Potion yang merupakan produksi utama desa ini. Semua tempat memiliki kualitas yang sama bagusnya.”


“Kalau seperti itu. Bagaimana kalau kau membawa kami ke tempat yang sama dengan tempat penjual Mana Potion yang akan kau rekomendasikan. Mereka menjual Healing Potion juga, kan?”


“Ah, baiklah. Seperti itu juga bisa. Kalau begitu, silakan ke sini.”


Piko pun mengajak kedua gadis itu menuju ke toko yang ia rekomendasikan. Sepanjang jalan, ia menjelaskan apa pun yang mereka lewati di desa ini. Dan dari setiap penjelasannya, selalu terselip pujian untuk Erra.


Toko yang dituju sebenarnya dekat. Tapi, karena Piko banyak menjelaskan dan bercerita tentang banyak hal, mereka cukup lama untuk sampai. Ditambah lagi, banyak yang menyapa dan memberi salam pada Piko. Atau sebaliknya, Piko yang memberi salam atau menyapa.


“Hm... omong-omong. Kamu salah satu yang kemarin menolong kami di hutan, kan?” tanya Lunariaa.


“Ah, sayang sekali itu bukan lah diriku. Itu adalah adikku, Liko. Kami memang sangat mirip.”


“Ooh... begitu?”


Mereka pun sampai di toko yang dituju. Arini dan Lunariaa mulai berbelanja. Dan seperti janji Erra, mereka mendapatkan potongan harga untuk setiap barang yang mereka beli. Si pemilik toko bahkan ingin memberi semua barang itu dengan gratis saat mendengar kedua gadis ini adalah tamunya Erra. Namun keduanya menolak hal tersebut, dan memaksa untuk membayar.


Setelah dari toko itu, mereka pun pergi ke berbagai tempat lainnya. Setiap kali mereka ingin membeli sesuatu, mereka akan mendapatkan potongan harga yang tidak kecil. Dan selalu mendapatkan tawaran untuk mendapatkan barang gratis. Tapi, mereka selalu menolaknya.


Begitu datang ke kedai itu, sekali lagi pengaruh dari kata ‘tamu Erra’ sangat lah kuat. Mereka segera dibawa ke meja VIP. Pesanan mereka juga segera didahulukan. Karena bukan hanya pihak kedai yang berusaha menyiapkan pesanan mereka lebih cepat. Pengunjung lain yang merupakan warga desa pun meminta agar pesanan para tamu Erra ini didahulukan.


Awalnya Piko tak akan ikut makan dengan Arini dan Lunariaa. Namun mereka berdua memaksa Piko untuk makan bersama. Mereka bahkan meminta ibu Piko untuk makan bersama mereka juga. Akhirnya, mereka pun makan berempat.


Obrolan basa-basi terjadi, sampai Lunariaa bertanya...


“Maaf, tapi... aku makin penasaran. Sebenarnya Erra itu punya posisi apa di desa ini? Aku sangat senang dan bahagia mendapatkan semua kebaikan warga desa ini. Tapi di sisi lain aku merasa sedikit tidak enak, karena sebenarnya aku dan temanku ini juga baru mengenal Erra.”


“Penyelamat desa.” Jawab ibu Piko, yang melanjut...


“Tuan Erra pertama datang ke desa dengan kedua putraku. Piko dan adiknya, Liko. Ia menyelematkan nyawa kedua putraku ini. Lalu ia tinggal bersama kami untuk berbagi ilmu. Ia tak segan mengajari apa pun yang ia ketahui pada kami. Hingga akhirnya terjadi kemajuan pesat di desa ini.

__ADS_1


Hal yang paling besar, yang dilakukan Tuan Erra adalah menyangkut hubungan kami dengan Desa Gezar. Kami benar-benar tak menyangka, kalau Desa Gezar yang selama ini kami anggap ada untuk membantu kami. Ternyata membodohi kami demi keuntungan mereka sendiri.


Setelah kami melepas kerja sama dengan Desa Gezar. Tuan Erra segera membangun ekonomi dan kekuatan pertahanan desa ini. Untuk masalah pertahanan, awalnya kami tak begitu peduli. Karena kami tak tahu sama sekali yang namanya konflik bersenjata.”


Ibu Piko menjeda sebentar kalimatnya, lalu melanjut...


“Di kemudian hari, Desa Gezar mendatangi kami untuk kembali bertransaksi dengan mereka. Kami pun berencana untuk menyetujuinya, tapi dengan beragam persyaratan. Dan ternyata mereka tak mau memenuhi satu pun persyaratannya.


Setelah beberapa kali hal itu terulang, Tuan Erra terus mengingatkan kami kalau mereka akan memaksa kami dengan kekerasan. Dan ternyata itu benar terjadi. Desa Gezar menyerang kami yang tak punya pertahanan kuat. Tapi kami selamat berkat strategi yang diracik Tuan Erra.


Penyerangan tak hanya terjadi sekali. Dan setiap terjadi penyerangan, Tuan Erra lah yang selalu menjadi penyelamat kami. Karena itu lah, aku menyebutnya sebagai Penyelamat Kami.”


“Kelihatannya, ia benar-benar orang baik. Orang yang sangat baik.” Ucap Lunariaa setelah mendengarkan cerita panjang lebar itu.


“Ya, Tuan Erra sangat baik. Tapi... sebenarnya kalau ia sedang datang sifat kejamnya... itu benar-benar mengerikan.” Ucap Piko.


“Sifat kejam?” tanya Arini.


“Ya, sifat kejam. Memang itu dilakukannya demi kebaikan kami juga. Tapi, terkadang ada juga yang kurang bisa atau bahkan tak bisa menerima sikapnya itu. Tuan Erra memberikan pelatihan keras, agar kami bisa menjadi kuat dengan cepat. Tapi, tak sedikit dari kami yang kehilangan nyawa.


Meski pun, kebanyakan dari kami yang tewas dalam pelatihan itu karena faktor tak terduga, bukan dari Tuan Erra sendiri. Sayangnya, sikap Tuan Erra tampak sangat dingin terhadap mereka yang gugur dalam pelatihan. Jadi, jujur saja itu membuat tak sedikit orang di desa ini yang kurang menyukai Tuan Erra.


Akan tetapi, meski seperti itu. Tuan Erra tak pernah membedakan kami. Di keadaan genting, Tuan Erra tetap menolong mereka yang membencinya. Dan akhirnya, kebencian terhadap dirinya pun luntur sedikit demi sedikit. Aku tak tahu apa itu sudah sirna atau belum. Yang jelas, kalau pun sekarang masih ada warga desa yang tak menyukainya. Itu sangat sedikit, dan mereka tetap menghormati Tuan Erra meski mereka tak menyukainya.”


Mendengar cerita dari anak dan ibu ini. Membuat Arini dan Lunariaa memiliki ide untuk membuat hubungan baik dengan Erra. Hubungan yang sebaik mungkin. Karena mereka yakin, orang seperti Erra akan sangat membantu mereka di masa depan. Jika mereka bisa berteman.


Yang mereka tak tahu adalah, hubungan mereka dengan Erra jauh lebih kuat daripada hanya pertemanan. Karena hubungan mereka adalah hubungan yang mana bisa membuat Erra melakukan apa pun untuk keduanya. Meski itu, harus membuat samudera darah.


.


.

__ADS_1


.


Bersambung...


__ADS_2