
+++
Arc 1 : The Births of The Ender.
Bab 21 : Berburu II.
+++
Trang! Bash! Buk!
“Suara pertarungan, ya?”
Erra masih menjelajah Kork Forest dan mendengar suara petarungan yang terjadi tak jauh dari lokasinya berada. Ia pun coba mencari sumber suara itu, dan mendekat secara perlahan dan tentunya berhati-hati.
“Ah... pertarungan kelompok, ya? Melawan macan?”
Erra akhirnya bisa melihat lokasi pertarungan. Di sana ada tiga orang petualang yang entah avatar atau pun Lander. Yang jelas, dari perangkat yang mereka pakai mereka berada pada tingkatan pemula. Kemungkinan mereka juga pemain baru seperti Erra. Akan tetapi, sudah memiliki level yang lebih tinggi dari Erra.
Kelompok petualang itu terdiri dari tiga orang saja. Salah satu dari mereka, yang bertarung paling depan adalah seorang petualang dengan sebuah perisai besar, dan sebuah pedang satu tangan yang pendek. Lalu, ada yang berzirah kulit dengan senjatanya yang berupa busur. Dan yang terakhir, satu-satunya perempuan dalam tim itu adalah seorang gadis penyihir.
Kelompok yang terdiri dari tiga orang itu, kini tengah bertarung menghadapi macan. Bukan macan jenis monster. Hanya macan biasa yang tinggal di hutan ini. Namun macan ini punya ukuran yang sangat besar. Kalau disetarakan, maka macan ini sebesar Macan Siberia. Akan tetapi, proporsi badan, warna, dan motifnya lebih mirip dengan Macan Sumatera.
Agar mendapatkan sudut pandang yang lebih baik, dan bisa lebih bersantai dalam menonton pertarungan yang tersaji di hadapannya. Erra memanjat sebuah pohon, dan duduk dengan santainya di salah satu dahan sambil bersandar pada batang utama pohon itu.
“Ah, aku baru ingat belum minum sama sekali. Dan tubuh ini juga butuh minum.”
Erra mengambil bekal minumnya, ia juga mengambil bekal camilan yang sudah ia siapkan sebelumnya. Karena meski hanya tubuh virtual. Tubuh para pemain di dalam dunia ini tetap harus diberi makan dan minum.
“Yap! Persiapan selesai!”
Erra pun menonton pertarungan di hadapannya seperti menonton sebuah acara pertunjukan.
.
.
.
“Ema! Ke sisi kirinya dan serang perutnya! Edard! Coba memutar dan serang kaki belakangnya!”
Seruan itu dilontarkan oleh si petualang berperisai besar pada kedua rekannya. Ema adalah si gadis penyihir sedangkan Edard adalah si pemegang busur.
__ADS_1
“Siap!” jawab Ema dengan semangat.
“Kaki mana yang harus kuserang, Polo?!” tanya Edard pada si petualang berperisai yang ternyata bernama Polo.
“Yang mana saja!” jawab Polo.
Polo menghantam kepala macan itu dengan perisai besarnya untuk menarik perhatian si macan dari kedua rekannya.
“RRRAAAAHHH!!!” raung si macan yang menyerang Polo.
Ema segera bergerak ke sisi kiri si macan dan mulai mengaktifkan Skill sihirnya. Di Ardanium’s Tale Online ini mengaktifkan Skill dengan tipe sihir itu ada beragam macam caranya. Cara pertama yang paling sederhana adalah memilihnya dari menu Skill yang dimiliki si pemain melalui panel menu. Cara ini terkesan sedikit merepotkan, namun sebenarnya adalah yang paling mudah dan cukup cepat bagi mereka yang telah terbiasa.
Cara kedua adalah dengan mengucapkan mantra. Yang diucapkan adalah lantunan mantra yang biasanya berupa kalimat, bukan hanya memanggil nama Skill yang mau diaktifkan. Cara yang terkesan mudah ini, nyatanya tak semudah kedengarannya. Karena mantra yang tersedia bukan lah menggunakan bahasa umum, melainkan bahasa khusus.
Pada pernyataan resminya, Megasolus menerangkan bahwa bahasa yang digunakan untuk mengaktifkan mantra di dalam Ardanium’s Tale Online adalah bahasa buatan orisinil mereka yang dibuat dengan tidak main-main. Akan tetapi, pada kenyataannya itu berbeda. Nyatanya, bahasa yang dipakai hanya lah pelesetan dari sejumlah bahasa yang secara asal dicampurkan oleh para pembuat permainan ini.
Cara ketiga untuk mengaktifkan Skill tipe sihir adalah dengan menggambar sebuah pola di udara kosong. Cara ini adalah cara yang paling jarang digunakan dan paling kurang diminati. Pertama-tama, dari sekian jenis alat yang bisa dipakai mengaktifkan sihir di Ardanium’s Tale Online. Hanya tongkat kecil dan sarung tangan yang bisa digunakan untuk memakai cara ini. Selain itu, pola yang harus diingat juga tak sederhana. Semakin kuat sihirnya maka semakin rumit polanya.
Kembali ke medan pertarungan.
Ema si penyihir memilih cara pertama untuk mengaktifkan sihirnya. Ia membuka menu Skill dan memilih sebuah Skill sihir dengan elemen angin yang bernama Wind Blow.
Wind Blow adalah sebuah Skill tipe sihir dari seri elemen angin. Ini adalah sihir yang paling dasar dalam serinya sendiri. Skill ini hanya memiliki efek berupa hembusan angin yang cukup kuat untuk mendorong objek. Daya serang yang diciptakan secara langsung oleh Skill ini sangat lah rendah. Sebagian besar daya serang yang tercipta karena penggunaan Skill ini hanya lah efek benturan dari targetnya dengan objek lain.
Hembusan angin dari Skill Wind Blow yang Ema lancarkan mendarat di tubuh sisi kiri si macan. Ema membidik tepat ke bagian perut. Namun hasilnya tak begitu akurat. Untungnya tetap memberikan hasil yang tak mengecewakan. Karena si macan kini terdorong ke sisi kanan.
Sementara itu, Edard bergerak ke arah kanan di macan. Ia membidik paha kanan kaki belakang si macan. Edard menunggu Ema mengaktifkan Skill-nya baru lah ia menembak. Ini karena si macan yang goyah akibat serangan Ema akan lebih kecil kemungkinannya untuk menghindar.
Jleb!
Jleb!
Jleb!
Edard tak hanya melesatkan sebuah anak panah saja, melainkan tiga anak panah berturut-turut. Yang mana ketiganya mendarat sesuai dengan harapan.
“RRRAAAHHH!!!”
Si macan meraung dan mengalihkan tatapannya yang semula mengarah ke Polo, kini jadi mengarah ke Edard. Dan dengan segera berusaha untuk menerjang Edard.
Polo tak tinggal diam, ia segera berusaha menghalangi si macan. Akan tetapi sangat disayangkan ia kalah gesit dengan si macan. Edard yang tahu dirinya dalam bahaya berusaha menghindar. Ia menghindar dengan berlari ke arah belakang Polo demi mencari perlindungan.
__ADS_1
Akan tetapi...
“Rraaah!!!”
“UWAGH!!”
Si macan berhasil menerkam Edard.
“”Edard!!!”” seru Polo dan Ema bersamaan.
Polo berusaha menyerang dan melepaskan Edard, tapi tak dipedulikan si macan. Ema juga melepaskan beberapa sihir, yang juga diabaikan si macan. Dan pada akhirnya, Edard pun kehilangan seluruh Hit Point-nya dan mati.
Selesai membantai Edard, si macan segera berusaha menerkam Polo. Dan macan itu pun berhasil menindih tubuh Polo sehingga ia tak bisa bergerak. Dengan begitu beringasnya, si macan berusaha menghabisi Polo dengan menggunakan cakar dan taringnya.
Ema tak bisa tinggal diam dan menyerang si macan agar melepaskan Polo, yang kemudian Polo bisa menyerang balik si macan. Namun rencana berjalan dengan tidak mulus sama sekali. Sebelum Polo berhasil bangkit, Ema sudah diterkam si macan.
Si macan menghabisi Ema dengan menggigit kepala gadis itu, lalu mencabutnya dari tubuhnya. Menyebabkan kematian seketika bagi si gadis.
“EMMAAAAA!!!!!!” raungan kali ini berasal dari Polo yang menerjang si macan.
Pertarungan satu lawan satu pun akhirnya terjadi. Dan singkat cerita, Polo pun kehilangan nyawanya. Tapi, Polo tak mati sia-sia. Ia berhasil melukai si macan dengan sangat parah hingga sekarat. Kini si macan pun berusaha pergi secepat mungkin untuk menemukan tempat bersembunyi.
.
.
.
Buk!
“Yo!”
Erra melompat tepat ke depan si macan yang sedang berusaha pergi.
Slash! Jleb!
Dengan sebuah tebasan yang dilanjut dengan sebuah tikaman, Erra pun menghabisi si macan.
.
.
__ADS_1
.
Bersambung....