
+++
Arc 2 : The Angels and The Dragons.
Bab 21 : Hujan Panah.
+++
“Ini kesempatan terakhir kalian untuk memilih. Mau ikut dan tunduk padaku, atau mati? Cepat lah, pilih!”
Dalam posisi berlutut dan terluka parah, kedua orang itu menatap Ezzza yang barusan berucap. Ada tatapan amarah yang terpancar dari mata mereka, namun juga terlihat rasa takut yang juga tak kalah besarnya.
“Haha! Sebenarnya aku tak begitu peduli, tapi ini memang menakjubkan! Kalian bisa memasang mata seperti itu! Haha!” ucap Ezzza mengagumi tatapan mata kedua orang yang berlutut di hadapannya itu. Tatapan mata yang terlihat sangat nyata, padahal keduanya adalah NPC.
Dua orang ini adalah yang tersisa dari kelompok perampok yang mencoba untuk merampok Ezzza. Meski berhasil disudutkan berkali-kali, taktik dan siasat yang Ezzza miliki berhasil membuat dirinya untuk lolos dari kekalahan. Bahkan bisa sampai mendapatkan kemenangan.
Kedua orang itu kini saling tatap. Dan kelihatannya ada satu hal yang telah mereka setujui. Salah satu dari mereka akhirnya buka mulut untuk angkat bicara.
“Jika kami mengikutimu, apa untungnya bagi kami?”
“Di ambang kematian kalian masih bisa bertanya begitu? Baik lah, begini... jika kalian mengikutiku, berarti kalian masih bisa hidup lebih lama karena tidak kubunuh di sini. Kalian paham?”
“Jangan kau pikir kami ini dungu! Kami tentu saja mengerti bagian itu! Daripada mengikuti dan tak ada untungnya kecuali hidup, aku akan memilih mati di sini!”
Tatapan tajam terarah pada Ezzza. Bukan hanya dari si yang bicara, tapi juga dari rekannya yang satunya lagi. Ezzza pun memasang senyuman lebar, lalu memberi jawaban.
“Aku ini mau membuat kembali kelompok perampokku sendiri. Sebelumnya aku sudah punya tapi sekarang bubar. Kalau kalian ikut denganku, aku akan membagi hasil rampokan dengan kalian. Aku akan ambil lima puluh persen dan sisanya kalian yang ambil. Bagaimana?”
“Pembagian rata! Hasilnya harus dibagi rata!”
“Hey... hey... kau tidak dalam posisi bisa menawar di sini. Mau ambil itu atau tidak?”
Kedua orang itu kembali saling tatap, dan akhirnya...
“Baiklah, kami setuju.”
Dengan begini, kelompok perampok baru di bawah pimpinan Ezzza pun terbentuk.
.
__ADS_1
.
.
Grasak! Grusuk!
Krekek! Bum!
“Cih! Bagaimana aku kabur kalau begini?!”
Erra berhasil menjauhkan kedua Naga Sungai dari para peserta pelatihan di bawah bimbingannya. Rencana awal Erra adalah memancing kedua monster mirip buaya itu sampai jarak yang cukup jauh, lalu ia akan melarikan diri dari keduanya. Karena melawan keduanya saat ini adalah tindakan yang lebih bodoh dari kata bodoh itu sendiri.
Sayang sekali...
Rencana Erra tak berjalan dengan mulus sesuai dengan keinginannya. Ia memang berhasil mengalihkan dan menjauhkan kedua Naga Sungai itu dari para peserta pelatihan. Akan tetapi, kini jalannya untuk melarikan diri tertutup.
Salah seekor Naga Sungai itu mengejar Erra di darat, bergerak terus di dekat sungai. Sedangkan satunya lagi memutuskan untuk memasuki sungai dan berenang di sana. Monster yang satu ini berenang dengan sangat cepat menyusul Erra yang berlari di darat. Kemudian ia kembali ke darat dan menghadang Erra dari depan.
“Rrrrrrrr....!!!”
Suara bergetar yang dikeluarkan kedua naga itu terdengar begitu mengerikan. Mencekam, dan membuat tubuh merinding.
Ya... setidaknya untuk orang lain. Karena itu tak berlaku pada Erra.
Para naga itu terus mendekati Erra perlahan. Bukan karena keduanya waspada akan Erra. Tetapi keduanya hanya mengintimidasi Erra. Berniat membuat manusia di hadapan mereka itu menjadi ketakutan dan menyesal telah melawan mereka.
“Hah... apa boleh buat? Kalau begini hanya bisa bertaruh.” Ucap Erra pada dirinya sendiri.
Tap!
Erra membuat gerakan mendadak, ia berlari ke arah salah satu Naga Sungai itu. Gerakan mendadak Erra itu disambut dengan sedikit rasa kaget oleh si Naga Sungai yang Erra tuju. Tapi itu hanya berlaku sepersekian detik saja. Dan naga itu pun bersiap menerkam Erra dengan membuka lebar mulutnya.
Syut! Syut! Syut!
Jleb! Jleb! Jleb!
Erra menembakan tiga buah anak panah secara beruntun ke arah mulut yang terbuka lebar itu. Bukan hanya tiga buah anak panah biasa, melainkan anak panah yang berlumurkan racun. Erra sendiri ragu racunnya akan memberi pengaruh, akan tetapi ia tak punya pilihan lain yang lebih pasti hasilnya.
Naga yang diserang mulut bagian dalamnya itu segera menutup mulutnya karena merasakan sakit ringan. Sementara itu Erra berbelok dari jalur larinya dan berlari berusaha menjauhi sungai.
__ADS_1
Ternyata naga yang satunya lagi mengejar Erra dengan sigap. Si naga yang terkena panah pun terlihat mulai mengejar Erra lagi. Racun yang ia pakai sama sekali tak memberikan efek berarti pada naga itu.
Erra benar-benar terdesak dalam situasi ini. Ia berguling ke sana ke mari untuk menghindari serangan dari kedua Naga Sungai itu. Ia juga sesekali melepaskan tembakan anak panahnya sebagai usaha pengalihan perhatian kedua monster yang berusaha menyantapnya itu.
Meski pun dalam keadaan terdesak begini, dan terlihat kesusahan. Erra masih terus berjuang untuk melepaskan diri dari para monster. Sedikit demi sedikit, ia bergeser terus menjauhi sungai. Akan tetapi...
‘Sial! Staminaku akan habis sebelum bisa melepaskan diri!!!’ seru Erra dalam benaknya.
Syut! Syut! Syut! Syut! Syut! Syut! Syut! Syut! Syut! Syut! Syut! Syut! Syut! Syut! Syut! Syut! Syut! Syut! Syut! Syut!
Jleb! Jleb! Jleb! Jleb! Jleb! Jleb! Jleb! Jleb! Jleb! Jleb! Jleb! Jleb! Jleb! Jleb! Jleb! Jleb! Jleb! Jleb! Jleb! Jleb!
“Grooorrr!!!”
Di saat Erra mulai sedikit putus asa, ada hujan anak panah yang datang. Datang untuk menghujani salah seekor Naga Sungai itu. Naga yang terkena hujan panah tentunya teralihkan dari Erra. Sedangkan naga yang satunya lagi juga ikut teralihkan karena raungan temannya itu. Sedangkan Erra, dengan begitu cekatannya mengambil kesempatan ini untuk meloloskan diri.
“Tuan Erra! Cepat ke sini!”
Seru seseorang dari suatu arah. Erra pun melihat ke arah tersebut, dan mendapati para peserta pelatihannya yang kembali. Mereka semua memegang busur mereka dengan mantap dan bersiap menembak.
Syut! Syut! Syut! Syut! Syut! Syut! Syut! Syut! Syut! Syut! Syut! Syut! Syut! Syut! Syut! Syut! Syut! Syut! Syut! Syut!
Jleb! Jleb! Jleb! Jleb! Jleb! Jleb! Jleb! Jleb! Jleb! Jleb! Jleb! Jleb! Jleb! Jleb! Jleb! Jleb! Jleb! Jleb! Jleb! Jleb!
Syut! Syut! Syut! Syut! Syut! Syut! Syut! Syut! Syut! Syut! Syut! Syut! Syut! Syut! Syut! Syut! Syut! Syut! Syut! Syut!
Jleb! Jleb! Jleb! Jleb! Jleb! Jleb! Jleb! Jleb! Jleb! Jleb! Jleb! Jleb! Jleb! Jleb! Jleb! Jleb! Jleb! Jleb! Jleb! Jleb!
Syut! Syut! Syut! Syut! Syut! Syut! Syut! Syut! Syut! Syut! Syut! Syut! Syut! Syut! Syut! Syut! Syut! Syut! Syut! Syut!
Jleb! Jleb! Jleb! Jleb! Jleb! Jleb! Jleb! Jleb! Jleb! Jleb! Jleb! Jleb! Jleb! Jleb! Jleb! Jleb! Jleb! Jleb! Jleb! Jleb!
Hujan panah terjadi kembali, dan lagi-lagi mendarat di Naga Sungai yang sama. Puluhan anak panah itu mengandung racun pelumpuh. Jadi, meski hanya sedikit bisa memberi efek kelumpuhan bagi targetnya.
Mereka semua terus saja memanah ke arah satu naga dan membeiarkan yang satunya lagi. Naga yang sedang dihujani panah tak bisa bergerak dengan bebas dan tak bisa mengejar Erra lagi. Sedangkan yang satunya lagi masih terus mengejar Erra.
.
.
__ADS_1
.
Bersambung...