Ardanium'S Tale Online (Revised) : The Soul Eater

Ardanium'S Tale Online (Revised) : The Soul Eater
1.48.1 - Pembicaraan.


__ADS_3

+++


Arc 1 : The Births of The Ender.


Bab 48 : Pembicaraan


+++


Hari ini, akhirnya sampai lah pada penghujung semester ganjil tahun kedua Putra di SMA. Dan hari ini adalah hari di mana laporan hasil belajar siswa akan dibagikan. Dan para wali murid pun berdatangan ke sekolah.


“Er, kira-kira dapat peringkat berapa, ya?”


“Aku cukup yakin dapat peringkat satu.”


Putra datang bersama ibunya, dan baru memasuki gerbang sekolah.


“Hm... Er. Perasaan ibu, setiap ibu datang selalu ditatap dari berbagai arah. Apa karena ibu masih terlihat muda dan cantik?”


Agnisa berkata begitu karena memang itu lah yang terjadi. Dan wanita ini berkata sambil berusaha sedikit bercanda dengan putranya yang serius itu.


“Ya, ibu memang terlihat masih muda dan cantik. Wali kelasku lebih muda dari ibu tapi terlihat lebih tua.”


“Ohoho... begitu, ya?”


.


.


.


“Jadi... kau tak akan melanggar janjimu, kan?”


“A... e... itu... t-tentu saja!!! Memangnya kau pikir aku siapa? Mana mungkin aku mengingkari janji!”


Acara pembagian laporan hasil belajar siswa telah selesai. Para wali murid sudah pulang. Sebagian murid pulang bersama wali mereka, tapi ada juga yang masih tinggal di sekolah.


Kini, Putra sedang menagih janji Esa yang akan mentraktirnya makan siang selama semester depan tanpa ada batasan. Karena memang, Putra yang menang dalam taruhan tersebut.


Putra menang karena ia berhasil menjadi juara satu sekolah. Sepanjang semester ini, Putra memang mengumpulkan nilai yang cukup banyak. Tapi, sebenarnya cukup sulit untuk mencapai posisi tersebut. Kecuali Putra berhasil mendapatkan nilai sempurna pada setiap mata pelajaran dalam ujian.


Dan memang itu lah yang terjadi.

__ADS_1


Pok!


Erra menepuk bahu Esa, lalu berkata...


“Terima kasih banyak. Selama semester depan aku jadi bisa lebih berhemat. Lalu, bagaimana kita bertaruh lagi? Siapa yang nilainya lebih tinggi di akhir semester depan?”


“A-ah... itu....”


“Apa kau takut? Kalau takut bilang saja. Aku tak akan memaksa. Karena yang akan menang aku lagi, dan yang akan kehilangan banyak uang kau lagi.”


Esa merasa tersindir berat dengan perkataan Putra. Tapi, akal sehatnya menahan dirinya untuk segera menerima tantangan itu. Hanya saja, rasa angkuh tingkat tinggi dalam dirinya berusaha terus mengalahkan akal sehatnya. Dan akhirnya, ia pun hanya terdiam.


“Kau tak perlu menjawab sekarang. Kutunggu sampai kita masuk semester depan.”


Putra pun kemudian pergi meninggalkan Esa yang masih terdiam.


.


.


.


Putra menjelaskan pada ibunya kalau sepanjang liburan ini ia akan mencoba untuk mengumpulkan uang dari permainannya, Ardanium’s Tale Online.


Ia menjelaskan bagaimana mekanismenya, sampai ia bisa menghasilkan uang secara nyata dari permainan tersebut. Mendengar kalau Putra akan bermain selama setidaknya dua belas jam per hari, Agnisa tak bisa langsung memberi izin pada putra sulungnya itu.


Lalu Putra pun memberi penjelasan pada ibunya kalau dirinya tak akan sekaligus bermain selama itu. Ia akan membagi waktunya, yang paling lama sekali main hanya sekitar empat sampai lima jam saja. Meski mendengar penjelasan ini, Agnisa masih menolak ide anaknya itu. Bahkan semakin keras menolak. Walau pun ia tahu maksud dari anaknya ini adalah untuk meringankan beban ekonomi keluarga kecil ini.


“Er, bibi juga tidak setuju. Kamu tidak perlu terlalu memikirkan keuangan keluarga. Biarkan kami orang tua yang memikirkannya.”


Bibi Putra ikut dalam perbincangan.


“Hm... maaf kalau aku sedikit kasar. Tapi, biar aku ulangi. Aku tidak memaksakan diri dalam hal ini. Dan ini bisa dibilang kesempatan emas bagiku untuk mendapatkan penghasilan sendiri. Jika aku mulai sekarang, aku yakin ke depannya aku akan menemukan semakin banyak celah untuk menghasilkan uang dari permainan ini.


Aku sadar, dengan kondisiku. Aku akan kesulitan mendapatkan pekerjaan. Dan sekarang ada kesempatan untuk mendapatkan pekerjaan di bidang yang kusukai. Kenapa aku tidak boleh mengambilnya?”


“Ibu kurang paham karena belum pernah coba ikut masuk ke dunia virtual. Tapi, yang ibu tahu aliran waktu di sana berjalan lebih cepat dari di dunia nyata. Dan kalau ibu tidak salah ingat, di Ardanium itu waktunya dua belas kali lipat lebih cepat dari dunia nyata. Yang berarti satu jam berlalu di sini, dua belas jam berlalu di sana.


Lalu, kamu mau main selama belasan jam setiap harinya. Itu sama saja menghabiskan waktu belasan hari di sana. Kalau kau melakukannya terus menerus, otakmu akan menerima beban yang sangat berat. Dan itu punya risiko tinggi terhadap kesehatanmu. Karena itu lah ibu tetap melarangnya!”


Putra terdiam setelah mendengar penjelasan panjang dan lebar dari ibunya itu. Ia diam bukan karena menerima semua perkataan ibunya. Melainkan sedang memikirkan kata yang ingin ia ucapkan selanjutnya.

__ADS_1


“Aku masih mau berbicara, apa ibu mau mendengarkan?”


“Ya, katakan lah.”


“Sekali lagi aku bertanya, ibu yakin akan mendengarkanku?”


“Ya, ibu akan mendengarkanmu. Dari tadi juga, ibu mendengarkanmu, kan?”


“Terakhir, apa ibu mau mendengarkanku?”


“Apa maksudmu terus mengulangi pertanyaanmu? Apa kamu merasa ibu tak mendengarkanmu dari tadi?”


“Ya, ibu sama sekali, sedikit pun, tak mendengarkanku.”


Agnisa terdiam, dadanya memanas. Ia cukup tersinggung dengan perkataan Putra. Karena menurutnya ia selalu mendengarkan anaknya itu. Bukan hanya saat ini, tapi selama ini.


“Bisa kamu jelaskan kenapa kamu berpikir seperti itu?”


“Karena memang ibu tak mendengarkan. Kalau ibu mendengarkan perkataanku sejak awal pembicaraan ini, ibu tak akan memberi tentangan sekeras ini. Aku kenal ibuku sendiri dengan baik. Aku yakin kalau ibu mendengarkanku, ibu akan mengizinkanku. Paling-paling ibu hanya aka memberikan barisan syarat untuk kupenuhi agar mau mengizinkanku.”


Agnisa terdiam tak bisa membalas perkataan anak sulungnya itu. Melihat ibunya tak akan berbicara, Putra lanjut berbicara.


“Mohon, kali ini dengarkan dengan jelas. Dengan kepala dingin, dan hati terbuka seperti ibu yang biasanya.”


Putra menjeda kalimatnya, menunggu reaksi dari ibunya. Agnisa pun menarik napas dalam, namun belum angkat bicara lagi. Jadi, Putra pun melanjutkan kalimatnya.


“Aku sudah berbulan-bulan memainkan permainan ini. Aku sudah terbiasa dengan beban pada otakku. Seperti yang ibu bilang, bermain di dunia virtual terlalu lama bisa membebani otak dan menyebabkan sakit. Tapi, seperti yang ibu bilang juga. Ibu belum pernah mencobanya jadi ibu tak tahu rasanya. Maaf kalau perkataanku ini lancang.”


Agnisa tak bisa menampik kebenaran itu.


“Beban pada otak yang kurasakan setelah mengerjakan pekerjaan rumah dari sekolah selama satu jam. Itu terasa sepuluh kali lebih berat daripada bermain dalam dunia virtual selama tiga jam.


Sekarang bayangkan, satu jam saja bisa memberiku beban otak yang tak ringan. Lalu aku harus sekolah setiap harinya selama berapa jam? Dengan beban otak seberat itu, seharusnya sekarang ibu memintaku berhenti sekolah. Aku tak perlu sekolah, aku tak perlu melakukan apa pun karena aku hanya seorang anak, bukan orang tua. Dan nanti saat aku menjadi orang tua, biarkan diriku ini hancur karena terbiasa tak melakukan apa pun selama aku hanya menjadi seorang anak.


Sekali lagi aku minta maaf kalau perkataanku ini lancang. Tapi aku tak menyangka akan mendapatkan penentangan seberat ini hanya karena aku ingin punya uang hasil usahaku sendiri dari memainkan permainan yang biasa kumainkan. Yang selama ini tak pernah ibu tentang.”


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2