
.
.
.
Desa Green Hut saat ini hanya lah punya dua pintu gerbang, yang menjadi jalan masuk dan keluar dari desa ini. Gerbang utama yang sedang digempur oleh pasukan penyerang dari Desa Gezar itu berada di sisi utara. Sedangkan gerbang satunya lagi, yang lebih kecil berada di sisi berlawanan, alias sisi selatan.
Seperti yang disebutkan sebelumnya, pasukan dari Desa Gezar membagi dua pasukannya. Pasukan pertama yang lebih besar menyerang gerbang utama di utara. Sedangkan pasukan kedua yang lebih kecil akan jalan memutar, menuju ke gerbang kecil di selatan.
Pada rencana awal yang sangat sederhana itu. Pasukan besar akan menggempur gerbang utama untuk mengalihkan perhatian. Dan pasukan kecil akan menembus dari gerbang selatan. Sebuah rencana yang mana diyakini oleh para peracik rencananya sendiri tak akan berjalan mulus.
Karena mereka sudah yakin rencanannya tak akan berjalan mulus. Mereka pun meracik beragam antisipasi. Dan dalam semua antisipasi itu, tak ada keadaan seperti saat ini.
Pasukan kecil yang memutar seharusnya kini telah mencapai gerbang selatan Desa Green Hut. Atau dalam antisipasi terburuk mereka, setidaknya sudah tinggal seperempat jalan lagi untuk sampai. Tapi nyatanya mereka baru mencapai seperempat jalan. Dengan kondisi sekitar setengah pasukan sudah berkurang. Belum lagi kalau mengingat para komandan yang telah mati hingga membuat pasukan buta arah.
Untuk pasukan yang menggempur gerbang utama. Dalam rencana awal seharusnya mereka sudah bisa setidaknya membuka gerbang dan menyerang bagian utara Desa Green Hut. Atau paling buruknya, mereka sudah bisa membuka gerbang saja.
Tapi kini, jangankan melancarkan serangan di bagian utara Desa Green Hut. Mereka bahkan belum bisa membuka gerbangnya. Dan meski pun tidak setragis pasukan kecil yang memutar. Pasukan ini juga sudah kehilangan banyak anggotanya.
“Jadi kita akan bergerak ke mana, Tuan Fitz?”
“Kenapa masih bertanya? Tentu saja ke tempat Erra. Ingat, misi utama kita adalah menangkap orang itu. Aku tak peduli dengan kedua desa itu.”
Fitz berdiri dari duduknya, lalu berkata...
“Bersiap lah! Kita berangkat dalam tiga menit!”
“Siap!” jawab anggota kelompoknya.
Fitz tak ikut serta langsung dengan pasukan besar atau pun kecil yang menyerang Desa Green Hut. Ia menyiapkan pasukannya sendiri di suatu tempat di Great Southern Jungle yang tak begitu jauh dari Desa Green Hut.
Fitz berniat menyelesaikan misinya dengan segera, yakni menangkap Erra. Karena itu lah, saat ini ia hanya fokus mencari keberadaan Erra. Dan ketika mengetahuinya, baru lah ia bergerak.
.
.
__ADS_1
.
Perang di gerbang utama Desa Green Hut memperlihatkan perubahan, setelah beberapa saat diam.
Pasukan pertahanan Desa Green Hut yang sebelumnya mendiami bagian atas dinding pertahanan. Kini sedikit demi sedikit mulai meninggalkan tempatnya. Mereka mulai turun, dan dengan begitu semakin banyak pasukan penyerang yang menaiki dinding.
Mereka turun dari dinding sebagai langkah mundur. Karena mereka semakin kewalahan saat menghadapi para penyihir lawan yang akhirnya mencapai jarak serangan mereka. Setelah direpotkan oleh para pennyihir. Pasukan pertahanan Green Hut juga direpotkan oleh para petarung jarak dekat yang berhasil menaiki dinding.
Biara bagaimana pun juga, jika dilihat dari komposisi pasukan. Pasukan penyerang lebih unggul daripada pasukan bertahan. Itu karena pasukan penyerang memiliki jenis pasukan yang lengkap. Mulai dari petarung jarak dekat, pemanah, dan juga penyihir. Sedangkan di sisi lain, pasukan pertahanan. Hanya lah terdiri dari para Scouts dan warga biasa yang bisa memanah.
Melihat kemajua nyang terjadi bagi pihak mereka. Banyak anggota pasukan penyerang ini yang lupa diri. Mereka menurunkan kewaspadaan mereka karena ingin segera memasuki desa dan mengacau di dalam sana. Mereka lupa bahwa sebelumnya mereka bersiap akan serangan dari segala arah.
Dan itu lah yaang kini terjadi...
Bosh! Bosh! Bosh! Bosh! Bosh! Bosh! Bosh! Bosh! Bosh! Bosh! Bosh! Bosh! Bosh! Bosh! Bosh! Bosh! Bosh! Bosh! Bosh! Bosh! Bosh! Bosh! Bosh! Bosh! Bosh! Bosh! Bosh!
Pulah bom asap yang mengandung racun itu menyerang pasukan dari Desa Gezar yang masih berada di luar dinding pertahanan Desa Green Hut.
Sesaat setelah rentetan bom asap itu meledak, terlihat banyak orang yang memasuki kepulan asap. Dan mereka adalah pasukan Desa Green Hut yang sebelumnya menyerang dari atas pohon.
“Akh!!!”
“Argh!!!”
“Ohok!”
Beragam suara serangan terdengar dari balik kepulan asap. Diiringi dengan jeritan dari pasukan Desa Gezar yang terkena serangan.
Asap ini membuat korbannya tak bisa berbuat banyak. Tapi seperti sebelumnya, korbannya masih bisa melakukan beberapa hal. Dan yang paling merugikan adalah ketika ada korban yang bisa memakai sihir angin untuk menghilangkan asap ini.
Untuk mengantisipasi kejadian serupa. Pasukan dari Grern Hut yang menyerang kini punya target jelas. Yakni para anggota pasukan musuh yang bisa memakai sihir angin. Dan tentu target utama mereka adalah para penyihir.
Sempat ada beberapa penyihir yang memakai sihir angin. Tapi dua atau tiga serangan angin tak akan menghapus keberadaan asap beracun ini. Dan tindakan mereka juga secara instan menjadikan diri mereka sebagai target dari pasukan Green Hut.
Dengan kondisi kali ini, sekali lagi keadaan imbang terjadi. Dan tak menutup kemungkinan, kemudian waktu keuntungan akan berpihak pada Desa Green Hut.
.
__ADS_1
.
.
Kondisi pasukan dari Desa Gezar yang memutar kini semakin parah. Karena ada sebagian dari mereka yang memutuskan untuk mundur dari misi ini. Dan yang lebih parahnya lagi, sebagian dari mereka yang mundur itu memutuskan untuk membelot pada Desa Green Hut akibat hasutan Erra.
Dan kini akhirnya pertarungan terbuka terjadi. Erra dan anggota kelompoknya tak lagi bermain gerilya. Mereka bertarung langsung karena menadapatkan tambahan tenaga.
Di salah satu titik pertempuran...
“Yo! Mau dipermalukan ulang?” ucap Erra.
“Kau ini cukup banyak bicara juga, ya?” balas Ezzza.
“Ya, memangnya kenapa? Pikir-pikir, kenapa hampir setiap orang yang baru mengenalku mengatakan hal yang sama?”
Ezzza tak menjawab, dan justru menyiapkan tinjunya. Erra pun merespon dengan menyiapkan busurnya.
“Hah! Dasar pengecut! Tarung langsung denganku! Jangan pakai busur begitu!”
“Hey, maaf saja. Kalau kamu pengecut, jangan tuduh orang lain. Aku pemanah, ya bertarung pakai busur. Kalau aku bertarung langsung melawanmu, itu artinya kau jelas unggul.”
“Ooh... kau...”
Syut!
Ezzza baru mau membalas perkataan Erra. Tapi itu terpotong oleh lesatan anak panah dari Erra.
“Kalau mau mengobrol, bukan di sini tempatnya.” Ucap Erra sambil menyiapkan anak panah lainnya.
Ezzza menyeringai dengan kesal, dan mulai menerjang Erra.
.
.
.
__ADS_1