
+++
Arc 1 : The Births of The Ender.
Bab 17 : Hari-hari
+++
“Eh, jangan. Jangan coba buat pingsan lawanmu, nanti malah tidak sengaja kau habisi.”
Mendengar perkataan Esa itu, banyak yang tak begitu memikirkannya. Tapi ada juga mereka yang sedikit tidak suka, dan mereka adalah para penggemar Putra di kelas ini. Isi perkataan Esa itu secara sederhananya mengatakan kalau Putra bisa secara tak sengaja menghabisi nyawa orang lain. Sementara itu, di mata para penggemarnya, Putra adalah orang yang sangat baik hati.
Di kelas ini, bahkan di sekolah ini. Tak ada satu pun orang yang tahu kalau Putra memiliki kemampuan untuk beradu fisik. Mereka tahu kalau Putra memiliki fisik yang sehat juga kuat, dan ia cukup lihai dalam olah raga terutama bidang atletik. Tapi tak ada yang tahu kalau Putra juga bisa bertarung.
Satu-satunya orang yang tahu kemampuan Putra yang satu itu hanya lah Esa seorang. Sebagai penggiat ilmu bela diri Esa bukan hanya tahu, tapi sangat tahu seberapa tinggi kemampuan Putra dalam bertarung. Karena ia bukan hanya pernah menyaksikan Putra bertarung. Tapi ia merasakan sendiri seberapa kuatnya tinjuan dan tendangan yang dilayangkan Putra.
Di awal masa SMA mereka, di saat Esa baru mencoba mendekati Putra. Ia beberapa kali melontarkan ejekan pada Putra. Tapi tentu saja itu dilakukan saat hanya ada mereka berdua demi menjaga citranya sendiri di mata umum. Meski sering diejek begitu, Putra tak pernah peduli sama sekali. Kecuali suatu hari saat Esa salah memilih kata.
Saat itu Esa berkata,
“You, son of a *****!”
Kata umpatan yang umum dipakai oleh pengguna Bahasa Inggris itu, biasanya digunakan hanya untuk ejekan ringan dan tak mengacu pada arti kata yang sebenarnya. Namun, saat itu situasinya sedang berbeda. Pertama-tama, Esa sudah beberapa kali menyinggung tentang ibu Putra. Singgungan yang tak beralasan sama sekali. Lalu kondisi Putra yang saat itu memang sedang dalam kondisi tidak stabil membuat Putra mudah ‘meledak’.
Saat itu, Putra baru saja mencoba untuk menemui adiknya. Namun tetap saja dihalangi oleh pihak keluarganya. Karena hal ini, Putra pun cukup emosional dan berusaha menghindari interaksi dengan siapa pun. Tapi Esa terus mengejar Putra.
Akhirnya, tanpa Esa bisa duga sama sekali. Putra melayangkan sebuah tinjuan yang sangat kuat. Karena Esa sendiri adalah penggiat ilmu bela diri. Ia pun mempunyai reflek yang cukup cepat untuk menahan tinjuan Putra. Namun ia tak pernah menyangka kalau Putra memiliki kekuatan fisik sebesar itu. Yang sampai membuat tangannya sedikit gemetar setelah menahan tinjuan Putra.
Saat itu, dalam waktu singkat, Putra menghajar habis-habisan Esa dengan semua kekuatannya. Dalam perkelahian itu, Esa sadar betul tak ada teknik khusus yang Putra gunakan. Lawannya itu hanya sepenuhnya menggunakan kekuatan dan kecepatan fisik murni. Namun itu sudah cukup untuk membuatnya babak belur.
Saat itu Esa menerima retakan pada tiga tulang rusuknya. Ia juga mengalami pergeseran sendi pada tangan dan kakinya. Belum lagi luka luar yang diterimanya juga tak ringan. Ia bahkan sampai harus izin dari sekolah selama satu pekan untuk memulihkan diri.
Meski menerima serangan seperti itu, Esa tak melaporkan Putra sama sekali. Ada beberapa hal yang menahannya untuk melaporkan Putra. Namun yang pertama dan utama adalah rasa gengsinya, yang tak mau mengakui kalau ia dibuat babak belur oleh Putra.
Saat itu lah, Esa mengetahui kalau Putra memiliki ‘wajah lain’ yang tersembunyi di balik semua kebaikannya. Dan sejak saat itu juga, Esa berhenti memancing emosi Putra terlalu jauh. Karena biar bagaimana pun juga, ia enggan mengalami cedera separah itu lagi untuk yang kedua kalinya.
Kembali ke situasi kelas.
Perbincangan tentang pos mana yang akan diisi Putra terus berlanjut. Hingga akhirnya ia akan mengisi pos lari jarak pendek dua ratus meter.
__ADS_1
.
.
.
Putra sudah kembali ke rumahnya, dan kini ia tengah mengumpulkan informasi. Informasi yang dikumpulkan Putra adalah mengenai daerah Avalan City secara keseluruhan. Ia berselancar di internet, mengunjungi beragam situs, untuk mengumpulkan semua informasi yang diinginkannya.
Putra masih berniat melanjutkan pekerjaannya sebagai pengantar di Avalan City. Karena pekerjaan semacam itu pasti ada dan jarang yang mau mengambilnya. Bagi Putra itu adalah pekerjaan yang menjanjikan, meski bayarannya kecil. Lau, Putra merasa ingin mengetahui setiap seluk beluk Avalan City untuk sebuah tujuan lainnya.
Putra berpikir kalau ia terus menelusuri kota itu, mungkin ia akan menemukan hal yang menarik, yang belum ditemukan pemain lain. Kalau pun ia tak menemukan yang semacam itu, Putra juga bisa menjual informasi mengenai Avalan City.
Avalan City adalah kota yang sangat teramat besar untuk ukuran kota di dalam sebuah dunia permainan virtual. Dan banyak wilayah yang seperti labirin di dalamnya, sehingga bisa dengan mudah menyesatkan orang baru. Jika Putra bisa memetakan wilayah yang seperti labirin itu, maka ia bisa saja menjualnya di kemudian hari. Kalau pun tidak laku di pasar. Putra tak sepenuhnya merugi, karena ini bisa jadi bahan latihannya memetakan daerah yang lebih luas lagi.
.
.
.
Jam menunjukkan saat ini pukul 22:30.
.
.
.
Erra kini telah berada di Gilda Petualang lagi. Seperti dalam rencana, ia mengambil misi mengantarkan barang lagi. Kali ini ia tak hanya mengambil satu misi, tapi beberapa misi sekaligus.
Waktu terus bergulir, satu per satu misi Erra terselesaikan. Setelah ia menyelesaikan misi terakhirnya, Erra kembali ke Gilda Petualang untuk mengambil misi lain lagi. Namun kali ini, ia tak mengambil jalur yang umum diambil. Ia mengambil jalur melalui jalan setapak yang rumit dan tampak seperti labirin. Ia juga melakukan pemetaan wilayah ini.
Setelah kembali ke Gilda Petualang, ia mengambil misi serupa lagi. Kali ini, tak tanggung-tanggung. Ia membabat habis semua misi sejenis.
“Permisi, tuan. Bisa minta waktunya sebentar?” tiba-tiba seorang wanita dengan tampang usia empat puluhan awal mendatangi Erra.
Wanita ini adalah staf dari Gilda Petualang.
“Ya? Ada apa?”
__ADS_1
“Sepertinya Anda sangat bersemangat mengambil misi pengantaran barang dalam kota, ya?”
“Ya, apa ada masalah? Cepat katakan, aku tak mau berlama-lama untuk berbasa-basi.”
“Baiklah, kalau begitu saya akan langsung ke intinya. Sebelumnya mohon maaf, bukan bermaksud untuk melarang Anda mengambil semua misi sejenis. Karena memang tak ada aturan yang melarang Anda melakukannya. Akan tetapi, mis tersebut diperuntukan bagi semua petualang pemula. Dan kini, karena Anda terus mengambil misi serupa. Bahkan kali ini Anda mengambil semua misi serupa sekaligus. Ada banyak petualang baru yang tak bisa mengambil misi serupa. Padahal ini penting untuk latihan mereka.”
“Kau masih tidak langsung ke intinya. Jadi, maksudmu aku harus mengembalikan beberapa misi ini?”
“Anda tak harus melakukannya, tapi kami Gilda Petualang akan sangat berterima kasih jika Anda bersedia melakukannya.”
“Apa ada imbalan untukku?”
“Maaf, tuan?” si perempuan staf terlihat cukup heran.
“Apa kau mengerti simbiosis mutualisme dan parasitisme?”
“Ya, saya mengerti.” Jawab si perempuan staf dengan wajah yang semakin bingung dengan arah pembicaraan Erra.
“Menurutmu lebih baik mana?”
“Tentu mutualisme.”
“Lalu kenapa kau berusaha melakukan parasitisme terhadapku?”
“Ah, itu... maaf saya kurang paham.”
“Dengan mengambil semua misi ini, akan ada sejumlah keuntungan yang kuterima. Sekarang, kalau aku membatalkan sebagian misi. Berarti akan ada sebagian keuntungan yang seharusnya kuterima, tidak jadi kuterima padahal aku bisa menerimanya. Hanya karena aku harus membagi misi ini dengan orang lain, sesuai dengan permintaanmu.
Bagiku itu seudah menjadi sebuah kerugian. Belum lagi kalau dihitung dari waktu kita berbincang ini. Yang mana bisa kupakai untuk menyelesaikan misi yang telah kuambil. Jadi, aku mau ada ganti rugi kalau kau mau aku menuruti permintaanmu.”
Si perempuan staf kehabisan kata. Ia tak menyangka akan mendapatkan respon semacam ini dari Erra. Karena tak ada keuntungannya sama sekali, bahkan akan merugikan. Akhirnya, ia menarik permintaannya dari Erra. Setelah itu, Erra pun melesat untuk menyelesaikan misinya.
.
.
.
Bersambung...
__ADS_1