Ardanium'S Tale Online (Revised) : The Soul Eater

Ardanium'S Tale Online (Revised) : The Soul Eater
2.54.3 - Turn Point.


__ADS_3

.


.


.


“T-ti-tidak mungkin! Kenapa?! Kenapa orang sepertimu mendapatkan kekuatan sebesar ini?!!!” jerit Fira, sebagai orang terakhir yang berhasil bertahan hidup.


“Hah... hah... ha... hm? Kenapa, ya? Aku juga penasaran. Haha...!” Aizu dengan terengah-engah berkata begitu.


Saat ini, dari semua pengepung Aizu. Fira adalah satu-satunya yang hidup. Sedangkan sisanya, telah kehabisan seluruh Hit Point yang mereka miliki. Sementara itu, Aizu sendiri sekarang hanya memiliki sekitar lima persen Hit Point. Di sisi lain, Fira masih memiliki lebih dari lima puluh persen Hit Point. Tapi yang terlihat saat ini, Aizu lah yang menguasai situasi.


Setelah memastikan Fira tak akan menyerangnya secara mendadak. Aizu pun dengan segera meneguk dua botol Healing Potion, ditambah sebotol Stamina Potion dan sebotol lagi Mana Potion. Melihat tindakan Aizu, Fira sangat ingin menyerangnya, tapi tubuhnya seakan terkena efek Stun sampai tidak bisa bergerak. Yang mana nyatanya, rasa tidak mampunya untuk bergerak hanya berasal dari rasa takutnya semata.


Aizu yang berhasil cukup memulihkan diri memasang senyuman lebar. Lalu ia berkata...


“Aku, hanya ingin cari untung di dunia ini, sama seperti kalian. Apa pun yang kalian katakan, pada intinya kalian juga hanya cari untung, kan? Mau itu keuntungan materi atau hanya keuntungan dari rasa senang yang kalian nikmati.”


Aizu terjeda sebentar sampai ia melanjut...


“Tapi sayangnya tidak seperti kalian! Aku bukan orang yang punya ‘modal’ untuk mendapatkan keuntungan itu. Aku tidak bisa seperti kalian yang mencari keuntungan dengan bertualang, berdagang, atau apa pun itu. Tapi aku ini butuh! Aku benar-benar butuh keuntungan itu! Aku bukan hanya mau, tapi sangat membutuhkannya!!!”


Aizu mulai terlihat marah-marah sendiri. Membuat Fira yang menatapnya semakin terdiam, hanya bisa mendengarkan.


“Oy, Fira. Bagaimana caramu dapat keuntungan dari dunia ini? Apa kau bekerja keras? Kau sendiri yang cerita, dengan hanya perlu meminta pada ayahmu dan ia langsung membelikan perangkatnya. Kau hanya tinggal meminta ini dan itu, dan kau mendapatkannya!”


Sedangkan aku! Aku harus bertarung untuk semua itu! Tapi, meski aku bertarung lebih dari orang lain aku tetap saja tidak bisa mendapatkan keuntungan yang sangat kubutuhkan itu! Sampai aku akhirnya menemukan caranya, yakni dengan terus menipu orang-orang bodoh seperti kalian! Hahaha...!!!”


Aizu mulai tertawa histeris, menambah kesan horor pada situasi Fira saat ini.


“Sekarang, kau merasa ada yang salah karena aku mendapatkan kekuatan ini? Kenapa? Karena ini kekuatan yang tak bisa asal kau minta dan langsung kau dapatkan? Kau iri? Atau apa? Ayo, katakan!!!”


Fira makin terdiam, ia semakin ketakutan.


“Ah, percuma bicara dengan orang bodoh sepertimu. Untuk sekarang, selamat tinggal. Dan kalau kau masih mau menyerangku lagi, silakan. Maka aku akan memberimu siksaan yang lebih! Hahaha...!!!”


Sambil terus tertawa histeris, Aizu pun melancarkan serangan brutal pada Fira yang tak melawan sama sekali. Sampai si gadis penyihir itu pun kehilangan seluruh Hit Point-nya.


.


.


.


“Silakan, minum penawar racun. Aku akan tunggu...”

__ADS_1


Setelah berkata begitu, Erra langsung bersikap santai. Ia tak melakukan apa pun dan hanya menatap Ezzza sambil memasang ekspresi wajah yang membuat siapa pun bisa menjadi jengkel dan kesal sampai marah.


Tak mau membuat kesempatan emas ini terbuang jadi sia-sia. Meski merasa sedikit terhina, Ezzza dengan segera meminum anti racun. Tak lupa, ia tetap tak melepaskan tatapannya dari Erra. Karena ia curiga kalau Erra akan memberi serangan secara mendadak. Namun ternyata, Erra benar-benar hanya diam. Yang mana ini membuat Ezzza merasa semakin direndahkan, atau disepelekan.


“Sudah? Mau mulai lagi?” tanya Erra.


“Kau tahu, kau itu terlalu sombong.” Ucap Ezzza.


“Ya, aku memang sombong. Tapi, masih pada kadar yang tepat.”


Keduanya memasang kuda-kuda bertarung lagi.


Ezzza yang biasanya memikirkan beberapa langkah ke depan, kini tak bisa melakukannya. Ia merasa percuma berpikir terlalu panjang. Karena mungkin saja tak akan berguna. Dan penyebabnya tentu saja tindakan Erra yang sulit ditebak baginya.


Tap!


Ezzza melesat terlebih dahulu. Ia bersiap untuk menerima serangan macam apa pun dari Erra, termasuk siap jika Erra melaju juga. Tapi nyatanya, kini Erra malah mundur. Ia hanya mundur tanpa menyerang, meski ada anak panah yang siap dilesatkan di busurnya.


Ezzza tanpa pikir panjang mengejar Erra, tapi tak kunjung mampu menggapainya. Erra hanya berlari di sekitar, dan ia berlari sambil mundur. Matanya tetap menatap tajam ke arah Ezzza, yang mana membuat Ezzza merasa sedikit demi sedikit menjadi terintimidasi.


“Berhenti bermain-main!!!” seru Ezzza dengan penuh rasa marah karena kejar-kejaran ini tak kunjung berujung.


“Hey, ini kan memang dunia permainan. Kenapa tidak boleh bermain-main? Dasar aneh!” begitu lah tanggapan Erra.


Syut!


Erra melepaskan anak panahnya, lalu kemudian...


Syut! Syut! Syut!


Erra memberi hujan panah pada lawannya.


Ezzza tak bisa menghindari semua serangan. Ada beberapa anak panah dari Erra yang menancap di tubuhnya. Kalau pun tidak menancap, masih menggoresnya.


Selesai memberi serangan begitu, Erra berbalik dan melarikan diri ke arah hutan.


“Jangan kabur, kau!!!” seru Ezzza.


“Siapa yang kabur? Tak ada batas area tarung dalam perjanjiannya, kan?”


Nalurinya yang mewaspadai bahaya, mengatakan kalau ia tak boleh mengejar Erra. Karena hampir pasti Erra menyiapkan jebakan di hutan yang ditujunya itu. Akan tetapi, jika ia menuruti naluri itu. Maka ia tak akan bisa mengalahkan Erra dalam pertarungan ini.


Ezzza pun memutuskan untuk mengejar si rambut putih.


.

__ADS_1


.


.


“Wow, brutal sekali.”


Aizu segera menatap ke arah sumber suara. Dari balik sebuah pohon, muncul seorang gadis yang kemudian diikuti beberapa gadis lainnya dari pohon yang lain.


“Siapa kalian?!” tanya Aizu sambil memasang kuda-kuda bertarung.


“Kami dari Blue Angels. Kau yang bernama Aizu? Si Ice Dragon Warrior?”


“Kalau iya memangnya kenapa? Apa yang Blue Angels inginkan dariku?!”


“Pertama, tenangkan lah dirimu. Kami tak bermaksud buruk.”


“Kau pikir aku orang bodoh?”


“Haha... ya... tentu saja aku tak berpikir kau seperti itu. Karena tak mungkin aku mendatangimu kalau aku berpikir kau seperti itu.”


“Cepat langsung ke intinya!”


“Kenapa cepat-cepat? Kenapa kita tidak sedikit santai saja? Apa kau takut karena terkepung?”


“Siapa yang takut? Aku hanya tidak suka hal yang bertele-tele!”


“Hoho... baik lah. Kalau begitu aku akan langsung mengatakan maksud kedatangan kami. Yang mana, adalah untuk mengundangmu bergabung dengan Blue Angels.”


“Bergabung dengan kalian? Aku tidak tertarik!”


“Ayo, lah. Kau ini gadis pintar, kan? Kau melakukan penipuan dan sebagainya untuk mendapatkan uang, kan? Kau tahu jelas kalau bergabung dengan Blue Angels, uang bukan lah masalah.”


“Hahaha...! Jangan pikir aku tidak mengerti situasi kalian. Kalian ini baru saja kalah dalam perang, meski bukan kekalahan telak. Tapi, kalian jelas menerima banyak kerugian. Dan kau masih mau membual kalau Blue Angels punya banyak uang?”


“Untuk sekarang, semua yang kau katakan benar. Tapi, kami juga sedang bangkit untuk mengambil kemenangan kami yang tertunda. Jika kau mau bergabung dengan kami, tentu kami akan sangat terbantu. Kalau tidak, ya tidak masalah. Tapi asalkan kau tak menghalangi maka kami tak akan peduli padamu. Jika kau menghalangi, tentu itu akhirmu.”


Aizu terdiam, tak langsung membalas. Ia enggan bergabung dengan Blue Angles, atau kelompok besar mana pun. Karena ia tak akan mudah untuk pergi. Tapi, ia merasa ini kesempatan yang baik mendapat tawaran untuk bergabung dengan kelompok besar setingkat Blue Angels.


Selain itu, Aizu juga merasa waspada. Andai kata ia menolak tawaran ini, Blue Angels akan menghalangi jalannya ke depan. Karena itu lah ia memutuskan untuk bergabung, namun dengan mengajukan beberapa hal.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2