
+++
Arc 1 : The Births of The Ender.
Bab 45 : Coba.
+++
“Hm... sepertinya kalau aku pakai mereka sebagai percobaan akan bagus.”
Setelah mengatakan itu, Erra mengeluarkan busur dan quivernya. Lalu mencari posisi yang bagus untuk menembak.
Dua kelompok petualang yang bertarung itu, masing-masing punya tiga anggota. Kelompok pertama, sebut saja Tim A, terdiri sari dua orang seperti Warrior, seorang memakai kapak dan perisai, dan seorang lagi memakai tombak. Satu lagi anggotanya adalah penyihir yang memakai sihir api.
Kelompok yang satu lagi, sebut saja Tim B, juga punya dua orang yang seperti Warrior. Tapi keduanya adalah sesama pengguna pedang. Hanya saja, yang satu berpenampilan seperti ksatria dari Eropa, dan satu lagi seperti seorang samurai dari Jepang. Dan anggota mereka yang satu lagi dari penampilannya terlihat sebagai seorang peyihir yang memakai sihir penyembuh atau pendukung.
Entah apa yang menyebabkan dua kelompok ini berseteru, tapi terlihat jelas kalau mereka memang berusaha untuk saling menghabisi satu sama lainnya.
“Hm... lebih baik menembak yang mana dulu, ya?”
Erra bertengger di sebuah dahan besar salah satu pohon yang tak jauh dari tempat pertikaian. Ia sudah menyiapkan anak panah beracunnya dan siap membidik. Tapi ia masih sedikit bimbang yang mana yang akan menjadi target pertamanya.
Erra tak bisa asal pilih, karena itu bisa berbahaya bagi dirinya sendiri. Karena nanti, saat Erra melepaskan tembakan pertamanya. Situasi pertarungan antar kedua kelompok itu bisa berubah ke arah yang tak diketahui. Bisa saja mereka terus bertarung satu sama lain yang mana itu adalah harapan Erra. Atau mungkin bisa saja mereka berhenti bertarung mencari Erra, menghabisinya, dan lanjut bertarung lagi.
“Ah...”
Erra memutuskan untuk menembak beberapa target dengan cepat. Untuk itu, ia mengambil beberapa anak panah dari quiver di punggungnya. Ada dua anak panah yang ia genggam di tangan kirinya bersamaan dengan memegang busurnya. Ada juga dua anak panah yang ia ‘genggam’ dengan mulutnya. Dan ada tiga lagi yang ia taruh di dahan pohon tempatnya bertengger, tapi ditahan dengan kakinya dengan cara diinjak agar tak mudah jatuh.
Erra menyiapkan anak panah dalam jumlah banyak di luar quivernya itu untuk menambah kecepatan memanahnya. Karena mencabut satu per satu anak panah dari quiver yang ada di punggungnya itu bukan lah hal yang praktis untuk dilakukan Erra dengan batas kemampuan yang ia miliki saat ini.
Erra akhirnya menentukan target pertamanya. Yaitu, ia yang paling sedikit bergerak dan bahkan hampir tak bergerak. Itu adalah si penyihir dari Tim A. Erra membidik kepalanya yang hanya terlindungi oleh tudung jubah merahnya.
Kreeket! Syut!
Kreeket! Syut!
__ADS_1
Kreeket! Syut!
Dengan kemampuan memanahnya saat ini, Erra berhasil mendaratkan ketiga anak panahnya sesuai keinginannya. Tiga tembakannya itu mendarat telak di kepala si penyihir api. Meski tak tertanam dalam, tapi cukup untuk melukai kepalanya. Yang mana akan memberikan pengurangan Hit Point yang besar.
Selain itu, efek dari racun yang Erra lumurkan pada kepala anak panahnya juga mulai timbul...
“Aaahh!!!” teriak si penyihir api.
Efek dari Low Paralyze Poison hanya akan memberi efek Paralyze pada area yang terkena racunnya. Misalkan, saat mengenai tangan, maka tangannya saja yang akan lumpuh. Karena itu lah, racun jenis ini biasanya dipakai pada anggota gerak tubuh seperti tangan dan kaki. Saat terkena badan atau kepala, biasanya tak akan memberikan efek yang signifikan.
Untuk Mid Paralyze Poison, memiliki efek yang lebih kuat dan lebih luas. Apalagi yang sudah level 3 atau maksimal seperti yang Erra pakai.
Ketiga anak panah yang Erra tanamkan di kepala penyihir itu menancap di sisi kanan kepalanya. Efek yang ditimbulkan adalah menghilangnya penglihatan mata kanan, juga pendengaran telinga kanan. Selain itu penciumannya menjadi kabur, lalu leher sisi kanan dan bahu kanannya pun menjadi lemas tanpa tenaga.
Mendengar teriakan si penyihir api, kedua rekannya sedikit teralihkan perhatiannya. Hal ini dimanfaatkan oleh Tim B dengan memberi serangan yang mendadak lebih kuat. Akhirnya para Warrior Tim A pun menjadi terdesak. Selain itu, si penyihir api yang seharusnya memberi dukungan juga kini teralihkan perhatiannya dari pertarungan dan mencari sosok yang menembaknya. Menjadikan Tim A semakin lemah dan semakin terdesak.
Sesaat setelah menembak si penyihir api dari Tim A. Erra membidik target lainnya lagi dengan segera. Yang menjadi targetnya kini adalah si penyihir dari Tim B.
Kreeket! Syut!
Kreeket! Syut!
Kreeket! Syut!
Erra lagi-lagi melesatkan tiga anak panah berturut-turut. Dan ketiganya pun mendarat di titik yang memang ia inginkan. Yang pertama adalah lengan kiri atas, dilanjut dengan pinggang sisi kiri, dan akhirnya paha kiri.
“Ah!” teriak si penyihir Tim B.
Tak seperti Warrior dari Tim A yang menyadari teriakan dari penyihirnya. Warrior dari Tim B tak menyadari teriakan dari penyihirnya sendiri. Itu karena mereka sedang sangat fokus untuk menghabisi para Warrior dari pihak lawannya.
Kreeeketketket!!!
Erra menarik lagi busurnya. Kali ini ia tak berencana melepaskan tembakan beruntun. Erra mengaktifkan Power Shot, dan menjadikan kepala si penyihir api dari Tim A sebagai targetnya.
Sementara itu, si target masih mencari keberadaan Erra. Dan akhirnya, ia pun menyadari keberadaan Erra di atas pohon. Namun, sebelum ia sempat melakukan apa pun...
__ADS_1
SYUUTT!!!
ZLAB!!!
Si penyihir terkena serangan Power Shot dari Erra tepat di dahinya. Dan dengan segera kehilangan seluruh sisa Hit Point yang masih dimilikinya.
Dari semua yang terlibat dalam pertarungan ini, hanya penyihir dari Tim B yang menyadari kematian penyihir dari tim lawannya itu. Dan itu pun karena ia sendiri sedang berusaha menemukan keberadaan dari si penembak misterius. Yang kini, sudah ia ketahui.
Si penyihir Tim B itu segera menengok ke arah sumber tembakan yang menewaskan lawannya barusan. Tapi ia tak menemukan apa pun. Di dahan tempat Erra sebelumnya bertengger, sudah tak ada siapa pun. Itu karena Erra segera melompat turun setelah melepaskan Power Shot sebelumnya. Dan sekarang, ia sedang mengendap-endap di antara semak belukar, berusaha mendekati medan tempur lebih dekat lagi.
Sementara Erra bergerak mendekati medan tempur. Kedua orang yang tersisa di Tim A semakin kewalahan dengan kondisinya dan bisa mati kapan saja. Sedikit saja mereka lengah dan membuat kesalahan, lawannya bisa langsung menghabisi mereka dalam sekejap mata.
Kreeeketketket!!!
Erra menyiapkan Power Shot lainnya dengan si penyihir sebagai targetnya. Posisinya saat ini berjongkok di balik semak yang hanya berjarak sekitar delapan meter saja dari target.
SYUUT!!!
ZLAB!!!
Erra melepaskan tembakannya dan dengan seketika menghabisi targetnya.
Keempat Warrior yang kini tengah bertarung tak ada yang menyadari kalau rekan penyihir masing-masing telah tewas. Warrior Tim B terus fokus untuk menghabisi lawan yang berhasil mereka desak. Sementara kedua Warrior Tim A fokus untuk mencari cara membalikan kondisi.
Kreeeketketket!!!
Erra sekali lagi menyiapkan Power Shot, dan yang menjadi targetnya adalah salah satu Warrior dari Tim B yang memunggunginya.
SYUUT!!!
ZLAB!!!
.
.
__ADS_1
.
Bersambung...