
+++
Arc 1 : The Births of The Ender.
Bab 18 : Belok.
+++
Hari ini seperti hari sebelumnya, Erra mengambil misi untuk mengantarkan barang ke berbagai tempat di Avalan City. Setelah seharian penuh mengantar barang, akhirnya tinggal satu barang lagi yang perlu diantar. Tempat tujuan pengantarannya adalah sebuah toko yang berada di ujung barat Avalan City.
Kleneng!
Suara bel pintu langsung terdengar saat Erra memasuki toko tempat tujuannya ini.
“Selamat datang! Ada yang bisa dibantu?”
Sambutan penuh semangat segera menyapa Erra dari si pemilik toko. Pemilik toko ini adalah seorang Lander dengan penampilan seperti orang kulit hitam dari Afrika atau Papua, dengan rambut panjangnya yang dikepang.
“Aku datang untuk mengantar barang.” Ucap Erra tanpa basa-basi.
“Wo? Apakah itu? Aku memesan beberapa barang, jadi barang yang mana, kah?”
“Botol wadah ramuan, itu yang kubawa.”
“Woho, begitu? Silakan ke sini.”
Si pemilik toko mengajak Erra ke meja konternya untuk melakukan transaksi. Namun sebelum transaksi dilakukan...
Kleneng!
“Yo, Sincro!” ucap seorang pemuda sambil memasuki toko.
Pemuda ini terlihat seperti petualang pemula dengan Job sejenis Warrior, dan ia tak sendirian. Ia bersama tiga rekannya. Dua diantaranya terlihat seperti penyihir, dan satu lagi seorang yang membawa busur.
“Yo, Bombo!” si pemilik toko yang bernama Sincro itu menjawab.
“Maaf, bisa tunggu sebentar?” ucap Sincro pada Erra.
Meski sebenarnya Erra enggan urusannya dikesampingkan, Erra mengangguk pada Sincro.
“Terima kasih!” ucap Sincro.
“Kami seperti biasa, membawa kulit Boink!” ucap Bombo.
Bombo dan kawan-kawannya mengeluarkan sejumlah benda serupa dengan bola dari bahan kulit, namun dalam keadaan kempes.
“Wa... banyak juga, ya?” ucap Sincro.
__ADS_1
Mereka pun melakukan transaksi, dan setelah selesai, Sincro kembali menghadap Erra.
“Maaf membuatmu menunggu.”
“Tak apa-apa.”
Mereka berdua pun menyelesaikan transaksi. Sebelum pergi, Erra bertanya pada Sincro.
“Benda yang mereka jual itu apa?”
“Itu kulit Boink. Kau tidak tahu?”
“Ya, aku avatar baru dan belum pernah keluar dari kota ini.”
“Woho! Begitu, ya? Memangnya sudah berapa lama kau di kota ini?”
“Baru lewat dari sepekan.”
“Wah, pantas saja kalau begitu. Memang banyak avatar baru yang langsung meninggalkan kota ini setelah tinggal kurang dari sepekan. Tapi ada juga yang tinggal dan tak pernah keluar sampai beberapa bulan. Berapa lama kau mau tinggal di kota ini?”
“Aku belum tahu. Aku hanya punya rencana untuk dilakukan tapi aku tak tahu berapa lama waktu yang akan aku butuhkan untuk menyelesaikannya.”
“Boleh kutahu rencanamu?”
Erra berpikir sebentar lalu menceritakan rencananya. Namun tak semua ia ceritakan, hanya sekitar setengahnya saja yang ia ceritakan.
“Ah... kalau rencanamu begitu. Kusarankan untuk mengubahnya. Karena jika kau melakukannya, kau bisa berselisih dengan para Lander di sini.”
“Sudah menjadi kebiasaan di sini. Para avatar hanya tinggal sebentar, dan tak ada avatar yang punya pengaruh kuat di dalam kota ini. Para petinggi dan orang penting di kota ini semuanya adalah Lander. Lalu, penguasa dunia bawahnya juga Lander. Kalau kau mau terjun lebih dalam di kota ini, kau bisa berselisih dengan mereka.”
Sincro memberi banyak penjelasan pada Erra. Dan si pemain bermata merah itu, mendengarkannya dengan begitu seksama. Ia merasa beruntung bisa mendapatkan informasi semacam ini secara gratis, tanpa ada biaya atau pun usaha sedikit pun. Hanya perlu mendengarkan Sincro berbicara.
“Kalau begitu, apa kau punya saran?” tanya Erra setelah mendengarkan Sincro.
“Bagaimana kalau kau mencoba untuk memburu Boink. Seperti yang dilakukan orang-orang tadi. Dan kau bisa menjual kulit Boink padaku.”
Erra berpikir, ia ingin menyelesaikan niatannya. Namun, dari rangkaian cerita dari Sincro. Memang lebih baik kalau Erra tak melakukannya sekarang. Jadi, ia cukup tertarik menerima saran Sincro. Selain itu, Erra juga memang ingin melihat dunia yang lebih luas lagi.
“Baiklah, kuterima saranmu.”
“Wahaha! Serius? Terima kasih banyak!”
“Kenapa kau berterima kasih? Seharusnya aku yang berterima kasih, karena kau telah memberiku saran itu.”
“Jarang ada yang mau mendengar saranku, apalagi avatar. Jadi terima kasih telah menerima saranku!”
“Baiklah, kalau begitu terima kasih kembali. Sekarang, aku mau tahu. Apa aku harus mengambil sebuah misi di Gilda Petualang untuk melakukan saranmu itu?”
__ADS_1
“Tidak! Tidak, perlu sama sekali. Kau bisa langsung melakukannya semaumu. Tapi, kalau kau mau pergi ke sana juga itu akan lebih baik. Di sana terkadang ada misi untuk membasmi Boink di daerah tertentu. Kalau kau mengambil misi itu, kau bisa untung berganda. Kau dapat hadiah menyelesaikan misi dari Gilda Petualang. Dan aku akan membeli kulit Boink yang kau buru.”
“Waah... Terima kasih banyak. Saranmu sangat bagus!”
“Hoho! Itu bukan masalah!”
“Oya, kita belum berkenalan. Namaku Erra, salam kenal.”
“Aku Sincro! Salam kenal juga.”
Mereka berdua lanjut sedikit mengobrol sebelum Erra pergi dari toko itu.
Saat Erra keluar, hari sudah berganti malam. Ia membuka panel menunya, untuk melihat jam pada dunia nyata. Di panel menu, pemain bisa melihat jam di dunia nyata. Akan tetapi, anehnya, mereka justru tak bisa melihat jam untuk dunia virtual ini. Sudah banyak yang protes, tapi Megasolus tak pernah menghadirkan jam pada panel menu. Kalau pemain ingin tahu tentang waktu. Mereka hanya bisa mengandalkan posisi matahari, atau membeli jam saku.
“Wah... sudah malam juga di sana. Berarti aku harus segera keluar.”
Erra pun mencari penginapan terdekat, dan keluar dari dunia virtual Ardanium’s Tale Online.
.
.
.
Hari sudah berganti lagi dan Erra telah kembali lagi ke dunia virtual Ardanium’s Tale Online.
Sebelumnya, Erra kembali ke dunia nyata pada pukul 23:00. Dan kini ia kembali pada pukul 19:00 di dunia nyata. Itu berarti ia telah meninggalkan dunia Ardanium’s Tale Online selama dua puluh jam, waktu dunia nyata. Sedangkan di dalam dunia virtual sendiri telah berlalu sepuluh hari.
Hal semacam ini lah yang banyak membuat pemain enggan meninggalkan dunia virtual terlalu lama. Pada sisi yang lebih gelapnya lagi. Banyak pelajar yang putus sekolah karena memilih kehidupan di dalam dunia virtual. Mereka berdalih kalau mereka tak butuh lagi sekolah karena sudah punya penghasilan dari dunia virtual. Tapi sayangnya, hanya sekitar kurang dari sepuluh persen pemain yang memilih jalan seperti ini benar-benar meraih kesuksesan dari pilihannya. Sisanya, hanya bisa menyesal atas pilihan yang mereka ambil.
Kembali ke Erra.
Pemain berambut putih dan bermata merah itu, segera melesat ke gerbang barat Avalan City. Ia bergerak dengan berlari ke sana. Selama ini, ia memang selalu saja berusaha untuk bisa terus berlari di dalam dunia virtual ini. Itu bukan hanya agar bisa sampai tempat tujuan lebih cepat. Tapi juga untuk mendapatkan bonus pada beberapa atributnya.
Setelah berlari beberapa saat, Erra akhirnya sampai di gerbang barat yang sangat ramai dengan orang yang masuk dan keluar. Ia sekali lagi memeriksa perlengkapannya. Dan setelah semua dipastikan siap, ia pun segera keluar dari Avalan City.
.
.
.
Bersambung...
Like, Komentar, dan Vote-nya jangan lupa, ya!
Terima kasih sudah mampir...
__ADS_1
Semoga sehat selalu...
Sampai jumpa di bab selanjutnya...