
+++
Arc 1 : The Births of The Ender.
Bab 40 : Swine Killer.
+++
Syut!
Jleb!
“Ngoork!”
Buk!
[Kamu membunuh : 1 Plague Pig!]
[Kamu membunuh total 1.000 b4bi!
Kamu dapat gelar : Swine Killer!]
“Eh? dapat gelar?”
Beberapa hari telah berlalu, dan Erra terus aktif berburu Plague Pig. Ia terus berburu sampai inventorinya penuh. Kembali ke kota untuk menyimpan semua hasil buruannya di sebuah peti penyimpanan besar di kamar penginapannya, dan kembali lagi ke hutan untuk berburu lagi. Dan kini, karena ia telah membunuh seribu ekor b4bi, ia mendapatkan gelar Swine Killer.
“Hm... jadi bisa dapat gelar dengan membunuh banyak begini? Apa efek gelar ini, ya?”
Erra membuka penjelasan dari gelar itu.
[Swine Killer.
Efek serangan pada makhluk berjenis bb4bi akan mendapat bonus 5%.]
“Wah, kecil. Tapi luamayan. Hm... inventoriku sudah penuh lagi.”
Erra pun memutuskan untuk kembali ke kota.
.
.
.
Dunia nyata.
Setelah makan malam dan membantu ibunya beres-beres, seperti biasanya Putra segera pergi ke kamarnya. Di kamarnya pun ia melakukan kegiatan seperti biasanya, yakni mengerjakan pekerjaan rumah atau belajar pelajaran yang akan datang. Dan dilanjut bermain Ardanium’s Tale Online.
“Ah... sepertinya cukup.”
__ADS_1
Putra menyudahi belajarnya. Ia baru saja membaca beberapa teori pelajaran.
“Hm... ternyata memakan waktu sebanyak ini, ya? Masih sempat main tidak, ya?”
Putra melihat jam di meja belajarnya dan mendapati kalau sekarang telah tengah malam. Putra belajar lebih lama dari biasanya karena akan menghadapi ujian akhir semester.
“Ah, sepertinya tidak perlu. Tapi aku mau ke toilet dulu.”
Putra menuju toilet tapi ia mendapati ibu dan bibinya masih ada di meja makan.
“Ibu, bibi? Belum tidur?”
“Ah, Er? Kamu sendiri belum tidur? Ini sudah malam.” Ucap ibunya.
“Aku baru selesai belajar, bu. Ini mau ke toilet dulu terus langsung tidur.”
“Oh, begitu?”
“Ya, begitu. Hm... apa ada sesuatu yang penting? Kelihatannya ada pembicaraan serius? Apa aku boleh tahu?”
Ibu dan bibinya tak segera memberi jawaban. Mereka malah saling tatap sebentar.
“Baiklah, tidak masalah kamu tahu. Duduk lah, agar bicaranya lebih enak.” Ucap sang bibi.
Putra menuruti bibinya dan duduk, lalu siap mendengarkan.
“Baiklah, bibi langsung saja ke intinya, ya? Jadi, tempat kerja bibi bangkrut dan akan segera tutup. Paling-paling hanya bisa bertahan beberapa hari lagi sebelum resmi ditutup. Ada masalah dalam pembayaran upah. Banyak yang belum dibayar upahnya sejak bulan kemarin termasuk bibi. Dan kelihatannya, pihak manajemen masih belum bisa membayarnya bulan ini bahkan bulan depan. Apalagi untuk memberi pesangon.”
Begitu lah penjelasan bibinya yang singkat, karena langsung ke inti masalahnya.
Putra terdiam tak memberi komentar. Ia sudah tahu dengan jelas kalau hal ini ujung-ujungnya pasti akan menyangkut masalah keuangan keluarga. Dan ia tak punya kata yang ia rasa cocok untuk situasi saat ini. Tapi akhirnya ia memutuskan untuk bertanya.
“Jadi, apa ada yang bisa kubantu?”
Itu lah pertanyaan Putra.
“Er belajar yang rajin saja, ya. Untuk uang sekolah Er semester depan dan semua kebutuhan pokok, masih ada simpanan uang yang cukup.”
“Ah, begitu. Baiklah, aku akan berusaha dapat beasiswa untuk semester depan. Selama ini seharusnya aku bisa mendapatkkannya. Tapi maaf, aku tak pernah berusaha mendapatkannya. Sekarang aku bisa mendapatkannya dengan mencetak nilai tinggi di ujian mendatang. Tapi, mungkin beasiswa yang akan kudapat tak akan terlalu besar. Paling-paling hanya diskon untuk beberapa bulan saja.”
“Wah! Kalau begitu bibi akan sangat berterima kasih. Selamat berjuang, ya! Tapi, jangan terlalu memaksakan diri. Masalah keuangan keluarga, biar orang tua yang memikirkannya.”
“Ya, bibi tenang saja. Aku tak akan terlalu memaksakan diri. Aku akan berusaha dengan optimal.”
Terjadi sedikit perbincangan sebelum mereka mengakhirinya. Dalam benaknya, Putra membuat sebuah tekad...
‘Aku harus mempercepat rencanaku!’
.
__ADS_1
.
.
Meski sebelumnya sudah memutuskan untuk tidur. Putra akhirnya malah pergi ke dunia virtual Ardanium’s Tale Online. Dan kini ia baru saja kembali setelah membeli beberapa peralatan yang berguna untuk membuat suatu ramuan. Setelah menyimpan semua barang belanjaannya di kamarnya, Erra pun sekali lagi melesat ke Kork Forest.
Oh, ya. Erra kini telah memilih penginapan yang biayanya lebih tinggi. Karena ia perlu menyewa kamar yang lebih luas.
‘Hm... gerakan mereka jadi lebih hati-hati, ya? Tapi bukankah itu percuma? Lagipula, orang-orangnya tidak diganti.’
Itu lah perkataan Erra dalam benaknya mengomentari para penguntitnya yang masih megikutinya pasca malam itu. Seperti yang Erra katakan, mereka tak berhenti membuntuti Erra. Dan hanya bergerak dengan lebih hati-hati. Salah satu contohnya adalah dengan melakukan pengawasan dari jarak yang lebih jauh dan tak pernah bergerak bersama lagi. Mereka juga mengubah sedikit penampilan mereka. Yang sayangnya Erra sadari dengan jelas.
.
.
.
Mundur ke beberapa hari yang lalu hitungan dunia virtual Ardanium’s Tale Online. Tepatnya adalah malam di mana Erra menghampiri dan menanyai para penguntitnya.
Setelah Erra meninggalkan kedai. Mereka para penguntit yang ada di dalam kedai segera keluar semuanya. Mereka ini jumlahnya ada lima orang. Dan penguntit Erra bukan lah hanya mereka berlima. Karena masih ada lagi yang lainnya lagi.
Mereka berlima kini berkumpul di sebuah gang sepi yang gelap.
“Bagaimana ini? Ia sudah tahu tentang pergerakan kita.” Ucap salah satu dari mereka, sebut saja Si A.
“Kita harus segera melapor pada Fitz, agar dapat instruksi lanjutan.” Ucap yang lain lagi menjawab pertanyaan Si A, sebut saja Si B.
“Aku kurang setuju dengan itu. Karena itu bisa bahaya juga buat kita. Kalau kita langsung melaporkannya, sama saja kita menyatakan kalau kita gagal melakukan misi. Karena seharusnya kita tak ketahuan.” Ujar yang lain lagi, sebut saja Si C.
“Bagaimana kalau langsung saja kita laporkan kalau ia termasuk yang harus kita eliminasi?” tanya yang lain lagi memberi opini, sebut saja Si D.
“Fitz akan memberi banyak pertanyaan yang bisa membuat kita tak sengaja membocorkan kalau kita gagal menjalankan misi.” Pungkas orang terakhir terhadap pendapat Si D, sebut saja Si E.
“Awalnya aku merasa semua ini berlebihan. Hanya untuk mengawasi seorang pedagang kecil yang kebetulan membuat kehebohan selama beberapa waktu ke belakang. Kenapa harus sampai diawasi oleh lebih dari dua puluh orang. Tapi, ternyata orang yang bernama Erra ini memang tidak biasa.” ujar Si A.
“Kau benar. Semua juga merasa ini berlebihan. Tapi, lagi-lagi naluri Fitz benar adanya. Kalau orang ini harus diberi perhatian khusus.” Ucap Si C.
“Jadi, bagaimana menurut kalian? Kita tak bisa mengobrol terlalu lama. Kita laporkan pada Fitz atau tidak? Kalau aku sendiri akan setuju untuk melaporkannya.” Ucap Si A.
Mereka pun melakukan pungutan suara dan akhirnya diputuskan untuk melaporkannya pada Fitz.
.
.
.
Bersambung...
__ADS_1