Ardanium'S Tale Online (Revised) : The Soul Eater

Ardanium'S Tale Online (Revised) : The Soul Eater
2.24 - Datang.


__ADS_3

+++


Arc 2 : The Angels and The Dragons.


Bab 24 : Datang.


+++


“Hm... jadi ini yang namanya Desa Gezar? Menurutku ini lebih mirip kota kecil daripada sebuah desa.”


“Ya, aku setuju. Lebih pantas disebut Gezar Town.”


Komentar ini keluar dari Arini dan Lunariaa, yang mana kini mereka baru saja tiba di Desa Gezar. Kedua gadis ini sekarang hanya berdua, mereka telah berpisah dengan kelompok petualang lima orang sebelumnya saat mereka memasuki gerbang desa.


Arini dan Lunariaa pun berkeliling desa, melihat keadaan di desa ini. Kebetulan sekali mereka tiba tepat di hari pasar. Di mana desa sekitar Desa Gezar akan berdatangan untuk melakukan perdagangan dengan desa ini.


“Hm... Arini, coba lihat. Mereka sepertinya masih berdagang dengan cara barter?”


“Ah, iya. Sepertinya begitu. Apa kita bisa pakai uang di sini?”


“Entah lah, kita coba saja dulu.”


“Tapi ini keren juga, ya?”


“Apanya yang keren?”


“Biasanya di dalam dunia virtual seperti ini paling tidak mau ambil pusing masalah alat pembayaran. Semua NPC pasti sudah memakai mata uang yang hanya ada satu-satunya di dunia ini. Tapi, di sini mereka tidak memakainya dan malah pakai barter.”


“Ah... Arini sepertinya kamu sedikit ketinggalan informasi?”


“Eh? Ketinggalan bagaimana?”


“Beberapa permainan sejenis ini sudah menerapkan sistem dengan beragam mata uang di dalamnya. Seperti halnya di dunia nyata.”


“Oh, begitu?”


Mereka berdua terus berkeliling desa sambil mengobrol sampai mereka akhirnya menghentikan langkah mereka di depan sebuah bangunan.


“Hm... sepertinya ini kantor Gilda Petualang paling kecil yang pernah aku lihat?” tanya Lunariaa.


“Ya, aku setuju. Dan entah kenapa, sepertinya ini bangunan baru.”


Sambil berbicara begitu, keduanya memasuki kantor Gilda Petualang di Desa Gezar ini.


Krieet!

__ADS_1


Bunyi pintu kayu itu saat didorong Lunariaa. Beberapa orang di dalam segera mengalihkan pandangan mereka ke arah pintu masuk dan melihat sosok kedua gadis itu. Tapi lebih banyak lagi yang tidak peduli dan fokus pada kesibukannya masing-masing. Mereka yang melihat pun ada yang hanya sekedar melihat saja, lalu tidak peduli lagi. Ada yang memperhatikan cukup lama.


“Ah... padat sekali.” Ucap Lunariaa dengan lirih.


Ya, tempat ini sangat padat. Kantor Gilda Petualang ini adalah sebuah bangunan yang baru didirikan beberapa tahun lalu waktu dunia virtual. Kantor ini didirikan di desa ini karena permintaan banyak petualang yang merasa butuh kantor di daerah yang lebih dekat dengan Great Southern Jungle. Karena sebelumnya, kantor Gilda Petualang terdekat letaknya cukup jauh. Berada di sebuah kota kecil bernaman Eloru Town.


Kedua gadis itu kini tengah antre untuk menuju ke resepsionis. Hanya ada tiga orang resepsionis, sementara petualang yang butuh sangat banyak. Menjadikan barisannya cukup panjang.


Meski terlihat tidak peduli dengan keadaan sekitar. Lunariaa dan Arini memperhatikan keadaan sekitarnya dengan begitu seksama. Mereka menyadari ada banyak mata yang tertuju pada mereka. Mereka tidak akan terlalu peduli pada yang memperhatikan diri mereka kalau hanya beberapa saat saja. Tapi, ada juga yang memperhatikan mereka terus tanpa lepas sedikit pun.


Arini yang berbisik pada Lunariaa...


“Tatapan mereka menyebalkan. Menurut kamu apa niat mereka?”


“Waspada perlu, tapi tak perlu terlalu waspada juga. Nanti kamu lelah sendiri. Apa kamu tidak sadar kalau kita memang sangat keren? Jadi, wajar kalau kita jadi pusat perhatian, kan?”


“Ah, benar juga.”


.


.


.


“Bukan begitu bos. Kalau orang luar seperti kita masih bisa memakai uang. Ini cara Desa Gezar menguasai desa-desa kecil di Great Southern Jungle ini, bos.” Jawab salah satu pengikut barunya.


“Cara menguasai? Bisa kau jelaskan? Ini kedengaran menarik.”


“Ya, jadi begini begini, bos. Sederhananya bisa dikatakan ini pembodohan. Desa Gezar mengatur agar para desa kecil di sekitar memberi mereka barang-barang kuatlitas tinggi untuk ditukar dengan barang lain yang harganya tak sebanding. Jadi, mereka bisa mendapatkan keuntungan besar.


Desa ini, karena yang paling besar dan makmur di daerah ini. Secara nyatanya menjadi semacam penguasa di sini. Mereka pun menyebarkan informasi pada desa lain bahwa memakai uang adalah hal yang rumit dan menyulitkan. Jika sampai salah sedikit saja memakai, bukan hanya kerugian materi tapi juga bisa mati.


Karena itu lah mereka mempromosikan pemakaian sistem barter. Mereka pun berlagak jadi pahlawan dengan berkata kalau mereka memakai uang dengan dunia luar demi melindungi desa kecil lain di sini. Kurang lebihnya begitu, bos.”


“Wahaha! Keren juga! Tapi... ini berarti kalau mau hasil rampokan uang hanya bisa merampok desa ini? Dan desa lain hanya bisa dirampok barangnya?”


“Kurang lebih begitu, bos. Tapi, belakangan ini berdiri sebuah desa bernama Green Hut. Mereka berhasil melepaskan diri dari pengeruh Gezar dan sekarang hidup independen. Desa itu memakai uang secara normal. Dan mereka justru mempromosikan pamakaian uang. Dan sekarang, Green Hut berhasil menyaingi Gezar.”


“Ooh... dulu yang kudengar di seluruh hutan rimba ini, Desa Gezar satu-satunya pusat ekonomi berputar. Tapi sekarang jadi ada Desa Green Hut itu?”


“Benar begitu, bos.”


Ezzza dan dua anak buah barunya baru saja memasuki gerbang Desa Gezar. Ezzza terus mengorek informasi dari kedua anak buahnya itu, karena memang mereka sudah lama ada di daerah ini. Meski sebenarnya keduanya berada dari sebuah negara lain bernama Um-Yabi di West Desert.


Ketiganya memasuki sebuah kedai atau restoran yang cukup besar, yang bahkan punya lantai dua. Sebuah hal yang sangat jarang ada di desa ini.

__ADS_1


Ezzza langsung menuju ke lantai dua tanpa ragu. Kedua anak buahnya sempat menahannya karena menu di lantai dua memiliki harga yang lebih tinggi. Ezzza balik berkata...


“Kalau begitu, di atas lebih sepi?”


“A-ah... iya.”


“Kalau begitu kita ke atas.”


Akhirnya ketiganya pun duduk di salah satu meja yang menyendiri, dan memesan makanan mereka. Mereka kembali mengobrol tentang keadaan sekitar sambil menunggu pesanan mereka datang. Ezzza menghindari topik serius untuk sementara sampai pesanannya tiba. Ia enggan terganggu pelayan yang memberi pesanan saat ia bicara topik penting.


Dan akhirnya pesanan mereka pun datang. Sambil menyantap pesanannya, Ezzza pun bertanya...


“Jadi, bagaimana pergerakan kekuatan besar di sini?”


“Maaf, bos. Kekuatan besar yang mana?”


“Hah? Kalian tidak mengerti?”


Keduanya menggelengkan kepala.


“Pergerakan dari Golden Stars, The Beast, dan Infinity Dragon. Bagaimana pergerakan mereka di sini? Apa kalian tahu sesuatu?”


.


.


.


“Permisi, tuan-tuan semuanya. Saya punya laporan.”


Seorang pemuda memasuki kediaman Erra di Desa Green Hut. Yang mana di sana sedang ada beberapa petinggi desa yang sedang membahas tentang kemungkinan konflik dengan Golden Stars.


“Katakan lah.” Ucap Erra.


“Golden Stars tampaknya tak akan menyerang langsung. Mereka mulai mendekati para petinggi Desa Gezar.”


“Ah... sesuai dugaanku.”


.


.


.


Bersambung.

__ADS_1


__ADS_2