
+++
Arc 2 : The Angels and The Dragons.
Bab 28 : Berkunjung.
+++
Jleb! Jleb! Jleb! Jleb! Jleb!
Bruk!
Ezzza terjatuh ke tanah, dan mendapat notifikasi kalau dirinya terkena racun, berbagai racun. Itu karena semua anak panah yang tertanam di tubuhnya itu berlumuran racun. Dengan tubuhnya yang tak bisa bergerak, Ezzza menggulirkan matanya, berharap bisa melihat arah sumber serangan itu.
Ia pun mendapati kalau serangan itu berasal dari seberang sungai. Dari tiga orang pemanah, yang masih menghujani dengan tembakan meski ia sudah terbaring di tanah.
“A-apa mereka teman-temanmu?” tanya Lunariaa pada Erra.
“Ya, mereka teman-temanku.”
Erra, Lunariaa, dan juga Arini menunjukkan wajah lega. Mereka duduk sambil menonton Ezzza yang terus dihujani panah. Dan Ezzza bisa melihat tingkah ketiganya ini yang mana membuatnya sangat marah, juga malu. Ia kini bahkan tak bisa mengumpat. Karena serangan racun dari panah-panah itu bahkan melumpuhkan mulutnya, hingga membuat dirinya hanya bisa mengeluarkan suara mengerang.
“Hey, apa mereka akan terus memanahinya sampai ia mati?” tanya Arini.
“Ya, kecuali kuhentikan mereka. Mau?”
“Ya! Aku mau! Aku mau menghabisi orang itu dengan tanganku sendiri!” ucap Lunariaa dengan semangat sambil berdiri lagi.
Erra ikut berdiri dan memberi tanda agar para pemanah itu berhenti. Dan hujan panah pun berakhir. Lunariaa pun menghampiri Ezzza yang kini tampak seperti landak karena banyaknya anak panah yang tertanam di tubuhnya.
“Kau ini, apa masih belum sadar kalau keberuntunganmu itu buruk saat berhadapan dengan kami?”
Mendengar perkataan itu dari Lunariaa, Ezzza hanya bisa memberi tatapan tajam penuh amarah. Dan Lunariaa malah tersenyum melihat hal tersebut. Gadis itu pun mengangkat kapaknya tinggi-tinggi, lalu kemudian...
Wuush! Srat!
Ia memenggal kepala Ezzza, menghabisi seluruh sisa Hit Point-nya.
“Hey! Bisa bantu kami menyeberang?!” teriak Erra pada teman-temannya yang ada di seberang.
“Sedang ambil rakit!” jawab salah satu dari mereka.
Dan benar saja, beberapa saat kemudian ada dua orang yang membawa rakit. Mereka menyeberangi sungai dan menjemput Erra beserta Arini dan Lunariaa.
“Sebagai saran saja. Sebaiknya kalian mampir dulu ke Green Hut. Untuk memulihkan diri dan perbekalan.” Ucap Erra.
“Ya, itu ide yang bagus. Bagaimana menurutmu, Arini?”
“Ah, ya. Aku setuju.”
“Omong-omong, kau masih ingat masalah janji barusan, kan?”
Yang Erra maksud adalah janji Arini akan membayar kalau Erra mau membantu menghadapi Ezzza.
__ADS_1
“Ya, tentu saja. Mau diskusikan sekarang?”
“Ya, boleh.”
Mereka pun berdiskusi sambil menuju ke Green Hut.
.
.
.
“Hah... harus pakai cara lain.” Ucap Fitz.
Ia baru saja menemui para petinggi Desa Gezar, untuk membahas penyerang terhadap Green Hut. Namun, ia tak mendapatkan apa yang diharapkannya. Semua petinggi desa ini merasa ragu untuk menyerang Green Hut. Mereka tak ingin membuang lebih banyak dana untuk penyerangan yang mereka rasa percuma itu.
Fitz cukup kesal, namun ia pun tak bisa banyak protes. Biar bagaimana pun juga, konflik bersenjata antar desa semacam ini baru kali ini terjadi di daerah Great Southern Jungle. Belum ada yang berpengalaman menghadapi pertempuran apalagi perang.
Fitz, karena sadar akan hal itu dari awal. Sudah menawarkan dukungan penuh dari Golden Stars. Akan tetapi, ternyata para petinggi desa ini menganggap hal itu adalah upaya Golden Stars untuk menguasai Desa Gezar juga. Fitz tak bisa menyalahkan kecurigaan mereka itu. Karena dirinya sendiri pun akan berpikir seperti itu jika berada di posisi mereka.
Fitz pun melanjutkan kegiatannya memutar otak. Untuk mencari jalan keluar dari masalahnya.
.
.
.
“Tuan Erra.”
“Salam, Tuan Erra.”
“Ah, Tuan Erra? Selamat sore!”
Setiap warga desa memberi salam atau sapaan pada Erra saat ia melewati mereka. Dan para warga desa ini menatap kedua gadis yang mengikutinya dari belakang dengan tatapan penuh rasa penasaran akan identitas keduanya.
Di sisi lain, Arini dan Lunariaa sedikit keheranan dengan sikap para warga desa ini pada Erra. Mereka belum pernah melihat ada orang dihormati seperti Erra di dunia virtual ini, kecuali orang penting. Seperti orang penting di sebuah kota atau desa, atau juga para bangsawan.
“Siapa dia sebenarnya?” bisik Lunariaa.
“Entah lah. Tapi yang pasti ia orang penting desa ini. Aku harap ini keberuntungan, bisa mengenal orang penting. Dan ini tandanya kita harus lebih hati-hati padanya. Karena sepertinya kalau kita membuat masalah, itu akan sangat buruk.”
“Ah, ya. Kamu benar juga.”
Mereka bertiga pun sampai di dekat rumah pribadi Erra. Dan di saat bersamaan, asisten Erra keluar dari rumah. Gadis itu pun langsung menyembut Erra.
“Selamat datang kembali, Tuan Erra.”
“Ah, ya. Tolong siapkan jamuan ringan.”
“Baik, tuan.”
Si asisten kembali ke dalam rumah. Lalu Erra pun mengajak Lunariaa dan Arini memasuki rumahnya. Dan mengajak mereka datang ke ruang tamu.
__ADS_1
“Silakan duduk.” Ucap Erra mempersilakan kedua gadis itu.
“Ya, terima kasih.”
Keduanya pun duduk.
“Maaf, bisa aku bertanya sesuatu? Ah, mungkin bukan sesuatu. Tapi beberapa hal.” Ucap Arini.
“Silakan, saja. Aku akan jawab yang bisa kujawab.”
“Apa posisimu di desa ini? Sepertinya semua orang di sini sangat menghormatimu. Dan maaf, aku tebak kau ini pemain, kan? Bukan NPC?”
“Ya, aku seorang pemain. Dan masalah posisiku... hm... sebenarnya aku juga bingung.”
“B-bingung?”
“Ya, bingung. Aku sendiri tidak tahu posisiku di sini apa?”
“Tapi, bagaimana bisa begitu?”
“Yaa... awalnya aku hanya membantu mereka berdagang. Dulu, mereka tak ada yang mengerti cara pakai uang. Jadi kuajari mereka. Lalu lama kelamaan, mereka sering mengajakku berdiskusi tentang beragam permasalahan di desa ini dan meminta saranku. Ya, kuberi saja beberapa saran sampai batas kemampuanku.
Selain itu, aku juga melatih para pemuda di desa ini menjadi Scouts. Di antaranya adalah mereka yang tadi menyelematkan kita. Oh ya, kalau ada yang menyerang desa ini. Biasanya aku juga yang mengatur strateginya.
Kira-kira, kalau seperti itu. Menurutmu posisiku ini apa di sini?”
Kedua gadis yang ada di hadapan Erra, membelalakan mata mereka setelah mendengarkan penjelasan Erra. Tak pernah terpikirkan oleh mereka akan ada pemain yang bisa melakukan itu semua. Ditambah lagi, kelihatannya Erra adalah orang yang tidak terlalu serius.
“Tunggu dulu, tadi kau bilang namamu Erra, kan?” tanya Arini.
“Ya, itu namaku.”
“Ah! Kenapa baru ingat!”
“Apa maksudmu, Arini?” tanya Lunariaa.
“Aku pernah baca berita tentang desa ini. Sebuah desa tanpa nama yang biasa memproduksi Healing Potion. Dengan mendadak berubah menjadi desa maju dan menyaingi Gezar, dengan nama Green Hut. Dan semua itu, karena seorang pemain datang dan mengubah tempat ini. Pemain yang juga sempat membuat heboh Ardanium’s Forum tentang caranya berdagang. Dan pemain itu bernama, Erra.
Jadi, kamu orang dimaksud itu?”
“Hm... entah lah, aku ragu. Aku ragu telah melakukan semua itu. Tapi... karena sampai saat ini aku satu-satunya pemain yang tinggal menetap di sini. Ya, sepertinya itu aku.”
Mendengar pengakuan Erra itu, kedua gadis di hadapannya langsung memikirkan hal yang sama...
‘Aku tak boleh buat masalah dengan orang ini!’
.
.
.
Bersambung...
__ADS_1