Ardanium'S Tale Online (Revised) : The Soul Eater

Ardanium'S Tale Online (Revised) : The Soul Eater
2.55.2 - The Burning Breath.


__ADS_3

.


.


.


“Ayo, lebih cepat lagi!!!”


Ctas! Ctas! Ctas!


Dengan wajahnya yang panik, Ezzza berusaha membuat kedua kuda penarik itu berlari lebih cepat. Namun sayang, kedua kuda tersebut sudah mencapai batas maksimal kecepatan yang bisa mereka capai.


Ezzza melihat ke arah para monster kalajengking yang masih mengejar dari belakang. Dan mendapati mereka mendekat sedikit demi sedikit. Ia pun memutar otaknya, mencari cara keluar paling aman dari situasi ini.


Ezzza sebenarnya tak takut menghadapi semua monster itu. Tapi, yang ia takutkan adalah yang terjadi setelahnya. Ia yakin kalau dirinya bisa menghabisi semua monster itu dengan memanfaatkan semua kemampuan dan sumber daya ayng dimilikinya.


Akan tetapi, ia juga yakin kalau dirinya akan benar-benar kehabisan tenaga dan banyak sumber daya setelah pertarungan itu. Yang mana tentunya membuat dirinya dalam situasi yang tak menguntungkan, bahkan sangat merugikan. Apalagi kalau mengingat ia kini berada di tengah gurun yang penuh akan bahaya tak terduga.


Krak! Krak!


Ezzza akhirnya memutuskan untuk membongkar sedikit lebih banyak kereta kudanya. Mulai dari bangku yang ia lepas, lalu dinding keretanya juga. Bahkan sebagian lantai keretanya juga dilepas. Ia hanya menyisakan bagian paling penting dari kereta itu saja.


“Haha! Bagus!!!”


Ezzza berseru kegirangan saat mendapati kalau idenya bekerja. Meski hanya sedikit, kini para kuda penarik bisa berlari lebih cepat. Dan jaraknya dengan para monster kalajengking raksasa pun semakin bertambah. Akan tetapi...


“Eh, kenapa? Kenapa begini?!”


Baru saja Ezzza berbahagia, terjadi hal yang tak menyenangkan lagi baginya. Kedua kuda penarik itu mulai melambat lagi lajunya. Dan Ezzza sadar kalau kedua kuda itu mulai berkurang staminanya.


“Sial! Aku benar-benar kehabisan cara!”


.


.


.


Arini dan Lunariaa memutuskan untuk menunggu kabar dari Erra lebih lama lagi. Mereka memutuskan untuk tinggal di daerah pelabuhan itu lebih lama. Dan mereka mulai mengambil misi yang ada di Gilda Petualang setempat.


Hari demi hari berlalu, akhirnya mereka pun tak begitu memikirkan lagi keberadaan Erra. Keduanya memang sangat menyayangkan kalau mereka harus kehilangan rekan sehebat Erra. Tapi, mereka juga sudah bosa menunggu kabar.


“Hm... apa kita jadi pergi ke West Desert?” tanya Lunariaa sambil mengunyah sate gurita pedas.

__ADS_1


“Aku sih masih penasaran. Jadi masih mau pergi ke sana.” Tanggap Arini yang baru menelan sate gurita manisnya.


“Tapi apa kita berdua cukup? Maksudku, bukannya aku takut. Tapi menghindari kerugian sebanyak mungkin itu hal yang wajib, kan?”


“Entah kenapa, tapi belakangan ini aku merasa si Erra mulai mempengaruhimu.”


“Eh, benar kah?! Memangnya bagaimana?!”


Arini pun menjelaskan beberapa tingkah Lunariaa yang berubah. Dan perubahannya itu cenderung jadi menyerupai Erra.


“Hm.... aku tidak sadar.” Tanggap Lunariaa dari komentar Arini.


Mereka berdua pun akhirnya membahas lebih lanjut rencana mereka untuk pergi ke West Desert. Dan setelah menghabiskan makan malamnya. Mereka pun memutuskan untuk melanjutkan perjalanan dengan menaiki kapal besok malam. Karena pada siang esok, mereka akan melakukan persiapan terlebih dahulu.


.


.


.


Para monster kalajengking semakin mendekati Ezzza. Dan akhirnya Ezzza terpikir sesuatu untuk bisa membantu dirinya.


Pertama Ezzza mengarahkan para kuda untuk berbelok. Kemudian ia melompat dari kereta dan berlari ke arah tujuannya semula. Ia berbalik sedikit untuk melihat apa rencananya berhasil.


Ezzza bermaksud menjadikan kereta kuda itu sebagai pengalih perhatian. Berharap para monster kalajengking raksasa itu mengejar kerta kudanya, dan ia bisa melarikan diri. Dan ternyata, meski tak semua monster kalajengking itu teralihkan. Tapi kini hanya sedikit yang masih mengejar Ezzza.


Ezzza masih berlari menjauhi para pengejar sambil meminum beberapa ramuan pendukung. Kemudian berbalik dan bersiap menghadapi dua ekor monster kalajengking raksasa itu.


Trang!


Bunyi sarung tangan Ezzza saat ia mengadu tinjunya sendiri.


“Ayo! Aku yakin bisa menang!”


Tap!


Ezzza pun menghentakan kakinya ke pasir, menyerang ke arah salah satu monster kalajengking. Monster yang menjadi targetnya itu bersiap menyambut Ezzza dengan serangan capitnya. Tapi Ezzza bisa menghindar dengan mulusnya. Dan sambil menghindar, ia juga menendang salah satu kaki si monster.


Ezzza berusaha agar tak terlalu jauh dari target pertamanya ini. Tujuannya agar monster yang satu lagi kesulitan menyerang dirinya.


Bak! Buk! Bak! Buk! Bak! Buk! Bak! Buk!


KRAK!!!

__ADS_1


Ezzza fokus menghajar salah satu kaki monster itu sampai terdengan bunyi patah yang nyaring itu. Dan si monster pun sedikit lengah, hingga Ezzza berhasil menaiki tubuhnya.


Bak! Buk! Bak! Buk! Bak! Buk!


Kini ia menargetkan bagian kepala kalajengking raksasa itu. Dengan posisi Ezzza yang seperti ini, monster itu pun semakin kesulitan untuk menyerangnya. Kecuali...


Wuut! Bak!


“Cih! Kukira kau tak akan melakukanya!”


Monster itu menyerang Ezzza dengan ekornya. Namun beruntung Ezzza cepat tanggap dan masih berhasil menghalaunya. Ezzza pun mengubah target serangannya, menjadi pangkal ekor si monster. Dan akhirnya, kini Ezzza benar-benar aman untuk menghabisi monster itu.


Tapi itu hanya pikirang Ezzza. Karena ternyata monster yang satunya lagi akhirnya mulai menyerang juga. Seakan tak pedulia beberapa serangannya mengenai rekannya sendiri. Monster yang satu ini terus berusaha menyerang Ezzza.


“Sial!!”


Ezzza pun terjatuh karena menahan salah satu serangan dan terjatuh ke pasir. Meski begitu, tak sedikit pun semangat tarungnya menurun. Ia kembali menyerang monster yang sama, dan tetap setengah mengabaikan monster yang satunya lagi.


“KIIISSHH!!!!”


Begitu bungi si monster yang terus Ezzza hajar. Di saat ia mulai tak bisa bergerak bebas lagi.


Dengan kondisinya itu, Ezzza meninggalkannya dan menyerang monster yang satunya lagi. Tujuan Ezzza adalah melemahkan keduanya secepatnya. Dan baru menghabisi mereka kemudian waktu. Ezzza tak khawatir monster kalajengking yang pertama ia hajar akan sempat kembali bugar. Karena kemampuan monster kalajengking dalam memulihkan diri itu rendah.


Saat menghadapi monster yang kedua. Ezzza sudah kehabisan banyak stamina. Ia bahkan harus menyempatkan diri di sela pertarungannya untuk menenggak Stamina Potion. Meski begitu, pertarungan kedua ini cenderung lebih mudah.


Alasan pertamanya adalah karena kini Ezzza benar-benar satu lawan satu dengan monster itu. Alasan lainnya adalah karena Ezzza kini sudah terbiasa dengan pola serangannya lawannya. Jadi, ia bisa memprediksi serangan berikutnya dengan akurat.


“Untung saja AI-mu rendah! Haha!” seru Ezzza sambil terus menghajar lawannya.


Bak! Buk! Bak! Buk! Bak! Buk! Bak! Buk! Bak! Buk! Bak! Buk!


Beberapa saat berlalu, akhirnya monster kedua ini berhenti bergerak. Ia tak akan melawan lagi karena semua Hit Point yang sebelumnya ia miliki telah hilang. Dan Ezzza pun mengalihkan perhatiannya ke monster yang satunya lagi. Dan tak perlu waktu lama sampai ia menghabisinya juga.


Ezzza kemudian dengan segera mengambil apa pun yang bisa diambil dari para monster ini. Ia memasukannya ke dalam inventorinya. Setelah membuang beberapa benda yang menurutnya kurang bernilai dibanding yang lainnya.


Ia pun kini melanjutkan perjalanan ke tempat tujuannya dengan berjalan kaki.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2