
+++
Arc 1 : The Births of The Ender.
Bab 20 : Berburu I.
+++
Ada semak yang sedikit bergoyang tak jauh dari posisi Erra. Pemain berambut putih itu pun dengan perlahan mendekati semak itu. Tapi belum juga sampai, ada sesuatu yang melompat keluar dari balik semak itu. Dan sesuatu itu, langsung melompat ke arah Erra.
Dengan refleknya yang tak buruk, Erra segera berusaha menghindar. Dan ia pun berhasil melakukannya. Kemudian Erra segera mengambil kuda-kuda siap bertarung dan melihat makhluk apa yang barusan melompat ke arahnya.
“Eh?”
Erra menatap makhluk yang baru saja melompat ke arahnya itu. Makhluk kecil yang sebelumnya Erra kira bisa membahayakan dirinya itu, ternyata hanya lah seekor kelinci hutan biasa. Tak ada apa pun yang tak biasa pada kelinci itu, sepenuhnya adalah seekor kelinci biasa.
Erra sedikit menurunkan kewaspadaannya, dan berniat untuk pergi dari sana.
“Tak akan efektif kalau berburu kelinci sekarang.” Begitu lah ucapan Erra sambil meninggalkan kelinci yang kini juga pergi ke arah lain itu.
Di dalam dunia virtual Ardanium’s Tale Online ini, kelinci bisa diambil kulit dan dagingnya untuk dijual. Kulitnya itu bisa diolah menjadi beberapa benda, sedangkan dagingnya bisa untuk bahan makanan. Kalau saja Erra lebih siap, ia pasti akan coba memburu kelinci itu, tapi sayang saat ini ia tak siap untuk itu.
Kelinci adalah hewan yang sangat lincah. Gerakannya sangat gesit dan akan cukup merepotkan bahkan menyulitkan bagi pemain pemula seperti Erra. Sebenarnya Erra cukup percaya diri untuk menangkap kelinci kalau saja ia membawa perlengkapan yang tepat. Sayangnya, kali ini ia hanya membawa perlengkapan yang tepat untuk melawan Boink.
Kelinci akan terus berusaha kabur dari penyerangnya. Karena itu jika Erra mencoba memburunya, maka ia harus terus mengejar kelinci itu. Sedangkan saat ini senjata yang ia punya hanya lah belati. Kalau ia punya tombak, busur, atau paling tidak pisau lempar. Itu akan sangat membantu.
Erra meneruskan perjalanannya ke dalam hutan, dan beberapa kali bertemu dengan kelinci hutan seperti sebelumnya. Sampai akhirnya...
Srrrakkk.... Srrrakkk.... Srrrakkk....
“Kali ini sepertinya hewan besar?” gumam Erra sambil bersiap menghadapi bahaya.
Lagi-lagi Erra melihat semak yang bergoyan tak jauh dari tempatnya berada. Namun kali ini goyangannya bisa diilang lebih kencang. Sehingga Erra curiga kalau hewan yang ada di baliknya bukan lah kelinci, melainkan sesuatu yang lebih besar.
Srak.. Srak...
Hewan yang ada di balik semak itu akhirnya keluar, sementara itu Erra mengintainya dari balik sebuah pohon.
__ADS_1
“Rusa? Ah, sepertinya masih anak-anak?”
Ya, benar. Itu adalah anak rusa yang keluar dari balik semak. Erra memerhatikan sekeliling dan akhirnya yakin kalau rusa ini sendirian. Ia pun memutuskan untuk coba memburunya.
Erra mulai mendekati anak rusa itu, dengan begitu perlahan. Ia tak berjalan dengan membungkuk atau pun berjongkok, apalagi berdiri tegak. Tapi ia mendekati rusa itu dengan merangkak dan merayap di balik semak belukar yang ada di sekitar.
Sampai pada jarak sekitar lima meter dari anak rusa itu, Erra tak bisa lanjut menyelinap. Karena sudah tak ada lagi pohon atau pun semak yang bisa ia gunakan untuk bersembunyi.
“Baiklah, akau akan menerjang langsung dari sini!” gumam Erra.
Swuush!
Erra pun melesat dari tempatnya mengintai. Ia sebelumnya berada pada posisi tiarap. Dan Erra berada di arah kiri si anak rusa. Dari posisi tiarap itu, Erra langsung melesat. Ia bisa melakukannya karena pernah mencoba untuk berlatih melakukan hal itu beberapa kali sebelumnya.
Si anak rusa dengan jelas langsung menyadari kedatangan Erra. Anak rusa ini sangat terkejut, ia bahkan terkena efek Stun meski hanya setengah detik. Terkena efek Stun bagi NPC dengan kecerdasan rendah seperti anak rusa ini jauh lebih merugikan. Karena saat itu terjadi, maka semua sistemnya menjadi tidak aktif. Dan alhasil, ia secara total bukan hanya tak bisa bergerak, tapi juga tak bisa melakukan proses yang biasa disebut berpikir.
Si anak rusa menyadari keberadaan Erra, dan terkena efek Stun di saat yang bersamaan dengan Erra mulai melesat ke arah dirinya. Lalu, dalam masa setengah detik ia terkena efek Stun dan tak ada yang bisa dilakukannya bahkan berpikir itu, Erra berhasil mendekatinya meski hanya satu meter.
Lalu setelah itu, si anak rusa juga butuh waktu beberapa detik hingga akhirnya ia mulai bergerak. Di selang waktu beberapa detik itu, Erra pun berhasil mendekatinya. Meski sayang, belum bisa menggapainya.
Jleb!
Erra berhasil menikam pangkal paha kiri si anak rusa. Dan anak rusa yang tertikam itu, terkejut dan sedikit meronta. Erra yang tak stabil, sedikit terbawa dan akhirnya terjatuh dengan belatinya yang masih tertanam di pangkal paha si anak rusa.
“Ah! Sial!!!”
Erra segera bangkit dan mengejar anak rusa itu. Ia mengeluarkan belati cadangannya, dan kembali menyerang anak rusa itu. Kali ini, Erra berhasil menikam pangkal paha kanan si anak rusa. Si anak rusa pun terjatuh.
Erra segera menarik kembali belatinya. Ia membanting tubuh si anak rusa, kemudian menikam leher anak rusa itu. Menghabisi semua Hit Point yang dimiliki anak rusa itu. Dan akhirnya, anak rusa itu pun mati.
.
.
.
“Hm... benar-benar tak terjadi apa-apa, ya?”
__ADS_1
Erra masih menatap jasad si anak rusa. Yang mana tak terjadi apa pun setelah Erra membunuhnya. Erra pikir, anak rusa ini akan menjadi cahaya atau apa pun itu, yang pada intinya jasadnya akan terurai dengan sendirinya. Lalu kulit, daging atau apa pun yang bisa ia ambil akan muncul setelah itu. Tapi nyatanya, tak ada yang terjadi sama sekali.
“Eh? Kenapa aku lupa, ya?”
Erra segera membuka panel menunya, dan memilih tombol {Loot}. Lalu dari udara kosong, muncul sebuah pisau yang tak bisa disebut kecil, namun ukurannya tidak bisa juga disebut tidak kecil.
Setelah menggenggam pisau itu, Erra langsung menusukannya ke jasad si anak rusa. Seketika itu juga, jasad itu sedikit terurai sebagian kecil badannya menjadi pecahan piksel. Erra lanjut menusuk dan menggores jasad hewan itu beberapa kali sampai seluruh tubuhnya benar-benar terurai menjadi pecahan piksel yang melayang ke udara. Lalu kemudian, yang tersisa hanya lah beberapa benda saja. Ada daging, kulit, dan sebagian tulang anak rusa itu.
“Ah... aku sudah pernah baca tentang ini. Entah kenapa ini terasa menyenangkan. Hm... kalau kupikir-pikir lagi...”
Erra tiba-tiba membayangkan....
“Bagaimana kalau aku menghabisi manusia di dunia ini? Apa untuk mendapatkan barang bawaannya aku harus melakukan ini juga? Atau kalau tidak, lalu aku melakukan ini. Apa tubuhnya akan terurai lalu menyisakan daging dan tulang seperti ini juga?”
Setelah berdiam beberapa saat...
“Baiklah, aku akan mencobanya nanti!”
Erra pun melanjutkan perjalanannya.
.
.
.
Bersambung...
Yo!
Maaf tidak rilis sampai hitungan hari...
Terima kasih yang sudah mampir...
Salam sehat untuk semua...
Sampai jumpa di bab berikutnya...
__ADS_1