
+++
Arc 2 : The Angels and The Dragons.
Bab 47 : Lawan Goblin.
+++
Mendengar tiupan peluti dari arah kedua rekannya, Erra sudah bisa menebak kalau keduanya pun bertemu dengan bahaya. Meski ia tak tahu bahaya apa yang datang. Erra memutuskan untuk tidak jadi meniup peluitnya dan melesat berlari ke arah tiupan peluit itu, sambil menghindari serangan para goblin.
“Mau lari ke mana kau, manusia?! Bukan kah kau ingin membunuhku?!”
Tiba-tiba mendengar pertanyaan dari arah belakangnya, Erra tak bisa menahan untuk tak menengok. Dan ia mendapati pertanyaan itu berasal dari si goblin yang tadi pertama ia lihat.
Erra berhasil mengalihkan lagi konsentrasinya ke arah depan, meski ia masih cukup terganggu dengan goblin yang berbicara.
“Oh, aku baru tahu goblin bisa bicara!” ucap Erra tanpa melihat ke arah para goblin.
“Kalian manusia terlalu menganggap tinggi diri kalian sendiri! Sampai kalian pikir hanya kalian sendiri yang bisa bicara!”
“Menurutku itu bukan salahku sebagai manusia, tidak tahu goblin bisa bicara. Itu salah kalian sendiri jadi pengecut dengan bersembunyi selama ratusan tahun.”
Mendengarkan perkataan Erra membuat semua goblin yang mengejarnya menjadi geram.
“Diam kau! Dasar makhluk pembantai!!!” teriak si goblin.
‘Ah... sepertinya aku tidak sengaja membuat mereka marah?’ gumam Erra dalam hatinya.
Ya, seperti sudah menjadi kebiasaan bagi pemain berambut putih ini untuk mengeluarkan ucapan provokatif pada lawannya. Sehingga ia bahkan secara tak sadar bisa membuat provokasi pada para goblin yang mengejarnya.
Erra semakin terkejar, sementar itu ia terus berusaha memikirkan cara yang paling efektif untuk menyingkirkan para pengejarnya. Dan akhirnya ia menemukan sebuah ide.
Erra melambatkan langkahnya, membuat para goblin segera mengepungnya.
“Haha! Habis lah kau, manusia sialan!” seru salah satu goblin.
Erra sekarang dikelilingi para goblin dari setiap sisinya. Tapi masih memasang wajah yang tenang, bahkan sangat datar seperti tak menghadapi apa pun. Sikapnya ini sedikit banyak membuat para goblin semakin kesal karena merasa diremehkan.
“Habisi dia!!!”
Dengan seruan itu semua goblin menerjang di saat bersamaan. Berusaha untuk tak membiarkan sedikit pun celah bagi Erra untuk melarikan diri.
Dengan gerakan yang sangat cepat, Erra mengambil bom asap dengan tangan kirinya. Di saat yang bersamaan ia menggigit belatinya dan akhirnya memakai tangan kanannya untuk mengambil bom asap lainnya. Kemudian...
Bosh! Bosh! Bosh! Bosh!
Erra melemparkan bom asap beracun. Bukan melemparnya ke tanah, melainkan ke arah para goblin secara langsung.
“Uakh!”
“Blegh!”
__ADS_1
Para goblin menghentikan terjangan mereka. Goblin yang terkena lemparan secara langsung segera tak bergerak, tak berdaya. Sementara yang lainnya, juga mulai bergerak sempoyongan. Erra pun kembali menggemgam belati dengan tangan kanannya, dan kemudian....
Sret! Slash! Jleb! Sret! Slash! Jleb! Sret! Slash! Jleb!
Tebasan, potong, dan tikaman diterima para goblin. Erra berhasil menghabisi beberapa di antara mereka. Namun sayang, lebih banyak yang hanya terluka saja. Erra menambah bom asapnya, kemudian melarikan diri. Ia segera berlari ke arah Arini dan Lunariaa.
.
.
.
“Kita juga jangan lengah.” Ucap Arini.
“Ya, benar. Apa kamu mau berkeliling sedikit?” tanya Lunariaa.
“Tidak masalah.”
Keduanya pun mulai berkeliling.
Arini dan Lunariaa bergerak ke arah yang sama, tapi mereka menghadap ke arah yang berbeda. Tujuannya tentu saja agar bisa mengawasi daerah yang lebih luas. Tak lupa, keduanya dalam keadaan siap bertarung.
Mereka menyisir lokasi sekitar saja, tak terlalu jauh dari titik perpisahan dengan Erra. Mereka menyisir lokasi dengan perlahan. Lunariaa sempat mau membabak semak belukar yang menghalanginya, tapi Arini melarangnya karena itu adalah saran dari Erra.
Sebelumnya dalam perjalanan ini, salah satu yang mereka obrolkan adalah tentang melakukan pengintaian atau sejenisnya. Kedua gadis ini bertanya pada Erra yang mereka anggap sebagai ahlinya, karena ia seorang Scouts yang bisa membuat banyak Scouts hebat lainnya.
Salah satu saran Erra adalah bergerak dengan sesunyi mungkin. Lalu Erra juga menyarankan agar sebisa mungkin untuk tidak mengubah lokasi yang mereka lewati. Seperti misalnya adalah membabat semak belukar yang mereka lewati hanya karena dianggap menghalangi jalan.
“Hm... tidak ada yang menarik. Di sini bahkan tak ada hewan buas. Hewan biasa juga tidak ada.” Ucap Lunariaa setelah menyisir daerah sekitar.
“Ah... bukan kah ini sedikit mencurigakan?” tanya Arini.
Lunariaa terdiam, tapi matanya berguling mengamati daerah sekitar. Lalu ia berkata...
“Benar juga. Aneh juga rasanya, hutan seperti ini sunyi.”
Arini dan Lunariaa sudah duduk, tapi kini keduanya bangkit berdiri lagi. Berdiri saling memunggungi dan menyiapkan senjata masing-masing.
Syut! Jleb!
“Ah!”
Sebuah anak panah mendarat di lengan kiri Arini. Membuat kedua gadis itu menghadap ke arah sumber anak panah itu.
Srak! Srak! Srak! Srak! Srak!
Tapi ternyata, bermunculan goblin dari berbagai arah. Dan dalam seketika kedua gadis ini terkepung.
“Jadi, ini yang namanya goblin?” gumam Arini.
“Wahaha! Selamat datang hei para gadis manusia!” seru salah satu goblin.
__ADS_1
“Kau bicara?!” Lunariaa keheranan.
“Itu sedikit menjijikan.” Gumam Arini.
Para goblin terlihat kesal dengan tanggapan kedua gadis manusia di hadapan mereka. Lalu salah satunya berkata...
“Kalia manusia memang terlalu sombong! Kalian pikir hanya kalian yang bisa bicara, hah?!”
“Setahu kami memang begitu.” Arini yang menjawab.
Para goblin dibuat semakin kesal dengan tanggapan Arini.
“Arini, sepertinya tidak baik membuat mereka tambah kesal?” tanya Lunariaa.
“Aku tidak coba buat mereka lebih kesal. Aku hanya menjawab saja.”
“Iya, hanya menjawab. Tapi jawabanmu membuat mereka tambah kesal!”
“Memangnya bagaimana aku tahu jawaban apa yang membuat mereka kesal atau tidak?!”
Kedua gadis ini malah terus berdebat, bakan bahan debat mereka sempat berubah beberapa kali. Tingkah yang membuat para goblin di sekeliling mereka malah kebingungan, dan akhirnya hanya menonton perdebatan mereka. Sampai akhirnya, salah satu goblin berkata...
“Hey! Kenapa kalian malah berdebat sendiri?! Apa kalian tidak sadar keberadaan kami di sini, hah?! Atau kalian meremehkan kami, ya?!”
“Ah, maaf. Aku lupa ada kalian.” Ucap Arini.
“Cukup basa-basinya! Kita habisi mereka sekarang!!!”
“Heya!!!!”
Para goblin pun menerjang ke arah Arini dan Lunariaa secara bersamaan, dan pertarungan pun terjadi.
Lunariaa menunggu lawannya mendekat, dan begitu sudah masuk jarak serangnya. Ia mengayunkan kapaknya sambil mengitari Arini yang ada di belakangnya, membuat para goblin berhenti menerjang dan sekaligus sedikit mundur. Sementara itu Arini menyiapkan sihirnya.
Beberapa saat kemudian, kedua gadis ini mulai kewalahan. Sebenarnya para goblin tak terlalu kuat, tapi gerakan mereka sangat lincah.
“Seperitnya harus tiup peluitnya?!” tanya Arini.
“Ya, cepat tiup!”
Arini mengambil peluitnya dan...
PWWIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIIITTTT!!!!!!!!!!!
.
.
.
Bersambung...
__ADS_1