
“Beban pada otak yang kurasakan setelah mengerjakan pekerjaan rumah dari sekolah selama satu jam. Itu terasa sepuluh kali lebih berat daripada bermain dalam dunia virtual selama tiga jam.
Sekarang bayangkan, satu jam saja bisa memberiku beban otak yang tak ringan. Lalu aku harus sekolah setiap harinya selama berapa jam? Dengan beban otak seberat itu, seharusnya sekarang ibu memintaku berhenti sekolah. Aku tak perlu sekolah, aku tak perlu melakukan apa pun karena aku hanya seorang anak, bukan orang tua. Dan nanti saat aku menjadi orang tua, biarkan diriku ini hancur karena terbiasa tak melakukan apa pun selama aku hanya menjadi seorang anak.
Sekali lagi aku minta maaf kalau perkataanku ini lancang. Tapi aku tak menyangka akan mendapatkan penentangan seberat ini hanya karena aku ingin punya uang hasil usahaku sendiri dari memainkan permainan yang biasa kumainkan. Yang selama ini tak pernah ibu tentang.”
Keheningan terjadi setelah Putra berucap panjang lebar begitu.
Dalam hatinya, Putra kemudian berucap...
‘Sebenarnya ibu kenapa, sih? Ada yang aneh. Dari tadi pagi sampai sore tak ada masalah, kenapa tiba-tiba aneh begini?’
Putra tak salah tentang ibunya. Karena ibunya yang ia kenal memang tak akan bertindak seperti ini. Putra pun tak paham sama sekali dengan apa yang sebenarnya terjadi pada ibunya. Padahal sebelum pembicaraan ini dimulai, ibunya masih seperti biasanya.
Di sisi lain, Agnisa sendiri sadar kalau dirinya bertindak tidak seperti biasanya. Dengan kepala dingin dan penuh kesadaran, Agnisa sebenarnya tak menentang keinginan Putra. Tapi, ada perasaan yang kuat yang mendorongnya untuk menentang keinginan anaknya itu.
Begitu Putra menyatakan kalau ia ingin membantu ekonomi keluarga, karena saat ini keluarga mereka memang sedang terancam krisis ekonomi. Sebuah perasaan yang sangat tidak nyaman muncul di hati Agnisa. Ia segera merasa bahwa dirinya sebagai seorang ibu sudah gagal karena sampai anaknya ingin melakukan hal itu. Sampai ingin mencari tambahan penghasilan bagi keluarga, padahal masih bersekolah.
Sekali lagi, saat ia memikirkannya dengan dingin. Agnisa sadar kalau itu hal yang normal, dan sangat banyak anak di zaman ini yang melakukannya. Bahkan mereka melakukan pekerjaan yang sebenarnya tak mereka sukai, tapi memberi penghasilan yang lumayan. Sementara Putra, memilih mencari penghasilan dengan melakukan yang ia sukai. Maka seharusnya Agnisa tak punya alasan untuk melarang Putra.
Tapi, sekali lagi perasaan gagal sebagai ibu muncul. Hal ini pun terus berulang, berkali-kali selama dalam pembicaraan ini.
Agnisa ingin menjadi seorang ibu yang bisa memenuhi semua kebutuhan dan keinginan kedua buah hatinya. Ia akan bersedia melakukan berbagai macam hal, demi memenuhi hal tersebut. Ini memang sifat aslinya yang muncul sejak Putra lahir. Dan sama sekali bukan sifat aneh yang dimiliki seorang ibu.
Tapi, insiden berat yang terjadi beberapa tahun yang lalu, membuat Agnisa sedikit berubah. Ia sering merasa khawatir berlebih tentang kedua anaknya. Dan selalu merasa gagal sebagai orang tua.
“Maaf...”
Kata yang terucap oleh Agnisa itu memecah keheningan yang begitu berat ini.
“Ibu hanya khawatir. Tapi, sekarang ibu mengizinkanmu melakukan kemauanmu itu. Tapi dengan syarat!”
Putra mengangguk, menanti syarat yang diajukan ibunya.
“Pertama, jangan terlalu memaksakan diri. Nikmati permainanmu, dan syukuri saat kau bisa mendapatkan penghasilan. Tapi, jangan sesali saat kamu gagal mendapatkannya. Kedua, kamu harus bisa menepati janji soal waktu. Ibu hanya mengizinkanmu aktif selama empat jam berturut-turut. Setelah itu kamu harus istirahat. Kamu bisa penuhi itu?”
“Tentu!”
.
__ADS_1
.
.
KRREEEKETKETKET!!!
ZWUUOOSSHH!!!!
ZLAB!!!
[Kamu membunuh : 1 Plague Pig!]
“Dengan begini, total jadi sepuluh.”
Erra mulai berburu Plague Pig lagi. Dan kali ini tujuannya adalah mengumpulkan bahan untuk membuat racun.
Sekarang, jika dihitung dari waktu ia masuk Kork Forest. Waktu sudah berlalu selama empat jam. Dan dalam empat jam ini, Erra telah mengumpulkan banyak bahan untuk membuat beragam ramuan.
Kini, cara yang Erra pakai untuk berburu Plague Pig lebih efektif. Ia bisa membunuh dua sampai tiga ekor Plague Pig hanya dengan biaya satu anak panah.
Erra memakai Power Shot yang diarahkan langsung ke kepala Plague Pig. Ia mengincar dari jarak kurang dari sepuluh meter. Itu membuat daya serangnya menjadi sangat kuat. Dan dengan begitu, ia bisa menghabisi targetnya hanya dengan sekali tembak. Setelah menghabisi satu Plague Pig, Erra mencabut anak panahnya dan memakainya lagi. Dengan begitu ia bisa menghemat pemakaian anak panahnya.
“Suda hampir sampai bagian dalam. Kembali atau lanjut, ya?”
Erra pun melaju ke bagian dalam Kork Forest.
.
.
.
“Jadi, sudah selama itu dan kalian belum bisa menemukannya?”
“Ya, sekali lagi aku minta maaf, Kronoz. Semua tenaga yang tersedia saat ini telah kukerahkan, namun belum bisa kami temukan di mana keberadaannya.”
“Jika kau butuh tenaga tambahan, gunakan saja. Aku semakin penasaran dengan orang ini. Dan meski ini hanya firasat. Aku merasa kalau ia memang bisa menjadi ancaman bagi kita. Jika kita sampai membiarkannya menumbuhkan kekuatan.”
“Siap!”
__ADS_1
Fitz selama beberapa waktu berusaha menutupi kenyataan kalau ia dan anak buahnya kehilangan jejak Erra. Tapi ia tak bisa melakukan itu selamanya. Karena itu lah akhirnya Kronoz pun mengetahui tentang hal ini.
Sebelumnya Kronoz memang tak menganggap remeh Erra, tapi juga tak terlalu serius sehingga menjadikan penyelidikan tentang Erra sebagai prioritas. Tapi dalam keadaan ini, Kronoz merasa kalau Erra harus diprioritaskan. Ia merasa kalau akan ada hal buruk yang terjadi pada Golden Stars kalau sampai membiarkan Erra bertambah kuat.
Tap!
“Permisi, Tuan Kronoz, Tuan Fitz!”
Tiba-tiba muncul salah satu anak buah Fitzz yang adalah seorang Scouts tingkat tinggi.
“Ada apa?” tanya Fitz.
“Kami mendapat kabar tentang keberadaan Erra.”
“”Apa?!”” Fitz dan Kronoz mengatakannya bersamaan dengan wajah yang sama-sama kaget.
“Jelaskan!” perintah Fitz.
“Baik! Jadi, beberapa hari yang lalu ada dua kelompok petualang yang bentrok dan bertarung. Yang akhirnya dibantai habis oleh seorang pemanah yang bersembunyi. Dikatakan pemanah ini memakai panah beracun. Kemungkinan besar, dilihat dari efeknya itu adalah Mid Paralyze Poison 3.
Orang terakhir yang selamat di antara dua kelompok itu, yang seorang avatar, diseret si pemanah ke sebuah gua. Di sana ia dijadikan percobaan ramuan. Baik itu ramuan pemulih, racun, atau pun anti racun selama beberapa hari. Dan pemanah yang melakukan semua itu mengaku dirinya bernama Erra. Dan ia mengatakan kalau ia adalah seorang Scouts dan Herbalist.
Menurut keterangan yang kami dapat. Pemanah itu, memiliki postur tubuh yang langsing tapi sedikit gagah. Rambutnya hitam panjang dikucir satu, dan punya poni rambut lurus. Lalu matanya berwarna merah darah.”
“Seberapa besar keyakinanmu, kalau itu memang Erra yang kita cari?” tanya Kronoz.
“Lebih dari lima puluh persen!”
“Hm... sepertinya ia mengubah penampilannya. Tapi...”
Fitz sedikit merenung. Ia tahu ini hal yang terdengar konyol bagi dirinya dan anak buahnya. Kalau mereka sampai terkecoh oleh Erra yang hanya mengubah sedikit penampilannya. Dan Fitz cukup yakin anak buahnya bisa menemukannya kalau hanya itu yang dilakukannya. Karena mata mereka hampir tak pernah lepas dari Erra.
Yang Fitz pikirkan sekarang adalah bagaimana Erra bisa lolos dari pengawasan anak buahnya.
“Tak peduli bagaimana ia bisa lolos tempo hari. Sekarang kita harus mengejarnya!” ucap Fitz.
.
.
__ADS_1
.
Bersambung...