Ardanium'S Tale Online (Revised) : The Soul Eater

Ardanium'S Tale Online (Revised) : The Soul Eater
1.14 - Pecahan


__ADS_3

+++


Arc 1 : The Births of The Ender.


Bab 14 : Pecahan.


+++


Hari lain telah tiba, kini Putra sedang berada di sekolahnya. Tapi sekolah sudah berakhir, dan kini sudah jamnya bagi para siswa dan siswi untuk pulang. Namun Putra belum pulang dari sekolahnya, dan sedang berjalan menuju ke perpustakaan karena ada buku yang harus ia kembalikan.


“Permisi, aku mau mengembalikan buku.” Ucap Putra pada pustakawan.


“Silakan.”


Si pustakawan memeriksa buku yang Putra kembalikan. Setelah memeriksa semua baik-baik saja, ia pun menyelesaikan adiministrasi dari peminjaman buku ini.


“Biar aku yang simpan, aku mau pinjam buku lain.” Ucap Putra.


“Baiklah.” Balas si pustakawan.


Biasanya, buku yang dikembalikan begini akan disimpan oleh si pustakawan.


Putra pun berjalan ke rak tempatnya mengambil buku itu sebelumnya, dan kemudian ia menuju ke rak lain untuk mencari buku lain. Tak sengaja, ia melihat ada seorang siswi yang sedang kesulitan mencoba menggapai sebuah buku di rak yang tinggi. Ia pun menghampirinya dengan niatan membantu.


Putra sebenarnya tak peduli, dan tak merasa simpati sama sekali terhadap kesulitan orang lain yang seperti ini. Namun, menurut logikanya. Dengan melakukan hal ini akan menambah nilai baik bagi dirinya di orang lain. Dan kemudian, ini akan semakin mengamankan ‘wajah aslinya’ agar tak terlihat orang lain.


“Butuh bantuan, Ani?” tanya Putra pada siswi itu.


“Eh, Kak Putra? T-tidak, aku tidak apa-apa.” jawab siswi yang bernama Ani itu.


Mengabaikan jawaban Ani, Putra bertanya lagi, “Mau ambil buku yang mana?”


Ani tak menjawab dan Putra pun mengambil sebuha buku yang ia perkirakan itu adalah buku yang Ani mau ambil.


“Apa yang ini?”


“A-ah, iya terima kasih, Kak Putra.”

__ADS_1


“Yap! Tak masalah. Aku permisi dulu.”


“Ya.”


Putra pun mengambil buku yang mau dipinjamnya dan segera pulang.


Putra mengenal Ani pada sekitar pertengahan bulan kedua semester ini. Kondisi saat itu sama seperti saat ini, Ani sulit mengambil sebuah buku di rak yang tinggi dan Putra membantunya.


Setelah beberapa kali bertemu di perpustakaan, muncul rasa ingin mengenal Ani pada hati Putra. Rasa ketertarikan ini muncul hanya karena Ani bukan seperti adik kelas perempuannya yang lain, yang biasanya mencoba keras untuk mencari perhatiannya. Ani cenderung menghindari Putra, tapi ini yang membuat Putra penasaran.


Putra sempat berpikir kalau Ani sudah punya pasangan. Tapi nyatanya, banyak siswi di sekolah ini yang sudah punya pasangan masih saja cari perhatian pada Putra. Putra pun akhirnya berhasil mengajak Ani mengobrol. Tapi itu masih sulit. Bahkan sampai sekarang, belum banyak hal tentang Ani yang Putra ketahui.


.


.


.


Malam telah tiba, jam menunjukkan bahwa saat ini adalah pukul 22:00. Putra baru saja menyelesaikan beberapa pekerjaan rumahnya dari sekolah. Dan kini, remaja itu tengah berbaring di kasurnya.


“Hm... kenapa aku malah jadi sering terpikirkan anak itu, ya?”


“Ah... apa aku mulai tergerak?”


Maksud Putra yang tergerak adalah hatinya. Hatinya yang selama ini seperti membeku, dan tak pernah terpengaruh sama sekali oleh waktu. Hatinya itu selalu diisi oleh seorang gadis kecil yang sama selama ini.


Sedari kecil sampai sekarang Putra tidak pernah punya banyak teman. Dari dulu, ia selalu saja berpikir kalau orang-orang yang mendekatinya, dan ingin menjadi temannya selalu ingin mengambil keuntungan dari dirinya. Putra tak bisa terlalu disalahkan dengan pola pikirnya ini. Karena memang kenyataan yang ia dapatkan adalah seperti itu.


Putra adalah anak yang cerdas, dan memiliki prestasi tinggi di sekolahnya sejak kecil. Ia pun tak jarang menjadi juara satu di sekolahnya. Saat ia tak menjadi juara satu, itu bukan karena ada yang berhasil mengalahkannya. Tapi karena ia yang mengalah karena rasa bosan berdiri di puncak.


Semenjak sekolah dasar, banyak yang mendekati Putra karena ingin meminta bantuannya dalam pelajaran. Atau ada juga yang ingin dekat dengannya hanya karena ingin ikut terbawa populer. Di masa sekolah dasar pun, Putra sudah terlihat ketampanannya. Namun hal itu belum menambah kesulitannya sampai ia masuk tingkatan selanjutnya.


Dulu, dari sekian anak yang ia kenal di sekolah dasarnya. Ia menemukan seorang gadis kecil yang sama sekali tak tertarik pada dirinya. Gadis itu adalah seorang gadis yang terlihat sangat kekurangan, baik ekonomi, gizi, atau pun kecerdasannya.


Jangankan berusaha mendekati Putra yang adalah kakak kelasnya, gadis kecil itu bahkan menghindari Putra. Hal ini lah yang justru membuat Putra tertarik untuk mencoba mendekatinya. Saat itu, karena usianya yang masih sangat belia. Tentu saja Putra tak merasa itu adalah sebuah perasaan asmara atau semacamnya, karena ia pun belum mengerti akan hal itu.


Saat Putra sudah memasuki masa remaja, saat ia telah lama terpisah dari gadis itu, baru lah ia menyadari perasaannya saat itu. Ia baru menyedari, kalau gadis itu pun telah menjadi ‘pecahan jiwa’ baginya.

__ADS_1


Putra, menyebut mereka yang penting bagi hidupnya sebagai pecahan jiwanya. Selain mereka yang ia anggap seperti ini, ia tak begitu peduli. Ia bahkan tak bisa merasakan simpati apalagi empati pada mereka yang menurutnya bukan lah pecahan jiwanya. Tetapi sebaliknya, ia memiliki ikatan batin yang sangat kuat dengan mereka yang ia anggap sebagai pecahan jiwanya.


Selama ini, hanya ada tiga orang yang ia anggap sebagai pecahan jiwanya. Itu adalah ibunya, adiknya, dan si gadis kecil itu. Saat ini Putra cukup peduli pada bibinya, yang satu atap dengannya. Namun, rasa peduli itu bukan berasal dari hatinya. Melainkan berasal dari akalnya.


Karena Putra dan keluarganya banyak dibantu oleh si bibi. Maka akal sehatnya mengatakan kalau ia harus peduli pada bibinya itu. Kalau sampai bibinya terluka, baik secara fisik atau pun batin. Putra sebenarnya tak akan merasakan apa pun. Ia hanya akan bertindak karena dorongan akalnya, tanpa ada perasaan sama sekali.


Begitu lah Erlangga Saputra.


.


.


.


Erra telah kembali ke dunia virtual Ardanium’s Tale Online. Avalan City lebih tepatnya.


Setelah meninggalkan tempat pelatihan, Erra pergi ke penginapan terdekat untuk menyimpan tubuh virtualnya. Kini, ia yang telah kembali ke dunia virtual. Segera bergegas keluar dari penginapannya. Erra sudah menentukan tujuannya hari ini. Tujuan yang ingin ia capai untuk hari ini. Dan itu adalah berkeliling di Avalan City.


“Hm, memang tempat ini menarik!” gumam Erra.


Ia tengah berjalan santai sambil memerhatikan apa pun yang ada di sekitarnya. Ia tak punya tujuan lain selain berkeliling kota ini untuk hari ini. Ia tak hanya berjalan di jalan-jalan utama, namun ia pun coba menjelajah sampai ke jalan-jalan setapak. Tapi tentu saja, jalan setapak yang tampak berbahaya akan ia hindari.


.


.


.


Bersambung...


Terima kasih sudah mampir....


Tolong jangan lupa Like dan Komentarnya, ya...


Sekalian juga masukan kisah ini ke daftar Favorite-mu!


Dan, kalau ada boleh lah bersedekah Vote...

__ADS_1


Sampai jumpa di bab berikutnya...


__ADS_2