Ardanium'S Tale Online (Revised) : The Soul Eater

Ardanium'S Tale Online (Revised) : The Soul Eater
2.41 - Gerilya.


__ADS_3

+++


Arc 2 : The Angels and The Dragons.


Bab 41 : Gerilya.


+++


“Serangan!!!”


Teriakan Ezzza itu menyita perhatian semua orang yang satu kelompok dengannya. Dan mereka semua pun dengan segera mencabut senjata maisng-masing dan memasang kuda-kuda untuk bertarung.


Jleb! Jleb! Jleb!


Dengan mendadak, beberapa anak panah tertancap di kepala beberapa orang yang tak memakai helm.


“D-dari mana serangan itu?!” salah seorang anggota kelompok berteriak dengan sedikit terlihat rasa takutnya.


Jleb! Jleb! Jleb!


Kejadian yang sama terulang, dan kepanikan mulai melanda kelompok ini. Itu disebabkan oleh serangan yang datang dari berbagai arah sekaligus, bahkan dari belakang mereka. Dan masalah utamanya adalah tak ada satu pun penyerang yang terlihat.


“Bersiap menerima serangan dari segala arah!!!” teriak orang yang sebelumnya menjadi wakil komandan, tapi karena komandan sebelumnya mati sekarang ia lah sang komandan.


Semua melakukan yang diperintahkan. Dan beberapa orang yang memiliki kemampuan deteksi yang baik dengan inisiatif sendiri coba mencari para penyerang. Namun mereka ta menemukannya.


Keheningan yang mencekam terjadi. Beberapa saat berlalu dan tak ada lagi serangan yang datang. Sang komandan baru memerintahkan pencarian terhadap para penyerang, setelah tak ada pergerakan sama sekali selama lima menit. Dan setelah beberapa saat mencari, mereka tak menemukan jejak para penyerang.


Para penyerang ini menghilang begitu saja. Bahkan akan pantas kalau dikatakan mereka seakan tak pernah ada di dekat sini. Karena tak ada jejak sama sekali, tak ada jejak yang tertinggal sedikit pun.


Setelah perundingan sejenak, mereka pun memutuskan untuk lanjut bergerak ke arah tujuan mereka. Tapi kali ini, mereka bergerak dengan lebih lambat. Karena mereka terus waspada akan serangan mendadak lainnya di kemudian waktu.


.


.


.


Pasukan atau kelompok besar dari Desa Gezar sudah mendekati gerbang utama Desa Green Hut. Mereka kini berhenti pada jarak sekitar seratus meter dari gerbang itu.


Di sisi lain, terlihat pasukan Green Hut juga sudah siap menerima para tamu yang tak diundang ini. Para pasukan Green Hut ini berdiri dengan rapi di atas dinding tembok mereka yang baru, menggantikan dinding kayu yang sebelumnya ada.


Bentuk pertahanan Green Hut bukan hanya dinding tembok setinggi lima meter itu. Tapi juga terdapat parit di sisi luar tembok. Parit dengan lebar sekitar lima meter dan kedalaman sekitar tiga meter. Kalau lah ini dunia nyata, parit seperti ini akan memberi arti yang besar bagi pertahanan. Namun di dunia virtual ini, parit dengan ukuran ini hanya bisa memberi sedikit hambatan bagi pihak penyerang.


Pasukan dari Desa Gezar terlihat bersiaga, mereka tak membuat gerakan dengan segera. Dengan satu alasan, yakni waspada.

__ADS_1


Mereka sangat waspada dengan pasukan Green Hut yang terbiasa menyerang dari jarak jauh, dan memakai racun. Yang mana hal itu lah yang selalu menggagalkan serangan terhadap desa ini.


“Pemanah, bersiap!” perintah komandan pasukan Desa Gezar.


Para pemanah langsung maju ke garis terdepan pasukan. Tapi, karena mereka adalah pasukan dadakan. Terlihat sekali gerakan mereka yang tidak kompak.


Melihat pasukan lawan yang sudah bersiap menyerang. Pasukan pertahanan Green Hut tak terlihat melakukan apa pun. Padahal jelas terlihat jika para pemanah itu melepaskan serangan, maka itu akan sampai pada mereka.


Melihat sikap pasukan pertahanan Green Hut, komandan pasukan Desa Gezar pun tak langsung memerintahkan serangan. Ia curiga kalau akan ada serangan balik.


“Penyihir ambil posisi aman! Petarung jarak dekat, bersiap akan serangan dari segala arah!”


Seperti perintah dari komandannya, para penyihir di pihak Desa Gezar mengambil posisi yang aman dari serangan. Singkatnya mereka masuk ke tengah pasukan. Sedangkan untuk bersiap akan serangan dari segala arah, para petarung jarak dekat berada di sisi luar pasukan. Mereka menghadap ke segala arah.


Sang komandan pasukan Desa Gezar menarik napas dalam untuk memberi perintah...


“Pemanah! Tarik busur kalian!”


Kreet! Kreet! Kreet! Kreet! Kreet!


Para pemanah pun menarik busur mereka, dengan sudah menentukan target tembak masing-masing.


Sang komandan kembali menarik napas dalam untuk memberi perintah...


Bwosh! Bwosh! Bwosh! Bwosh! Bwosh! Bwosh! Bwosh! Bwosh! Bwosh! Bwosh! Bwosh! Bwosh! Bwosh!


Belum selesai komandan pasukan Desa Gezar memberi perintah. Bom asap berjatuhan dari atas mereka. Dan dengan segera pasukan dari Desa Gezar itu terbungkus oleh asap putih yang sangat tebal.


“Minum anti racun!!!”


Entah siapa yang berteriak, namun jelas ia adalah bagian dari pasukan Desa Gezar. Ia berteriak begitu, karena menyadari kalau asap yang mengurung mereka adalah asap beracun.


Beberapa orang yang berlevel rendah tak sempat meminum anti racun. Mereka pun terkena efek dari racun yang bisa melumpuhkan sekaligus mengurangi Hit Point dengan perlahan ini.


Asap beracun ini memberi berbagai efek keracunan. Karena memang ada beberapa jenis asap racun yang dipakai secara bersamaan.


Sret! Srat! Zraaat! Jleb! Zlab! Sret! Srat! Zraaat! Jleb! Zlab! Sret! Srat! Zraaat! Jleb! Zlab!


“Ah!”


“Uoooh!!”


“Apa?!”


“Ohok!!”

__ADS_1


Bluk! Bluk! Bluk! Bluk!


Terdengar beragam suara tebasan dan tikaman di balik asap. Yang segera diikuti dengan jeritan pasukan Desa Gezar.


.


.


.


Pasukan atau kelompok penyerang kecil dari Desa Gezar terus bergerak dengan perlahan. Mereka sadar kalau mereka bergerak dengan kecepatan ini, mereka tak akan sampai tepat waktu sesuai rencana. Akan tetapi, mereka juga tak bisa bergerak semberono saat ini.


Setelah serangan pertama yang langsung menewaskan komandan pertama pasukan ini. Mereka memang berjalan perlahan seperti saat ini. Namun setelah beberapa lama tak ada serangan, mereka menurunkan kewaspadaan mereka demi bergerak lebih cepat. Mereka pun bergerak dengan setengah berlari.


Sayang sekali keputusan mereka itu sangat buruk. Karena bergerak tak serempak lagi. Di saat lawan kembali meneyrang mereka kesulitan untuk saling melindungi.


Para penyerang misterius dari Desa Green Hut yang bergerilya itu kembali menyerang. Dan pada serangan kedua itu, tak sedikit anggota pasukan Desa Gezar yang mati.


‘Ck! Ini sangat menyebalkan! Bergerak lambat begini membuatku pegal!’ keluh Ezzza dalam benaknya.


‘Tapi, ya... mau bagaimana lagi? Kalau aku ceroboh aku yang mati.’ lanjut Ezzza masih hanya dalam benaknya.


“Serangan gerilya ini, membuktikan kalian lebih lemah dari kami!” seru komandan pasukan saat ini.


Komandan pasukan ini juga mulai merasa pegal dan kesal karena harus bergerak seperti ini. Ia dan juga semua yang ada di pasukan ini akan merasa lebih baik jika mereka bertarung langsung.


“Ya... kami memang lebih lemah. Tapi, kami lebih hebat!”


Mendengar ucapan ini semua langsung tertuju pada sumber suara. Dan di sana berdiri seseorang, hanya sendirian.


‘Orang itu?’ gumam Ezzza saat melihat sosok lelaki yang dilihatnya bersama Arini dan Lunariaa mengalahkannya tempo hari.


“Hah? Apa aku tidak salah dengar? Kau langsung muncul begini, bukan kah itu tindakan bodoh? Hei kau, Erra?!” tanya sang komandan.


‘Jadi benar, dia Erra?’ gumam Ezzza lagi.


“Ya, ini tindakan bodoh kalau dilakukan orang lain. Tapi kalau aku yang melakukannya. Ini namanya tindakan keren!”


.


.


.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2